Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab12. Bertemu keluarga Zach
"Tapi tunggu Zach! Kalau kasus dulu itu penyebabnya dari pabrik pengolahan kulit hewan yang terjangkit penyakit. Apa hubungannya dengan kejadian di sekolah kita? Kata papaku, bahan kimia di laboratorium masih diambang batas wajar. Artinya, hanya orang yang kontak langsung akan mengalaminya. Apakah kejadian itu saling terkait, padahal kasusnya kan beda?"
"Meski kasusnya berbeda, aku kira ada kesamaannya, Carol. Penyebabnya adalah sejenis bakteri berbentuk spora Genus Bacillus. Tepatnya Bacillus Anthracis. Kemungkinan Pak Edward menggunakan DNA dari makhluk primata yang terkontaminasi bakteri itu.
"Dan saat tubuh Pak Edward meledak, sporanya terhirup oleh Vivian, Meghan dan Mario. Nah, merekalah yang menyebarkan spora itu, lewat batuk parah yang mereka derita."
"Aku mengerti sekarang. Masalahnya masa inkubasi spora itu paling cepat seminggu. Kok bisa dalam waktu satu malam. Sudah banyak yang menderita sakit? Apakah karena eksperimen Pak Edward sudah terlalu jauh menyalahi aturan?"
"Aku juga bingung. Kalau Meghan dan Vivian kena bakteri itu. Lantas kenapa kita berdua tidak. Padahal kita juga ikut terjebak di laboratorium itu.
"Apa karena suntikan yang diberikan Pak Edward pada kamu. Trus aku kenapa tidak kena juga?"
Zach dan Carol menjadi bingung.
"Hem, bisa saja dugaanku salah. Aku punya ide. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, mengambil sampel dari pasien itu. Atau bertanya ke dokter yang menangani kasus itu."
"Sebaiknya kita juga ke rumah Pak Edward. Sebelum ada yang curiga. Siapa tau kita bisa menemukan obat dari catatan beliau."
"Ide yang bagus Zach. Kita harus bergegas. Sepertinya kita diburu waktu."
"Baiklah kita pergi besok saja."
"Iya, lebih cepat lebib baik."
Tanpa Carol dan Zach sadari, kedua orang tua Carol yang berdebat tentang Carol. Memutuskan bertanya langsung ke Carol. Karena itu mereka menuju kamar Carol.
Langkah Pak Brian dan Bu Rachel sudah di depan pintu. Bersamaan dengan Zach yang pamit pulang.
"Oke, kita jumpa besok. Aku pergi dulu." ucap Zach dan terdengar jelas ke luar pintu.
Pak Brian dan Bu Rachel saling berpandangan. Siapa teman Carol di dalam kamarnya. Dan jelas suara itu adalah suara laki-laki.
Carol bermaksud hendak menutup jendela. Tapi kakinya tanpa sengaja menabrak kaki tempat tidur. Carol hilang keseimbangan. Dengan gerak refleks menarik lengan Zach supaya tidak jatuh.
Zach yang tidak menduga tindakan Carol. Kehilangan keseimbangan juga. Tubuh Carol terhempas di atas tempat tidur. Zach jatuh menimpa Carol. Dan bersamaan dengan pintu kamar Carol yang terbuka.
"Astaga Carol. Apa yang kamu lakukan Nak!" seru Pak Brian panik. Zach dan Carol kaget tak kepalang. Melihat kemunculan kedua orang tuanya.
Zach spontan berdiri. Wajahnya memerah karena tertangkap basah."
"Maaf Om, Tante. Kami tidak melakukan apa-apa!" seru Zach panik.
"Lihat sendiri kan, Pa?" seru Bu Rachel berbisik penuh penekanan pada suaminya. Pak Brian menatap putrinya tidak percaya.
"Mama, Papa! Jangan salah paham dulu. Carol bisa jelaskan apa sebenarnya yang terlah terjadi." Carol buru-buru bangkit dari tempat tidur.
"Tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi Carol. Semua sudah jelas." sanggah Bu Rachel.
"Mama, please! Jangan salah paham dulu. Aku tadi mau jatuh, tanpa sengaja menarik lengan Zach. Sehingga kami jatuh bersamaan."
"Lalu coba jelaskan, kenapa Zach berada di dalam kamarmu, Carol! Sejak kapan kamu berani membawa masuk pria ke dalam kamarmu!" bentak Bu Rachel.
"Dan kamu, Zach! Kamu itu telah merusak kepercayaan Tante!"
"Maafkan saya Tante. Saya tidak bermaksud apa-apa pada Carol. Saya memang salah menemui Carol diam-diam di kamarnya. Maafkan saya Tante, Om." seru Zach menghiba.
Bu Rachel tidak puas mendengar jawaban Zach.
"Zach! Biar Tante bicarakan hal ini dengan kedua orang tua kamu."
"Mama, jangan membesarkan masalah ini Ma. Kami tidak melakukan apa-apa. Kami tadi hanya berbincang, soal kebakaran itu?"
"Carol, ini menyangkut harga diri keluarga kita, Nak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada kamu?"
"Maksud Mama? Apa yang akan terjadi padaku? Aku hanya mengobrol dengan Zach. Tidak lebih!"
"Mama tidak percaya! Pokoknya Mama dan Papa harus bertemu dengan kedua orang tua kamu, Zach!"
Zach dan Carol lemas. Carol tidak mengerti kenapa ibunya bersikap sangat berlebihan.
"Baiklah Tante, saya akan sampaikan pada orang tua saya." Zach buru-buru keluar lewat jendela.
"Mama! Maksud Mama apa mau bertemu Tante Reya?"
"Kamu akan tau sendiri nanti." Bu Rachel menarik lengan suaminya, keluar dari kamar Carol.
"Astaga! Apa Mama pikir aku dan Zach telah melakukan perbuatan terlarang?" beliak Carol tidak percaya.
"Ma, apa sikap Mama tidak berlebihan. Coba beri mereka kesempatan bicara." bujuk Pak Brian.
"Apa harus menunggu sampai perut putri kita melendung? Kita akan kehilangan harga diri, Pak! Apa kata orang nanti, kalau putri kita hamil di luar nikah?"
"Astaga! Mama bicara apaan ini. Sikap Mama terlalu parno!"
"Papa sudah lihat sendiri kan? Zach berani masuk ke kamar anak kita."
"Tapi Papa percaya mereka tidak melakukan apa-apa! Tolong Ma, jangan sidang mereka. Mereka masih trauma karena kebakaran itu. Mereka masih anak-anak!" Pak Brian kesal dengan pemikiran istrinya yang terlalu berlebihan menanggapi masalah.
"Papa melihat mereka seperti saudara saja. Mana sudah akrab sejak kecil."
"Pokoknya Mama tetap dengan pendirian Mama. Daripada mereka melangkah lebih jauh. Mending kita bicarakan saja secepatnya pada orang tua Zach."
"Sudah! Terserah Mama saja."
Malamnya Pak Brian dan Bu Rachel dan Carol, mendatangi rumah keluarga Zach. Percuma saja Carol protes. Namun, Ibunya kekeuh mau bicara ke orang tua Zach.
"Ning nong ...." suara bel bergema.
Pak Dody, ayah Zach mengernyitkan keningnya, melihat kedatangan tetangganya plus sahabat mereka.
"Eh, Pak Brian. Ada yang penting ya, sampai datang malam-malam begini?"
"Siapa Pap?" terdengar suara dari ruang keluarga. Lalu menyusul langkah kaki.
"Eh, Ka Rachel? Tumben datang malam -malam begini. Ada apa? Kenapa dengan Carol. Wajahnya macam gak dikasih jajan. Ayo masuk!" Bu Reya menyambut kedatangan mereka dengan hangat. "Zach ....! Ada Carol nih!" teriak Bu Reya memanggil anaknya.
Zach muncul dengan wajah pucat. Pandangannya dengan Carol berbenturan. Zach bingung, ternyata orang tua Carol serius dengan ancamannya. Mendatangi kedua orang tuanya.
"Mari silakan duduk. Ada perlu apa ya Kak? Sepertinya ada hal penting yang hendak disampaikan."
"Iya. Kedatangan kami untuk membicarakan tentang ... " Bu Rachel menjeda kalimatnya. Memandang ke arah Zach dan Carol.
"Oh. Zach, kamu ajak Carol dulu ke dalam." Bu Reya memberi kode kepada Zach. Dengan berat hati, Zach mengajak Carol. Padahal dia ingin tahu maksud kedatangan orang tua Carol menemui orang tuanya. Jika ada kaitannya dengan kejadian tadi sore. Mampus lah dirinya nanti kena hajar. ***