Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Begitu mobil berhenti sempurna, Hilman segera turun dan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Nayla. Ia memegang tangan istrinya dengan sangat protektif, membantu Nayla keluar dari kursi penumpang.
Ayah (Pak Lurah) melangkah maju dengan wajah yang sulit dibaca. Matanya tertuju pada Nayla yang berjalan sangat pelan, hampir menyeret kakinya.
"Hilman, Nayla... masuk sekarang. Ayah mau bicara," suara Ayah terdengar berat dan tegas.
Nayla melirik Arkan yang berdiri di belakang Ayah. Kakaknya itu memberikan isyarat dengan mengangkat ponselnya, seolah berkata, "Beritanya udah nyebar di grup WhatsApp warga, Nay!"
Begitu sampai di ruang tamu, Bunda langsung menghampiri Nayla dengan wajah penuh kekhawatiran. "Nduk, kamu nggak apa-apa? Bunda denger ada orang gila mabuk nyariin kamu di pesantren? Dia apain kamu sampai jalanmu lemas begitu?!"
Nayla langsung gelagapan. "E-eh... bukan karena itu Bunda. Itu orang cuma teriak-teriak doang, nggak nyentuh Nayla sama sekali. Mas Hilman udah beresin semuanya."
Ayah menatap Hilman tajam. "Hilman, siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan masa lalu Nayla di Jakarta? Ayah nggak mau ketenangan pesantren dan keluarga kita terusik karena masalah yang tidak jelas."
Hilman menarik napas panjang, ia tetap
menggenggam tangan Nayla di sampingnya.
"Maafkan Hilman, Ayah. Dia hanya seseorang dari masa lalu Nayla yang belum bisa menerima kenyataan. Tapi Ayah jangan khawatir, Hilman sudah pastikan dia tidak akan kembali lagi. Nayla adalah tanggung jawab Hilman sekarang."
Ayah menghela napas, kemarahannya sedikit mereda melihat ketenangan menantunya. Namun, Bunda masih belum puas. Beliau memperhatikan cara duduk Nayla yang miring dan raut wajahnya yang pucat.
"Tapi Nay, kenapa jalanmu masih begitu? Apa kamu ditendang? Atau kamu jatuh saat dia datang?" tanya Bunda sambil hendak menyingkap sedikit rok Nayla untuk memeriksa luka.
"Bunda! Jangan!" teriak Nayla refleks sambil menahan tangan Bundanya. Wajahnya memerah sampai ke telinga. "Ini... ini bukan karena orang itu, Bunda. Ini karena... anu... Mas Hilman... dia..."
Nayla melirik Hilman yang tiba-tiba sibuk memperbaiki letak kacamata dan berdehem berkali-kali.
"Karena apa?" desak Ayah.
Nayla menggigit bibir bawahnya, sifat nakalnya kembali muncul meski di depan Ayah yang sedang serius. "Itu Ayah... Mas Hilman kalau di kamar lebih galak daripada pas ngadepin preman tadi. Nayla 'dihajar' habis-habisan sampai nggak dikasih napas, makanya kakinya jadi begini..."
"Nayla!" tegur Hilman dengan suara tertahan, wajahnya sudah benar-benar seperti udang rebus.
Arkan yang sejak tadi menyimak langsung menyemburkan tawanya, sementara Ayah dan Bunda tertegun sejenak sebelum akhirnya menyadari maksud ucapan putri mereka. Suasana yang tadinya tegang karena ancaman Rian, seketika berubah menjadi sangat canggung dan penuh tawa tertahan.
Ayah terdiam sejenak, menatap Hilman yang kini hanya bisa menunduk dalam, pura-pura sangat tertarik dengan motif karpet di bawah kakinya. Bunda yang tadinya panik luar biasa, perlahan menarik tangannya kembali dari rok Nayla. Wajah Bunda berubah dari khawatir menjadi menahan senyum yang sangat lebar.
"Oalah, Nduk... Bunda pikir kamu habis kena pukul preman itu, ternyata habis 'dipukul' yang lain ya?" goda Bunda sambil menepuk pelan bahu Nayla.
Arkan semakin menjadi-jadi tawanya. Ia mendekati Hilman dan merangkul pundak adik iparnya itu dengan akrab. "Wah, gila sih! Mas Hilman, saya nggak nyangka lho. Penampilan boleh Gus, kalem, pakai kacamata... tapi ternyata kalau di dalam kamar, tenaganya kayak mesin turbo ya? Sampai adik saya jalannya kayak penguin begitu."
"Arkan, sudah! Jangan buat Mas Hilman makin malu," tegur Ayah, meski sudut bibirnya berkedut menahan tawa. Ayah berdehem, mencoba kembali ke mode berwibawa.
"Ya sudah, kalau soal orang mabuk itu sudah selesai, Ayah lega. Tapi Hilman, lain kali pelan-pelan sedikit, ini Nayla kalau jalan di depan warga bisa-bisa dikira habis jatuh dari pohon."
Hilman akhirnya memberanikan diri mendongak, meski wajahnya masih merah padam. "I-inggih, Ayah. Maafkan Hilman... Hilman mungkin terlalu terbawa suasana."
Nayla yang melihat suaminya makin dipojokkan justru makin kegirangan. Ia sengaja bersandar di pundak Hilman sambil meringis manja. "Tuh kan Mas, dengerin kata Ayah. Jangan cuma mau enaknya aja, lihat nih korbannya sampai mau duduk aja harus miring-miring."
"Nayla, sudah ya, Mas nggak mau bahas itu lagi di depan orang tua," bisik Hilman pasrah, hampir memohon.
Bunda segera mencairkan suasana. "Sudah, sudah. Ayo kita ke meja makan. Bunda sudah masak spesial buat pengantin baru yang... ehem, energinya luar biasa ini. Nay, kamu mau Bunda ambilkan bantal buat duduk biar nggak sakit?"
"Mau Bunda! Soalnya kursi kayu di sini keras banget, nggak kayak sofa di rumah Mas Hilman," sahut Nayla tanpa malu.
Saat mereka mulai bergerak ke meja makan, Arkan sengaja berjalan di samping Hilman. "Mas, bagi resep dong. Jamu apa gimana? Kok bisa Nayla yang biasanya pecicilan gitu sampai lemes?"
Hilman hanya bisa menghela napas panjang. "Sabar, ya Allah... sabar," gumamnya pelan yang membuat Arkan tertawa lagi.
Di meja makan, mereka makan dengan lahap. Namun, baru saja Nayla menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah dan teriakan tukang paket dari gerbang.
"PAKET! Kiriman bunga buat Mbak Nayla!"
Mendengar kata "kiriman bunga", suasana meja makan mendadak hening. Nayla dan Hilman saling pandang. Mungkinkah itu dari Rian lagi?