Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Nomor dua bukan pilihan
Malam itu, Gina sampai di rumah. Ia berdiri cukup lama di depan pintu, tangannya menggenggam gagang, tapi hatinya ragu untuk menekannya.
Seketika, pintu terbuka dari dalam.
Seorang pria bersetelan jas hitam keluar dengan langkah cepat. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Ayah Gina.
“Dari mana kamu?” tanyanya dingin.
“Jam segini baru pulang.”
“A-aku…” Gina menelan ludah.
“Habis nganter teman belanja.”
Pandangan ayahnya turun ke lengan Gina.
“Apa itu?”
“Tas baru?”
Gina refleks menarik lengannya sedikit.
“Aku cuma ikut beli aja. Teman-teman aku belanja semua, dan aku… nggak enak kalau sendirian Nggak beli apa-apa.”
Ayahnya menghela napas pendek.
“Masuk.”
Di dalam rumah, suasana terasa berat. Lampu ruang tamu menyala terang, tapi tidak menghangatkan apa pun.
Di sofa, ibu Gina sudah duduk menunggu.
Gina ikut duduk, punggungnya kaku, tangannya saling mencengkeram.
Ayahnya berdiri di depan, menunjuk ke arah kepala Gina. Jarinya mengetuk pelan, tapi cukup membuat jantung Gina berdegup lebih cepat.
“Kamu itu mau jadi apa?” ucapnya.
“Ayah hubungi kamu susah. Kamu tahu kan, kebanyakan main itu nggak bakal ningkatin nilai kamu.”
Gina tidak menjawab. Tubuhnya gemetar halus. Matanya melirik ke arah ibunya, berharap ada sesuatu—apa saja.
Ibu Gina menatapnya dengan wajah sedih. Tapi tatapan itu bukan simpati. Lebih seperti kecewa yang ditahan.
“Semester lalu kamu bikin kesalahan,” lanjut ayahnya.
“Kamu kehilangan dua poin. Dua. Dan itu cukup bikin kamu kalah dari anak keluarga Rosyid.”
Nada suaranya meninggi.
“Kamu tahu nggak apa kata orang-orang?”
“Pemilik perusahaan hiburan terbesar, tapi anaknya cuma peringkat dua.”
“Ma-maaf, Yah…” suara Gina hampir tak terdengar.
“Aku janji bakal lebih berusaha.”
Tangannya mulai menggaruk sela-sela jari sendiri, kebiasaan lama yang selalu muncul saat ia panik.
“Pergi ke kamar,” kata ayahnya tegas, tanpa memberi ruang untuk membantah.
“Belajar. Kalau kamu masih mau dihargai di rumah ini.”
“Ayah sudah siapkan beberapa soal di kamar,” katanya tenang, tapi nadanya tidak bisa ditawar.
“Kerjakan semuanya, lalu tunjukkan ke Ayah. Jangan sampai ada satu pun yang salah.”
“I-iya, Yah,” jawab Gina pelan.
Ayahnya berbalik dan berjalan pergi.
Ibu Gina mendekat, lalu memeluk putrinya.
Pelukannya hangat—nyaman di luar, tapi menekan di dalam.
“Anakku, kamu pasti bisa,” ucapnya lembut, seolah mencoba menenangkan.
Ia mengelus punggung Gina pelan.
“Maafkan sikap ayahmu. Kamu tahu sendiri… semua itu sebenarnya demi kebaikan kamu.”
Ibu itu kemudian sedikit menjauh, menatap wajah Gina lebih dekat.
“Ibu tahu kamu capek,” lanjutnya lirih.
“Ibu juga tahu kamu sebenarnya bisa menolak.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang tetap halus—terlalu halus.
“Tapi kalau nanti orang-orang salah paham soal kamu… ibu nggak yakin kamu siap menghadapi omongan mereka.”
Pelukan itu kembali mengerat.
Kali ini terasa berat.
Bukan menenangkan, bukan menguatkan.
Dan entah kenapa, kata-kata itu tidak membuat Gina merasa lebih baik.
Hanya tekanan lain, dibungkus dengan nada lembut.
Gina naik ke kamarnya dengan langkah pelan. Ia berganti pakaian, lalu duduk di depan meja belajar yang sudah tertata rapi. Lampu meja dinyalakan, menerangi lembar-lembar soal yang menunggunya.
Ia sadar perutnya kosong.
Ajakan makan yang tadi ia lontarkan ditolak Dio, dan sejak sampai di rumah, Gina memang belum sempat menyentuh apa pun. Tapi rasa lapar itu terasa kecil dibandingkan ketakutan yang menekan dadanya. Ketakutan karena tahu, ia tidak boleh salah.
Satu jawaban saja.
Gina terdiam sejenak. Tangannya berhenti di atas meja. Pandangannya beralih ke kantong belanja yang tergeletak di sudut kamar.
Ia membuka bungkus tas baru itu perlahan.
Saat kain pelindungnya tersingkap, senyum kecil muncul di wajah Gina. Tipis, singkat, tapi cukup untuk membuat napasnya terasa sedikit lebih ringan.
Seperti obat sementara.
Bukan untuk menyembuhkan, hanya untuk menahan rasa sakit yang terlalu berat untuk dihadapi malam ini.
Setelah beberapa menit Gina mengerjakan soal, pintu kamarnya terbuka.
Ayahnya masuk dengan langkah tenang, terlalu tenang. Gina langsung berhenti menulis. Ia tidak berani menoleh. Pandangannya tertancap pada lembar soal di hadapannya, seolah di situlah satu-satunya tempat yang aman untuk menatap.
Ayah Gina mengambil kertas itu tanpa berkata apa-apa.
Ia mulai memeriksanya. Lembar demi lembar dibalik dengan rapi.
Gesekan kertas terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Terlalu jelas.
Setiap bunyi kecil itu membuat napas Gina terasa lebih pendek. Tangannya bergerak tanpa sadar, menggaruk pelan sela-sela lengannya. Kebiasaan lama. Gerakan kecil yang selalu muncul setiap kali kecemasannya menumpuk dan tak menemukan jalan keluar.
Ia menahan diri untuk tidak menoleh. Tidak bertanya. Tidak menjelaskan.
Menunggu selalu terasa lebih menyakitkan dari pada dimarahi.
Saat dimarahi, setidaknya semuanya jelas. Salah atau benar. Hitam atau putih.
Tapi menunggu… berarti bersiap menerima apa pun, tanpa tahu kapan atau seberapa berat.
Suara itu akhirnya terdengar.
Tenang. Dingin. Tanpa emosi.
“Bagus. Seharusnya memang begitu.”
Ayah Gina mengembalikan kertas itu ke meja.
“Besok Pulang sekolah langsung ke tempat les. Jangan buang energi untuk hal-hal yang nggak penting.”
Ia berhenti sejenak.
“Ayah cuma ingin kamu tetap di tempat yang seharusnya,” ucap ayahnya datar.
“Ingat peringkat satu itu milik kamu. Bukan dua.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah—seolah sedang memberi nasihat, bukan perintah.
“Jangan biasakan diri merasa cukup dengan kalah. Apalagi kalah dari anak keluarga Rosyid.”
Tatapan itu jatuh lurus ke Gina.
“Mereka sudah terlalu sering di atas. Ayah tidak mau kamu jadi yang nomor dua… di mata siapa pun.”
“Iya, Ayah,” jawab Gina pelan.
“Cukup untuk hari ini. Tidur. Jangan bikin tubuhmu jadi alasan untuk gagal besok.”
Gina hanya mengangguk.
Tidak ada bantahan.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar tertutup.
Suara langkah ayahnya menjauh, meninggalkan ruangan yang kembali sunyi. Gina menatap soal di depannya, lalu menunduk. Tangannya mengepal pelan di atas paha.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Bukan lega yang ia rasakan, melainkan kewajiban yang semakin berat. Seolah semua yang ia lakukan hari ini hanya untuk mempertahankan tempat—bukan untuk maju, bukan untuk bahagia.
Di sudut kamar, tas baru itu tergeletak diam.
Gina menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali memandang meja belajar. Pulpen masih ada di tangannya, meski soal sudah selesai.
“Kamu pasti bisa, Gin.Kamu sudah punya semuanya.Bahkan hari ini… kamu dapat tas edisi terbatas itu.”ucapnya dengan suara pelan.
Gina akhirnya berjalan ke tempat tidurnya.
Lampu kamar dipadamkan, tubuhnya rebah menghadap langit-langit yang gelap.
Besok, ia tidak boleh melakukan kesalahan.
Sedikit pun.
Ia mengulang kalimat itu di kepalanya, seperti perintah yang harus ditaati.
Namun di balik semua itu—di tempat yang tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun—
Gina hanya ingin satu hal sederhana.
Bebas.
Seperti mereka yang bisa hidup bebas, tanpa harus takut mengecewakan siapa pun.
Dan malam itu, sebelum matanya terpejam sepenuhnya,
Gina bertanya pada dirinya sendiri—
berapa lama lagi ia sanggup bertahan?
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔