NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

"Bang, Ifa balik dulu ya. Ojolnya udah mau sampai di depan gerbang kampus," pamit Amara sambil merapikan tas kain bekal yang sudah kosong. Ia sengaja mempercepat gerakannya karena suasana di meja itu makin terasa menyesakkan, terutama dengan keberadaan Nicholas yang terus mengawasinya tanpa henti.

"Eh, ya udah hati-hati, Dek! Kabarin kalau udah sampai!" seru Ryan yang masih sibuk beradu argumen soal tugas struktur bangunan dengan Arga.

Amara mengangguk singkat, lalu berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor. Ia merasa lega bisa lepas dari tatapan tajam para mahasiswa Teknik, terutama mahasiswi-mahasiswi yang tadi menatapnya sinis. Baru saja ia melangkah sekitar sepuluh meter, sebuah derap langkah sepatu boots yang berat terdengar mengejarnya.

Sret!

Sebuah lengan kekar tiba-tiba menghalangi jalan Amara, bertumpu pada pilar koridor tepat di samping kepalanya. Amara tersentak dan nyaris menabrak dada bidang seseorang.

Nicholas. Lagi.

"Gue anterin," ucap Nick tanpa basa-basi. Suaranya rendah, terdengar lebih seperti perintah daripada tawaran.

Amara mendongak, matanya membelalak kaget. "Nggak usah, Kak. Aku udah pesen ojol, bentar lagi sampai."

"Cancel," balas Nick singkat.

"Hah? Nggak mau! Kasihan abangnya udah jalan ke sini. Lagian Kak Nick kan masih ada urusan sama Bang Ryan," Amara mencoba berkelit, ia melangkah ke samping untuk menghindari Nick, tapi pria itu dengan sigap kembali menghalangi jalannya.

"Gue bilang, gue anterin, Amara Lathifa." Nick menekan setiap suku kata nama gadis itu. "Ojol itu nggak aman buat anak SMA yang pulang sore-sore begini."

Amara mendengus, rasa kesalnya mulai memuncak. "Kak, kita baru kenal beberapa hari! Jangan sok ngatur deh. Aku biasa pulang sendiri, dan aku lebih percaya abang ojol daripada Kakak yang... yang red flag begini!"

Setelah mengucapkan itu, Amara menggeleng keras dan berjalan setengah berlari meninggalkan Nicholas yang masih berdiri terpaku. Ia tidak peduli jika ucapannya barusan terdengar kasar. Baginya, Nicholas adalah gangguan yang terlalu cepat masuk ke dalam hidupnya. Mereka baru bertemu tiga kali, tapi pria itu bersikap seolah punya hak atas keamanannya.

Amara sampai di gerbang kampus dengan napas sedikit terengah. Ia melihat ponselnya, sang pengemudi ojol sudah berada di titik jemput. Sebuah motor matic dengan pengemudi berjaket hijau pun menepi.

"Neng Amara?" tanya tukang ojol itu.

"Iya, Pak," jawab Amara lega. Namun, baru saja ia hendak naik ke boncengan, suara raungan mesin motor yang jauh lebih gahar memecah kebisingan gerbang kampus.

Vroom!

Motor besar hitam milik Nicholas berhenti tepat di samping motor ojol tersebut. Nick membuka kaca helmnya, menatap sang tukang ojol dengan tatapan dingin yang mengintimidasi.

"Sori, Pak. Orderannya dibatalin aja. Biar saya yang anter dia, saya kakaknya," bohong Nick tanpa berkedip. Ia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku jaketnya dan menyodorkannya pada tukang ojol itu. "Ini buat ganti rugi bensin sama waktu Bapak."

Tukang ojol itu tampak bingung, menatap uang itu lalu menatap Nick yang terlihat seperti orang kaya tapi berbahaya. "Lho, beneran, Neng? Ini kakaknya?"

Amara melongo. "Bukan, Pak! Dia bukan—"

"Gue temen abangnya. Sama aja," potong Nick cepat. "Pak, mending Bapak ambil uangnya sekarang sebelum saya berubah pikiran."

Nada suara Nick yang menekan membuat tukang ojol itu segan. Dengan ragu, ia menerima uang tersebut. "Eh, iya sudah kalau begitu. Makasih ya, Mas. Neng, saya pamit ya."

"Pak! Pak jangan pergi!" teriak Amara, tapi motor ojol itu sudah melesat pergi.

Amara berbalik ke arah Nicholas dengan wajah merah padam karena marah. "Kak Nick apa-apaan sih?! Itu namanya sabotase! Aku nggak mau pulang sama Kakak!"

Nick mematikan mesin motornya, turun, dan berdiri tepat di hadapan Amara. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Amara harus mendongak maksimal. "Ryan titip lo ke gue. Kalau lo kenapa-napa di jalan pakai motor kecil begitu, gue yang bakal ngerasa nggak enak sama Bunda lo."

"Bunda manggil aku Ifa, bukan Amara! Dan Bunda nggak bakal tahu kalau Kakak nggak kasih tahu!" protes Amara.

"Gue tahu Bunda panggil lo Ifa. Dan gue juga tahu lo sebenernya takut pulang sendiri kalau udah mendung begini," Nick menunjuk ke arah langit yang mulai menggelap. "Naik. Sebelum gue gendong lo paksa ke atas motor."

Amara mengepalkan tangannya. Keberaniannya ciut saat melihat mata Nick yang tidak menunjukkan tanda-tanda mau mengalah. Nicholas adalah tipe orang yang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginannya. Dengan perasaan dongkol dan bibir yang mengerucut, Amara akhirnya naik ke jok belakang motor Nick.

"Pegangannya jangan di behel. Pegang jaket gue," perintah Nick.

"Nggak mau!"

Nick tidak mendebat. Ia justru menarik gas secara mendadak saat motor baru mulai berjalan, membuat Amara terpekik dan secara otomatis memeluk pinggang Nick dengan erat agar tidak jatuh.

"Nicholas menyebalkan!" teriak Amara di balik pundak pria itu.

Nick hanya tertawa rendah, suara tawanya tenggelam di balik deru mesin dan angin jalanan. "Emang. Dan lo harus terbiasa sama itu, Ifa."

Perjalanan pulang terasa jauh lebih lama bagi Amara. Wangi parfum Nick kembali memenuhi indra penciumannya. Anehnya, meski ia marah, ada rasa aman yang entah dari mana muncul saat ia berada di belakang pria ini. Nick tidak membawa motornya dengan ugal-ugalan seperti yang Amara bayangkan. Ia justru berkendara dengan sangat stabil, seolah menjaga agar Amara tidak terguncang.

"Kenapa lo nggak suka gue anter?" suara Nick terdengar dari balik helm, samar-samar tertutup angin.

"Ya karena kita nggak kenal! Kakak itu asing!" teriak Amara.

"Tiga hari yang lalu kita kenal. Dua hari yang lalu gue obatin tangan lo. Tadi kita makan bareng. Masih asing?"

"Ya tetap aja! Kakak itu tipe orang yang dihindari semua cewek waras!"

Nick terdiam sejenak. "Termasuk lo? Lo ngerasa nggak waras kalau deket gue?"

Amara tidak menjawab. Ia hanya terdiam, menyandarkan kepalanya sedikit di punggung Nick tanpa sadar. Hatinya bergejolak. Nick benar, ada sesuatu yang "tidak waras" di dalam dirinya setiap kali pria ini muncul. Rasa takut, sebal, tapi juga rasa penasaran yang besar.

Saat motor itu akhirnya sampai di depan pagar rumah Amara, Nick tidak langsung membiarkan Amara turun. Ia menahan tangan Amara sejenak saat gadis itu hendak melompat dari jok.

"Ifa," panggilnya lembut. Ini pertama kalinya Nick memanggilnya dengan nama rumahnya secara langsung tanpa nada mengejek.

Amara menoleh. "Apa lagi?"

"Jangan terlalu deket sama cowok yang namanya Daffa itu," ucap Nick serius.

"Kenapa sih? Kakak cemburu?" tanya Amara asal ceplos.

Nick menyeringai tipis, namun matanya menatap dalam ke mata Amara. "Cemburu? Mungkin. Tapi yang jelas, gue cuma nggak suka milik gue diganggu sama orang lain."

Amara mematung. "Milik... apa?"

"Masuk sana. Salam buat Bunda," Nick tidak menjawab pertanyaan Amara. Ia memakai kembali helmnya dan langsung melesat pergi, meninggalkan Amara yang berdiri mematung di depan pagar dengan jantung yang berdetak sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!