Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 PERJAMUAN DI TENGAH PASAR
Langkah kaki Abimanyu yang telanjang kini membawanya tepat ke jantung "Pasar Besar Kehidupan", sebuah tempat di mana detak jantung manusia telah lama digantikan oleh denting koin dan desis mesin pencetak kertas. Di sini, di pusat Lembah Nama, udara tidak lagi mengandung oksigen murni dari ketinggian, melainkan pengap oleh aroma tinta yang mengering dan kecemasan kolektif yang disamarkan sebagai produktivitas. Di pusat pasar ini berdiri sebuah kafe megah yang sering menjadi tempat berkumpulnya para elit intelektual—sebuah "mimbar" informal bagi mereka yang merasa telah memiliki dunia karena angka sitasi mereka tinggi.
Abimanyu berhenti di depan pintu kaca otomatis yang berkilat, memantulkan sosoknya yang tampak seperti rongsokan manusia bagi mata yang hanya terbiasa melihat jas tweed dan jam tangan mewah. Ia tidak lagi memiliki kartu identitas plastik yang dulu memberinya akses ke semua pintu. Namun, ia melangkah masuk dengan kedaulatan seorang penguasa yang sedang mengunjungi koloninya yang paling terbelakang.
Di sebuah meja sudut yang menghadap ke arah alun-alun, ia melihat mereka: Profesor Danu dan Dr. Hardi. Mereka sedang menyesap kopi dengan cara yang sangat terukur, dikelilingi oleh map-map tebal dan tablet yang menampilkan grafik pertumbuhan indeks publikasi.
Saat Abimanyu mendekat, bau tanah basah dan aroma badai yang melekat pada kulitnya menembus sterilitas ruangan ber-AC itu. Dr. Hardi adalah yang pertama mendongak. Kacamata tebalnya hampir jatuh saat ia melihat sosok yang berdiri di hadapannya—seorang pria yang kulitnya telah berubah menyerupai tekstur granit, dengan mata yang memiliki ketajaman yang menghina.
"Demi Tuhan... Abimanyu?" suara Danu bergetar, antara rasa jijik dan ketidakpercayaan murni. Ia segera berdiri, mencoba menutupi kegelisahannya dengan jubah otoritasnya yang mahal. "Kami mengira kau sudah mati di atas sana. Atau setidaknya, sudah diamankan oleh petugas medis.".
Abimanyu tidak duduk di kursi yang disediakan. Ia duduk di atas meja, tepat di tengah-tengah tumpukan dokumen strategis mereka. "Mati?" ia bertanya, dan suaranya terdengar seperti gesekan es yang menyatu di puncak kesunyian. "Memang, Abimanyu yang kalian kenal sudah lama menjadi abu di alun-alun itu. Yang berdiri di hadapan kalian sekarang adalah seseorang yang telah melupakan rasa takut akan paku-paku birokrasi kalian.".
Abimanyu merogoh saku pakaiannya yang compang-camping dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil yang berisi sisa-sisa substansi keemasan gelap—madu yang ia temukan di dekat puncak. Ia menuangkan setetes madu itu ke dalam kopi hitam Profesor Danu yang mahal.
"Apa yang kau lakukan?!" Danu tersentak mundur, seolah-olah Abimanyu baru saja menuangkan racun ke dalam sistemnya.
"Aku memberimu perjamuan, Danu," ujar Abimanyu dengan senyum seorang anak kecil yang baru saja menemukan cara bermain yang baru. "Cicipilah. Ini adalah madu yang pahit. Ia adalah sari pati dari penderitaan yang telah diubah menjadi kekuatan. Ia tidak mengandung pemanis buatan seperti 'keamanan sosial' atau 'etika kolektif' yang biasa kau jual di pasar ini.".
Hardi menatap Abimanyu dengan ketakutan yang dingin. "Kau bicara dalam teka-teki, Abimanyu. Kau terlihat mengerikan. Kau butuh pertolongan.".
"Pertolongan?" Abimanyu tertawa, sebuah tawa yang meruntuhkan keseriusan ruangan itu. "Kalian menyebut 'penjara' ini sebagai pertolongan? Kalian saling mengasihani agar kalian tidak perlu merasa sendirian dalam ketidakmampuan kalian untuk terbang. Belas kasihan kalian adalah racun paling halus yang memastikan tidak ada seorang pun yang berani melampaui rata-rata lumpur mediokritas ini!".
Abimanyu berdiri dan menunjuk ke arah layar tablet yang menampilkan statistik tenaga kerja dan angka sitasi. Baginya, layar itu kini tampak seperti papan hukum lama yang harus dihancurkan.
"Lihatlah kalian!" teriaknya, dan suaranya menarik perhatian seluruh pengunjung kafe yang kini menatap dengan ngeri. "Kalian menghitung manusia seperti menghitung ternak. Kalian memuja 'angka' seolah-olah angka adalah napas Tuhan. Kalian mengejar h-index seolah itu adalah indeks keselamatan jiwa. Kalian adalah Manusia Terakhir yang telah menemukan 'kebahagiaan' dalam tatanan yang rapi, lalu kalian berkedip dengan mata kecil penuh kepuasan diri!".
Ia menyapu tumpukan map di meja itu hingga jatuh berhamburan ke lantai. "Papan hukum kalian adalah ketertiban yang mematikan! Kalian takut pada api karena api tidak bisa dimasukkan ke dalam tabel Excel!".
Profesor Danu memerah, otot rahangnya mengeras karena amarah yang tertahan. "Kau melanggar ketertiban umum, Abimanyu! Kau sudah tidak memiliki hak untuk bicara di sini. Kau sudah dihapus dari sejarah fakultas ini!".
"Dihapus?" Abimanyu melangkah mendekati Danu, hingga Danu bisa mencium bau petir dan badai dari tubuhnya. "Aku justru membakar sejarahku agar aku tidak lagi terjebak di dalamnya. Kau tidak bisa menghapus seseorang yang telah mengatakan 'Ya' kepada penderitaannya sendiri. Aku adalah matahari yang sedang turun, Danu. Cahayaku akan membuat mata kalian yang terbiasa dengan lampu neon menjadi silau!".
Sebagai penutup perjamuannya, Abimanyu melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal bagi logika pasar: ia mulai menari. Bukan tarian yang memiliki aturan, melainkan gerakan spontan dari seorang "Anak Kecil" yang merayakan keberadaannya. Ia melompat dari meja ke meja, menertawakan ketakutan yang terpancar dari wajah-wajah Manusia Kertas di sekelilingnya.
"Dunia ini adalah sebuah tarian, bukan sebuah persidangan!" teriaknya di tengah tarian liarnya. "Dan perjamuan ini adalah untuk memperingati bahwa Tuhan-Tuhan kertas kalian telah mati!".
Sesaat kemudian, petugas keamanan universitas menyerbu masuk. Namun, sebelum mereka sempat menyentuhnya, Abimanyu sudah melompat keluar melalui pintu terbuka, meninggalkan kafe itu dalam kekacauan intelektual yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia berdiri di luar, di bawah sinar matahari tengah hari yang terik, dan tersenyum. Ia telah membagikan "madunya". Meskipun mereka memuntahkannya, rasa pahitnya akan tetap tinggal di lidah mereka selamanya. Perjamuan di tengah pasar telah usai, dan fajar yang ia bawa mulai membakar pinggiran Lembah Nama.