Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesunyian Hati
Alarm berbunyi pukul lima pagi. Raka membuka mata. Refleks. Otaknya masih setengah sadar sudah merangkai rencana: bangun, salat subuh, menyiapkan sarapan untuk Kinan, membangunkannya dengan kecupan lembut di kening, lalu mendengar suara protes manjanya— "Mas, lima menit lagi" —lalu ciuman itu terus mendarat sampai ia terbangun dengan wajah manyun tapi senang
Namun kali ini ia melihat ke samping, kosong.
Sunyi kembali menyambutnya, seperti ombak datang meski pantainya hancur berkeping-keping.
Alarm masih berbunyi nyaring, ponsel bekas layarnya retak, selalu ia tunda karena “yang penting masih nyala, Nan” dan Kinan selalu mengeluh karena tidak bisa selfie dengan baik.
Ia mematikan alarm bukan dengan swipe seperti biasa, tapi menekan tombol power off ponsel mati total. Ia tidak ingin bangun, tidak ingin ada pagi dan tidak ingin ada hari yang harus dijalani tanpa alasan.
Tapi tubuhnya bergerak sendiri sebuah kebiasaan. Ototnya lebih tahu rutinitas daripada hatinya yang hancur. Ia berdiri, ke kamar mandi, mengambil air wudhu. Air dingin di tangan, di muka, di kaki ia rasakan tapi tidak benar-benar ada di sana.
Di cermin, wajah yang sama seperti kemarin, pucat, cekung, asing. Janggut yang tumbuh liar, mata tidak pernah benar-benar tidur. Ia mencukur? Tidak, tidak ada alasan untuk terlihat baik, tidak ada yang melihat dan peduli.
Salat subuh. Ia berdiri, rukuq, sujud. Kata-kata menjadi penghibur terdengar hampa, seperti bacaan dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Tapi ini adalah kewajiban.
Ia ingat Kinan selalu tegar dalam sakitnya. "Aku percaya, Mas, Allah punya rencana lain untuk hambanya." Raka ingin percaya. Tapi saat ini, di sajadah yang masih berbau wangi tubuhnya, ia hanya bisa bertanya didalam hati—apa rencana Allah membawanya pergi?
---
Laki laki itu berdiri di ambang pintu dapur, menatap ruangan kecil kini seperti museum. Setiap benda adalah artefak dari sebuah kehidupan.
Cangkir kucing di meja. Masih ada sisa kopi kemarin, kini berjamur di dasarnya. Raka tidak membersihkannya. Itu adalah bukti terakhir bahwa Kinan pernah ada, pernah minum, pernah hidup di sini.
Kompor gas. Dulu selalu menyala pagi-pagi, memasak nasi goreng atau mi rebus atau apa pun yang Kinan inginkan. Dia selalu lapar di pagi hari, tidak bisa bangun tapi tidak bisa juga tidur kalau perut kosong. "Perut Kinan ada alarm sendiri, Mas, sementara perut mas triplek gak ada isi" katanya sambil tertawa terpingkal.
Kini kompor dingin. Raka tidak menyalakannya, tidak ada yang mau dimasak, yang dimakan. Ia hanya mengisi ketel elektrik—hadiah pernikahan dari Maya—dan membuat kopi instan hitam, tanpa gula, pahit seperti yang ia rasakan.
Ia duduk di meja menatap cangkir kucing yang berjamur, kopi hitamnya menguap, dinding bercat kuning pucat terlihat seperti warna penyakit.
Jam dinding berdetak pukul tujuh pagi. Waktu Kinan biasanya bangun, atau setidaknya mulai berguling-guling di ranjang, protes karena Raka tidak membangunkannya dengan ciuman.
Raka menatap arloji di pergelangan tangannya. Hadiah ulang tahun darinya, yang ia tabung diam-diam selama tiga bulan. "Yang awet ya, Mas, nanti kalau Kinan nggak ada, Mas masih inget."
Ia akhirnya berdiri berjalan ke kamar menatap ranjang kini terlalu besar, terlalu rapi, terlalu kosong.
Dengan refleks ia mencari, mencari tubuh yang biasanya masih terbungkus selimut, hanya menunjukkan puncak kepala dengan rambut acak-acakan. Hidungnya mencari bau—bau tidur, bau tubuhnya yang khas.
"Nan," bisiknya, meski tahu tidak ada jawaban. "Nan, bangun, telat sayang, Mas cium ya."
Sunyi. Hanya sunyi yang menjawab, menertawakan kebodohannya mengingatkannya lagi dan lagi: Dia sudah tidak ada. Dia sudah tidak akan pernah ada.
Raka merosot di lantai. Punggungnya menempel dinding, lututnya ditarik ke dada, tangannya menggenggam rambutnya sendiri. Ia ingin berteriak menangis sampai tidak ada air mata tersisa.
---
Telepon berbunyi tepat pukul delapan pagi.
Raka tidak menjawab masih di lantai kamar, masih memeluk lutut, mencoba menghilang. Telepon berbunyi lagi. Dan lagi. Pesan masuk. Suara notifikasi biasanya ia tunggu-tunggu kini terdengar seperti gangguan, sebuah penghinaan terhadap duka yang sedang ia coba jalani.
Akhirnya ia berdiri kaku mengambil ponsel di atas meja. Maya. Tiga panggilan tak terjawab, lima pesan yang tidak ia baca.
Ia membuka pesan terakhir: "Ra, lo kerja hari ini? Gue bisa antar jemput kalau perlu."
Kerja. Kalimat itu terdengar asing di telinganya. Kerja, untuk apa? untuk siapa? dengan tujuan apa?
Tapi Maya menunggu. Ibu Rini menunggu. Dunia, meski tidak peduli, terus berputar dan menuntutnya untuk ikut berputar.
Ia mengetik balasan, jari-jarinya kaku lambat: "Gue bisa sendiri. Makasih, May."
Di dalam, ia boleh hancur. Tapi di luar, ia bisa berjalan. Itu cukup. Untuk sekarang, cukup.
---
Raka berdiri di depan gedung tiga lantai menjadi tempat sebagian besar hidupnya. Tempat di mana ia bertemu Kinan—di ruang rapat, datang sebagai vendor bunga untuk acara perusahaan. Ia jatuh cinta, memutuskan untuk serius, membangun masa depan kini tidak pernah terjadi.
Ia naik tangga. Lift ada, tapi ia butuh waktu, butuh penundaan, butuh sesuatu untuk memperlambat kedatangan ke tempat di mana ia harus berpura-pura menjadi normal.
Di lantai dua, ia berhenti. Ada jendela kecil, menghadap ke taman. Taman di mana Kinan dulu berjualan bunga. Raka sering membeli bunga mawar putih dengan alasan “buat dekorasi kantor” padahal hanya ingin melihatnya tersenyum.
Ia melihat ke bawah. Taman itu masih ada, hijau, hidup. Tapi tidak ada lagi gerobak bunga kecil dengan spanduk “Kinan’s Garden”. Tidak ada perempuan berkopiah rajutan krem tertawa sambil mengatur bucket mawar.
Hanya orang-orang asing kehidupan berlanjut tanpa peduli pada yang ditinggalkan.
Raka melanjutkan naik lantai tiga, ruang kerja. Meja di sudut dekat jendela, selalu ia pilih karena bisa melihat taman, melihat Kinan di sana.
Kini meja itu hanya meja. Jendela hanya jendela. Taman hanya taman. Tidak ada lagi alasan istimewa.
"Raka." Suara atasannya Pak Dedi, dari belakang. "Kamu..baik-baik aja?"
Pertanyaan tidak ingin ia dengar. Ia berbalik, mencoba tersenyum, gagal total.
"Baik, Pak. Makasih."
Pak Dedi menatapnya mengenali kebohongan, melihat kehancuran yang ditutupi dengan kemeja kusut dan senyum palsu.
"Kalau kamu butuh waktu, Raka, kita ngerti. Kinan... kita semua kenal Kinan. Kita sedih juga."
Sedih juga. Kata-kata yang seharusnya menghibur, tapi seperti penghinaan. Sedih juga, seolah duka mereka setara, kehilangan rekan kerja sama dengan kehilangan separuh jiwa.
Tapi Raka mengangguk mengucapkan terima kasih. Berjalan ke mejanya, duduk, menyalakan komputer. Layar menyala, menampilkan wallpaper—foto pernikahan mereka kini menusuk mata.
Ia menatap foto itu. Kinan tersenyum lebar, matanya berbinar, tangannya menggenggam erat lengannya. Raka di samping, tersenyum malu-malu, tidak percaya bahwa ada perempuan sebaik Kinan mau dengannya.
Ia tidak mengganti wallpaper. Tidak sanggup. Tapi ia juga tidak sanggup melihatnya terus-menerus.
---
Jam sepuluh. Raka belum mengerjakan apa pun duduk di meja, menatap layar, mengetik sesuatu lalu menghapus, menatap jendela, menatap taman. Rekan kerjanya sesekali melirik, berbisik, mencoba mendekat lalu berpikir ulang.
Ia tahu mereka membicarakannya. "Kasihan ya, Raka." "Istrinya baru meninggal." "Dia kelihatan hancur."
Kasihan. Kata penghargaan atas penderitaan, tapi sebenarnya adalah penjara. Kasihan berarti ia tidak bisa marah, tidak bisa kesal, tidak bisa tidak peduli. Kasihan berarti ia harus terus terlihat hancur, karena jika terlihat baik-baik saja, orang akan menganggapnya tidak mencintai Kinan.
Ia ingin berteriak pada mereka: Gue bukan objek kasihan. Gue bukan cerita sedih untuk dibicarakan. Gue adalah orang yang kehilangan segalanya, dan gue nggak tahu caranya menjadi orang.
Tapi ia hanya diam. Menatap layar. Menunggu waktu berlalu, menunggu hari berakhir, menunggu ia bisa pulang ke rumah tidak lagi menjadi rumah.
---
Makan siang di kantin terasa seperti hukuman yang harus dijalani perlahan.
Raka duduk di sudut paling belakang, meja dekat jendela yang catnya mulai mengelupas.
Nasi bungkus tergeletak di depannya—ia bahkan tidak ingat kapan membelinya atau siapa yang meletakkannya di meja. Mungkin Maya. Mungkin Pak Dedi. Mungkin seseorang yang kasihan dan ingin merasa baik tentang dirinya sendiri.
Ia membuka bungkus itu perlahan. Uap tipis sudah hilang. Nasi mulai menggumpal. Ayam goreng terlihat terlalu berminyak. Sambal mengering di sudut kertas.
Ia menatap makanan seperti benda asing dari dunia lain.Tiga suap. Empat suap. Tanpa rasa.
Lalu sebuah suara memanggilnya.“Raka?”
Ia tidak langsung menoleh suara itu tidak asing seperti nada lama. Ia mengangkat kepala, seorang perempuan cantik sudah berdiri di depannya, membawa nampan makan siang. Rambutnya lebih pendek dari yang ia ingat—atau mungkin hanya perasaannya saja yang berubah. Wajahnya tampak lebih dewasa, lebih tenang, tapi ada sesuatu di matanya tidak berubah.
“Apa kabar Raka?...Ia berhenti, menarik napas pelan. “Gue baru tahu.”
Laki laki itu menatapnya beberapa detik, cukup lama untuk membuat suasana di antara mereka terasa seperti ruangan tertutup tanpa ventilasi.“Laras?"
Nama itu keluar datar, tapi ada sesuatu mengeras di rahangnya ketika mengucapkan.
Laras duduk tanpa menunggu undangan. Gerakannya hati-hati, seolah sedang duduk di atas kaca tipis bisa pecah kapan saja.
“Gue denger dari HR,” katanya pelan. “Tentang… Kinan.”
Nama itu terdengar berbeda saat keluar dari mulut orang lain. Lebih resmi. Lebih jauh.
“Gue turut berduka.”
Raka mengangguk. Tidak ada ucapan terima kasih, ekspresi tambahan hanya anggukan kecil nyaris tak terlihat.
Beberapa detik berlalu. Kantin tetap ramai, tapi di sekitar meja mereka ada ruang kosong memisahkan dari kebisingan.
“Lo kurusan,” ucapnya refleks, lalu dengan cepat mengoreksi diri. “Maksud gue… Lo kelihatan capek.”
Raka menatap nasi di depannya.
“Gue baik,” jawabnya pendek. Kata itu terdengar seperti kebohongan terlalu sering diulang sampai kehilangan makna.
Laras mengaduk makanannya tanpa benar-benar di makan. “Kalau lo nggak siap kerja penuh, lo bisa ambil cuti lagi. Pak Dedi pasti ngerti.”
“Gue nggak mau di rumah, Ras.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat dan jujur.
Perempuan itu berhenti menggerakkan sendoknya.“Rumah terlalu sepi ya?”
Raka menatapnya tajam terlalu tepat dan cepat “Lo nggak tahu apa-apa, Ras," katanya lebih keras dari apa yang ia rencanakan.
Beberapa kepala menoleh. Laras tidak membalas dengan marah hanya menahan tatapan aneh defensif.“Gue nggak bilang gue tahu,” ucapnya pelan. “Gue cuma… nggak mau lo ngerasa sendirian.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Raka tersenyum kecil—kering, tanpa humor.
“Semua orang bilang begitu.”
“Gue bukan semua orang.”
Sunyi.
Kalimat sederhana, tapi berat, ada sejarah yang tak dapat disebutkan di dalamnya.
Raka mengalihkan pandangan. Tangannya mengepal tanpa sadar.“Gue bisa sendiri.”
“Dulu juga lo bilang begitu.”
Laras menyadari ucapannya terlalu jauh. Ia berhenti menarik napas mengganti arah.
“Divisi gue pindah ke lantai dua,” katanya lebih netral. “Kalau… kalau lo butuh apa pun, tinggal turun.”
“Gue nggak butuh apa-apa."
“Semua orang butuh sesuatu, Ra.”
Raka berdiri sebelum ia selesai makan. Nasi masih setengah. Ayam tak tersentuh.
“Gue harus balik kerja.”
“Lo bahkan belum makan.”
“Udah cukup.”
Laras tidak menahannya hanya memperhatikan punggungnya menjauh, bahunya sedikit membungkuk, langkahnya berat seperti orang menyeret beban tak terlihat. Ia memanggilnya pelan—tidak cukup keras untuk menarik perhatian orang lain.
“Raka”
Ia berhenti, tapi tidak berbalik.
“Lo nggak harus kuat terus.”
Ia tetap tidak menoleh berapa detik. Lalu berjalan pergi.
---
Pulang pukul lima sore. Atau empat. Atau enam. Raka tidak ingat. Waktu berjalan aneh—melambat dan melaju sekaligus, seperti film yang diputar dengan kecepatan salah.
Tetangganya, Bu Yati, perempuan paruh baya sedang menyapu teras melihatnya berhenti di didepan gerbang rumah dengan tubuh lelah dan mata sayu.
"Raka, Nak," panggilnya. "Turut berduka ya. Kinan... Kinan anak baik."
Ia mengangguk dalam tidak berhenti, setiap kata turut berduka terasa seperti pukulan bahwa duka adalah milik umum, bahwa Kinan sekarang menjadi milik semua orang merasa berhak berduka.
Ia masuk rumah mengunci pintu berdiri di tengah ruangan, menatap segalanya dan tidak melihat apa pun.
Cangkir kucing masih di meja. Kopi yang sudah berjamur kini ditambah nasi tidak dimakan. Tanaman lidah mertua di teras semakin layu. Dan sunyi—sunyi selalu ada, menunggu, selalu mengingatkan: Kamu sendiri, sendiri dan sendiri.
Raka berjalan ke kamar. Berbaring di ranjang, di sisi Kinan, di sisi yang salah. Menarik selimut, menutupi kepala, mencoba menghilang dari dunia terus berputar tanpa ampun.
Di kegelapan bawah selimut, ia bisa berpura-pura Kinan sekarang berada di kamar mandi. Bahwa sebentar lagi akan ada suara langkah kaki, ketawa menggoda "Mas sudah pulang ? "
"Nan gue capek, peluk gue, Nan Please"
Ia keluar dari selimut menatap langit-langit. Menunggu malam, menunggu tidur, menunggu besok yang pasti sama hancurnya.
Tapi malam tidak datang dengan cepat. Ia datang perlahan, jam terasa seperti tahun, dengan kenangan satu per satu seperti tamu tidak diundang.
Kinan di dapur, mencoba memasak hangus. Kinan di teras, menari ditengah derasnya hujan. Kinan di ranjang, menangis diam-diam karena takut pergi, lalu tersenyum ketika Raka memeluknya dan berkata lembut— " Sayang kita lawan bareng, ya, sampai akhir."
Sampai akhir, tiba terlalu cepat. Akhirnya ia tidak siap menghadapi, menjadi awal dari segala sesuatu yang tidak ia inginkan.
Tidur hanyalah penundaan, kabur untuk persiapan pagi tanpa arti.
.
mampir 🤭