NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELEMAHAN ATAU KELEBIHAN?

Sontak aku terdiam sambil menatap ke arah Risa. Dan juga dia menatap tepat ke kedua mataku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Seperti ada sebuah energi dalam dirinya yang lebih kuat dari energiku.

"A-am... E-eh... Kamu, tanya apa barusan?" ucapanku jadi terbata-bata.

"Dayang Putri Mbak..." jawabnya. Kali ini dengan tatapannya yang terasa semakin menekan energiku. Dan juga senyumannya yang terasa berbeda sekarang.

"Tu-tunggu... Tunggu dulu..."

Sedikit terbuka mulutku. Ingin melanjutkan kata demi kata. Namun seperti tertahan. Tak bisa ku ucapkan.

"Kenapa Mbak Nisa? Kaget?"

Aku menggigit pelan bibir bawahku. Kedua tanganku kini saling menggenggam lebih kuat. Tatapanku ke arahnya semakin serius. Dahiku mengerut.

"Mbak Nisa? Kok diem aja sih?"

Angin malam berhembus pelan. Menyentuh tubuhku. Tapi... Aura ini... Terasa berbeda...

"Mbak?!" ucapnya agak sedikit keras.

"Yeeeh... Malah diem aja sih Mbak Nisa ini..." tambahnya.

Aku mencoba mengatur posisi dudukku. Sedikit menarik kursi agar lebih mendekat ke padanya.

"Coba ulangi, kamu tanya siapa tadi Ris?" tanyaku. Padahal sudah sangat jelas aku mendengar nama perewanganku disebut olehnya. Tapi aku seperti ingin memastikan sekali lagi.

"Saya nanya... Dayang Putri kemana? Kok gak muncul?" dia ulangi pertanyaannya itu.

"Kamu? Tungu dulu... Aneh. Aneh banget kamu Risa..." responku spontan.

Risa tampak menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Sambil dirinya juga memposisikan tubuhnya supaya lebih santai.

"Orang seperti kita berdua ini Mbak, memang aneh kan?"

"Maksud kamu?"

"Iya... Kita berdua ini aneh Mbak."

"Aneh gimana? Saya gak paham."

"Karena kemampuan kita berbeda dengan kebanyakan orang lain. Itu yang aku maksud aneh."

Aku tertegun saat mendengar ucapannya itu. Kemampuan. Keanehan. Kebanyakan orang.

Aku mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh Risa ini. Dan beberapa detik kemudian aku memahaminya...

"Risa..."

"Iya Mbak?"

"Kamu... Bisa ngeliat alam ghoib kah?" tanyaku tanpa basa-basi lagi. Karena aku yakin sudah terjun ke arah sana obrolan ini dengannya.

Risa tersenyum. Kemudian menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa iya menjawab "BENAR".

"Aaah... Begitu rupanya... Hmmm..." responku sambil mengangguk pelan.

"Tapi, tunggu dulu..." tambahku.

"Hm? Kenapa Mbak Nisa?"

"Dari mana kamu tau nama Dayang Putri?"

"Kenapa? Kaget ya kalo saya juga tau?"

"Jangan nanya balik kalo belum kamu jawab ya..." responku sambil menunjuk pelan ke arahnya dengan jari telunjukku.

"Ehehehehe..." dia malah terkekeh pelan.

"Jangan haha-hehe! Jawab pertanyaan Mbak tadi Ris." aku jadi agak merasa kesal melihat responnya itu.

"Iya deh... Aku jawab ya... Aku tau nama perewangan Mbak Nisa itu adalah Dayang Putri."

"Dari mana? Soalnya Mbak gak pernah buka identitasnya sama siapapun!" jelasku.

"Saya tau ya karena saya ngobrol sama Dayang Putri."

"Hah? Ngobrol?" tanyaku sembari sedikit memajukan tubuh dan mengerutkan dahiku.

"Ngobrol gimana maksudmu Ris?" tambahku.

"Ya ngobrol Mbak. Sama kayak Mbak Nisa ngobrol dengan Dayang Putri." jelasnya singkat.

"Loh loh loh... Tunggu... Kok bisa?"

"Boleh aku jelasin sedikit Mbak?"

Aku yang sudah terlanjur terbawa suasana dan sudah semakin terjun bebas rasa heran serta penasaranku, mempersilahkan dirinya untuk menjelaskan apa yang hendak ia jelaskan padaku.

"Aku udah bisa melihat alam ghoib sejak usia tujuh tahun Mbak. Waktu itu aku juga gak ngerti kenapa bisa lihat alam ghoib itu..."

"Iya... Terus?"

"Aku dulu sempet ngerasa sering ketakutan. Sampe orang tuaku bawa aku kesana kemari, ketemu sama orang pinter katanya, ketemu sama beberapa orang ustadz, cuma buat bikin mata batinku ini ketutup lagi. Tapi gak pernah bisa bertahan lama, selalu aja kebuka sendiri. Sampe akhirnya aku usia 14 tahun, masih SMP waktu itu. Aku coba terima aja keadaanku. Aku coba berdamai dengan semua yang kulihat itu. Aku coba terima kemampuanku ini Mbak." jelasnya panjang lebar.

"Oooh... Jadi begituuu..." responku sambil mengangguk dan menarik napas dalam dan menghembuskannya.

"Terus, kamu waktu pertama kali kebuka mata batinmu itu, langsung bisa ngobrol?"

"Ngobrol sama makhluk ghoibnya?"

"Iya lah! Masa sama tukang bakso!"

"Ahahahaha..."

"Ketawa..."

"Hehehe... Maaf-maaf Mbak. Pas pertama kali kebuka, aku gak bisa ngobrol sama mereka Mbak." jawabnya.

"Terus sejak kapan?"

"Seingatku, pas awal masuk SMP. Soalnya aku juga sempet ikut pengajian di desaku, di Cirebon sana. Dan guruku waktu itu yang bimbing aku supaya bisa kuat ngeliat makhluk ghoib juga."

"Hm... Gitu... Terus kamu diajarin caranya supaya bisa komunikasi sama bangsa halus itu?"

"Ya... Gitu deh Mbak..."

Akhirnya aku bisa memahami lebih banyak tentang Risa ini. Dan karena semua penjelasannya yang panjang lebar itu, sekarang sudah jauh berkurang perasaan heran dan anehku padanya. Aku bisa menerima dirinya sekarang.

"Terus, ngapain kamu tadi nanyain Dayang Putri? Mau ketemu?"

"Hehe... Kalo diizinkan sama Mbak Nisa itu juga..."

"Hm... Buat apa mau ketemu sama Dayang Putri? Kan kata kamu tadi udah pernah ngobrol sama dia."

"Ya ngobrol juga gak lama kok Mbak. Cuma tanya nama aja."

"Kapan itu?"

"Apanya?"

"Ya ngobrol sama Dayang Putri lah... Iiiissshhh... Cubit nih!" aku berusaha mencubit pelan lengannya.

"Hehehe... Iya-iya... Aduh..." responnya sambil menahan sakit yang padahal tak terasa sakit sama sekali.

"Ya waktu kita pertama kali ketemu di pasar itu loh Mbak..."

"Oh... Iya... Mbak inget. Soalnya kamu juga natap Mbak kayak aneh aja gitu. Cuma kan waktu itu Mbak gak tau kalo ternyata kamu bisa ngeliat alam ghoib juga."

"ya kalo pertama kali kita kenalan di pasar, terus aku bilang kalo ternyata sama kayak Mbak. Ya nanti malah kaget Mbak Nisa tuh..."

"Iya juga sih..."

"Terus, kesamaan apalagi antara kamu sama Mbak?" tanyaku dengan suasana yang sudah terasa ringan dan cair ini.

"Kayaknya cuma sama-sama bisa liat aja sih Mbak." jawabnya.

"Atau... Kamu juga punya sosok perewangan dari kecil?"

"Kalo itu... Kayaknya gak ada deh Mbak..."

"Kok bisa gak ada?"

"Ya mana aku tau..." respon Risa sambil mengangkat sedikit kedua bahunya.

"Mungkin sempet mau punya juga sosok perewangan, tapi kayaknya aku yang nolak. Atau mungkin belum ada kali ya..." tambahnya kemudian.

"Bisa jadi karena kamu yang pernah menolak satu sosok untuk jadi perewanganmu Ris. Atau bisa jadi juga emang belum ada." jawabku.

"Kalo Mbak Nisa, gimana ceritanya bisa punya Dayang Putri?"

"Panjang kalo diceritain Ris."

"Gak apa-apa kok Mbak, ceritain dong. Aku juga kan mau tau."

"Gak cukup waktunya. Lagian juga kamu sih, main ke rumah Mbak gak bilang-bilang dulu. Udah gitu datengnya malem-malem begini juga."

"Hehehehe... Ya habisnya kan kalo pagi sampe sore aku di pasar Mbak... Jagain lapak sayur..."

"Iya juga sih... Ya lain kali kalo mau main ke sini, bilang dulu pas Mbak lagi belanja. Ditentuin waktunya yang enak. Gitu... Jangan asal juga kalo mau main ke rumah orang. Untung aja Mbak malem ini ada di rumah. Coba kalo tadi kamu dateng terus Mbak gak ada. Ngapain kamu sendirian di sini kan?"

"Ya ngobrol sama Dayang Putri lah... Hahahaha..." jawabnya sambil tertawa lepas.

"Yeeeh... Dayang Putri ya ikut sama Mbak lah." jawabku.

Akhirnya kami berdua teruskan mengobrol kesana kemari. Saling bercanda sesekali. Dan entah kenapa, perasaanku seperti menerima dirinya. Seolah Risa ini seperti menjadi adikku.

Aneh memang...

Apakah ini kelemahan diriku atau kelebihan diriku?

Cukup mudah akrab dengan orang baru...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!