Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Bukan Sekadar Alasan
Sepulang sekolah, suasana gerbang masih ramai.
Siswa-siswi berhamburan keluar, sebagian langsung pulang, sebagian lagi masih berkumpul di sekitar parkiran. Di tengah keramaian itu, Azmi berjalan sendirian menuju gerbang.
Namun langkahnya terhenti.
Beberapa siswi tiba-tiba mengerubunginya.
“Azmi! Kamu keren banget tadi!”
“Main bolanya jago banget!”
“Kapan sih kamu mulai latihan?”
“Boleh dong kapan-kapan main lagi!”
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
Azmi sempat tersenyum sopan, meski jelas kewalahan.
Ia paham.
Ini pasti efek pertandingan tadi.
“Maaf… maaf,” ucapnya pelan.
“Tolong ya, aku mau pulang dulu. Nggak bisa lewat.”
Nada suaranya tetap sopan, berusaha tidak menyinggung siapa pun.
Namun kerumunan itu belum juga membuka jalan.
Azmi hampir menyerah…
sampai pandangannya terhenti.
Di luar gerbang—
Rahmalia berdiri sendirian.
Ia mengenakan headphone di balik kerudungnya, tubuhnya sedikit bersandar santai. Bibirnya bergerak kecil—bersiul pelan mengikuti lagu yang ia dengar.
Sinar matahari sore membuat kulitnya tampak lebih terang.
Wajahnya tenang.
Dunia seolah berjalan pelan di sekitarnya.
Dan untuk pertama kalinya, jantung Azmi berdegup tidak wajar.
Panas merambat ke pipinya.
Perasaan yang sejak tadi ia abaikan mendadak terasa jelas.
Jadi ini…
alasan kenapa ia berharap Rahmalia menghampirinya tadi.
Bukan kebetulan.
Bukan sekadar teman.
Ia menyukainya.
Tiba-tiba suara seorang siswi menyela.
“Azmi… kamu udah punya pacar?”
Semua langsung diam.
Pertanyaan itu membuat kerumunan menunggu jawaban.
Azmi melirik sekilas.
Lalu tanpa menjawab—ia melangkah lurus ke depan.
Menuju Rahmalia.
Rahmalia masih tenggelam dalam lagunya ketika tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya.
Ia terkejut.
Refleks melepas headphone.
Dan melihat Azmi di depannya.
“Eh—apaan sih?” ucapnya kaget, berusaha menarik tangannya.
Namun genggaman Azmi tidak dilepas.
“Shh,” bisiknya pelan.
“Tolong… bantu aku sebentar.”
Rahmalia mengerjap bingung.
Lalu melihat ke arah kerumunan siswi di belakang Azmi.
Ia langsung mengerti.
Belum sempat ia bereaksi—
“Aku lagi PDKT sama Rahmalia.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Azmi.
Rahmalia membeku.
“Apa?” ucapnya pelan.
Azmi tetap tenang.
“Jadi tolong doain ya,” lanjutnya santai pada para siswi.
“Semoga aku bisa dapetin dia.”
Beberapa siswi langsung saling pandang.
Ekspresi kecewa jelas terlihat.
Namun mereka juga tahu siapa Rahmalia.
Siswi yang dihormati.
Sulit disaingi.
Salah satu akhirnya tersenyum pahit.
“Iya… semoga berhasil.”
Satu per satu mereka pergi.
Kerumunan pun bubar.
Suasana mendadak sepi.
Dan detik berikutnya—
Rahmalia langsung menarik tangannya.
“Udah selesai kan?” ucapnya dingin.
“Tolong lepas.”
Azmi melepaskan genggamannya perlahan.
Tidak terburu-buru.
Seolah tanpa sadar ia memberi jeda kecil—
membiarkan hangat yang tersisa di telapak tangan itu benar-benar hilang lebih dulu.
“Apaan sih kamu?” lanjut Rahmalia kesal.
“Kenapa bawa-bawa aku segala? Bilang PDKT segala?”
Aneh.
Rahmalia jelas sedang kesal.
Namun bahkan saat marah, suaranya tetap halus—tidak pernah benar-benar tajam.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada kata kasar.
Hanya protes yang terdengar terlalu sopan untuk disebut kemarahan.
Dan entah kenapa, itu membuat Azmi tersenyum kecil.
Bukan untuk menertawakan.
Melainkan karena ia menyadari satu hal—
bahkan saat marah, Rahmalia tetap terlihat… manis di matanya.
“Kenapa?” tanyanya ringan.
“Kamu nggak suka?”
“Bukan gitu,” jawab Rahmalia cepat.
“Nanti orang-orang salah paham. Bisa jadi gosip aneh-aneh.”
Azmi terdiam sebentar.
Lalu menatapnya lurus.
“Memang aku suka kamu.”
Rahmalia membeku.
Dan sebelum ia sempat merespons—
“Mulai hari ini,” lanjut Azmi tenang,
“aku mau PDKT beneran.”
Wajah Rahmalia langsung memanas.
Ia menunduk cepat, tidak berani menatap.
Jantungnya berdetak kacau.
Azmi tersenyum kecil melihat reaksinya.
Namun suasana itu tak berlangsung lama.
“Ica! Kamu nunggu lama?”
Suara Siva terdengar dari kejauhan.
Siva dan Dio mendekat—
lalu berhenti begitu melihat posisi mereka.
Azmi berdiri dekat.
Untuk pertama kalinya, Rahmalia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Azmi..
Siva langsung panik.
“Ica! Kamu gapapa?”
Tatapannya tajam ke arah Azmi.
Dio berdiri beberapa langkah di belakang, menatap Azmi dengan senyum tipis—senyum yang jelas tidak ramah.
Rahmalia buru-buru menggeleng.
“Enggak. Kita cuma ngobrol.”
Azmi ikut menjawab santai,
“Iya. Cuma ngobrol.”
Namun suasana tetap tegang.
Tiba-tiba—
“Eh, kalian di sini?”
Gina datang dari arah belakang.
Tatapannya langsung menangkap Azmi dan Rahmalia.Entah kenapa, pemandangan itu membuat dada Gina terasa sempit.
Seketika ada sesuatu yang berubah di matanya.
“Si brengsek ini tadi ngerjain Ica,” ujar Siva kesal.
Dio mengangguk setuju.
Rahmalia cepat-cepat membela.
“Enggak. Kalian salah paham. Azmi nggak ngapa-ngapain.”
Gina memperhatikan sejenak.
Lalu menghela napas.
“Ya udah. Kalau nggak ada apa-apa, ayo pulang.”
Ia langsung melangkah ke arah mobil Azmi.
Azmi menoleh ke Rahmalia sekali lagi.
Pandangan mereka bertemu sepersekian detik.
Namun Rahmalia langsung memalingkan wajah.
Menghindar.
Azmi hanya tersenyum kecil.
“Ya udah,” katanya.
“Aku anterin Gina pulang dulu.”
Ia berbalik menuju parkiran.
Dan untuk pertama kalinya sejak menyadari perasaannya,
Azmi merasa—
permainan ini
baru saja dimulai.
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔