NovelToon NovelToon
Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Ku Jual Rahim Demi Si Buah Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Ibu Mertua Kejam / Pihak Ketiga / Wanita Karir / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Juniar Yasir

Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.

Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.

Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.

Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?


.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏


Kemana kah suami Norma?

Bagaimana kisahnya?




Setting: Sebuah pulau di Riau

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proses

"Wah, belanja banyak nampaknya ni?" tanyanya lagi.

"Ini Norma yang memberikan aku uang, kebetulan Dia gajian" balasnya mengambil beberapa sembako.

"Sudah dulu ya, esok aku ceritakan sehabis kita pulang dari yasinan tempat Buk Lastri. Aku mau balik dulu, perut dah lapar betul rasanya ni" Mariah melambaikan tangan lalu menuju meja pembayaran.

"Hih, baru belanja segitu saja lagaknya luar binasa!" ketusnya dengan bibir miring satu senti. Iya penasaran, lalu menyusul Mariah yang akan membayar.

"Berapa semuanya?" tanya Mariah pada wanita yang mengetik kalkulator.

"Dua ratus lima puluh Mak Cik" jawabnya.

Mariah dengan gaya pongahnya, mengeluarkan berapa lembaran merah.

"Ini" Mariah sengaja mengibaskan uang di depan ibu-ibu, di sambut tatapan sinis yang lain.

"Ambil saja kembaliannya, terima kasih" ucapnya menjinjing kantong belanja, lalu berbalik.

"Aku duluan" Mariah berjalan meninggalkan warung.

Melihat sang ibu keluar dari warung, Daria beranjak. Lalu mereka kembali berjalan kaki menuju rumah yang tidak seberapa jauh.

Tak berapa lama mereka tiba di rumah.

"Ah akhirnya sampai juga" Daria mengipas wajah yang penuh keringat.

Saat akan masuk ke rumah, mereka dikejutkan oleh suara tegas.

"Mana bagianku?" tanyanya berkacak pinggang.

"Bang Syamsul?" Daria terkejut, melihat dari bawah hingga ke atas postur tegap Abang kandungnya.

Syamsul sebenarnya sudah pulang ke provinsi mereka dua hari yang lalu, tapi pria ini menginap di hotel Pekanbaru. Memanjakan istri siri, mencari tempat tinggal wanita itu untuk sementara.

Syamsul berdiri dengan gaya tengilnya. Dirinya terlihat tampan mengenakan kemeja biru muda, di padukan dengan celana jeans navi, sepatu sneakers putih.

"Ini betulan anak Ibuk, Syamsul?" Mariah menatap tak percaya.

Terakhir kali putra sulungnya itu pergi setahun lalu. Perawakan dan penampilan Syamsul jauh dari kata tampan, apa lagi berpakaian bagus.

"Mana wanita murahan itu?"

tanyanya melihat kearah pintu rumah.

"Masuk dulu Bang. Kami ada kabar gembira untuk mu" Daria menarik tangan Abangnya.

Disini ketiga ibu dan dua anak tersebut. diruang tamu sederhana.

"Ini uang lima ratus juta, pemberian dari istri Abang yang setia" Daria menaruh amplop, mendorong pelan tepat di hadapan Syamsul.

Syamsul langsung membuka nya, mengeluarkan uang membentuk kipas. Matanya berbinar melihat lembaran tebal keras merah.

"Akhirnya... Dengan ini aku akan membeli sapi dan membeli kebun sawit." ucapnya tersenyum senang.

"Ide yang bagus nak. Setelah ini apa rencana mu terhadap wanita kampung itu?" tanya Mariah.

Syamsul hanya tersenyum tanpa berniat menjawab. Yang jelas di kepalanya sudah banyak ide-ide cemerlang untuk menjatuhkan nama Ibu dari anaknya ini tanpa harus mengotorkan tangan.

Setelah membuat nama Norma buruk, saat itulah dirinya akan mengenalkan Sari dengan dalih teman. Status menikah siri sementara akan di tutupi demi nama baiknya. Iya sudah berencana akan menggelar pesta pernikahan nantinya.

.

.

*****

Keesokan harinya

.

Matahari baru saja menyembul dari ufuk Timur, dengan warna keemasan yang hangat.

Di dalam rumah, aroma Gulai Belacan yang pedas gurih sudah menari-nari di udara, bercampur dengan wangi kopi jantan yang baru diseduh. Norma, dengan jemari yang sedikit gemetar, sedang menata piring di atas meja makan kayu jati yang panjang.

"Norma, sudahlah tu. Biar Mak Cik Syam yang selesaikan kerja dapur ni," ujar Mak Cik Syam lembut sambil mengambil alih sendok kayu dari tangan Norma.

Norma tersenyum tipis, wajahnya sedikit pucat. "Tak apa, Mak Cik. Norma cuma nak bagi Nuri sarapan sedap sedikit pagi ni sebelum Norma gerak ke Rumah sakit kabupaten."

"Mak... kenapa Mak menatap Nuri seperti itu?" Suara kecil Nuri memecah keheningan. Bocah perempuan berusia sembilan tahun itu duduk di kursi tinggi, kakinya berayun-ayun. Di depannya tersedia sepiring Nasi Lemak dengan sambal teri kacang dan telur rebus.

Norma berlutut di samping kursi Nuri, mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih. "Tak ada apa-apa Sayangnya mamak. Mak cuma nak Nuri jadi anak yang solehah ya? Hari ni Nuri duduk dengan Mak Cik Syam dulu, ya? Nanti ada Mak wo Halimah dengan Pak Wo Hamdan datang temankan Nuri main."

"Mak nak pergi berobat lagi ke?" tanya Nuri polos.

Norma mengangguk pelan. "Iye, Sayang. Biar Mak makin kuat, sehat dan bisa membersamai Nuri setiap saat" balasnya membingkai wajah putrinya semata wayangnya.

.

Tak lama kemudian, bunyi motor terdengar menderu pelan di halaman luas. Dari pintu samping dapur tampak Mak Cik Halimah dan Pak Cik Hamdan turun dengan membawa bungkusan besar.

"Assalamualaikum! Mana dia cucu kesayangan ni?" seru Pak Cik Hamdan saat menaiki anak tangga kayu yang berderit merdu.

"Waalaikumussalam. Masuklah, Pak Cik, Mak Cik Limah. Mari masuk!" sambut Norma memeluk hangat Halimah.

Hamdan dan Halimah mengikuti langkah Norma menuju ruang televisi. Mereka belum bertanya soal rumah ini, karena waktu yang mepet.

Mak Cik Halimah segera menghampiri Norma dan memeluknya erat. "Dah siap semua, Nor? Jangan risaukan Nuri. Kami akan menjaga dia dengan baik. Yang terpenting nanti kau baik-baik di luar sana" Halimah mengusap bahu Norma.

Perempuan paruh baya rasa Ibu kandung ini tidak mengetahui tentang Norma yang rahimnya di kontrakan. Mereka hanya mengira Norma hanya sakit ringan.

"Terima kasih banyak, Mak Cik, Pak Cik. Norma segan sangat menyusahkan semua orang," ucap Norma tulus.

Pak Cik Hamdan tertawa kecil sambil menggendong Nuri. "Eh, tak ada kata menyusahkan, Nuri juga sudah kami anggap cucu kamu sendiri. Ni, Pak Cik bawakkan Roti Jala dengan Kari Ayam. Special untuk Nuri dan Mak Cik Syam" Hamdan membuka kardus yang berisi aneka makanan.

Norma menarik napas panjang, mencoba mengusir kabut kecemasan di dadanya.

Setelah mengemasi semua keperluan untuk ke rumah sakit, Norma berpamitan pada putrinya, Pak Cik Hamdan dan Mak Cik Halimah.

"Nuri jadi anak baik ya nak selama mamak berobat, dengan kata Pak Wo, Mak wo dan Nek Syam" Pesan Norma, lalu mencium seluruh wajah Nuri, memeluk erat penuh sayang. .

"Siap mamak sayang. Cepat pulih dan cepatlah balik ya" balasnya tersenyum manis.

Norma mengangguk, sekuat hati berusaha tidak menangis agar sang putri tidak khawatir.

Setelah acara pamitan itu, Norma segera masuk mobil yang di kendarai oleh Pak Suryo. Di sebelahnya Prakoso duduk dengan tenang.

****

Sesampainya di Rumah Sakit Spesialis, suasana berubah drastis. Wangi rempah di rumah tadi berganti dengan bau antiseptik yang tajam. Norma duduk di ruang tunggu VVIP, meremas tali tasnya. Hari ini adalah hari penentuan: embrio transfer.

"Buk Norma?" panggil seorang perawat ramah.

Norma melangkah masuk ke ruangan yang didominasi warna putih itu. Di sana, dr. Aris sudah menunggunya dengan senyum profesional yang menenangkan.

"Selamat pagi, Buk Norma. Bagaimana perasaannya hari ini? Sudah sarapan?" tanya dr. Aris sambil memeriksa grafik medis di tabletnya.

"Pagi, Dok. Dah, hanya sedikit. Saya... saya agak berdebar, Dok," jawab Norma jujur dalam dialek Melayu yang kental.

Dokter Aris terkekeh pelan. "Wajar itu. Tapi secara medis, kondisi rahim Buk Norma sangat bagus. Persiapan hormon yang kita lakukan sebulan terakhir membuahkan hasil. Ketebalan endometrium ibuk sudah ideal untuk menerima embrio."

Norma merebahkan diri di tempat tidur perawatan. Lampu ruang tindakan terasa begitu terang di atas kepalanya.

"Dok, maaf jika saya lancang. HM... Apa kah tindakan ini keberhasilannya di jamin?" ucap Norma hati-hati.

Bagaimana pun sebagian uang untuk pengobatan sudah di gunakan untuk pengobatan Nuri dan di serahkan pada mertuanya. Jadi, jika tindakan bayi tabung ini gagal, dari mana dirinya akan mendapatkan uang untuk menebusnya.

Dokter Aris menghentikan gerakannya sejenak, menatap Norma dengan empati. "Dalam dunia medis, kita berusaha maksimal. Kita akan memasukkan dua embrio kualitas terbaik hari ini. Secara teori, peluangnya 60% sampai 70%. Selebihnya, biarkan Tuhan yang bekerja. Tugas Puan sekarang hanya satu: rileks. Jangan sampai stres menghambat proses implantasi."

Tindakan yang Menentukan

Proses itu dimulai. Norma bisa melihat di layar monitor kecil di sampingnya—sebuah titik cahaya yang merupakan cikal bakal kehidupan. Ia memejamkan mata, bibirnya tak henti membisikkan doa.

'Ya Allah, jika ini jalan yang harus hamba tempuh untuk membahagiakan Nuri dan menjaga warisan ini, maka izinkanlah benih ini tumbuh...'

Rasa dingin dari alat medis terasa asing di tubuhnya, namun rasa itu tak sebanding dengan dinginnya ketakutan akan kegagalan. Ia teringat percakapannya dengan Mak Cik Syam tadi pagi tentang Ikan Patin Asam Pedas yang harus ia santap jika nanti ia sudah pulang ke rumah untuk "memulihkan semangat".

"Selesai, Buk Norma. Semuanya berjalan lancar," ujar dr. Aris sambil melepas sarung tangan lateksnya. "Sekarang, Buk Norma harus bed rest total di sini selama beberapa jam sebelum boleh pulang. Ingat, jangan angkat benda berat, jangan naik-turun tangga terlalu sering dulu di rumah panggung itu, ya?"

Norma mengangguk lemas namun lega. "Terima kasih, Dok. Berapa lama menunggu hasilnya keluar?"

"Dua minggu dari sekarang. Kita akan tes darah untuk melihat kadar \beta\text{-hCG}. Untuk saat ini, anggaplah Buk Norma sedang mengandung permata yang sangat berharga."

.

Kini Norma terbaring sendirian di ruang perawatan yang sunyi. Ia memandang ke arah jendela, membayangkan Nuri di rumah sedang menyantap Lempeng Sagu buatan Mak Cik Halimah atau mungkin sedang bermain di serambi rumah panggung yang sejuk.

Ada rasa perih yang aneh di hatinya. Ia menggadaikan kenyamanan hidupnya, bahkan mempertaruhkan fisiknya, demi sebuah rahasia yang mungkin akan mengguncang adat dan martabat keluarganya di tanah Melayu ini. Namun, demi melihat senyum Nuri, ia rela menjadi wadah bagi benih yang bukan miliknya secara biologis sepenuhnya dari pria yang bahkan tidak pernah di temuinya.

Di luar, langit Riau mulai mendung, namun di dalam hati Norma, sebuah api kecil bernama harapan baru saja dinyalakan. Ia akan pulang ke rumah panggung itu, bukan lagi sebagai wanita yang kalah, melainkan sebagai pejuang yang membawa kehidupan di dalam rahimnya. Berharap setelah proses panjang ini hingga lahiran nantinya, bayi itu di ambil pemiliknya, Norma bisa hidup damai kembali dengan putri semata wayangnya dan sang suami.

.

.

"Hallo, kak Norma. Kakak harus pulang ke kampung. Karena bang Syamsul baru tiba di rumah."

.

Jangan lupa like dan komentarnya 🙏

1
Yulia Dhanty
menarik
Anita Rahayu
Buat karna pedih untuk samsul dan familtnya sekaligus selingkuhannya😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
Juniar Yasir: asiap sisssa
total 1 replies
Sunaryati
Semoga setelah di talak hidupmu semakin baik dan keluarga Syamsul dapat balasan
Yulia Dhanty
Syamsul. brengsekkkk😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!