NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sore itu, setelah mengurus cuti dan melewati satu hari penuh ocehan Eve dan Anne, Jema akhirnya memutuskan untuk mampir ke mini market dekat apartemennya. Ia butuh beberapa barang dasar kopi, cemilan, dan mungkin vitamin yang sebenarnya tidak pernah ia minum.

Di dalam mini market, Jema mengambil barang-barangnya dengan cepat. Gerakannya efisien, tenang, dan tegas.

beberapa orang memuji kecantikan nya dan tersenyum ramah ke Jema. begitu juga dengan Jema.

Setelah membayar, ia keluar dengan satu tas belanja di tangan. Udara sore yang mulai dingin membuatnya menarik napas panjang mungkin ini satu-satunya momen damai hari itu.

Namun kedamaian itu langsung terpotong.

Di parkiran, tepat di antara deretan mobil, suara gaduh terdengar.

Jema berhenti.

Tatapannya tajam naluri lamanya langsung aktif.

Ia melihat jelas

Seorang pria memegang lengan seorang wanita, menariknya kasar, lalu memukul pipi wanita itu hingga terhuyung.

Satu pukulan.

Dua pukulan.

Teriakan kecil terdengar, namun dipadamkan oleh suara pria itu.

Jema mengepalkan tangan.

Ekspresinya berubah jadi cuek, dingin dan mematikan.

“Tch… manusia sampah. ingat Jema jangan membunuh” gumam nya

Ia meletakkan tas belanjaannya dengan perlahan di kap mobil terdekat.

Tubuhnya bergerak seperti mesin perang yang baru diaktifkan.

Tanpa aba-aba… tanpa bicara… tanpa bertanya…

Jema langsung menghantamkan tinjunya ke rahang pria itu.

BUAGH!

Pria itu terlempar mundur dan jatuh menghantam pintu mobil.

Si wanita terkejut, matanya membesar.

“K..kau siapa?!”

Jema melangkah maju, bahunya naik-turun menahan emosi.

“Tidak penting siapa aku. Yang penting… dia berhenti menyentuhmu.”

Pria itu bangkit dengan wajah marah, hidung mengeluarkan darah.

“Kurang aj...”

Belum selesai bicara, Jema menarik kerahnya dan menghantamkan lututnya ke perut pria itu.

DOUGH!

Laki-laki itu terlipat menahan sakit, tapi tetap mencoba memukul balik.

Jema menghindar dengan gerakan cepat, lalu memutar badan dan melemparkan hook kanan yang mendarat tepat di pipi pria itu, membuatnya terhuyung lagi.

“A..akhh!! Hentikan!!” pria itu meraung, tapi Jema tidak berhenti.

“Kau memukul wanita? Ck. Lawan seseorang seukuranmu.”

Ia memegang bahu pria itu, lalu menumbukkannya ke mobil.

BRAK!

Alarm mobil berbunyi keras.

“APA KAU TIDAK WARAS?!” pria itu memaki, mencoba bangkit.

Namun Jema menendang lututnya gerakan bersih, presisi, dan cukup kuat untuk menjatuhkannya.

Pria itu ambruk.

Jema menatapnya dari atas dingin, tidak terkesan sama sekali.

“Lain kali kau memukul wanita lagi… aku pastikan kau tidak bisa memakai tanganmu.”

Pria itu merangkak mundur, ketakutan.

Jema hanya mengibaskan tangan, menghapus debu yang tidak ada, lalu mengambil tas belanjaannya kembali.

Ia menatap wanita yang masih gemetar.

“Kau baik-baik saja?”

Wanita itu mengangguk cepat-cepat. “T-terima kasih… aku..”

“Pulang. Kunci pintu. Dan kalau bajingan itu datang lagi, telepon polisi.” Jema menunjuk pria itu dengan dagu. “Atau panggil aku.”

Wanita itu hanya bisa mengangguk, wajahnya pucat namun lega.

Jema berbalik, berjalan pergi dengan elegan namun penuh kekuatan.

Tas belanja di tangan seolah ia tidak baru saja menghajar seseorang sampai terkapar.

Dan sore itu, parkiran mini market menjadi saksi bahwa Jema mungkin ingin hidup normal.

tapi sisi mematikannya tidak pernah benar-benar hilang.

* * * *

Di tempat lain, seorang pria duduk di kursi dengan nuansa gelap, Kapten Reiner mendapat laporan dari Seseorang,

"Target seperti nya sudah tahu rencana kita kapten" lapor nya

mendengar itu tentu saja Kapten Reiner tidak heran.

"Ya, aku sudah menduga itu. Spectre pasti sudah membaca pergerakan kalian"

"Dan satu lagi Kapten, Tuan muda Alexander beberapa kali terlihat bersama dengan Spectre" tambah nya

"Benarkah?, apa Spectre meminta perlindungan" ucap nya penasaran

"Hubungan mereka belum bisa kami konfirmasi Kapten" jawab nya

"Baiklah, kurangi pergerakan kalian. akan sangat bahaya jika Spectre meminta perlindungan dari tuan muda Alexander. dan kalau bisa lakukan tugas kalian secepatnya agar semua nya beres" lanjut nya

"Baik kapten"

Kapten Reiner menatap jendela kaca yang dingin itu,

"Spectre tidak mungkin berlindung di balik Seseorang." gumam nya tentu dia tau sekali bagaimana Spectre.

* * * *

Malam itu, kota masih ramai. Lampu neon memantul di jalanan basah sisa hujan. Jema tiba di sebuah kafe kecil di pusat kota tempat yang biasa ia datangi untuk kabur dari dunia penuh darah dan drama.

Begitu ia masuk, dua suara langsung menggema seperti sirine.

“JEMAAA!!”

Jema refleks ingin balik badan dan kabur.

Tuhan… kenapa aku ketemu mereka lagi ya.

Anne berlari duluan dan langsung menjitak lengan Jema.

“KAMU MAU KEMANA!! tumben sekali datang kesini”

Eve menyusul sambil melipat tangan di dada.

“Ingin menghindari kami, kau malas ketemu kami setelah mengajukan surat citi tadi ”

Jema menatap keduanya tajam. “Aku bisa lo lempar kalian berdua ke kali. Mau?”

Mereka bertiga duduk, Jema diapit seperti tahanan negara. Anne memesan minuman manis untuk Jema tanpa izin.

Eve menatap Jema, mencoba serius meski wajahnya selalu terlihat seperti mau gosip.

“Oke, spill. Mau kemana aja kamu besok?”

Jema menghela napas panjang.

“Banyak hal. Aku harus ketemu… keluarga seseorang.”

Anne langsung memukul meja.

“KELUARGA SIAPA?! PUNYA PACAR BARU KAMU YA?!”

Orang-orang sekitar menoleh.

Jema menunduk seolah ingin lenyap.

“Bisa kecilkan volume atau harus kugunting lidah kalian?”

Eve terkikik. “Sekarang jawab jujur. Kamu kenapa tiba tiba ngajukan cuti setelah bolos kerja sehari.”

Jema meneguk minumannya dalam sekali teguk.

“Aku sibuk urus hal-hal yang… kita bahas nanti saja.”

Anne menyipit. “Oke, skip topik. Tapi ngomong-ngomong, kamu tau kan pernikahan Vella sebentar lagi?”

Eve langsung menepuk bahu Jema dramatis.

“Aku sumpah ya, kalau Vella nikah duluan, kamu harus punya pacar! Masa kita semua udah punya pasangan masing-masing, kamu masih jomblo barbar.”

Jema memandang mereka datar.

“Memangnya pacar itu bisa beli di minimarket? Promo buy one get one?”

Anne mengangguk serius. “Kalau ada, kita udah seret kamu ke sana.”

Jema mendengus.

Eve menatap Jema lama, lalu berkata dengan nada sok lembut, “Ayolah, Jem. Vella tuh pasti akan ngomel jika kamu tidak membawa pasangan. Makanya kita harus siapin dari sekarang.”

Anne menepuk tangan Jema. “Iya! Minimal kamu bawa cowok random ke nikahannya. Terserah cowok siapa. Supir ojek pun boleh.”

Jema meremas gelasnya.

Aduh… kalau mereka tau aku bakal nikah besok sama pria tua dan paling dingin se-Alam Semesta…

Ia menghela napas panjang.

“Makasih atas dukungannya,” ucap Jema datar. “Tapi kalian terlambat.”

Eve dan Anne langsung mematung.

“A… apa maksudnya?”

“Kamu… kamu jangan bilang..”

Jema menyandarkan tubuh ke kursi, menatap langit-langit seperti pasrah menghadapi takdir.

“Aku… terjebak dalam sebuah pernikahan.”

Hening.

Satu detik… dua detik…

LALU....

“WHATTTT?!”

“JEMA, JANGAN BERCANDA!”

“SAMA SIAPA!? SIAPA!?”

Jema memegang kepala.

“Bisa pelan sedikit??? Telingaku masih ingin hidup!”

Eve menggeleng cepat. “Kamu beneran nikah? Nikah nikah? Nikah beneran!?”

Anne menatapnya dengan horor campur kagum.

“Kamu… kamu hamil?!”

“AKU TIDAK HAMIL!!!”

Orang-orang menoleh lagi.

Jema menutup muka.

“Ya Tuhan… kenapa aku ketemu kalian.”

Eve mencubit lengan Jema. “Kalau kamu nikah, mana pacarmu yang misterius itu?”

Jema memutar mata.

“Dia bukan pacar. Dia… kontrak.”

Anne terdiam.

Eve terdiam.

Keduanya perlahan duduk kembali, menatap Jema dengan serius untuk pertama kalinya sepanjang malam.

“Kontrak… pernikahan?” tanya Eve pelan.

Jema mengangguk. “Yah. besok.”

Anne memegang dadanya. “Jema… kamu hidup di drama Korea?”

Jema menarik napas panjang.

“Kalau ini drama, tolong bilang ke penulisnya aku mau keluar dari naskah.”

Eve dan Anne saling pandang kocak, terkejut, tapi juga jelas khawatir.

“Jem…” Eve mencondongkan tubuh. “Kamu… baik-baik aja?”

Jema terdiam sebentar.

Kemudian ia tersenyum miring.

“Baik sih. Cuma… kalau bisa pilih hidup lain, aku pilih jadi ikan.”

Anne memukul meja lagi. “IKAN KENAPAAAA—”

“Karena ikan tidak nikah kontrak!!!”

Dan tawa mereka pecah lagi, menggema di seluruh kafe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!