NovelToon NovelToon
Sajadah Cinta Untuk Hannah

Sajadah Cinta Untuk Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."

Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).

Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.

Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Cerita Di Balik Kemudi

Matahari sore bersinar terik di ufuk barat, menciptakan siluet jingga di balik gedung-gedung tinggi kampus yang menjulang. Jam di pergelangan tangan Hannah menunjukkan pukul tiga lewat lima belas sore. Di area drop-off lobi Fakultas Ilmu Budaya yang ramai, ratusan mahasiswa baru tumpah ruah. Wajah-wajah lelah namun antusias mendominasi pemandangan, diiringi suara riuh obrolan tentang dosen, tugas, dan kenalan baru.

Hannah Humaira berdiri di dekat pilar besar lobi, memeluk tote bag kanvasnya erat-erat. Jilbab pasmina syar'i-nya yang tadi pagi rapi sempurna, kini sedikit miring terkena angin sore, namun wajahnya memancarkan binar yang berbeda dari pagi tadi. Jika pagi tadi matanya dipenuhi ketakutan akan dunia baru, sore ini ada kepuasan dan kelegaan yang terpancar di sana.

Sebuah mobil SUV hitam mengkilap perlahan menepi, membelah kerumunan ojek online dan kendaraan jemputan lainnya. Hannah mengenali plat nomor itu. Jantungnya berdesir halus. Bukan lagi desiran takut seperti saat pertama kali dijodohkan, melainkan perasaan lega seperti melihat pelabuhan yang aman setelah seharian berlayar sendirian di laut lepas.

Kaca jendela penumpang turun perlahan. Wajah teduh Muhammad Akbar muncul di sana, lengkap dengan kacamata hitam yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih berwibawa namun tetap hangat.

"Assalamualaikum, Mahasiswa Baru," sapa Akbar sambil tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi samar yang jarang terlihat.

Hannah tersipu, buru-buru membuka pintu mobil dan masuk. Udara sejuk dari AC mobil langsung menyergap kulitnya, mengusir gerah, keringat, dan debu jalanan yang menempel.

"Wa’alaikumsalam, Mas Akbar," jawab Hannah sambil menarik sabuk pengaman.

Ia meraih tangan kanan Akbar yang masih memegang setir, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Aroma musk dan kayu cendana yang khas dari tubuh Akbar seketika membuat Hannah merasa aman. Rasanya beban beradaptasi seharian ini luruh begitu saja.

"Sudah lama nunggu?" tanya Akbar seraya memutar kemudi dengan satu tangan, membawa mobil keluar dari area kampus yang padat merayap.

"Baru lima menit kok, Mas. Tadi Rere sama Sinta ngajak ngobrol dulu di tangga lobi, susah disetopnya," jawab Hannah tanpa sadar, suaranya terdengar riang.

Akbar menaikkan alisnya di balik kacamata hitam. Ia menangkap dua nama asing itu. "Rere? Sinta? Teman baru?"

Hannah terdiam sejenak. Ia baru sadar kalau ia keceplosan menyebut nama teman-temannya dengan nada seakrab itu. Biasanya, Hannah akan diam seribu bahasa jika bersama Akbar, hanya menjawab 'iya' atau 'tidak'. Tapi hari ini, energinya meluap-luap. Ada dorongan kuat di dadanya untuk menceritakan segalanya—sesuatu yang biasanya hanya ia lakukan pada Umi atau teman sekamarnya di pondok dulu.

Akbar melirik sekilas, menyadari keraguan istrinya. Dengan tangan kiri memegang setir, tangan kanannya terulur mengambil sebotol air mineral dari cup holder. Tutup botol itu sudah dilonggarkan sebelumnya.

"Minum dulu, Dek. Bibirmu kering. Habis itu baru cerita pelan-pelan," ujar Akbar lembut. "Mas siap mendengarkan. Perjalanan kita macet, jadi waktumu banyak."

Perlakuan sederhana itu—menyiapkan minum yang sudah dibuka tutupnya—membuat hati Hannah meleleh. Akbar sangat peka terhadap detail kecil. Hannah menerima botol itu, meneguknya beberapa kali hingga kerongkongannya terasa segar.

Hannah menarik napas panjang, lalu memberanikan diri menatap profil samping wajah suaminya yang sedang fokus menyetir.

"Mas Akbar... tadi Hannah dapat teman," Hannah memulai, suaranya sedikit pelan tapi penuh semangat. "Namanya Rere sama Sinta. Kita duduk bareng di aula karena kehabisan kursi."

"Oh ya? Alhamdulillah," respon Akbar antusias, memberikan ruang bagi Hannah untuk melanjutkan. "Orangnya seperti apa? Cocok sama kamu?"

Dan meluncurlah cerita itu. Hannah bercerita dengan mata berbinar-binar. Ia menceritakan Rere yang blak-blakan, anak Jakarta yang "dibuang" orang tuanya karena bandel tapi sebenarnya baik hati. Ia menceritakan Sinta yang pendiam, kutu buku, dan bercita-cita jadi editor. Hannah menceritakan bagaimana mereka bertukar nomor WhatsApp, membuat grup dengan nama aneh, dan makan siang bersama di kantin yang penuh sesak.

"Tadi Rere lucu banget, Mas. Masa dia nyangka Hannah anak nyasar gara-gara Hannah pakai gamis sendiri di barisan tengah. Dia bilang Hannah kayak ustadzah mau ngisi pengajian," Hannah terkekeh geli mengingat kejadian itu.

Akbar ikut tertawa. Ia sesekali menoleh, menatap wajah istrinya yang sedang bercerita. Ini pemandangan baru baginya. Selama seminggu menikah, Hannah selalu menunduk, bicara seperlunya, dan terlihat takut salah. Tapi sore ini, Hannah terlihat begitu hidup. Tawa renyahnya mengisi kabin mobil, menghapus kesan kaku yang selama ini membatasi interaksi mereka.

"Terus, kamu bilang apa waktu dibilang kayak ustadzah?" pancing Akbar, menikmati momen ini.

"Ya Hannah senyum aja. Terus Hannah bilang Hannah emang lulusan pesantren," jawab Hannah bangga. "Terus Mas Akbar tahu? Mereka malah minta diajarin bahasa Arab! Katanya nilai bahasa mereka jelek semua, padahal mau ambil mata kuliah bahasa asing."

"Wah, hebat dong istri Mas. Baru hari pertama sudah jadi asisten dosen dadakan," puji Akbar tulus. Tangan kirinya tanpa sadar terulur, mengusap puncak kepala Hannah sekilas.

Sentuhan itu membuat Hannah terdiam sejenak, pipinya merona merah. Pujian "istri Mas" itu terdengar begitu manis dan familier di telinga.

Namun, tiba-tiba wajah Hannah berubah sedikit sendu. Ia memainkan ujung jilbabnya, memilin-milin kain itu, tanda sedang gelisah. Tawa renyahnya meredup.

"Tapi... ada satu hal, Mas Akbar," cicit Hannah, nadanya berubah serius.

"Kenapa, Dek? Ada yang jahatin kamu?" nada suara Akbar langsung berubah waspada. Sisi protektifnya muncul seketika.

Hannah menggeleng cepat. "Enggak, Mas. Bukan itu. Cuma... Hannah belum bilang ke mereka kalau Hannah sudah menikah."

Hening sejenak di dalam mobil. Hanya suara deru mesin dan klakson samar dari luar yang terdengar. Hannah menunduk, takut Akbar marah. Ia takut suaminya tersinggung karena status pernikahannya disembunyikan, seolah-olah Hannah malu mengakui Akbar.

"Hannah bingung, Mas," lanjutnya buru-buru membela diri sebelum Akbar sempat bicara. "Mereka ngomongin cowok ganteng di kampus, ngomongin gebetan... Hannah ngerasa aneh kalau tiba-tiba bilang, 'eh, aku udah punya suami lho, direktur lagi'. Hannah takut mereka malah canggung dan jaga jarak karena ngerasa dunia kita beda jauh. Hannah cuma pengen punya teman biasa."

Hannah memberanikan diri melirik Akbar. Jantungnya berdegup kencang menunggu reaksi suaminya.

Pria itu tidak marah. Wajahnya justru terlihat tenang, bahkan ada senyum maklum di bibirnya. Akbar menghela napas pelan, lalu menepuk punggung tangan Hannah yang ada di pangkuan dengan lembut.

"Nggak apa-apa, Hannah," ucap Akbar menenangkan. "Mas ngerti kok."

Mata Hannah membelalak. "Mas Akbar nggak marah?"

"Kenapa harus marah? Situasimu memang unik," jelas Akbar bijak. "Kamu baru dua puluh tahun, baru masuk dunia baru. Wajar kalau kamu mau beradaptasi dulu sebagai 'Hannah si Mahasiswa', bukan 'Hannah si Istri Orang'. Mas nggak mau status pernikahan kita malah jadi beban sosial buat kamu di awal-awal kuliah. Kamu berhak menikmati masa mudamu dengan teman-teman."

Mata Hannah berkaca-kaca. Jawaban Akbar jauh lebih dewasa dan pengertian dari yang ia duga. Laki-laki lain mungkin akan tersinggung egonya, tapi Akbar justru memprioritaskan kenyamanan mental Hannah.

"Mas cuma titip satu," lanjut Akbar, nadanya sedikit lebih serius namun tetap lembut. "Jaga hati. Boleh berteman, boleh bersenang-senang, tapi ingat ada Mas yang nunggu di rumah. Kalau ada laki-laki yang mendekat, kamu tahu batasanmu sebagai muslimah yang sudah bersuami, kan?"

Hannah mengangguk mantap. "Insya Allah, Mas. Hannah janji. Hannah tahu batasannya."

"Bagus. Mas percaya sama kamu," Akbar tersenyum lagi, lalu kembali fokus ke jalan. "Nanti kalau waktunya sudah tepat, atau kalau kamu sudah merasa nyaman, baru cerita ke teman-temanmu. Pelan-pelan saja."

Kelegaan luar biasa membanjiri hati Hannah. Ia merasa sangat beruntung. Allah benar-benar memilihkan imam yang bukan hanya sholeh dalam ibadah, tapi juga sholeh dalam memahami psikologis istrinya.

"Makasih ya, Mas Akbar," ucap Hannah tulus, matanya menatap lekat wajah suaminya dari samping. "Makasih sudah bolehin Hannah kuliah, makasih sudah jemput, dan makasih sudah dengerin cerita receh Hannah tanpa marah."

Akbar menoleh, tatapan mereka bertemu cukup lama saat mobil berhenti di lampu merah.

"Sama-sama, Humaira. Dengerin cerita kamu itu hiburan buat Mas. Seharian Mas pusing lihat angka, besi, dan semen di proyek, tapi begitu denger kamu cerita soal Rere dan Sinta, capek Mas hilang. Rasanya segar lagi."

Pipi Hannah semakin memerah, semerah lampu lalu lintas di depan mereka. Ia memalingkan wajah ke jendela, menyembunyikan senyumnya yang tak bisa ditahan.

Sisa perjalanan menuju rumah dihabiskan dengan obrolan yang lebih ringan. Hannah memberanikan diri bertanya tentang pekerjaan Akbar, dan Akbar menceritakan sedikit tentang proyek jembatan yang sedang ia tangani dengan bahasa yang disederhanakan agar Hannah paham.

Sore itu, di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan kota, Hannah menyadari satu hal penting: Akbar bukan lagi "orang asing" yang dijodohkan dengannya. Akbar adalah temannya. Sahabat barunya.

Dan mungkin... hanya mungkin... benih-benih perasaan lain mulai tumbuh di sela-sela obrolan mereka.

Saat mobil berbelok memasuki pekarangan rumah, Hannah tidak lagi merasa pulang ke "rumah Mas Akbar". Ia merasa sedang pulang ke "rumah kami".

"Sudah sampai. Siap masak air buat mandi?" goda Akbar sambil mematikan mesin.

"Siap, Komandan! Tapi Hannah request makan malam nasi goreng buatan Mas Akbar lagi, boleh?" tawar Hannah berani, sedikit manja.

Akbar tertawa lepas. "Boleh. Asal bayarannya pakai cerita kampus besok lagi ya."

"Siap!"

Mereka turun dari mobil bersamaan, melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah yang lebih ringan, dan hati yang lebih terpaut satu sama lain.

1
Juwitha Arianty Ibrahim
ko ga up. lagi sih thor, ceritanya lagi seru ini, jngn bikin penasaran dong
melda melta: ceritanya bagus Thor...kasih bumbu2 pelakor dong biar tambah sedep n greget 🤭
total 1 replies
Adnan
kapan update lagi kaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!