Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Penghinaan di Atas Meja Perak
Perjamuan Sekte Daun Perak berlangsung dengan sangat mewah.
Lampion-lampion kertas berwarna perak tergantung di sepanjang aula, menerangi para pendekar yang berpakaian rapi dan harum.
Namun, di tengah kemewahan itu, Jian Yi dan Lu Feng terlihat seperti dua titik hitam yang salah tempat.
Jian Yi sudah berusaha tampil rapi, namun pedang Ling’er yang berkarat dan terbungkus kain lusuh di punggungnya tetap terlihat kontras dengan jubah elegannya.
Sementara Lu Feng? Ia sibuk memasukkan paha ayam ke dalam kantong jubahnya "untuk camilan nanti".
"Yi, arak madu ini benar-benar surgawi! Hic... rasanya seperti dipeluk bidadari." bisik Lu Feng dengan mata berbinar.
Tiba-tiba, suara tawa meremehkan memecah suasana di meja mereka.
"Hahaha! Lihat ini, Saudara-saudara. Ternyata Tetua Han tidak hanya mengundang pendekar, tapi juga pemulung besi tua." ucap seorang pemuda dengan jubah sutra biru muda yang sangat mencolok.
Namanya adalah Tuan Muda Wei, putra dari seorang penguasa kota tetangga yang baru saja mencapai ranah Master tingkat menengah.
Wei berdiri di samping meja mereka, diikuti oleh beberapa pengikutnya yang tertawa sinis. Matanya tertuju pada Ling’er yang tersandar di samping kursi Jian Yi.
"Bocah, apa itu yang kau bawa? Pedang atau linggis untuk menggali kuburan?" Wei menunjuk Ling'er dengan kipasnya. "Berkarat, tumpul, dan baunya seperti besi busuk. Kau berani membawa sampah seperti ini ke perjamuan terhormat?"
Jian Yi meletakkan gelasnya dengan tenang. Matanya yang ungu meredup, tanda ia sedang menahan emosi. "Pedang ini telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Bagiku, nilainya lebih dari seluruh perhiasan yang kau pakai."
"Oh ya?" Wei menyeringai licik. "Bagiku, benda ini hanya merusak pemandangan."
Sebelum ada yang sempat bereaksi, Wei membungkuk dan—CUIH!—ia meludahi bilah pedang Ling'er yang sedikit menyembul dari kain pembungkusnya.
Hening. Suasana aula yang tadinya bising seketika membeku.
Lu Feng berhenti mengunyah paha ayamnya, matanya berubah menjadi sangat dingin.
Di dalam pikiran Jian Yi, suara Ling'er yang biasanya berisik dan cerewet kini terdiam.
Ada getaran sedih dan malu yang terpancar dari pedang itu.
Ling'er adalah pusaka kuno yang bangga, namun kondisinya yang rusak membuatnya tidak bisa membela diri sendiri.
"Jian Yi... maafkan aku. Karena aku rusak, kau jadi dihina seperti ini..." bisik Ling'er pelan, suaranya terdengar layu.
Mendengar bisikan itu, sesuatu dalam diri Jian Yi meledak.
Ia ingat bagaimana Ling'er menemaninya berlatih yang dingin selama tujuh tahun.
Ia ingat bagaimana Ling'er melindunginya saat membantai Keluarga Yuan.
Bagi orang lain, itu mungkin hanya besi tua, tapi bagi Jian Yi, Ling'er adalah penolong dalam hidupnya yang sulit.
Jian Yi berdiri perlahan. Aura Grand Master-nya yang selama ini ditekan mulai merembes keluar secara halus, namun cukup kuat untuk membuat lilin-lilin di aula itu padam secara bersamaan.
"Kau..." Jian Yi menatap Wei. Tatapannya bukan lagi tatapan manusia, melainkan tatapan pemangsa yang sangat lapar. "Kau boleh menghinaku sepuas hatimu. Tapi kau baru saja menghina salah satu teman yang tidak pernah meninggalkanku saat aku bukan siapa-siapa."
"A-apa yang kau... ugh!" Wei tiba-tiba merasa dadanya sesak. Tekanan udara di sekitarnya menjadi begitu berat hingga ia kesulitan bernapas.
"Lu Feng," panggil Jian Yi tanpa menoleh.
"Ya, Yi?" Lu Feng sudah berdiri, tangannya sudah memegang gagang pedang lebarnya.
"Jangan ikut campur. Orang ini... harus belajar cara meminta maaf kepada sebilah pedang."
Jian Yi meraih Ling'er. Ia tidak mencabutnya, tetap dalam bungkus kainnya.
Namun, energi ungu yang membara mulai menyelimuti pedang itu.
"Cabut pedangmu, Tuan Muda Wei," suara Jian Yi terdengar seperti guntur yang tertahan. "Jika dalam tiga langkah kau masih bisa berdiri, aku akan membiarkanmu merangkak keluar dari sini hidup-hidup."
Wei, yang ketakutan namun terdesak oleh egonya, mencabut pedang indahnya yang bertahtakan permata. "Kau pikir aku takut?! Mati kau, Gembel!"