Dio tak menyangka wanita yang ditemuinya dalam hitungan jam berani melamarnya. Bagi dirinya itu adalah sebuah penghinaan meskipun wanita yang ditolongnya cantik dan mampu memberikan seluruh harta. Dio pun menolak keinginannya, tetapi si cantik Laras tetap terus mengejarnya.
Apakah Dio bersedia menerima lamarannya atau tetap pada pendiriannya mencintai kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Keduabelas
Dio masuk ke kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamar. Meskipun ia telah mendengar penjelasan para pekerja di rumahnya Laras namun tak membuat hatinya merasa iba dan kasihan.
"Dia menggunakan mereka biar aku menyayanginya. Dia pikir aku akan tertipu. Cukup malam itu saja dia sudah membuatku terpaksa melamarnya!" gumam Dio yang sangat geram dengan Laras.
Ponsel Dio berdering tertera nama Sindy, wanita yang berusaha dilupakannya. Ia mengambil ponsel yang berada di sampingnya lalu menekan layar dengan tulisan tolak.
Ponselnya kembali lagi berdering, sepertinya Sindy terus berusaha menghubungi Dio meskipun berkali-kali menolak panggilannya.
Dengan terpaksa Dio menjawab panggilan itu dan bertanya, "Halo, ada apa?"
"Kamu ke mana saja? Kenapa tidak pernah menjemputku? Aku kangen kamu."
"Aku di rumah. Aku lagi malas menjemputmu. Dan aku tidak kangen kamu lagi," kata Dio dengan nada datar.
"Kenapa kamu bicaranya begitu?" tanya Sindy lagi.
"Sudahlah, Sin. Jangan ganggu aku lagi!" jawab Dio tegas.
"Kenapa? Apa kamu sudah ada pengganti aku? Apa benar kamu jadi menikahinya?" cecar Sindy.
"Iya. Aku segera menikahinya," kata Dio.
"Wah, bagus itu. Kamu punya uang banyak dan aku bisa belanja sepuasnya!" ucap Sindy sangat senang mendengar kekasihnya menikah dengan wanita kaya.
"Ya, aku akan punya uang banyak tapi bukan untukmu. Aku mau menghabiskan uangnya bersama istriku!" kata Dio lagi.
"Kamu kenapa, 'sih? Kamu marah padaku?" tanya Sindy.
"Mumpung kamu menelepon aku, mulai hari ini kita putus. Jangan pernah menghubungiku lagi!" jawab Dio mengakhiri teleponnya dengan Sindy lalu memblokir dan menghapus kontak telepon wanita itu.
Dio meletakkan ponselnya kembali di sampingnya. "Aaargghh......" pekiknya kesal.
Setelah satu jam di kamar, Dio keluar dan berjalan menuju ruang makan. Walaupun hatinya galau tapi perutnya juga terasa lapar.
Duduk dan bergabung dengan lainnya.
"Apa kamu sudah mendapatkan jas yang cocok?" tanya Maya.
"Sudah," jawab Dio singkat.
"Pasti kamu sangat tampan menggunakan jas itu!" kata Maya memuji.
"Dio 'kan tampan karena ayahnya juga!" sahut Derry membanggakan diri.
"Warna apa Kak jasnya?" tanya Diana penasaran.
"Lihat saja nanti waktu acara," jawab Dio datar.
"Ibu jadi penasaran dan tak sabar ingin melihatmu tampil gagah di depan orang-orang!" kata Maya sambil membayangkan putranya berjalan menggandeng tangan Laras.
***
Dua minggu kemudian....
Laras akhirnya berhasil menemui Alex di sebuah kafe. Itupun ia harus ditemui seorang pengawal wanita, pengawal pria dan sopir. Ketiganya menunggu diparkiran kafe.
Laras menatap Alex dan berkata, "Minggu depan aku akan menikah."
"Kamu jadi menikah dengannya?" Alex tak menyangka kekasih sekaligus harta karun miliknya segera meninggalkannya.
"Ya."
"Kamu masih mau kita berhubungan, 'kan?" tanya Alex penuh harap.
"Tidak. Aku mau kita mengakhiri semuanya," jawab Laras dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintai aku?" tanya Alex lagi.
"Aku sangat mencintaimu. Tapi, orang tuaku memberikan peringatan keras. Aku tidak mau mereka melukaimu," jawab Laras beralasan.
"Aku tidak peduli, Ras. Asal kamu tetap bersamaku!" Alex meyakinkan Laras.
"Aku bisa menemui kamu saja butuh usaha besar. Jadi, aku harus bisa menepati janjiku kepada mereka," kata Laras.
Alex memasang wajah pura-pura bersedih.
"Aku minta maaf, Lex!" lirih Laras.
"Sebelum kamu menikah, apa hari ini kamu bisa menemaniku? Kita pesta perpisahan!"
Laras tak segera mengiyakan, ia sejenak berpikir.
"Ayolah, Ras. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita!" harap Alex.
"Aku tidak bisa, Lex. Maaf!" tolak Laras dengan nada suara pelan.
"Ras, aku janji tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Aku mohon tolong penuhi permintaan aku hari ini saja!" Alex terus mengiba.
"Aku tidak bisa!" Laras lantas beranjak dari tempat duduknya. "Semoga kamu menemukan pengganti aku yang lebih baik!" lanjutnya kemudian melangkah pergi.
Selepas Laras berlalu, Alex berdecak kesal sebab gagal menjebak kekasihnya itu.
Sementara itu dilain tempat, Dio baru saja selesai menyebarkan undangan pernikahan kepada beberapa teman dekatnya. Diperjalanan menuju pulang, tiba-tiba motornya dihentikan Sindy yang mengejarnya menggunakan ojek.
Sindy turun dari motor dan mengembalikan helm kepada pengendara ojek lalu mendekati Dio. "Kenapa kamu tidak bisa dihubungi?"
"Aku memang sudah menghapus nomor telepon kamu."
"Mengapa kamu lakukan itu? Apa salahku, Dio?" tanya Sindy memasang wajah sendu.
"Karena aku tidak mau menyakiti perasaan calon istriku," jawab Dio.
"Bukankah kamu bilang tak menyukainya? Kenapa tiba-tiba berubah begini?" protes Sindy.
"Sebelum kamu menanyakan mengapa aku berubah. Silahkan kamu melihat dirimu!" kata Dio.
Sindy menautkan alisnya.
"Hari ini aku sangat capek dan lelah, aku mau cepat pulang dan tidur!" kata Dio lagi sengaja mengatakan hal begitu biar segera menjauh dari Sindy.
"Karena aku mau menikah jadi kita tidak perlu memiliki hubungan lagi," jawab Dio beralasan.
"Apa karena uang kamu berubah begini?" terka Sindy.
"Sama seperti kamu. Berubah juga karena uang!" Dio membalas kata-kata mantan kekasihnya itu.
"Kenapa kamu jadi menuduh aku begitu?" Sindy tak terima.
"Karena kamu menuduh aku juga seperti itu!" tukas Dio. Ia bergegas menyalakan mesin motornya.
"Kamu mau ke mana?" Sindy memegang tangan Dio yang berada di stang motor.
"Pulang."
"Antar aku pulang!" mohon Sindy.
"Pulang saja sendirian!" ketus Dio.
"Kamu tega membiarkan aku sendirian di sini?" Sindy memasang wajah memohon diiringi mata yang berkaca-kaca.
"Kamu datang sendiri di sini. Jadi, kenapa aku yang harus mengantarmu pulang?"
"Dio, aku mohon tolong jangan seperti ini!" rengek Sindy.
"Suruh selingkuhanmu itu menjemputmu!" kata Dio.
"Selingkuhan?" tanya Sindy pura-pura bingung.
"Kamu pikir aku tidak tahu," jawab Dio.
"Apa maksudmu?" tanya Sindy lagi.
"Aku pikir kamu itu wanita yang baik dan menyayangi aku tulus ternyata kamu pengkhianat dan pendusta!" jawab Dio.
"Dio, aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Siapa pengkhianat dan pendusta?" tanya Sindy.
"Aku melihat dan mendengar semuanya," jawab Dio lagi dengan nada datar dan menahan amarahnya.
Dio lalu menjelaskan waktu dan tempat ia tak sengaja menemukan Sindy berselingkuh. Mendengarnya tentunya membuat Sindy terkejut dan panik.
"Makanya aku memutuskan buat menikahinya," ucap Dio.
"Aku minta maaf, Dio!" Sindy mengiba.
"Sudah terlambat. Semua yang dikatakan ibu, adikku dan sepupuku adalah benar. Aku saja yang selama ini selalu menutup mata dan telinga!" Dio akhirnya mengeluarkan beban dihatinya.
Sindy tak dapat berkata apa-apa karena semuanya memang benar. Dia pernah bertemu orang-orang dekat Dio di beberapa tempat dan lokasi namun ia pura-pura tak melihat dan masa bodo.
Selepas mengeluarkan isi hatinya, Dio lantas tancap gas meninggalkan Sindy seorang diri di tengah jalan. Ia sudah tak memperdulikan wanita itu lagi yang telah menghancurkan hatinya.