NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Malam di Istana Aethelgard kian larut, namun gemuruh pesta di aula utama justru semakin memekakkan telinga. Raja Malakor dan Raja Alaric duduk bersanding di singgasana tinggi, tertawa sambil mengangkat cawan anggur emas. Di bawah cahaya lampu kristal yang menyilaukan, Morena berdansa dengan anggunnya, memutar tubuhnya yang dibalut gaun sutra ungu, mencoba memikat setiap mata bangsawan yang hadir. Namun, di balik kemegahan itu, sebuah ketegangan yang sunyi mulai merayap di lorong-lorong rahasia istana.

Alistair, Benedict, dan Gideon berkumpul di sebuah ruangan tersembunyi di balik perpustakaan kerajaan. Wajah mereka diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis. Ketiga pangeran itu kini memiliki satu tujuan yang sama: membongkar selubung sihir yang menutupi identitas Ara sebelum fajar menyingsing.

"Waktu kita tidak banyak," bisik Alistair sambil membuka sebuah gulungan tua yang ia ambil dari laci rahasia Ratu Elara. "Jika benar Malakor menggunakan Selubung Bayangan, maka darah Ara tidak akan pernah bereaksi terhadap pulpen itu kecuali sihir tersebut dinetralkan dengan 'Air Embun Suci' yang disimpan di dalam kuil kecil di taman belakang."

"Aku akan mengambil air itu," sahut Gideon cepat. "Aku tahu jalan pintas melewati kebun mawar agar tidak terlihat oleh pengawal Noxvallys."

"Hati-hati, Gideon," Benedict memperingatkan, tangannya menggenggam hulu pedangnya.

"Pengawal Malakor bukan prajurit biasa. Mereka adalah bayangan yang bisa melihat dalam kegelapan. Aku akan pergi ke penjara bawah tanah untuk memastikan Ara tetap aman. Aku merasa Morena tidak akan membiarkan Ara hidup sampai pagi."

Firasat Benedict terbukti benar. Di saat pesta sedang mencapai puncaknya, Morena memberikan isyarat rahasia kepada dua pengawal pribadinya yang bertubuh besar. Dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, mereka menyelinap keluar dari aula, membawa sebuah botol kecil berisi cairan hitam pekat—racun mematikan yang tidak meninggalkan jejak.

"Pastikan dia meminumnya sampai habis," perintah Morena dengan suara rendah yang penuh kebencian. "Aku tidak ingin ada gangguan lagi saat penandatanganan aliansi besok pagi. Katakan pada dunia bahwa dia mati karena rasa bersalahnya."

Kedua pengawal itu mengangguk patuh dan segera menuju ke arah penjara bawah tanah. Mereka tidak tahu bahwa dari balik pilar, Benedict sedang mengawasi dengan mata yang tajam seperti elang.

Di dalam sel yang dingin, Ara sedang mencoba untuk tidur, namun rasa cemas membuatnya terus terjaga. Ia teringat tatapan Alistair tadi sore. Ada sesuatu yang berbeda di mata pangeran tertua itu—bukan lagi kebencian, melainkan luka yang mendalam.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekati selnya. Itu bukan langkah Gideon yang ringan, bukan pula langkah Alistair yang teratur. Ini adalah langkah kaki kematian.

Dua pengawal Noxvallys muncul di depan jeruji besi. Salah satu dari mereka mengeluarkan kunci dan membuka pintu sel dengan kasar.

"Bangun, Pelayan!" bentak salah satu dari mereka. "Tuan Putri Morena sangat berbaik hati. Beliau mengirimkan minuman terakhir untukmu sebelum kau dieksekusi besok."

Ara gemetar hebat, ia mundur hingga punggungnya menempel pada dinding batu yang basah. "Hamba tidak haus... hamba tidak mau minum..."

"Ini bukan permintaan, ini perintah!" pengawal itu menjambak rambut Ara dan mencoba memaksa botol racun itu masuk ke mulutnya.

"Hentikan!" suara Benedict menggelegar di lorong penjara.

Dalam sekejap mata, Benedict sudah melompat masuk ke dalam sel. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ia menendang tangan pengawal yang memegang botol hingga racun itu jatuh dan tumpah ke lantai. Botol itu pecah, mengeluarkan asap keunguan yang menandakan betapa mematikannya isi di dalamnya.

Pertarungan singkat pun terjadi. Benedict, meskipun tanpa pedang karena harus menyamar, mampu melumpuhkan kedua pengawal itu dengan tangan kosong menggunakan teknik bela diri kerajaan. Setelah kedua pengawal itu pingsan, Benedict segera memeluk Ara yang sedang menangis ketakutan.

"Jangan takut, aku di sini," bisik Benedict. Suaranya yang biasanya dingin kini terdengar begitu lembut dan protektif. "Maafkan kami karena terlambat menyadari kebenaran."

Beberapa menit kemudian, Alistair dan Gideon tiba di penjara. Gideon membawa sebuah botol kristal kecil berisi air bening yang memancarkan cahaya biru redup—Air Embun Suci.

"Kita harus melakukannya sekarang," ucap Alistair serius. "Jika ini berhasil, selubung sihir Malakor akan hancur dan darahnya akan kembali murni."

Alistair kembali meraih tangan Ara. Kali ini, tindakannya sangat lembut. Ia mengoleskan air suci itu ke jari Ara sebelum kembali menggoresnya dengan belati kecil. Di tangan satunya, Alistair memegang Pulpen Cendana Emas.

Setetes darah kembali jatuh di atas ukiran Phoenix emas tersebut.

Satu detik pertama, keheningan menyelimuti sel itu. Namun di detik kedua, sebuah getaran hebat terasa di seluruh ruangan. Cahaya biru yang sangat terang, secerah bintang di langit malam, meledak dari dalam pulpen emas tersebut. Cahaya itu membentuk bayangan burung phoenix yang terbang melingkari tubuh Ara, memberikan kehangatan yang luar biasa yang seketika menghapus semua rasa sakit dan lebam di kulit gadis itu.

Mekanisme rahasia di dalam pulpen itu berdenting keras. Bagian atasnya terbuka, mengeluarkan sebuah gulungan kecil berbahan sutra emas yang berisi tulisan tangan asli Ratu Elara: "Untuk putriku, Aurora Lyris. Kau adalah cahaya yang takkan pernah padam."

Ketiga pangeran itu jatuh berlutut di depan Ara. Air mata mengalir di pipi Alistair yang selama ini selalu tampak tegar.

"Aurora..." Alistair berbisik, suaranya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. "Adikku... maafkan kakakmu yang bodoh ini. Kami telah membiarkanmu menderita di bawah mata kami sendiri."

Ara terpaku. Cahaya dari pulpen itu seolah mengembalikan potongan-potongan memori yang hilang. Ia mengingat wajah Alistair yang tersenyum saat menggendongnya, ia mengingat suara lembut Ratu Elara. "Kak Alistair... Kak Benedict... Gideon..."

Gideon memeluk Aurora dengan erat, menangis tersedu-sedu. "Kau sudah pulang, Aurora. Kau sudah benar-benar pulang. Aku bersumpah, mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu, termasuk Raja Malakor sekalipun."

Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Alistair segera menyadari bahaya yang mengintai. Cahaya biru yang meledak tadi kemungkinan besar dirasakan oleh Malakor, karena penyihir hitam selalu bisa merasakan saat sihirnya dihancurkan.

"Kita harus menyembunyikan Aurora sekarang!" perintah Alistair. "Morena dan Malakor akan segera datang kemari setelah pengawal mereka tidak kembali."

"Bawa dia ke kamar Ratu melalui lorong rahasia," saran Benedict. "Hanya Bunda yang bisa melindunginya secara sah saat ini."

Dengan hati-hati, mereka membimbing Aurora keluar dari penjara. Untuk pertama kalinya dalam delapan belas tahun, Aurora berjalan di lorong istananya sendiri bukan sebagai budak, melainkan sebagai seorang putri yang telah bangkit dari abu.

Di aula atas, Raja Malakor tiba-tiba berhenti tertawa. Cawan anggurnya retak di genggamannya. Matanya yang hitam menatap tajam ke arah lantai, seolah bisa menembus hingga ke penjara bawah tanah. Ia merasakan Selubung Bayangan miliknya telah lenyap.

"Ada apa, Malakor?" tanya Raja Alaric heran.

Malakor berdiri, auranya mendadak menjadi sangat gelap dan mengancam. "Sepertinya ada tikus yang mencoba bermain dengan sihirku, Alaric. Aku harus memeriksa sesuatu."

Morena, yang melihat ekspresi Malakor, seketika pucat pasi. Ia tahu rencananya sedang berada di ujung tanduk. Tanpa menunggu perintah, ia ikut berlari di belakang Malakor menuju penjara bawah tanah.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!