Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Rencana Arsa
"Kamu ngga apa apa?"
Nafa langsung mendudukkan dirinya begitu melihat kehadiran kekasih pengecutnya, Arsa.
Sekarang mereka hanya berdua saja berada di dalam kamar hotel, teman temannya sudah pergi meninggalkannya berdua saja dengan Arsa.
"Arsa....." Suara Nafa bergetar. Ketakutan masih memenuhi rongga dadanya.
"Ya....?" Arsa menatap kekasihnya lembut. Dia meletakkan bantal di belakang dan membantu Nafa bersandar. Wajah kekasihnya masih tampak pucat.
Arsa yang baru datang di lobby hotel, menjadi tergopoh gopoh ke kamar Nafa setelah mendapat telpon dari teman teman Nafa
"Nafa pingsan, Arsa."
"Katanya dia melihat Kael."
Nama Kael menghentak jantungnya sangat keras.
Kael di Jakarta?
Jadi selama ini dia di Jakarta?
Selama enam bulan?!
Arsa melihat kekasihnya masih tertidur tadi ketika dia tiba di kamar kekasihnya. Kata teman teman modelnya, dokter baru saja pergi.
Tapi untunglah kata dokter, Nafa tidak apa apa. Dia hanya menderita shock sesaat.
Arsa memakluminya. Kalo dia yang berada di posisi Nafa, dia juga pasti shock. Dicari cari selama berbulan bulan, dikira sudah meninggal, ternyata malah masih hidup dan sehat wa'alfiat.
Ada satu hal yang mengganggu pikiran Arsa. Kenapa Kael tidak pulang. Kabar saja tidak pernah dia berikan.
Tidak mungkin Kael bisa melupakan kebenciannya padanya dan Nafa. Terutama hak warisnya. Dia merasa yang terjadi sekarang terlalu aneh.
"Aku melihat Kael." Nafa memegang lengan Arsa dengan kuat. Suaranya terdengar bergetar. Wajahnya menampakkan rasa takut yang amat sangat.
"Aku lihat Kael," ucapnya lagi.
"Tenang, Nafa. Tapi kamu bisa pastikan kalo dia Kael? Kamu yakin?"
Nafa terdiam. Dia mengangguk pelan.
"Ak aku yakin. Yakin banget." Nafa menjelaskannya dengan suara.yang masih bergetar.
"Kael ngga melihat kamu?" Arsa kembali merasa ada keanehan.
Nafa menggeleng.
"Sepertinya Kael sudah punya pacar. Tadi dia bersama perempuan," ucap Nafa pelan. Ada ketakrelaan dalam hatinya kalo memang benar Kael sudah punya pacar.
Secepat itu Kael melupakannya?
"Baguslah kalo begitu. Berarti dia ngga akan marah lagi dengan kita," jawab Arsa santai.
Nafa menggelengkan kepalanya.
"Rasanya tidak mungkin. Entahlah. Aku masih merasa takut. Apalagi tadi saat mendengar suara marahnya."
"Kael marahin siapa?" Arsa menatap Nafa penuh rasa ingin tau.
"Tadi Nesie ngga sengaja nabrak pacarnya. Jadi Kael agak marah. Memang ngga separah waktu itu," jelas Nafa pelan dengan perasaan masih kecut.
Arsa manggut manggut.
"Arsa, bagaimana kalo Kael menceritakan apa yang dilihatnya pada semua orang? Pada papi kamu dan kakek nenek kamu juga?"
Arsa terdiam, tapi kepalanya seakan sedang berpikir keras. Terlihat dari banyaknya kerutan di keningnya.
"Tenang. Akhirnya kita sudah tau kalo Kael ada di Jakarta. Aku akan menghubungi mami. Biar mami yang urus Kael.'
Nafa menganggukkan kepalanya. Tapi dia penasaran dengan ucqpan teman temannya sebelum dia pingsan.
Mereka pernah bertemu Kael?
Kapan?
Dimana?
*
*
*
Fathan dan Nidya melihat dari balik jendela ketika Adelia diantar pulang.
"Itu laki laki yang bikin heboh di lobby tadi siang?" tanya Fathan memastikan.
"Yang kasih bunga juga? Yang kata Asta?" Nidya menatap serius pada laki laki muda yang sedang ngobrol dengan putrinya.
Fathan tersenyum.
"Sekalinya dekat dengan laki laki langsung bikin heboh."
Nidya tertawa pelan.
"Kelihatannya anak baik baik," ucap Nidya.
"Jetro dan yang lainnya sedang sibuk mencari info siapa dia. Bahkan sampai minta tolong Malik," sambung Nidya lagi.
"Biar cepat aja ketahuan siapa dia. Hanya saja muka anak itu agak familiar," tukas Fathan sambil berusaha mengingat ingat.
"Siapa?"
"Entahlah. Biasanya kalo lama aku mengingat, orang itu pasti sangat menyebalkan."
Nidya tergelak.
"Tapi tampang dan gerak geriknya ngga menyebalkan," sanggahnya.
"Semoga saja dia tidak semenyebalkan orang yang tidak mau aku ingat."
Nidya tambah tergelak mendengar ucapan suaminya. Dia masih tetap mengintip putrinya.
*
*
*
Kael menghentikan mobilnya di halaman rumah Adelia.
"Nanti kamu pulangnya bagaimana?" tanya Adelia sambil melepaskan seatbeltnya.
"Mobilku ada di luar. Levi memberikan aku pengawal untuk mengawasiku setelah kecelakaan malam itu," kekeh Kael.
"Syukurlah. Soalnya mabokmu meresahkan," tawa Adelia menyindir membuat tawa Kael tambah panjang durasinya. Walau tidak dalam volume yang keras.
Kael tau yang dikatakan Adelia benar adanya. Levi juga menyadarinya.
Sekarang mereka sudah berada di luar mobil.
"Kalo ada kabar tentang penyelidikan keluarga kamu, kasih tau aku, ya."
"Oke. Tapi.... Emm.... kamu ngga mau berobat lagi?" tanya Adelia serius.
Kael tersenyum.
"Mau anterin?" canda Kael.
Adelia tertegun.
Kenapa, sih, dia selalu modus.
"Kalo kamu ngga bisa, ngga apa apa," jawab Kael santai. Dia tidak akan memaksa.
Adelia merasa tidak enak. Lagi pula dia juga ingin Kael.cepat mengingat siapa dirinya.
Kalo dia single, Adelia ngga akan ada masalah. Tapi kalo dia sudah punya istri atau anak, Adelia akan mundur teratur. Dia nggak akan mau dilabrak istri pertama Kael.
"Kasih tau aja jadwal konsultasinya. Nanti akan aku sesuaikan dengan waktu kerjaku." Adelia mencoba tetap tenang dengan jantung semakin cepat berdetak.
Kael menahan senyumnya agar tidak semakin melebar. Spontan tadi dia merasa senang dengan jawaban Adelia.
"Oke."
Kyknya Kael ingat Adel deh