Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Cinta yang Diucapkan
#
Tiga hari.
Tiga hari aku nggak keluar rumah. Cuma ngurung diri di kamar sempit yang berjamur. Nemenin Bapak—ngasih makan, ngasih obat, ngobrol tentang hal-hal nggak penting sambil pura-pura aku baik-baik aja.
Padahal... padahal aku nggak baik-baik aja.
Tiap malem aku nangis. Diam-diam. Di pojokan kamar sambil meluk payung hitam—payung Arkan yang jadi satu-satunya benda yang tersisa dari dia.
HP ku aku matiin lagi. Nggak berani nyalain. Takut ada pesan dari dia. Takut... takut aku nggak kuat nahan diri.
"Zahra, kamu sakit?"
Bapak. Suaranya khawatir.
"Nggak kok, Pak. Zahra cuma... cuma capek aja."
"Kamu kurusan lagi. Makan yang banyak."
Aku senyum paksa. "Iya Pak."
Tapi gimana mau makan kalau tenggorokan rasanya kayak ditusuk-tusuk tiap kali nyoba nelan?
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu.
"Zahra? Ini Bu Ria. Keluar sebentar."
Aku buka pintu. Bu Ria berdiri disana sambil bawa piring nasi goreng.
"Ini buat kamu. Makan ya. Jangan sampe sakit."
"Bu... Zahra nggak enak terus... Bu Ria udah—"
"Udah, terima aja. Lagian..." Bu Ria senyum sedih. "...ada yang titip juga."
Jantung ku berhenti.
"Titip... siapa?"
"Mas Arkan. Dia... dia dateng tiap hari, Zahra. Pagi, siang, sore. Nunggu di luar gang. Nanya kamu gimana. Tapi aku bilang kamu nggak mau ketemu."
Arkan... masih dateng?
"Bu... Bu bilang apa ke dia?"
"Ibu bilang kamu lagi fokus sama Bapak kamu. Kamu... kamu nggak bisa nemuin dia sekarang." Bu Ria natap aku serius. "Zahra, Ibu nggak mau ikut campur urusan kamu. Tapi... tapi Ibu liat cowok itu serius. Dia... dia nggak kayak cowok-cowok lain. Dia beneran sayang sama kamu."
"Tapi... tapi kita beda agama, Bu..."
"Ibu tau. Tapi... apa kamu yakin mau lepas dia? Apa kamu... apa kamu nggak nyesel nanti?"
Aku diem.
Karena... karena aku nggak tau jawaban aku apa.
---
Besok paginya, aku memberanikan diri keluar. Bukan buat nyari Arkan—tapi buat nyari baju cucian. Langganan ku udah numpuk. Bu Ratna, Pak Dodi, keluarga Tan—mereka udah ngirim pesan berkali-kali. Aku nggak bisa terus ngindarin kerjaan.
Aku ambil ember baru—yang aku beli pake sisa uang—sama tas kain buat jemput baju kotor.
Keluar gang. Jalan pelan.
Dan...
Arkan.
Arkan berdiri di seberang jalan. Di bawah pohon rindang. Pake kaos putih polos, celana jeans, sepatu kets. Nggak pake jas kayak biasanya. Rambut nya agak panjang—kayaknya udah seminggu nggak potong. Wajahnya pucat. Mata nya... capek.
Tapi pas dia liat aku...
Dia senyum.
Senyum yang... yang bikin dada ku sesak.
"Zahra..."
Aku berhenti. Nggak tau harus ngapain. Lari? Atau... atau jalan deket?
Dia jalan duluan. Nyebrang jalan. Berhenti di depan ku. Jarak... mungkin dua meter.
"...kamu... kamu keluar juga akhirnya..."
"Mas... Mas kenapa... kenapa Mas masih disini?" Suara ku gemetar. "Mas... Mas kan udah... udah aku bilang—"
"Aku tau. Kamu bilang kita nggak bisa bersama. Kamu bilang aku harus lupain kamu." Dia senyum pahit. "Tapi... tapi aku nggak bisa, Zahra. Aku... aku udah coba. Tapi tiap kali aku tutup mata... yang aku liat cuma wajah kamu."
"Mas... jangan kayak gini... Mas bikin aku... bikin aku makin susah..."
"Aku tau. Tapi... tapi aku nggak bisa diem aja. Aku... aku harus coba. Sampai... sampai kamu beneran nolak aku. Beneran bilang kamu nggak cinta sama aku."
Aku nunduk. Nggak berani natap mata dia.
"...Mas, aku... aku nggak bisa bilang kayak gitu..."
"Kenapa?"
"Karena... karena..." Tenggorokan ku nyesek. "...karena itu bohong."
Hening.
Angin bertiup pelan. Daun-daun pohon bergesekan—bunyi gemerisik yang bikin suasana makin... makin menyakitkan.
"...kamu... kamu cinta sama aku?"
Aku angkat muka. Natap mata dia yang berkaca-kaca.
"...iya. Aku... aku cinta sama Mas. Dari... dari aku nggak tau kapan. Mungkin... mungkin dari pertama kali Mas bantuin aku. Atau... atau dari saat Mas ngasih payung. Atau... atau saat Mas bayarin Bapak aku di RS. Aku nggak tau. Yang aku tau... aku... aku cinta sama Mas. Dan itu... itu bikin aku takut."
Arkan jalan deket. Pegang kedua tanganku. Lembut.
"Kenapa kamu takut?"
"Karena... karena cinta kita nggak mungkin, Mas. Kita beda agama. Keluarga Mas nggak setuju. Bapak aku nggak setuju. Kita... kita cuma bakal saling nyakitin..."
"Zahra, dengerin aku." Dia natap aku dalam. "Aku... aku udah mikirin ini matang-matang. Tiga hari terakhir, aku nggak ngapa-ngapain selain mikir. Dan... dan aku sampai di satu kesimpulan."
"Kesimpulan apa?"
"Aku... aku mau belajar Islam."
Jantung ku berdebar.
"Mas... Mas jangan bilang Mas mau masuk Islam lagi... aku udah bilang—"
"Bukan masuk Islam. Belajar." Dia ralat. "Aku... aku mau tau tentang agama kamu. Aku mau... aku mau ngerti kenapa kamu begitu taat. Kenapa... kenapa kamu percaya sama Allah. Aku... aku penasaran, Zahra. Beneran."
"Tapi... tapi Mas Kristen... Mas percaya sama Yesus..."
"Aku masih percaya sama Yesus. Tapi... tapi nggak ada salahnya kan kalau aku belajar agama lain? Alkitab ngajarin aku untuk 'menguji segala sesuatu dan pegang yang baik'. 1 Tesalonika 5:21. Jadi... jadi aku mau nguji. Aku mau belajar. Dan kalau... kalau ternyata aku ngerasa Islam itu bener... aku... aku bakal pertimbangin dengan serius."
Aku diem. Nggak tau harus jawab apa.
"Zahra, aku nggak janji aku bakal masuk Islam. Aku nggak mau bohong. Tapi... tapi aku janji aku bakal belajar dengan hati yang terbuka. Dengan niat yang tulus. Nggak cuma buat kamu. Tapi... tapi juga buat diriku sendiri. Buat... buat nyari kebenaran."
"Mas... apa... apa Mas yakin? Kalau keluarga Mas tau... mereka... mereka bakal makin marah..."
"Aku nggak peduli." Dia senyum. "Aku udah kehilangan mereka. Sekarang... sekarang aku cuma punya kamu. Dan... dan aku nggak mau kehilangan kamu juga."
Air mata jatuh. Lagi.
"Mas... aku... aku takut Mas bakal nyesel..."
"Aku nggak bakal nyesel." Dia lap air mata ku pake jempol. "Karena... karena aku percaya kalau cinta kita... cinta kita dikirim Tuhan. Entah Allah atau Yesus atau siapapun di atas sana... mereka... mereka ngirim kita satu sama lain buat alasan."
"Tapi... tapi Bapak aku—"
"Aku bakal bicara sama Bapak kamu. Aku bakal jelasin niat aku. Aku bakal buktiin kalau aku serius. Dan kalau... kalau dia tetep nggak setuju... aku... aku bakal tunggu. Sampai dia setuju. Sampai... sampai aku bisa buktiin aku layak buat kamu."
Aku nggak kuat lagi. Aku peluk dia. Erat. Di tengah jalan. Di tengah orang-orang yang lewat sambil ngeliatin kita aneh.
Tapi aku nggak peduli.
"Mas... aku... aku takut... aku takut kehilangan Mas..."
"Kamu nggak bakal kehilangan aku. Aku... aku janji."
"Jangan janji yang Mas nggak bisa tepatin..."
"Aku bakal tepatin. Apapun yang terjadi. Aku... aku bakal berjuang buat kita."
Dan saat itu...
Saat itu aku ngerasain sesuatu yang... yang belum pernah aku rasain sebelumnya.
Harapan.
Harapan kalau mungkin... mungkin kita bisa.
Mungkin... mungkin cinta kita nggak mustahil.
---
Sore itu, kami duduk di warung kopi sederhana pinggir jalan. Warung yang cuma punya empat meja plastik, kursi goyang, sama menu terbatas—kopi item, teh manis, gorengan pisang.
Arkan pesan kopi. Aku pesan teh manis. Kami duduk berhadapan.
"Zahra, aku... aku mau nanya sesuatu."
"Apa, Mas?"
"Kalau... kalau aku beneran masuk Islam suatu hari nanti... kamu... kamu mau sama aku?"
Aku diem sebentar. Ngaduk teh manis ku—sendok bunyi KRING kena gelas.
"...aku... aku nggak tau, Mas. Bukan karena aku nggak mau. Tapi... tapi aku takut Mas masuk Islam cuma buat aku. Aku takut... aku takut hati Mas nggak tulus. Dan nanti... nanti Mas menyesal. Mas... Mas benci aku."
"Aku nggak bakal benci kamu."
"Mas nggak tau itu sekarang. Tapi nanti... nanti kalau Mas udah masuk Islam terus Mas ngerasa... ngerasa kehilangan identitas Mas... kehilangan Yesus yang Mas cintai... Mas bakal nyalahin aku."
Arkan natap aku lama. "...kamu bener. Aku nggak bisa janji aku nggak bakal nyesal. Karena... karena aku nggak tau masa depan. Tapi... tapi yang aku tau sekarang adalah... aku pengen belajar. Aku pengen ngerti agama kamu. Dan kalau... kalau ternyata aku ngerasa Islam itu kebenaran... aku bakal masuk Islam bukan buat kamu. Tapi buat Tuhan. Buat... buat diriku sendiri."
Aku senyum. Sedih tapi... lega.
"...Mas, aku... aku nggak mau maksa Mas. Aku nggak mau Mas ngerasa terpaksa. Kalau Mas belajar Islam terus Mas ngerasa itu bukan jalan Mas... aku... aku bakal ngerti. Dan aku... aku bakal ikhlas."
"Kamu yakin?"
Aku diem. Natap gelas teh ku yang udah setengah kosong.
"...nggak. Aku nggak yakin. Aku... aku bakal sakit. Bakal nangis. Bakal... bakal nyesel kenapa aku cinta sama orang yang beda agama. Tapi... tapi aku bakal coba ikhlas. Karena... karena cinta itu nggak boleh egois. Cinta itu... cinta itu harus rela ngelepas kalau emang itu yang terbaik."
Arkan pegang tangan ku di atas meja. Hangat.
"Zahra, aku janji satu hal."
"Apa?"
"Aku bakal belajar dengan sungguh-sungguh. Aku bakal baca Qur'an. Aku bakal belajar sholat. Aku bakal nanya ke ustadz. Aku... aku bakal ngasih Islam kesempatan buat ngomong ke hati aku. Dan... dan aku nggak bakal setengah-setengah."
Aku natap mata dia. Mata yang tulus. Penuh kesungguhan.
"...oke. Aku... aku percaya sama Mas."
"Dan kamu... kamu mau nemenin aku belajar?"
"Iya. Aku... aku bakal bantuin Mas sebisa aku. Meskipun... meskipun aku bukan ahlinya."
Arkan senyum. "Kamu lebih dari cukup."
---
Malem itu, aku pulang dengan perasaan... bercampur aduk. Seneng, takut, bingung, berharap—semuanya jadi satu.
Bapak lagi duduk di kasur. Baca Qur'an. Aku masuk. Duduk di sebelahnya.
"Bapak..."
"Iya?"
"Zahra... Zahra ada yang mau ngomong."
Bapak nutup Qur'an. Natap aku serius.
"Ngomong apa?"
Aku ambil napas dalam. Dalam banget.
"...Arkan... Mas Arkan... dia mau belajar Islam."
Bapak diem. Lama.
"...belajar? Atau mau masuk Islam?"
"Belajar dulu. Dia... dia bilang dia nggak mau setengah-setengah. Dia mau... dia mau beneran ngerti dulu sebelum ambil keputusan."
"Dan kamu... kamu percaya sama dia?"
"...iya, Pak. Zahra percaya."
Bapak napas panjang. "Zahra, Bapak nggak mau larang kamu. Tapi... tapi Bapak mau kamu inget satu hal. Masuk Islam itu bukan main-main. Itu... itu komitmen seumur hidup. Kalau dia masuk Islam cuma buat kamu... nanti dia bakal murtad. Dan itu... itu dosa besar."
"Zahra tau, Pak. Makanya... makanya Zahra bilang ke dia... kalau dia nggak yakin, jangan dipaksa. Zahra... Zahra lebih milih berpisah daripada dia jadi munafik."
Bapak natap aku lama. Terus... pegang kepala ku. Sayang.
"...kamu udah dewasa, Zahra. Bapak nggak bisa ngontrol hidup kamu terus. Tapi... tapi Bapak mau kamu berhati-hati. Jangan sampai kamu... kamu kehilangan iman kamu gara-gara cinta."
"Zahra janji, Pak. Zahra nggak bakal ninggalin Islam. Apapun yang terjadi."
"...oke. Bapak percaya sama kamu."
Dan aku peluk Bapak. Erat.
"Makasih, Pak... makasih..."
---
Malem itu, aku sholat isya. Sujud lama. Doa panjang.
"Ya Allah... hamba mohon... kalau Mas Arkan memang jodoh hamba... tolong bukakan hatinya untuk Islam. Tolong tunjukkan kebenaran padanya. Tapi... tapi kalau dia bukan jodoh hamba... tolong kuatkan hati hamba untuk melepasnya. Tolong... tolong jangan biarkan hamba dan dia... saling menyakiti karena cinta yang nggak pada tempatnya. Ya Allah... hamba serahkan semuanya pada-Mu..."
Aku sujud lama. Lama banget. Sampe lutut kebas. Sampe air mata basahin sajadah.
"...Ya Allah... hamba cinta dia... tapi hamba lebih cinta pada-Mu... tolong... tolong tunjukkan jalan yang benar..."
Dan malam itu...
Aku tidur dengan perasaan... tenang.
Karena aku udah serahin semuanya.
Ke Tuhan yang Maha Tau.
Yang Maha Adil.
Yang... yang pasti punya rencana terbaik buat aku dan Arkan.
---
Keesokan harinya, Arkan datang lagi. Kali ini bawa sesuatu.
Buku.
Buku berjudul **"Memahami Islam untuk Pemula"**.
"Zahra, aku... aku beli ini. Aku... aku mau mulai belajar. Dari dasar. Kamu... kamu mau bantuin aku?"
Aku natap buku itu. Terus natap Arkan.
Dan aku senyum.
Senyum tulus untuk pertama kalinya sejak seminggu ini.
"...iya, Mas. Zahra bantuin."
Dan di saat itu...
Perjalanan panjang kami dimulai.
Perjalanan yang penuh rintangan.
Penuh air mata.
Penuh... penuh pengorbanan.
Tapi juga...
Penuh cinta.
Cinta yang tulus.
Cinta yang... yang mungkin... bisa mengubah segalanya.
Atau... atau menghancurkan segalanya.
Tapi kami berdua nggak tau.
Yang kami tau cuma...
Kami mau coba.
Apapun risikonya.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 12...**