Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Jejak di Kegelapan
#
Mahira masih terduduk di lantai koridor, tubuhnya gemetar hebat. Tasbih di lehernya perlahan mendingin, tapi dadanya masih sesak seperti ada yang mencekik.
"Mas Budi," ulangnya dengan suara parau. "Selama ini... dia selalu ada. Di kantor. Di rapat. Bahkan saat kami mencari bukti tentang Paman Damian."
Zarvan membantu Mahira berdiri. Wajahnya keras, rahangnya mengencang menahan amarah.
"Dia yang mengatur semua ini," katanya pelan tapi penuh tekanan. "Serangan peretas itu bukan dari luar. Dia sengaja buka celah. Sengaja buat kita sibuk dengan masalah itu sementara dia..."
"Sementara dia mengawasi setiap langkah kita." Mahira menatap lift yang sudah tertutup. "Tuhan, kita bodoh sekali. Kenapa tidak menyadarinya lebih cepat?"
Raesha keluar dari ruang Khaerul dengan wajah bingung.
"Ada apa? Kalian kenapa terlihat seperti baru melihat hantu?"
"Karena kami baru saja melihatnya," jawab Zarvan datar. "Khalil. Dia ada di sini. Di rumah sakit ini."
Raesha memucat. "Apa? Siapa?"
"Mas Budi," kata Mahira sambil mencoba mengendalikan napasnya yang masih memburu. "Kepala IT kantor kita. Dia... dia Khalil."
Raesha mundur selangkah. Tangannya mencari dinding untuk menopang tubuhnya yang tiba-tiba lemas.
"Mas Budi yang selalu senyum ramah itu? Yang sering bantuin kita masalah komputer? Yang kemarin bilang dia bisa lacak peretas?"
"Dia," Mahira mengangguk. "Dan sekarang dia tahu kita sudah mengenalinya."
Papa keluar dari ruang tunggu, langsung menangkap ketegangan di wajah anak-anaknya.
"Ada masalah?"
Mahira menceritakan semuanya dengan cepat. Papa mendengarkan dengan wajah makin lama makin gelap.
"Kita harus hubungi keamanan," katanya tegas. "Kita harus..."
Tiba-tiba lampu koridor berkedip. Satu kali. Dua kali. Lalu padam total.
Kegelapan melanda seluruh lantai.
Teriakan panik terdengar dari berbagai arah. Pasien, pengunjung, perawat, semua kebingungan.
Tapi Mahira merasakan sesuatu yang berbeda.
Tasbihnya mulai panas lagi.
Sangat panas.
"Dia masih di sini," bisiknya. "Dia tidak pergi. Dia..."
Suara dengung pelan terdengar di telinga Mahira. Seperti bisikan dari kejauhan. Memanggil namanya.
Aisyara.
Aisyara.
Kemari.
"Mahira?" Zarvan meraih tangannya dalam gelap. "Kamu dengar sesuatu?"
"Dia memanggil." Mahira menatap ujung koridor yang gelap gulita. "Dia ingin aku mengikutinya."
"Jangan," Zarvan menggenggam tangannya erat. "Ini jebakan. Dia ingin pisahkan kita."
"Aku tahu." Mahira menarik napas panjang. "Tapi kalau aku tidak ikuti, dia tidak akan pernah menunjukkan dirinya. Dan kita tidak akan bisa menyelesaikan ini."
"Maka aku ikut."
"Tidak." Mahira menatap mata Zarvan meskipun dalam gelap mereka hampir tidak bisa saling melihat. "Kamu harus jaga Khaerul. Dia tidak boleh sendirian. Kalau Khalil tahu Khaerul sebenarnya Azka, dia mungkin akan..."
Dia tidak bisa melanjutkan. Tapi mereka semua paham maksudnya.
Zarvan terdiam. Konflik jelas terlihat di wajahnya bahkan dalam kegelapan.
"Aku akan ikut Mahira," kata Raesha tiba-tiba. "Dia tidak akan sendirian."
"Tidak," tolak Mahira cepat. "Kalian semua harus di sini. Lindungi Khaerul. Aku..."
"Aku yang akan ikut."
Suara Ustadz Hariz muncul dari belakang mereka. Entah sejak kapan dia ada di sana.
"Ustadz," Mahira menoleh. "Tapi..."
"Tidak ada tapi." Ustadz Hariz melangkah maju. Tangannya memegang tasbih serupa dengan yang Mahira pakai. "Kamu butuh perlindungan spiritual. Dan aku di sini untuk itu."
Mahira menatap Zarvan. Dalam gelap, dia bisa merasakan kekhawatiran yang memancar dari tubuh pria itu.
"Aku janji akan kembali," bisiknya. "Percaya padaku."
Zarvan memeluknya cepat. Erat. Seperti tidak ingin melepaskan.
"Kalau kamu kenapa-kenapa," bisiknya di telinga Mahira, "aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
"Aku tidak akan kenapa-kenapa." Mahira melepaskan diri, meskipun seluruh tubuhnya ingin tetap dalam pelukan itu. "Aku akan kembali. Kita akan menyelesaikan ini. Bersama."
Dia melangkah menuju kegelapan. Ustadz Hariz mengikuti dari belakang, membaca ayat-ayat pelindung dengan suara pelan.
Tasbih memandu jalan Mahira. Semakin hangat berarti semakin dekat. Semakin dingin berarti salah arah.
Mereka melewati koridor yang sepi. Turun tangga darurat yang gelap. Semakin dalam. Semakin sunyi.
Sampai akhirnya mereka tiba di pintu bertuliskan: Ruang Bawah Tanah. Akses Terbatas.
Tasbih Mahira hampir membakar kulitnya.
"Dia di dalam," bisik Mahira.
Ustadz Hariz mengangguk. "Berhati-hatilah. Jangan percaya apapun yang dia katakan. Khalil pandai memanipulasi."
Mahira mendorong pintu. Terbuka dengan bunyi derit pelan yang mengerikan.
Di dalam, cahaya redup dari lampu darurat menerangi ruangan besar yang dipenuhi peralatan medis lama. Seperti gudang yang sudah lama tidak dipakai.
Dan di tengah ruangan, berdiri seorang pria.
Bukan Mas Budi.
Pria ini lebih muda. Mengenakan seragam perawat. Rambutnya rapi, wajahnya tampan dengan cara yang biasa saja.
Tapi matanya.
Matanya sama dengan mata pria di lift tadi.
Mata yang sudah Mahira lihat di visi-visi masa lalunya.
Mata Khalil.
"Arman," baca Mahira dari name tag di dada pria itu. "Jadi kamu pakai dua identitas?"
Pria itu tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk Mahira berdiri.
"Tiga, sebenarnya," jawabnya dengan suara yang anehnya familiar. "Mas Budi di kantormu. Arman di rumah sakit ini. Dan identitas ketiga yang tidak perlu kamu tahu."
"Kenapa?" Mahira melangkah maju meskipun setiap instingnya berteriak untuk lari. "Kenapa kamu bersembunyi selama ini?"
"Karena aku menunggu." Arman berjalan melingkar, seperti kucing mengitari mangsa. "Menunggu momen yang tepat. Menunggu sampai semua kepingan puzzle berkumpul. Dan sekarang..." dia berhenti, menatap Mahira dengan intensitas yang menakutkan, "sekarang waktunya sudah tiba."
Ustadz Hariz melangkah maju, berdiri sedikit di depan Mahira.
"Apa maumu, Khalil?"
Arman menoleh padanya. Ekspresinya berubah, jadi lebih dingin.
"Mauku?" dia tertawa. Tawa yang terdengar seperti tangisan. "Aku mau yang seharusnya jadi milikku tiga ratus tahun lalu. Aku mau keadilan. Aku mau..."
"Kamu mau Aisyara," Mahira menyelesaikan. Suaranya lebih tenang dari yang dia rasakan. "Tapi dia tidak pernah mencintaimu. Dan itu bukan salahnya."
"SALAHNYA!" Arman berteriak. Emosinya meledak tiba-tiba. "Salahnya karena dia tidak pernah melihatku! Aku ada di sana! Selalu ada! Saat dia sakit, aku yang jaga. Saat dia sedih, aku yang hibur. Tapi apa yang aku dapat? TIDAK ADA! Dia hanya punya mata untuk Dzarwan yang bahkan tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya!"
"Karena cinta bukan tentang siapa yang lebih banyak berkorban," kata Mahira pelan. "Cinta tentang perasaan. Dan perasaan tidak bisa dipaksa."
"Tapi bisa diciptakan!" Arman melangkah mendekat. "Kalau Dzarwan tidak ada, kalau dia mati lebih dulu, Aisyara akan berpaling padaku. Dia akan melihatku. Dia akan..."
"Dia akan membencimu." Mahira menatapnya langsung. "Seperti aku membencimu sekarang. Bukan sebagai Aisyara. Tapi sebagai Mahira. Karena kamu membunuh orang yang aku cintai. Kamu membunuh adiknya. Kamu menghancurkan semua yang indah hanya karena kamu tidak bisa memilikinya."
Arman terdiam. Wajahnya berubah. Dari marah jadi... sedih.
Sangat sedih.
"Aku tahu," bisiknya. Suaranya tiba-tiba terdengar seperti anak kecil yang ketakutan. "Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Aku tahu aku monster. Tapi aku tidak bisa berhenti. Bahkan setelah tiga ratus tahun, aku masih tidak bisa berhenti mencintaimu."
Mahira merasakan dadanya sesak. Sebagian dari dirinya, bagian yang Aisyara, merasakan simpati. Merasakan kesedihan untuk pria yang cintanya berubah jadi kutukan.
Tapi bagian yang lebih besar, bagian yang Mahira, hanya merasakan kemarahan.
"Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?" tanyanya. "Kamu ingin aku mencintaimu? Setelah semua yang kamu lakukan?"
Arman menggeleng pelan. "Tidak. Aku tahu itu tidak mungkin. Yang aku inginkan sekarang hanya satu hal."
"Apa?"
Dia menatap Mahira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pengampunan."
Keheningan.
Mahira tidak menyangka kata itu yang akan keluar dari mulut Khalil.
"Aku lelah, Aisyara," lanjut Arman dengan suara bergetar. "Tiga ratus tahun bereinkarnasi dengan rasa bersalah yang menghancurkan. Tiga ratus tahun bermimpi tentang wajahmu saat mati di tanganku. Tiga ratus tahun mendengar teriakan Azka yang aku bunuh. Aku... aku tidak kuat lagi."
Dia jatuh berlutut. Air mata jatuh membasahi pipi.
"Kumohon," isaknya. "Kumohon ampuni aku. Biar aku bisa istirahat. Biar aku bisa berhenti menderita."
Mahira berdiri terpaku. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Ustadz Hariz berbisik pelan di sampingnya.
"Ini keputusanmu. Tapi ingat, pengampunan bukan berarti melupakan. Pengampunan adalah membebaskan dirimu sendiri dari beban kebencian."
Mahira menatap pria yang berlutut di hadapannya. Pria yang pernah membunuhnya. Yang membunuh orang yang dia cintai. Yang menghancurkan masa depan yang seharusnya indah.
Sebagian dirinya ingin menolak. Ingin membuat dia menderita seperti dia membuat orang lain menderita.
Tapi sebagian yang lain...
Sebagian yang lain ingat kata-kata Zarvan. Kata-kata Ustadz Hariz. Kata-kata Mama.
Pengampunan bukan untuk orang yang bersalah. Tapi untuk diri sendiri.
Mahira melangkah maju. Berdiri di depan Arman yang masih menangis.
Dan dengan suara yang bergetar tapi tegas, dia berkata:
"Aku..."
Tiba-tiba pintu ruangan meledak terbuka.
Seseorang masuk dengan napas tersengal.
Khaerul.
Berdiri dengan tubuh gemetar, baju rumah sakit yang kusut, wajah pucat tapi mata penuh determinasi.
"JANGAN!" teriaknya. "Jangan ampuni dia, Mahira! Dia bohong! Ini semua jebakan!"
Arman mendongak. Dan senyumnya kembali.
Senyum mengerikan yang membuat Mahira paham.
Dia benar.
Ini jebakan.
"Akhirnya," kata Arman sambil berdiri perlahan, "akhirnya kau datang juga, Azka."
Dia menatap Khaerul dengan mata yang tiba-tiba berubah jadi hitam legam.
"Sekarang semua sudah lengkap. Aisyara. Dzarwan. Azka. Dan aku."
Cahaya hitam mulai keluar dari tubuhnya.
"Sekarang ritual yang sebenarnya bisa dimulai."