Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih selamat
Kayla dan Ethan memikirkan cara bagaimana agar Nella bisa menjauh dari Javier dan Javier juga tidak mengingatnya lagi bahkan itu tak membuat mereka menyimpan aib besar.
Melakukan pembunuhan berencana dan membuatnya seolah dalam bahaya dengan diri burunya Javier oleh sekelompok preman.
Maka, malam ini lah Kayla mengatur siasat untuk berbaik hati pada Nella dan Javier mengajaknya makan malam, tak lupa ia juga akan mengajak tiga putrinya.
Awalnya Nella menolak sekali ajakan Javier tapi, Nella tidak mau membuat Javier semakin tidak di terima.
Javier sebenarnya lega jika Nella tidak mau datang tapi saat Nella berubah pikiran dada Javier sangat sesak.
"Tidak perlu juga tidak masalah." Jawaban acuh dari Javier terdengar tidak nyaman untuk Nella.
"Aku sudah siap kau harus bersiap cepat." Katanya saat membuka pintu ruang kerja Javier.
Mata Javier membulat lebar dengan dres yang Nella pakai malam ini bahannya satin dengan warna biru, lengkap dengan mantel bulu dan sepatu hak yang cantik.
Javier malas tapi, Nella sudah rapih sebelum dirinya.
Sebelum Javier turun dan ikut Nella masuk mobil bersama Javier mengatakan pada Seam jika perasaannya tidak tenang, tiba-tiba Kayla baik ini pasti punya maksud pada Nella.
Seam di minta Javier mengurus segala kemungkinannya dan Seam sudah merasakan kegelisahan di wajah Javier seperti perasaan gelisah itu sama seperti kehilangan ibunya.
Seam paham dan segera bersiap. Nella yang akan menelpon Javier tapi, tak jadi karena orangnya sudah datang mendekat dan masuk ke dalam mobil.
Di meja makan kini semuanya berkumpul tapi, satu orang datang, ia pengawal wanita yang sama yang mewawancarai nya pagi tadi.
Ghina membisikkan sesuatu pada Kayla dan suasana meja makan jadi tegang.
Ayah yang tahu apa itu sepertinya langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Kanaya !"
Siraman di wajah nya membuat Kanaya kaget tidak bisa beralih menghindarinya.
"Kau melakukan apa dengan pria biasa itu!"
"Aku hanya ingin bahagia aku tidak jauh, melakukannya..." Jawaban yang terdengar bergetar takut. Berbanding terbalik saat pertama kali berkenalan dengan Nella.
Apa di keluarga ini ratunya adalah orang itu dan penguasanya adalah mereka berdua.
"Jangan jadi seperti dia yang menikah dengan cara yang sederhana, kau bukan bagian dari keluarga ini jika caramu menikah tidak seperti aturan yang di berikan keluarga ini!"
Nella merasa dadanya sesak apa ini, kenapa ia merasa sangat sesak, padahal tidak apa-apa jika tidak di akui kenapa jadi sangat kesal sekali rasanya.
Setelah semua keributan yang membuat nafsu makan hilang bahkan Javier berulang kali di tahan emosinya karena isyarat mata Nella.
Dengan mudahnya Ibu meminta kami semua menikmati makan malam ini, sudah hilang selera juga.
Nella bangun setelah mencicipi dan minum sedikit dengan sopan dan Javier hanya meminum anggur sedikit lalu pamit pergi bahkan ketiga putrinya juga ikut pergi.
Sekarang disini diantara hidup dan mati setelah menerima undangan makan malam lalu melihat Kanaya di permalukan didepannya tapi, seperti sengaja membuatnya seperti sindiran untuk Javier dan Nella.
"Rem!" Teriak Nella kencang saat melihat orang menyebrang dengan gerobaknya.
Tangan Nella sudah kuat berpegangan pada atas pegangan tangan.
Javier menarik dan membuang nafasnya cepat.
Menoleh kebelakang lalu berjalan lagi setelah lampu kembali hijau.
Sudah tidak ada siapapun yang mengikutinya sampai saat Javier kembali berjalan Nella melihat lampu mobil terang menyala.
"Javier!"
"Damn!"
Suara tabrakan keras dan klakson mobil bersahutan kencang. Tepat di tengah perempatan yang cukup ramai dan banyak orang masih melihatnya.
Nella terhantam keras dan Javier sadar dari terkejutnya.
Mobil yang berasap terbalik dengan kejadian yang begitu cepat.
"Aku muak!" Suara Nella marah tapi, matanya terpejam berusaha ia paksa sadar dirinya dan bergerak membuka sabuk pengaman suara sirine ambulan dan suara peluit terdengar bersahutan ramai orang melihatnya.
"Sayang sadar... Nella..."Javier sangat panik sampai ia tak mau harus menjauh dari Nella sedikit pun.
Sialan ia akan mengacak-acak semuanya lihat saja, Ethan!
Suara tetesan infus terdengar suara Isak juga jelas terdengar. Mata yang terasa berat untuk di buka sedikit jelas melihat kalo tangannya di pegang seseorang.
"Hem..." Pelan tapi, itu menghentikan Javier yang terus berharap Nella membuka matanya.
"Sayang sayang... Sayang apa yang dirasa.. Akhsial Javier bodoh."
"Dokter!" Teriaknya memekakan telinga.
"Brisik!!" Marah dengan Javier yang berteriak heboh tak karuan.
Dokter dan perawat jaga datang memeriksa Nella jelas melihat Javier mengenakan baju pasien leher di gips dan tangan juga di gips.
"Berapa hari?" Tanya Nella datar.
"Tiga hari anda tidak sadarkan diri nyonya." Jawab perawan yang segera di jawab karena dokter hanya terkejut dengan respon dan wajah Nella seperti itu tak biasanya perempuan dari keluarga Moscheren akan terlihat seperti ini setelah terkena musibah, mereka memilih tak bicara sama sekali.
"Anda mirip dengan Mendiang, ia bahkan malah tersenyum dan bertanya tapi, anda datar dan bertanya tentang tidak sadarnya anda."
Nella menarik tangannya saat akan di pasang infusan baru.
"Cabut semua aku mau pulang, Suamiku... Tolong?"
Javier menghela nafasnya.
Dokter dan perawat keluar lebih dulu karena sepertinya mereka butuh ruang.
"Pulang sekarang!"
"Rawat dirumah?"
"Kau tidak paham aku mau pulang saja, kau lihat mereka bukan mau mengobati tapi membunuhku, mereka pikir aku bekerja di rumah sakit satu dua hari, aku sudah sadar sejak dua hari lalu tapi badanku tak bisa bergerak karena mereka menyuntikkan racun bukan obat."
"Sialan!"
"Sudah aku lelah lebih baik pulang sekarang dan kau juga lepas semuanya aku tahu kamu tidak patah apapun kamu hanya terlihat menyedihkan."
Javier mengangkat bahu dan kedua alisnya , ekspresi menunjukkan kalo, yaah sudah ketahuan.
"Baik Nella." Mendekat mengecup dahinya.
Tiba-tiba di kecup.
Sebenarnya bukan yang pertama kali bahkan sudah lebih dari kecupan dahi tapi, tetap saja berdebar.
Sampai dirumah dengan kursi roda Nella meminta Javier mendorongnya ke sofa.
"Kembalikan kursi roda itu aku tidak lumpuh hanya lemas saja, nanti juga sembuh semua."
Mereka diam Shinta yang mau berkomentar pun di tarik Seam menjauh.
Javier duduk di sebelah Nella.
"Maaf aku memaksamu, aku hanya mau kau aman, kenyataan kau hampir tiada...."
"Kau pikir aku mau seperti ini, aku pun juga sudah tau hal ini lalu kau pikir aku minta berpisah..."
"Lalu apa mau mu?"
Nella diam menimang jawaban apa yang mau ia berikan pada Javier dan bagaimana dengan keluarganya bahkan elama di rumah sakitpun keluarganya tidak datang dan apa Javier menyembunyikannya, kelihatannya akan bicara kalo keluarganya ada yang datang atau Nella justru salah menilai.
Manikahpun tanpa ada dirinya kalo ia harus tiada dari pada bunuh diri apa lebih baik kita Javier melakukannya.
"Habisin aku sekarang."
"