Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Nona Green
Ia sendiri sekarang mati-matian berusaha untuk tidak jatuh cinta pada pria ini. Kadang ia terhanyut pada reaksi Fian yang butuh dirinya tapi kadang juga ia berusaha menyadarkan diri sendiri saat Fian mulai galak padanya. Ia tidak tahu, seberapa lama ia sanggup bertahan dengan situasi yang menyulitkan seperti ini.
Dulu pria itu bosnya yang selalu ia hindari sekaligus ia idolakan, dan itu tidak berubah hingga mereka menikah. Yang Lana takutkan, tiba-tiba hatinya benar-benar jatuh cinta dan tak sanggup lagi berpisah dari pria ini.
Namun, segala sesuatu bila ada awal, pasti ada akhirnya. Ia tak tahu akhir yang seperti apa yang akan ia rasakan saat akan berpisah dengan sang suami. Yang pasti, ia berusaha menikmati saat-saat indah ini bersama walau pun takkan bisa selamanya.
***
"Mas lagi apa?" Lana melihat suaminya seperti menahan sesuatu selagi berjemur di bawah sinar matahari di taman belakang. Kulitnya pun kini sedikit coklat sejak mulai berjemur tapi itu tidak mengurangi ketampanannya. Malah membuat ketampanan pria itu berubah dalam wujud lain. Tampan dengan warna kulit sedikit coklat.
"Eh?" Pria itu menoleh. "Aku sedang berusaha mengangkat kakiku tapi sangat susah. Padahal semalam sempat bisa diangkat sedikit."
Lana kaget dan tersenyum. "Oh, itu sebabnya ngantuk pagi-pagi? Aku pikir kenapa Mas tiba-tiba ngantuk pagi. Biasanya 'kan semangat banget ingin sarapan."
"Iya, tapi kok sekarang susah ya, ngangkat kaki. Gak bergerak sama sekali," tanya Fian bingung.
"Mungkin lebih mudah kalau dilakukan sambil berbaring."
Fian berpikir sejenak. "Mungkin juga ya. Ayo, kita ke kamar! Aku ingin latihan lagi."
Lana senang pria itu bersemangat untuk latihan. "Aku panggil Hadi dulu ya."
"Tapi jangan bantu aku ya. Aku mau coba sendiri."
"Iya-iya." Lana yang bangkit, tersenyum lebar.
"Kamu hanya perlu tungguin aku."
Di kamar, Fian kembali dibaringkan. Karena tidak boleh membantu, Lana malah sibuk sendiri melakukan perawatan pada wajah karena ia sempat membeli peralatan make up dan perawatan wajah untuk di rumah saat pergi dengan Fian ke mal waktu itu. Penampilannya juga membaik karena memakai pakaian rumah yang sesuai untuk standar wanita istri seorang CEO.
Fian hanya melihat saja, istrinya sibuk merawat wajah sementara ia tengah berusaha berlatih yang ia bisa. Setelah memulas wajah dan membersihkannya dengan beberapa produk kecantikan, Lana memasang kertas masker basah di wajah dan berbaring di samping suaminya. Selagi suaminya berusaha, ia malah ketiduran.
"Lana."
Wanita itu kembali terbangun saat Fian menepuk-nepuk bahunya. "Apa?" Ia mengucek-ngucek mata dan menyadari masker kertasnya jatuh. "Eh?"
Fian hanya tersenyum melihat wajah Lana yang kian bersih. Ia bisa melihat wajah lembut dan polos wanita itu lebih dekat. "Aku lapar. Tolong mintakan orang dapur buatkan sesuatu untukku."
Lana melirik jam di dinding, masih jam 11. "Tanggung, Mas. Apa mau makan roti bakar atau potongan buah menjelang makan siang?"
"Kenapa tidak makan siang saja? Kalo makan itu, dijamin pas makan siang, aku masih kenyang."
"Ya sudah, aku minta pembantu untuk siapin makan siang lebih cepat, ya." Lana menyibak selimut dan turun dari ranjang.
Setengah jam kemudian, keduanya sudah di meja makan menikmati makan siang. Fian terlihat lahap makan sedang Lana perhatiannya tertuju pada suaminya yang begitu semangat makan.
"Nanti aku minta dibuatkan piza ya. Bilang sama orang dapur," sahut Fian yang sibuk mengunyah.
"Tapi masalahnya, tukang masak kita sedang cuti, Mas. Masa Mas lupa?"
Pria itu berhenti mengunyah dan menoleh pada istrinya. "Oya? Aku lupa ... Ah, tidak apa-apa. Aku lagi ingin piza, nanti biar aku pesan sendiri."
"Via online?" tanya Lana.
"Iya." Benar saja. Setelah makan siang, Fian memesan piza dengan ukuran lumayan besar dua kotak.
Lana pun takjub melihatnya. "Mas, makan semua, ini?"
"Ya sama kamu, lah ...."
"Aku gak bisa ngabisin sebanyak ini, Mas ...," jawab Lana dengan wajah polos.
Fian tertawa. "Siapa yang nyuruh kamu ngabisin? Orang maksudku makannya sama kamu, kok ...."
"Oh." Lana jadi malu sendiri. "Tapi aku masih kenyang, Mas."
"Ya, nanti saja. Aku juga mau latihan dulu."
"Mas gak capek latihan terus?"
"Kalo capek 'kan tinggal istirahat. Aku tidak punya kegiatan lain. Kakiku sekarang sudah mulai bisa diangkat walau sebentar."
"Jangan diforsir, Mas. Nanti malah sakit." Lana mengungkap kekhawatirannya.
"Enggak kok. Malah aku merasa makin sehat." Fian merentangkan tangannya dan memutar-mutar bahu ke depan dan ke belakang.
"Ya, udah." Lana meletakkan kotak piza di meja dekat sofa dan bergerak ke pintu.
"Kamu mau ke mana?"
"Mmh? Aku takut ganggu Mas latihan, jadi aku keluar saja."
"Eh, gak boleh!"
Lana berhenti dan menoleh. "Kenapa?"
"Kalau aku butuh apa-apa, bagaimana?"
"Eh ...." Lana tampak bingung.
"Kamu tidak bisa pergi. Kamu harus tungguin aku. Aku tidak mau ditunggui Hadi di sini." Protes pria itu.
"Oh, ya udah." Lana berbalik arah sambil garuk-garuk kepala. "Tapi aku di sofa aja ya."
"Terserah aja, asal kamu tidak pergi."
"Iya." Lana pun mendatangi sofa kembali. Kali ini ia naik dan tengkurap sambil mengangkat kepala dan membuka ponsel. Kakinya ditekuk ke atas sambil sesekali digerakkan santai. Sepertinya kegiatan Lana mulai ringan sejak kaki Fian mulai membaik. Kembali ia menunggui sampai tertidur di sofa.
***
Di suatu tempat di Amerika, tengah malam.
"Hei, berhenti!" sahut seorang pria dengan bahasa Inggris dalam pakaian sekuriti.
Seseorang berpakaian ninja berwarna hitam tengah berlari dikejar oleh beberapa orang termasuk sekuriti itu. Lorong itu punya banyak cabang hingga suatu ketika, sang ninja berbelok ke kanan dan terus berlari.
"Hei!"
"Kita harus berpencar! Jangan biarkan dia menuju ke arah jendela," ujar temannya.
"Ok," imbuh yang lain.
Ninja itu malah membuka sebuah pintu dan masuk ke dalamnya. Ia membuka penutup kepala dan menggeleng-gelengkan kepala hingga rambutnya yang hitam kecoklatan terurai jatuh dan menutup punggungnya. Kemudian ia melepas pakaian dan menggantinya dengan pakaian yang ada di dalam tas. Rok panjang katun krem dengan kemeja putih tangan panjang, ditutup dengan cardigan berwarna kuning. Ia menata rambut hitam bergelombangnya dengan digelung ke atas. Lalu ia meletakkan ganggang kacamata di sela kedua telinga. Dengan cepat ia memasukkan pakaian ninja itu ke dalam tas, meresletingnya lalu menyandang di bahu. Ia membuka pintu.
"Ah, nona Green. Apa nona melihat seseorang berpakaian ninja tadi lewat sini?" tanya seorang pria yang tampak kebingungan melihat sekeliling.
"Ninja?" Wanita itu terkejut dan ingin tertawa. "Apa kamu baru bangun tidur?"
"Tapi ini benar ada ninja, nona Green."
"Iya, tadi menerobos masuk ruang penyimpanan lukisan. Ada satu lukisan yang dicuri. Sekarang tinggal bingkainya saja," kata sekuriti yang datang kemudian.
"Waduh. Ini harus dilaporkan pimpinan." Wanita itu tampak panik, membetulkan letak kacamata lalu mengeluarkan ponselnya.
Sekuriti itu nampak ketakutan. "Eh, tapi aku rasa, orang itu masih ada di dalam gedung, nona. Biar kami cari dulu. Nona Green mau pulang 'kan? Kenapa nona selalu telat sampai malam begini sih, nona. Ini berbahaya, apalagi bagi perempuan yang pulang sendirian."
"Eh, ini aku juga buat kepentingan musium. Aku harus mengecek prasasti baru yang ditemukan arkeolog Yunani. Aku juga harus mengecek usia dan membersihkannya dengan hati-hati jadi tidak bisa buru-buru."
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp