Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Bantuan dari Kades
Pak kades datang ke rumah Pak Kamil sambil membawa beras tiga karung dan juga beberapa perlengkapan lain karena dia membantu keluarga ini agar bisa membuat tahlilan untuk Arman nanti malam, bukan hanya barang untuk yang dimasak saja tapi juga dia memberikan beberapa uang agar bisa membeli perlengkapan yang masih kurang.
Polisi sudah mengusut tentang kematian Arman ini dan sekarang kebun karet milik Pak kades menjadi TKP yang tidak boleh di masuki oleh orang lain karena sedang di selidiki oleh para polisi, bila memang benar ini kasus bunuh diri maka mereka akan segera menutup kasus tersebut agar tidak ada kecurigaan lain yang datang.
Karena Pak kades dengan lapang dada membiarkan mereka semua mengurus tentang kebun karet itu maka dia mendapat pujian dari para warga, belum lagi dengan kebaikan yang dia berikan kepada keluarga Pak Kamil dengan memberikan bantuan seperti itu sehingga sudah pasti para warga semakin kagum dengan kades baru desa ini.
Mereka semua memuji karena menganggap Pak kade sangat peduli kepada warga yang sedang kesulitan seperti Pak Kamil ini, sebab Pak Kamil bisa di katakan adalah orang yang tidak punya sehingga bantuan seperti ini jelas saja membuat dia merasa sangat di ringankan dengan berbagai macam cara dan pasti nanti malam akan membuat acara tahlil untuk kematian Arman.
"Ini tidak seberapa karena saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi." Pak kades bersalaman dengan Pak Kamil.
"Saya mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga karena Pak kades mau membantu saya seperti ini." Pak Kamil sangat bersyukur.
"Jangan sungkan bila memang butuh bantuan, silakan saja datang ke rumah saya bila ada yang kurang." ujar Pak kades.
"Terima kasih banyak, Pak." Bu Narti saja sampai menangis karena terharu dengan kebaikan Pak kades.
"Semoga rezeki Bapak di ganti dengan Allah lebih banyak, semoga Bapak selalu sehat." Pak Kamil mendoakan Pak kades dengan hati tulus.
"Ya Allah alhamdulillah ada yang mendoakan saya dengan sangat tulus." ujar Pak kades dengan senyum mengembang.
"Untung Pak kades sangat baik ya dia mau membantu Pak Kamil seperti itu, padahal bisa di bilang dia sangat di rugikan di sini." Wandi berbicara kepada warga lain.
"Iya, mana kebun karet dia jadi TKP dan pasti para pegawai tidak bisa untuk motong karet." sahut yang lain.
"Aku tidak menyesal karena sudah memilih Pak Parto menjadi kades kita." ujar Pak Agus dengan sangat bangga.
"Ternyata beliau memang orang baik dan kita pasti memiliki desa yang maju karena di pimpin oleh kades seperti itu." ucap Wandi sambil tersenyum.
Bisa di bilang saat ini semua warga terpesona dengan kebaikan Pak kades yang baru saja naik pangkat tersebut karena dia mau membantu para warga yang sedang kesulitan, tidak ada yang tahu bahwa Pakde Parto naik menjadi kades setelah melakukan ritual yang sangat mengerikan karena dia harus memakan daging tikus mentah.
Yang tahu tentang hal itu hanya Rahman saja karena yang di ajak oleh Pakde Parto hanya Rahman, bahkan Bu Arum saja tidak tahu bahwa sang suami telah melakukan ritual yang sangat mengerikan di Gunung Kawi karena dia tidak di ajak dan tidak di beritahu oleh Pakde Parto tentang ritual yang sedang dia laksanakan.
"Man, nanti sore antarkan beras yang masih ketinggalan itu ya." Pakde Parto berkata kepada Rahman.
Tapi Rahman hanya diam tertunduk karena dia sama sekali tidak bisa menerima kenyataan bahwa Arman sudah meninggal dunia dengan cara gantung diri, mana tadi malam dia juga mendapat penampakan yang tidak biasa sehingga hati pemuda ini sedikit terguncang dan tidak memiliki ketenangan.
"Man!" Pakde Parto memegang pundak sang keponakan.
"Arman!" Rahman tersentak dan langsung berdiri sambil menatap semua orang.
"Kenapa? kamu di ajak ngomong malah termenung saja seperti itu." Pakde Parto menatap Rahmat yang seperti sedang bingung dan ketakutan.
"Ada apa, Le?" tanya Pak RT karena melihat Rahman yang pucat.
Rahman menggeleng karena dia tidak ingin bercerita apa yang telah terjadi dan kemungkinan besar walau dia bercerita tapi tidak mungkin ada yang percaya, bisa saja mereka semua akan mengatakan bahwa Rahman menyebar berita hoax karena dia hanya melihat seorang diri di malam itu.
"Ak...aku pulang dulu kalau begitu." Rahman sangat gugup dan segera pergi dari rumah Pak Kamil.
"Kenapa dengan Rahman kok dia sangat pucat?" Pak Kamil heran melihat dia.
"Mungkin Rahman masih sangat sedih karena dia dan Arman kan berteman dekat." ujar Pak kades.
"Iya benar, mereka selama ini selalu main bareng sehingga sudah pasti Rahman agak terganggu pikirannya." Wandi juga setuju.
"Tangan dia tadi juga sangat dingin sekali." ucap pak RT.
"Nama nya teman, sudah pasti Rahman merasa sangat kehilangan." ujar Pak Kades kembali.
Namun dalam hati Pak Kades dia merasa tidak nyaman karena takut nanti Rahman akan mengambil tindakan yang tidak benar, dia tidak mungkin berkata seperti itu di depan semua orang karena dia harus menjaga image sebagai kepala desa yang baik dan tidak melakukan kekerasan kepada sang keponakan karena selama ini Pakde Parto juga tidak pernah main kasar terhadap Rahman yang tinggal bersama dia sejak dulu.
"Jadi ini mau masak apa biar Saya juga membantu." Bu Arum menatap Bu Narti yang sedang duduk.
"Yang simpel saja lah, kan undangan hanya beberapa orang di desa ini saja tidak perlu sampai keluar desa juga." jawab Bu Narti sambil mengusap air mata yang turun.
"Kamu sudah duduk saja dulu, biar kami yang turun tangan untuk mengurus semua keperluan nanti malam." Mbak Sri mengusap pundak Bu Narti.
"Aku lemas sekali rasa nya, Mbak." isak Bu Narti yang masih sangat berduka atas kematian Arman.
"Iya kami tau, yang penting kamu duduk diam di sini saja biar kami semua yang bekerja." Bu Laras juga datang untuk membantu.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur dan terus kepikiran anak ku yang ternyata sangat ingin mempunyai motor bagus." isak Bu Narti.
"Husss kamu tidak boleh ngomong seperti itu, yang namanya tidak mampu Ya sudah jadi bagaimana mau di paksa juga." Mbak Sri berkata serius.
"Tapi kalau saja dia ngomong maka aku pasti akan berusaha untuk membelikan dia motor, tapi Arman sama sekali tidak ada bicara soal itu." sesal Bu Narti.
Mbak Sri hanya bisa menghelai nafas panjang karena dia juga harus memberi komentar apa tentang kejadian ini, sekarang semua warga percaya bahwa Arman mati bunuh diri karena dia ingin mempunyai kendaraan bagus seperti teman yang lain.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.