NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SIKSAAN DI GUDANG

#

Siang itu panas menyengat. Matahari kayak lagi marah—terik banget, bikin aspal sekolah ngepul uap panas. Dyon duduk di bawah pohon rindang di belakang kelas, sendirian. Andra lagi ada les tambahan matematika, Leonardo dipanggil ke ruang osis—ada rapat penting katanya.

Jadi... Dyon sendirian lagi.

Dia buka buku yang dipinjemin Ismi—"Kumpulan Kisah Sahabat Nabi". Halaman yang lagi dibaca: kisah Bilal bin Rabah waktu disiksa majikannya. Ditindih batu besar, kulitnya melepuh kena pasir gurun yang panas, tapi dia tetep bilang "Ahad... Ahad...".

Dyon ngerasain dadanya sesak. Bukan karena baca kisahnya. Tapi karena... dia ngerasa lemah. Bilal kuat. Bilal sabar. Sementara dia? Kemarin nangis cuma gara-gara dikhianatin sahabat.

Lemah.

"Dyon."

Suara dari belakang. Suara yang... familiar.

Dyon nengok cepat. Jantungnya langsung dag-dig-dug.

Sulaiman.

Berdiri di sana sendirian. Nggak ada Arman. Nggak ada Edward. Cuma dia. Mukanya... beda. Nggak sombong kayak tadi pagi. Malah... sedih?

"Man?" Dyon berdiri pelan. Buku ditutup, dipegang erat. "Ada apa?"

Sulaiman melangkah maju. Pelan. Matanya nunduk—nggak berani natap Dyon langsung. "Gue... gue mau minta maaf."

Deg.

Dyon nggak percaya telinganya. "Apa?"

"Gue... gue salah, Yon," suara Sulaiman gemetar. "Tadi pagi gue... gue keterlaluan. Gue nggak harusnya gitu. Lo... lo sahabat gue. Sahabat terbaik gue."

Air mata Sulaiman jatuh. Dia ngelap cepat pakai punggung tangan.

Dyon terdiam. Dadanya campur aduk—seneng, lega, tapi masih... sakit. Masih inget ludahan di sepatunya. Masih inget ketawa Sulaiman bareng Arman.

"Gue... gue diancam sama Arman," lanjut Sulaiman. "Bapak gue baru jadi partner bisnis bapaknya. Kalau gue nggak ikut mereka, deal bisnisnya bisa batal. Keluarga gue bisa jatuh lagi, Yon. Gue takut... gue takut balik jadi miskin lagi."

Dyon ngerti. Ngerti takutnya jadi miskin. Ngerti gimana rasanya nggak punya apa-apa.

Tapi... apa itu pembenaran?

"Man..." Dyon napas panjang. "Lo... lo nggak harus gitu. Lo bisa—"

"Gue tau, gue tau," Sulaiman potong. Dia ngedeketin Dyon, pegang bahunya. "Tapi gue udah sadar sekarang. Gue nggak mau kehilangan lo. Lo... lo satu-satunya yang ngerti gimana rasanya hidup susah. Lo sahabat gue."

Mata Sulaiman menatap Dyon—penuh penyesalan. Tulus. Kayak Sulaiman yang dulu. Sahabat masa kecil yang jujur, yang baik.

Dyon... percaya.

Bodoh. Tapi dia percaya.

"Oke," kata Dyon pelan. "Gue... gue maafin lo."

Sulaiman senyum lebar. Peluk Dyon—erat. "Makasih, Yon. Makasih banget. Lo... lo memang sahabat terbaik."

Dyon balas peluk. Dadanya lega. Mungkin... mungkin Sulaiman emang berubah pikiran. Mungkin dia masih punya hati nurani.

"Eh, Yon," kata Sulaiman sambil lepas pelukan. "Tadi gue liat ada komik bagus di perpustakaan. Lo suka komik kan? Yuk kita ke sana sebentar sebelum pulang."

Dyon ragu sebentar. "Emang... emang ada komik?"

"Ada lah! Baru masuk kemarin. Komik islami gitu, tentang kisah para nabi. Lo pasti suka!" Sulaiman nyengir—senyum yang kayak dulu. Hangat.

Dyon angguk. "Oke deh."

Mereka jalan bareng. Keluar dari bawah pohon, lewat koridor belakang yang sepi—jarang ada orang lewat sini, cuma ada kelas kosong sama... gudang tua.

Gudang penyimpanan alat olahraga yang udah nggak kepake. Pintunya kayu lapuk, cat biru udah ngelupas, ada tulisan "DILARANG MASUK" yang udah pudar.

Sulaiman berhenti di depan pintu gudang.

Dyon ikutan berhenti. "Man... ini... ini bukan jalan ke perpustakaan."

Sulaiman nggak jawab. Dia cuma senyum—tapi senyumnya berubah. Bukan senyum hangat lagi.

Tapi senyum... jahat.

"Man?" Dyon mundur satu langkah. "Lo—"

Pintu gudang kebuka. Tiba-tiba.

Arman keluar. Diikuti Edward. Senyum lebar di muka mereka berdua.

"Surprise," kata Edward sambil nyengir.

Dyon langsung mau lari—tapi terlambat. Sulaiman nangkep lengannya dari belakang, puter, kunci. Dyon teriak kesakitan.

"LEPAS! MAN, LEPAS!"

"Masukin," perintah Arman.

Sulaiman nyeret Dyon masuk ke gudang. Dyon ngelawan—nendang, berontak—tapi Sulaiman lebih kuat. Dia didorong keras sampe jatuh ke lantai gudang yang kotor, penuh debu sama sarang laba-laba.

Pintu ditutup.

Dikunci dari luar—bunyi gembok berbunyi nyaring.

Gelap. Cuma ada cahaya tipis dari celah-celah dinding kayu yang retak.

Dyon bangun cepat. Nafasnya ngos-ngosan. Matanya beradaptasi sama gelap—mulai keliatan siluet. Arman. Edward. Sulaiman. Mereka bertiga berdiri ngelilingin dia.

"Kenapa... kenapa lo lakuin ini?!" Dyon teriak ke Sulaiman. Suaranya gemetar—campuran marah, sedih, kecewa. "Lo bilang mau minta maaf! Lo bilang—"

Tamparan keras ke pipi kanan. Kepala Dyon miring, telinga berdenging.

Sulaiman yang nampar.

"Gue bohong, tolol," kata Sulaiman dingin. "Lo pikir gue beneran nyesel? Lo pikir gue peduli sama lo?"

Dyon ngelus pipinya yang panas. Matanya berkaca-kaca. "Tapi... tapi kita sahabat—"

"SAHABAT APAAN?!" Sulaiman teriak. Mukanya merah, urat di leher menonjol. "Gue udah bilang kan? Gue udah naik kelas! Gue nggak butuh sahabat sampah kayak lo!"

Tendangan keras ke perut. Dyon terlipat, jatuh ke lantai, pegang perut yang nyeri kayak ditusuk pisau.

Edward ketawa. "Wah, bagus Man! Lo belajar cepet!"

Arman nyamperin, injak punggung Dyon—tekan keras. "Gue emang hobi nyiksa anak ini. Selain miskin, mukanya nyebelin."

Dyon coba bangkit—tapi Edward nendang rusuknya. Bunyi kriyet pelan—tulang retak. Nyeri luar biasa menjalar ke seluruh dada.

"AAKH!" Dyon teriak. Air mata ngalir.

"Jangan teriak-teriak, Sampah," Edward berjongkok, pegang rambut Dyon, tarik ke atas—bikin kepala Dyon ngadep ke atas. "Lo teriak juga nggak ada yang denger. Gudang ini kedap suara. Kita udah sering pakek buat... kegiatan."

Arman nyengir. "Inget Rizky? Anak kelas sepuluh yang kabur dari sekolah bulan lalu? Dia juga kita siksa di sini. Sampe dia nggak tahan, nggak balik lagi ke sekolah."

Sulaiman ikutan ketawa. "Gue suka banget liat orang menderita. Apalagi... orang yang dulu gue anggap temen."

Dyon nggak percaya. Ini... ini bukan Sulaiman yang dia kenal. Bukan sahabatnya.

Atau... mungkin emang dia nggak pernah kenal Sulaiman yang sebenarnya.

Tendangan bertubi-tubi. Dari Arman. Dari Edward. Dari Sulaiman.

Ke perut. Ke rusuk. Ke punggung. Ke kepala.

Dyon cuma bisa ngelindungin kepala pakai tangan—tapi nggak cukup. Tendangan tetep masuk. Nyeri. Sakit. Darah keluar dari hidung, dari bibir yang pecah.

"STOP! KUMOHON!" Dyon berteriak. "GUE NGGAK SALAH APA-APA!"

"Lo salah lahir miskin!" Sulaiman nendang keras perut Dyon—berkali-kali. Mukanya penuh kebencian. "Lo salah jadi beban dunia! Lo harusnya mati aja bareng orang tua lo!"

Kata-kata itu... lebih sakit dari tendangan.

Dyon ngerasa tulang rusuknya patah—nyeri nyut-nyutan tiap kali napas. Matanya kabur. Kepala pusing. Darah ngalir dari pelipis—kena injakan sepatu Arman.

"Udah... udah cukup," kata Edward sambil ngos-ngosan. "Gue capek."

Arman ngangguk. "Iya, gue juga. Lagian dia udah setengah mati."

Sulaiman ludah—kena muka Dyon. "Sampah tetep sampah. Selamanya."

Mereka bertiga jalan ke pintu. Buka gembok. Keluar. Pintu ditutup lagi.

Dikunci.

Suara gembok berbunyi—final. Kayak suara peti mati ditutup.

Dyon tergeletak di lantai. Darah nggenang di bawah kepalanya—merah gelap, kental. Napasnya sesak—rusuk patah bikin sakit tiap kali napas.

Gelap. Sepi. Dingin.

Dia coba gerak—tangan gemetar, tapi nggak kuat angkat badan. Kakinya mati rasa.

Matanya merem. Terbuka. Merem lagi.

*Ya Allah... tolong aku.*

Nggak ada jawaban.

Cuma suara napasnya sendiri yang pelan—kayak nyawa yang mulai pergi.

*Aku pikir neraka itu di akhirat.*

Cahaya dari celah dinding makin redup. Matahari mulai tenggelam.

*Ternyata aku sudah tinggal di dalamnya.*

Gelap.

Semuanya gelap.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Dan di kegelapan itu, aku nggak tau—apakah besok masih ada untukku, atau ini akhir dari segalanya.*

1
sitanggang
ternyata lemah 👎👎👎👎
checangel_
Tak semudah itu Edward, ingat! orang baik pasti menang 🤝
checangel_
Hebat Dyon /Applaud/
checangel_
Wah, perumahan bersubsidi 🤧/Good/
checangel_
Sekarang sekolahan berbasis ramah anak semua/Good/
checangel_: No comment lah /Silent/, cukup sekian dan terima tahu /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Gimana rasanya makan bebarengan begitu? nikmatnya tiada banding, sekelas resto mewah /Good/
checangel_
Yap, zaman sekarang yang di cari memang keterampilan, tapi tahulah ....🤧
checangel_
Yap, kejujuran adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan uang 🤝
checangel_
Jarang ada loh, orang yang setulus Pak Hendra ini 🤧
Dri Andri: hanya sekedar motivasi dan inspirasi aja kak.. yang asli real yang itu
total 7 replies
checangel_
Efek membela kebenaran, diri sendiri pun terbuangkan /Sob/
checangel_
Apakah dunianya sebohong itu?🤧
checangel_
Baik banget sih Leornad 🤧, teman bukan sekadar teman biasa, tetapi kamu juga pengacara luar biasa 🤝
checangel_: 💯/Good/
total 3 replies
checangel_
Tunjukan pesonamu Dyon, jangan biarkan koruptor menggema dalam pondasimu 🤝
checangel_
Dunia kerja memang seperti itu, ada aja yang dengki
checangel_
Ketika pondasi yang terlihat kuat, tapi bisa rapuh karena sebuah ancaman 🤧
checangel_
Dyon, kamu dermawan sekali 🤧
checangel_: آمين
total 6 replies
checangel_
Roda yang selalu berputar 🤧
checangel_: 🤭/Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Pertahankan janji itu ya Sulaiman, ingat! janganlah selalu menatap langit, jika posisimu sudah berada di tingkat yang layak, karena di balik pertahananmu ada teman yang selalu mendukungmu🤝/Smile/
Dri Andri: ya begitulah.. maklum manusia yang tak lukut dari kesalahan
total 10 replies
checangel_
Iya benar tuh, orang yang jujur itu susah dicari di zaman sekarang🤧
Dri Andri: benar... yang bicara jujur pasti ada maksud tertentu dan mungkin nantinya gak ada bukti nya


TONG KOSONG NYARING BUNYI NYA
total 1 replies
checangel_
200 JT itu, uangkan? Ke-kenapa harus sebanyak itu?🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!