Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Ingin Punya Anak
"Posisikan dirimu di atasku. Aku ingin mencicipi setiap tetes madumu sementara kau menyantap milikku hingga kau tersedak. Kita lakukan gaya sixty-nine, dan tunjukkan padaku seberapa lihai lidahmu itu bekerja."
Mateo merebahkan diri, membiarkan Bianca merangkak di atas tubuhnya dalam posisi terbalik, mendekatkan pusat kenikmatan mereka ke wajah satu sama lain. Bau gairah yang pekat memenuhi indra penciuman mereka, siap untuk memulai pertukaran kenikmatan yang lebih binal.
Melihat Bianca mencapai puncak, pertahanan Mateo runtuh. Ia memberikan beberapa hentakan terakhir yang paling brutal sebelum akhirnya mengerang rendah. Dengan satu dorongan maksimal, Mateo menumpahkan seluruh benih panasnya jauh ke dalam rahim Bianca, mengosongkan seluruh hasratnya di sana.
Mereka berdua ambruk di atas ranjang, napas mereka saling bersahutan di tengah keheningan kamar yang kini hanya menyisakan aroma gairah yang pekat.
Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar suite itu, hanya menyisakan suara napas mereka yang mulai teratur. Mateo menarik selimut satin putih hingga menutupi tubuh polos mereka yang masih terasa panas. Ia memeluk Bianca dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu sambil menghirup aroma lehernya yang memabukkan.
"Kau luar biasa, Bianca. Aku sudah banyak bertemu wanita, tapi tidak ada yang punya energi sedalam dan selapar dirimu," bisik Mateo sambil jemarinya mengelus lembut perut rata Bianca di balik selimut.
Bianca menyandarkan kepalanya ke dada bidang Mateo, menikmati detak jantung pria itu yang masih sedikit cepat. Ia merasa energinya baru saja terisi penuh—setiap sel di tubuhnya terasa hidup dan segar. Kutukan Lora memang bekerja dengan cara yang sangat nikmat.
"Kau juga tidak buruk untuk seorang pebisnis yang sibuk, Mateo. Kau punya... daya tahan yang mengesankan," goda Bianca sambil memutar tubuhnya agar bisa menatap mata gelap pria Spanyol itu.
Mateo tersenyum miring, lalu meraih tangan Bianca dan mencium buku-buku jarinya. "Ini M-bankingku, isi dengan nominal yang kau inginkan."
"Kau serius, aku bebas mengetikkan berapa angka nol dibelakangnya?." Diterimanya ponsel mewah keluaran baru milik Mateo.
Kecupan mendarat di bahu mulus Bianca, "berapa pun."
Bianca tersenyum tipis. Ia tahu rekeningnya akan segera bertambah, dan koleksi perhiasannya akan semakin berat. Namun di balik senyum itu, Bianca melirik ke arah tas tangannya yang tergeletak di meja rias, di mana cermin bedak Lora tersimpan. Ia tahu, Lora sedang menonton, menikmati setiap detik dari dosa yang baru saja ia lakukan.
Bianca kembali ke apartemennya saat langit Paris mulai berubah menjadi biru pucat menjelang subuh. Di dalam kemewahan yang sunyi itu, ia melangkah ke kamar mandi dan menanggalkan seluruh pakaiannya. ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang mulai berembun.
Sisa-sisa beberapa bercak kemerahan bekas cupanangan kasar tampak kontras di kulit putih susunya yang bersih. Jemarinya menyentuh tanda itu, lalu perlahan beralih ke perutnya yang rata.
"Lora... aku kesepian. Jika aku memang tidak bisa menikah, bisakah aku setidaknya memiliki anak dari rahimku?"
Bianca menunduk dan menjadi sendu. "Dulu, saat Hernan memungutku, aku hanya ingin memiliki keluarga normal. Namun, apa daya... statusku stuck sebagai simpanan yang siap dibuang saat dia bosan." dan mengingat dia bunuh diri karena karena patah hati.
Embun yang menempel di kaca perlahan membentuk wajah samar Lora yang tampak cantik.
"Anak? Keluarga normal? Sayangku.. aku baru saja melepaskan rantaimu."
"Rahimmu adalah tempat untuk panen energi, bukan untuk menghadirkan kehidupan yang akan menyedot kecantikanmu. Seorang bayi akan menghancurkan perut kencangmu, merusak payudaramu, dan mencuri perhatian pria-pria di luar sana dari wajahmu. Kau ingin ditemani? Belilah kesetiaan dengan uang Mateo. Tapi jangan pernah bermimpi punya anak."
Wajah Lora di cermin mendekat,
"Ingat perjanjian kita: Kau hidup untuk dipuja, sekali kau hamil, kecantikanmu membusuk dalam hitungan hari, dan aku akan membiarkanmu menua. Pilihlah, Bianca... seorang bayi yang merusak tubuhmu, atau keabadian yang mematikan ini?"
"Tapi aku tidak memintamu untuk ini semua, Lora! Kenapa tidak biarkan aku mati saja saat itu?!" jerit Bianca histeris.
Wajah Lora di dalam cermin tidak lagi tampak cantik
"Kau tidak meminta? Munafik kau, Bianca Wolfe!" bentak Lora, membuat Bianca tersentak mundur.
"Saat tubuhmu melayang jatuh dari gedung, di detik terakhir sebelum tulangmu hancur ke aspal, jiwamu berteriak meminta pertolongan! Kau takut kegelapan! Kau takut mati karena hina sebagai simpanan! Aku hanya menjawab panggilan keputusasaanmu!"
Bayangan Lora di cermin perlahan mengulurkan tangan, seolah-olah tangan transparan itu keluar dari kaca dan mencengkeram dagu Bianca secara gaib, memaksa wanita itu menatap pantulannya sendiri.
"Sekarang lihat dirimu... kau cantik, kau kaya, kau diinginkan oleh pria-pria yang dulu bahkan tidak sudi melirikmu ketika kau jadi gadis penjual souvenir di toko Des Buttes-Chaumont, Kau ingin mati? Silakan. Aku bisa mengembalikanmu ke trotoar Paris saat ini juga dalam keadaan hancur tak berbentuk. Tapi kita berdua tahu, kau adalah wanita yang rakus, Bianca. Kau mencintai kekuasaan ini lebih dari kau mencintai nyawamu sendiri."
"Jangan menguji kesabaranku dengan rengekan!!"
Bianca mencoba mencari celah negosiasi.
"Oke, begini... bagaimana jika surrogacy? Ibu pengganti? Aku tidak perlu hamil. Aku hanya ingin darah dagingku. Kau tetap bisa memanen energiku, dan aku bisa memiliki ahli waris."
Ruangan itu mendadak sunyi. Permukaan cermin yang tadinya gelap perlahan kembali jernih, menampilkan wajah Lora yang kini tersenyum sinis.
"Kau sangat cerdik untuk ukuran manusia yang sedang putus asa, Bianca,"
"Kau pikir bisa mencurangi takdir dengan teknologi manusia? Baiklah, Kau boleh memiliki anak melalui rahim wanita lain. Tapi ingat, setiap kehidupan butuh tumbal. Jika anak itu lahir, kecantikanmu memang tidak akan pudar, tapi hatimu membatu sepenuhnya. Kau tidak akan mencinta sedikit pun pada anak itu. Dia hanyalah pajangan, atau bahkan... cadangan nyawa jika suatu saat kau membutuhkannya."
Lora mendekatkan wajahnya ke permukaan kaca.
"Dan ada satu syarat mutlak: Pria yang menjadi ayah dari anak itu haruslah pria yang kau hancurkan hidupnya sampai ke dasar neraka. Benih itu harus berasal dari penderitaan, bukan cinta. Jika kau setuju, carilah wanita yang cukup malang untuk mengandung kutukanku, dan temukan pria yang siap kau jadikan tumbal."
Bianca terdiam, punya anak, tapi tanpa rasa cinta?
"Bagaimana, Bianca? Apa kau masih berminat menjadi seorang 'ibu', atau kau hanya ingin memiliki boneka bernyawa di istanamu?"
"Kau gila!!! Bagaimana bisa aku punya anak tapi hatiku membatu? Malang sekali anakku. Buat apa dia lahir jika kau membuatku asing padanya!" teriak Bianca, ekspresinya muak.
Wajah Lora di dalam cermin justru tertawa mengejek Bianca.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?