"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28. ingin bertemu tante baik.
Transaksi jual beli tanah antara bapaknya Amelia pak Kasim dan Pak Lurah berjalan dengan lancar.
Tanah tersebut sudah resmi dijual dan dicatat di notaris. Keduanya Sudah menandatangani surat bukti jual beli.
Tak kasih pun langsung balik nama dari nama pak lurah ke nama Amelia lestari putrinya.
"Alhamdulillahirobbilalamin Akhirnya bisa ke beli tanah di pinggiran ibukota." Ucap Amelia.
"Sertifikat balik nama satu minggu paling cepat jadinya. Lambat-lambatnya dua minggu, Bapak dan Ibu tidak akan pulang kampung jika belum jadi sertifikatnya. Rencanamu gimana dengan tanah 200 meter itu ndok?"tanya Kasim pada putrinya.
"Aku ingin membangun rumah minimalis yang memiliki taman bunga. Kalau bapak dan ibu setuju. Aku ingin tetap berkumpul tinggal dijawab barat. Rumah di kampung biarkan kosong, minta tolong tetangga aku untuk membersihkannya dan kita bayar bulanan. Aku sudah betah tinggal di pinggiran ibukota."Kasim dan Aisyah Salim tatap. Mereka belum menjawab permintaan putrinya. Untuk transmigrasi dari desa ke kota perlu dipikirkan dengan matang.
Terutama kasih yang menjadi kepala rumah tangga. Ia bingung mau kerja apa jika tinggal di pinggiran ibukota. Semuanya pasti akan dimulai dari nol.
Kasim tidak mungkin mengandalkan penghasilan putrinya, dari menulis skenario, menulis cerita bersambung. Beserta gaji sebagai pegawai kantor.
Amelia banyak kebutuhan yang harus ia penuhi.ia membiayai kuliahnya sendiri. Kasim sangat bersyukur memiliki anak yang tidak merepotkan, Amelia membiayai hidupnya sendiri Kasim sangat bersyukur.
"Kalau memang rencanamu ingin membangun rumah minimalis. Bapak akan mendatangkan tukang dari Jawa, karena tukang dari Jawa itu bisa dipercaya dan diandalkan. Tetapi tidak sekarang, tunggu selesai panen terlebih dahulu. Setelah panen padi dan cabe, kebun dan sawah akan Bapak kontrakan dengan tetangga kita untuk mereka garap. Karena membangun rumah butuh waktu yang sangat panjang."Amelia menyerahkan semua urusan pembangunan rumah pada bapaknya.
"Kamu punya uang berapa untuk pembangunan rumah?" Tanya Kasim.
Amelia membuka aplikasi mobile banking yang ada di ponselnya. Lalu memperlihatkan pada bapak dan ibunya peserta Bude Gendis.
Kasim terbelalak melihat nominal yang ada di mobile banking Bank BUMN tersebut.
"Masya Allah tabarakallah. Banyak sekali uang nak, semua uang itu hasil menulismu?"tanya Kasim penuh selidik.
Ia yang tidak mengerti dengan dunia menulis cerita. Tidak percaya rasanya jika hanya menulis menghasilkan uang sebanyak itu.
Tetapi itu fakta yang ia lihat di depan matanya sendiri.
"Iya pak! Hasil dari menulis skenario untuk layar lebar, dan cerita bersambung ku yang aku unggah di sebuah aplikasi.dan aku cerita bersambung."kasih tahu putrinya tidak mungkin berbohong. Dia sangat hafal dengan watak dan kriteria anaknya.
"Kalau hanya menulis bisa menghasilkan ratusan juta? Kamu tidak perlu capek-capek bekerja kantoran. Cukup menulis, kuliah saja. Bapak kasihan melihatmu banting tulang untuk mewujudkan semua mimpimu." Kasim merasa bersalah terhadap Putri sulungnya. Yang memikul beban ekonomi keluarga.
Bukan tugas Amelia mencari nafkah untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga. Melainkan tugas Kasim sebagai orang tua, tapi apalah daya Kasim hanya orang desa yang miskin yang pendidikan pun sangat minim. Keahliannya hanya bertani dan menukang.
"Tidak baik jika menolak rezeki Pak. Diluar sana banyak sekali pengangguran. Saya adalah salah satu diantara mereka yang memiliki keberuntungan mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu. Amelia sangat mensyukuri pekerjaan yang Amelia dapatnya, selagi dikasih kesehatan Amelia tidak akan pernah berhenti bekerja."Kasim dan Aisyah tidak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Putrinya.
"Bapak diem jangan banyak berkomentar. Bapak melarang Amelia tidak usah bekerja kantoran. Bapak harus bisa mencukupi semua kebutuhan Amelia. Menulis itu ada hobinya, menulis itu ibarat jualan, rezekinya hari ini dan besok itu berbeda. Gaji penulis gitu tergantung berapa banyak yang membaca ceritanya. Berbeda dengan pekerja kantoran, gajinya flat tiap bulannya. Yang hanya membedakan jika ada lembur."jawab Aisyah dengan lugas. Suaminya diam, Kasim seperti tertampar dengan ucapan istrinya..
Senja mulai tenggelam malam pun menyapa. Di sebuah rumah mewah yang terletak di kawasan elit.
Seorang anak perempuan yang berusia kurang lebih 8 tahun sedang menangis. Gadis kecil itu meminta kepada pengasuhnya untuk menemukannya dengan seseorang. Yang ia panggil tante baik.
"Mbak Astina! Adek ingin bertemu dengan tante baik. Adek kangen dengan tante baik." Rengek Laiba. Asti menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak biasanya anak majikannya itu meminta yang aneh-aneh.
Menurut Asti permintaan Laiba sangat aneh. Tiba-tiba ingin bertemu dengan Amelia.
"Tante baik itu siapa Asti?" Tanya Seruni.
Ia yang tidak tahu insiden yang menimpa Laiba. Merasa aneh dengan sebutan tante baik.
" Teman aku namanya Amelia. Saat itu Amelia sedang naik ojek mau interview di kantor Tuan Reza. Di lampu merah pertigaan pusat kota, Amelia melihat Laiba sedang ditarik-tarik oleh nyonya Linda. Saat itu temanku itu tidak tahu jika Laiba adalah anaknya Tuan Reza."Asti menceritakan kronologis pertemuan antara lain dan Amelia.
"Oh seperti itu? Kenapa kamu tidak cerita jika cucuku disakiti oleh orang lain. Apalagi orang itu calon ibu tirinya? Apa Reza tahu insiden ini?" Asti mengangguk.
" Tahu Nyonya. Semenjak insiden itu Nyonya Linda tidak menampakan diri. Bahkan ia seperti hilang ditelan alam. Tuan Reza ingin menuntut Nyonya Linda. Nyonya Linda hilang entah ke mana." Seruni mengepalkan tangannya.ia bener-bener kecolongan.
"Ini gara-gara Papanya Reza yang terlalu lama tinggal di Belanda. Sehingga hal buruk meimpa cucuku." Ucapnya penuh dengan penyesalan.
"Besok pagi kita temui tante baik. Sekarang anak sholehah anak cantik, anak baik tidur." Mata bening itu menatap Omanya. Ia seperti mencari kejujuran di mata wanita yang ia panggil Oma.
"Oma janji? Besok bertemu dengan tante baik."gadis kecil itu menautkan kelingkingnya dengan kelingking sang Oma.
" Diel..! Besok pagi kita ke kantor papa untuk bertemu dengan tante baik."perjanjian telah dibuat antara cucu dan Oma.
Gadis kecil itu minta digendong oleh Astina menuju kamarnya.
Laiba ditinggal intan saat usia 3 tahun. Gadis kecil itu sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang tulus.
Ia hanya mendapatkan kasih sayang dari kedua Omanya. Tapi keduanya tidak selalu ada untuk laiba. Karena urusan bisnis mereka sering meninggalkan gadis kecil itu sendiri bersama sang pengasuhnya.
Intan hubungannya tidak baik dengan keluarga Reza.
Orang tua intan terutama mamahnya sangat menyayangi gadis kecil itu. hubungannya dengan Seruni sangat baik. Walaupun suami mereka sering berseteru..
"Apa besok aku ngajak Winda ke kantor Reza untuk bertemu dengan tante baik itu. Kira-kira diizinin tidak ya sama Reza, jika aku mengajak mantan mertuanya?" Gumam Seruni dalam hatinya.
"Ah.. sudahlah aku yakin sekali Reza pasti marah. Melihatku membawa mertuamu datang ke kantor." Seruni masuk ke dalam kamar cucu kesayangan.
"Laiba gadis yang manis cucuku. Kamu harus jadi gadis yang kuat, menghadapi semua kemungkinan tak terjadi di dunia ini. Oma janji akan mendampingi Laiba hingga Laiba dewasa.
Sambil mengelus dan mencium pucuk kepala gadisnya kecil yang sangat cantik yang sedang tertidur pulas.
Setelah memastikan cucunya tertidur dengan pulas. Seruni meninggalkan kamar nuansa pink itu.
**
Di kamar sederhana Amelia sedang fokus mengetik cerita. Segelas kopi cappucino menemani Amelia menulis cerita.
" Alhamdulillahirobbilalamin lumayan dapat 4 bab dalam 2 jam. Saatnya istirahat."ia melihat jam di dinding.telah menunjukkan angka 23: 00.
Setelah membuat BAB terjadwal. Amelia memeriksa komentar para pembaca. Satu komentar yang menyita perhatiannya.
" Kalau aku pro-nya ke pelakor. Salah sendiri tidak bisa merawat diri."komentar akun yang bernama Mila cute.
Amelia pengertian pemilik akun Mila cute adalah Kamila istri barunya Rudi.
"Ternyata istri barunya Mas Rudi hobi membaca, dan ia salah satu pengikut setia semua novelku.. tidak menyangka aku Wanita jadi-jadian itu menyukai dunia literasi."Lia terus menscrool komentar Mila cute yang tidak lain adalah Kamila.
Komentar Kamila yang pro dengan pelakor dihujat oleh para pembaca. Komen mereka sangat pedas di kolom komentar Kamila.
"Kira-kira Mas Rudi dan Kamila sudah melakukan malam pertama apa belum? "Tiba-tiba Amelia ingat dengan Rudi dan Mila, setelah ia membaca komentar Kamila.
'kira-kira komentar Mas Rudi apa ini, Jika ia mengetahui wanita yang ia banggakan itu adalah wanita jadi-jadian." Lia tidak bisa memejamkan matanya membayangkan Rudi dan Kamila melakukan penyatuan. Walaupun ini belum pernah melakukan hubungan suami istri. Secara naluri Lia sedikit tahu.
"Astaghfirullahaladzim! Kenapa pikiranku ke mana-mana, kira-kira aku dosa apa tidak ya? merahasiakan rahasia besar ini. Dan aku membiarkan pernikahan sejenis itu terjadi."tiba-tiba Amelia gelisah hatinya memikirkan Rudi dan Kamila. Perasaan bersalah mulai menggelati hatinya, hatinya tidak tenang memikirkan hal itu.