NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9: Lintasan Senja Dan Sekat Terlarang

SMK Pamasta hari ini terasa asing. Kemenangan besar Akuntansi kemarin seolah tertutup oleh kabut tipis yang menyelimuti sekolah sejak pagi. Meski sinar matahari Surabaya menyengat, lorong-lorong kelas terasa lembap dan dingin. Residu dari kejadian Riko di belakang lab ternyata tidak menghilang; ia pecah menjadi potongan-potongan bayangan yang kini bersembunyi di sudut plafon, menunggu celah untuk kembali masuk.

Pada siang hari, mereka berlima berkumpul di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Vema duduk di paling pojok, wajahnya tertutup rambut pendeknya. Ia diam seribu bahasa. Sejak mereka bertemu pagi tadi, Vema tidak mengucapkan satu kata pun soal kejadian kemarin. Ia seolah mengunci rapat mulutnya, menolak membahas soal botol merah, jarum jahit, atau mengapa Riko bisa berubah menjadi monster.

"Vem, kamu beneran nggak mau cerita soal kemarin?" tanya Bagas dengan suara berbisik. "Riko belum masuk sekolah hari ini, dan anak-anak TKJ bilang di mejanya ada bekas embun yang bentuknya kayak cengkeraman tangan."

Vema tidak bergeming. Ia hanya menatap jemarinya yang terus memilin ujung seragamnya. Diamnya Vema membuat suasana semakin berat.

"Aku juga ngalamin hal aneh pagi tadi," sela Netta, suaranya bergetar. "Pas aku di toilet sendiri, aku denger suara napas berat tepat di belakang leherku. Pas aku nengok, nggak ada siapa-siapa. Cuma ada bayangan tipis yang tembus lewat pintu kayu, kayak asap hitam tapi dingin banget."

Nadin mengangguk lesu. "Tembus pandang, kan? Di lab juga gitu. Aku liat bayangan melintas di layar komputer yang mati, tapi pas dicek ke belakang, nggak ada apa-apa."

Sarendra memperhatikan Vema. Ia tahu gadis itu tahu sesuatu, tapi Vema memilih untuk memendamnya sendiri. Diamnya Vema bukan karena tidak tahu, tapi mungkin karena terlalu takut untuk memberi nama pada kegelapan itu.

Tiba-tiba, lampu di sudut perpustakaan berkedip padam. Suhu ruangan merosot drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap tipis. Di dinding putih di samping mereka, sebuah bayangan hitam pekat mulai memadat. Bayangan itu tidak memiliki tubuh fisik; ia hanya berupa siluet tangan-tangan panjang yang merayap menembus rak-rak buku, tanpa menggeser satu buku pun.

Bagas mencoba menghalau bayangan itu dengan tasnya, namun tas itu tembus begitu saja seolah hanya menebas udara. "Sial! Nggak bisa disentuh!"

Bayangan itu semakin mendekat, merayap di atas meja menuju ke arah Vema. Vema hanya memejamkan mata erat-erat, tubuhnya gemetar hebat, namun ia tetap memilih diam.

"Semuanya, jangan panik!" seru Rendra. Ia teringat kebiasaan neneknya saat menghadapi gangguan yang tak kasat mata. "Duduk melingkar! Jangan lepaskan tangan kalian!"

Rendra mulai merapalkan doa-doa perlindungan yang ia hafal. Suaranya yang tenang mulai mengisi keheningan yang mencekam itu. Melihat Rendra, Netta dan Bagas segera mengikuti, menyambung dengan doa-doa yang mereka tahu. Nadin, yang selama ini hidup dengan logika teknik, akhirnya ikut memejamkan mata dan berdoa dengan sangat khusyuk.

Suasana perpustakaan yang tadinya penuh teror kini dipenuhi dengan lantunan doa yang bersahut-sahutan. Setiap kali satu ayat selesai dibacakan, bayangan hitam yang mencoba menembus lingkaran mereka tampak menyusut dan mengerut kesakitan. Bayangan itu tidak bisa dihancurkan secara fisik, tapi mereka tampak "terbakar" oleh kesucian doa-doa tersebut.

Perlahan, bayangan itu menipis, memudar menjadi asap transparan, sebelum akhirnya lenyap menembus tembok perpustakaan seolah tidak pernah ada di sana.

Cahaya lampu kembali menyala terang. Bagas terduduk lemas di lantai. "Beneran cuma bisa diusir pake doa... Mereka tembus semua benda, gila."

Netta mengusap air matanya yang nyaris jatuh. "Vem... kamu nggak apa-apa?"

Vema mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah, namun ia tetap tidak membuka suara soal kejadian Riko. Ia hanya menatap mereka berempat dengan tatapan penuh rasa bersalah yang dalam, lalu mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih.

Rendra memegang bahu Vema dengan mantap.

"Nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita, Vem. Tapi kita udah buktiin tadi, selama kita bareng-bareng dan nggak putus doa, bayangan itu nggak akan bisa masuk."

Nadin menarik napas panjang, mencoba menata detak jantungnya. "Ternyata berteman sama kalian itu butuh mental baja ya. Tapi anehnya, aku merasa lebih aman di sini daripada di gedungku sendiri."

Di tengah keheningan perpustakaan itu, kelima sahabat ini menyadari bahwa diamnya Vema adalah beban yang sangat berat. Meski bayangan itu sudah hilang, mereka tahu bahwa selama misteri tas hitam itu belum terpecahkan, gangguan-gangguan "tembus pandang" ini akan terus mengintai di setiap sudut SMK Pamasta.

...****************...

Langit Surabaya sore itu berwarna jingga pekat, seolah-olah tumpahan tinta emas sedang menyapu cakrawala di atas gedung-gedung SMK Pamasta. Angin berembus membawa aroma tanah kering dan sisa-sisa oli dari bengkel otomotif di kejauhan. Di sebuah sudut tersembunyi, di antara Gedung Akuntansi dan Gedung TKJ, terdapat sebuah Taman Mini—area kecil dengan beberapa kursi semen yang sudah berlumut, dikelilingi oleh pohon kamboja yang bunganya mulai berguguran.

Di sinilah Sarendra menunggu. Ia duduk di salah satu kursi semen, membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Postur bungkuknya terlihat jelas saat ia menunduk, menatap sepatu ketsnya yang berdebu.

Pikirannya masih berputar pada kejadian di perpustakaan tadi siang. Doa-doa yang mereka panjatkan memang berhasil mengusir bayangan itu, tapi ia tahu bahwa itu hanyalah solusi sementara.

Langkah kaki ringan terdengar di atas dedaunan kering. Sarendra menoleh dan melihat Vema berjalan mendekat. Gadis itu masih mendekap tas hitamnya, seolah benda itu adalah bagian dari organ tubuhnya yang tidak boleh dilepaskan. Wajahnya pucat, namun ada kilatan tekad di matanya yang biasanya redup.

"Dra," panggil Vema pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin dari luar sekolah.

"Vem, duduklah," jawab Rendra sambil menggeser posisinya.

Vema duduk di ujung kursi semen yang lain, memberi jarak yang cukup jauh. Keheningan yang panjang membentang di antara mereka. Seekor capung hinggap di dahan kamboja, lalu terbang lagi saat angin kencang menerpa.

"Kenapa kamu nggak lari, Dra?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Vema. Matanya lurus menatap ke depan, ke arah kolam ikan yang airnya sudah menghijau. "Setelah semua yang kamu lihat... bayangan yang tembus tembok, Riko yang kehilangan jiwanya, dan hawa dingin yang nggak masuk akal itu. Kenapa kamu malah makin dekat?

"Rendra menghela napas panjang. Ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung seragam, lalu memakainya kembali. "Mungkin karena aku anak Akuntansi, Vem. Kami diajarkan bahwa segala sesuatu harus ada penyeimbangnya. Kalau ada hutang, harus ada piutang. Kalau ada kegelapan seperti itu, harus ada orang yang membawa lampu untuk meneranginya."

Vema menoleh, menatap Rendra dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi ini bukan soal angka, Dra. Ini soal sesuatu yang nggak bisa kamu audit. Sesuatu yang nggak punya logika."

"Justru itu," sela Rendra dengan nada bicara yang lebih intens. Ia memutar tubuhnya menghadap Vema. "Aku tahu kamu memilih diam tadi di perpustakaan. Aku tahu kamu merasa kalau kamu bicara, beban itu bakal menular ke kami. Tapi sadar nggak? Dengan kamu diam, bayangan itu makin besar karena dia memakan ketakutanmu sendirian."

Vema menunduk, jemarinya memutar-mutar benang hitam yang menjuntai dari tasnya. "Kejadian Riko kemarin... itu bukan pertama kalinya. Tapi itu pertama kalinya ada orang luar yang ikut campur. Biasanya, mereka yang menerima tas itu akan mendapatkan apa yang mereka mau, lalu mereka akan pergi membawa 'beban' itu pulang. Tapi kemarin, karena kamu menghentikan pertandingannya dengan cara itu... residunya tertahan di sekolah."

"Residu itu... apa sebenarnya mereka, Vem?" tanya Rendra dengan suara rendah.

Vema terdiam sejenak, menimbang-nimbang seberapa banyak ia harus terbuka. "Mereka adalah sisa-sisa janji yang belum lunas. Ibuku... beliau hanya penjahit tas. Tapi tas-tas ini bukan sekadar kain. Ada sesuatu yang 'dijahit' ke dalamnya. Saat orang meminum apa yang ada di dalamnya, mereka meminjam kekuatan yang bukan miliknya. Dan kemarin, Riko meminjam terlalu banyak."

Rendra merasakan bulu kuduknya berdiri. "Jadi, kejadian tidak masuk akal akhir-akhir ini—lampu yang berkedip, bayangan yang nggak sinkron, bisikan di telinga Netta—itu semua karena 'janji' yang belum lunas itu mencari pengganti?"

Vema mengangguk lemah. "Mereka nggak bisa menyentuh kita secara fisik, Dra. Tapi mereka bisa masuk lewat celah keraguan. Mereka tembus pandang karena mereka nggak punya tempat di dunia ini. Mereka cuma sisa-sisa energi negatif yang haus."

Rendra terdiam, mencoba mencerna informasi itu dengan logika berpikirnya. Ia mulai membayangkan sebuah neraca raksasa di atas sekolah mereka, di mana satu sisi berisi prestasi dan kehidupan normal siswa, sementara sisi lainnya berisi beban gaib yang sangat berat.

"Aku takut, Dra," bisik Vema tiba-tiba. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku takut suatu saat nanti, aku nggak akan bisa lagi membedakan mana bayangan yang asli dan mana yang bukan. Aku takut teman-temanmu—Netta, Bagas, bahkan Nadin—bakal terluka karena mengenalku."

Rendra memberanikan diri. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu menepuk pelan bahu Vema. "Vem, dengar. Kejadian di perpustakaan tadi membuktikan satu hal. Doa-doa kami bisa memukul mundur mereka. Itu artinya, kekuatan mereka terbatas. Mereka mungkin bisa tembus tembok, tapi mereka nggak bisa tembus keyakinan kita."

Vema menoleh, air matanya jatuh satu per satu. "Kenapa kamu baik banget sama aku? Kita baru kenal sebulan lewat."

"Karena aku melihat diriku dalam dirimu, Vem," jawab Rendra tulus. "Aku juga sering merasa sendirian dengan duniaku sendiri. Aku yang bungkuk, aku yang kutu buku, aku yang sering dianggap aneh. Tapi saat aku bertemu kamu, aku merasa ada misteri yang harus diselesaikan agar hidupku nggak cuma soal menghitung uang orang lain."

Intensitas pembicaraan mereka semakin dalam seiring matahari yang mulai menghilang di balik gedung sekolah. Bayangan pohon kamboja di Taman Mini itu mulai memanjang, menyerupai jari-jari hitam yang mencoba meraih kaki mereka. Namun kali ini, Rendra tidak menjauh. Ia justru berdiri, menantang bayangan itu dengan tegak.

"Vem, aku nggak akan tanya lebih dalam soal ibumu atau rahasia keluargamu kalau kamu belum siap," ucap Rendra dengan nada yang sangat serius, membuat Vema ikut berdiri. "Tapi berjanjilah satu hal. Jangan pernah menghadapi bayangan itu sendirian lagi. Kalau hawa dingin itu datang, panggil aku. Kalau bayangan itu merayap di dinding kelasmu, cari Netta atau Nadin. Kita sudah masuk ke lingkaran ini sama-sama."

Vema menatap Rendra cukup lama. Untuk pertama kalinya, ada sedikit harapan yang menyala di pupil matanya yang gelap. "Terima kasih, Sarendra. Aku... aku nggak tahu harus bilang apa. Tapi kejadian tidak masuk akal ini... kayaknya nggak akan berhenti di sini. Ada pelanggan lain selain Riko. Orang yang jauh lebih kuat, dan dia ada di sekolah ini."

Rendra merasakan jantungnya berdegup kencang. "Siapa?"

Vema menggeleng. "Aku belum tahu pasti. Tapi dia sering memesan tas dengan kain yang lebih tebal dan benang yang lebih merah dari milik Riko. Kalau Riko saja bisa jadi monster seperti itu, aku nggak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kalau orang ini kehilangan kendali."

Sore itu ditutup dengan kesepakatan bisu di antara mereka. Di Taman Mini yang sunyi itu, dua remaja yang dianggap aneh oleh dunianya masing-masing telah membentuk ikatan yang lebih kuat dari sekadar persahabatan sekolah. Mereka adalah sekutu dalam perang melawan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh buku teks mana pun.

Matahari sudah benar-benar tenggelam di balik cakrawala Surabaya, meninggalkan semburat warna indigo yang pekat di langit. Rendra melirik jam tangannya—sudah hampir pukul enam sore. Suasana sekolah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa anak organisasi yang masih berkumpul di sekretariat jauh di depan.

"Vem, sudah sore banget. Kamu pulang naik apa?" tanya Rendra sambil berjalan beriringan dengan Vema menuju area parkir siswa yang luas dan mulai lengang.

Vema menunduk, menatap langkah kakinya sendiri. "Biasanya jalan kaki ke depan, terus naik angkot sekali, Dra. Tapi nggak apa-apa, aku sudah biasa."

Rendra terdiam sejenak. Ia teringat bahwa hari ini ayahnya sedang libur bekerja, sehingga motor Supra tua milik ayahnya bisa ia bawa ke sekolah. Biasanya, Rendra hanya berani membawa motor kalau ayahnya tidak kerja lembur dibengkel atau tidak ada keperluan mendesak.

"Kebetulan aku bawa motor hari ini," ucap Rendra, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ini adalah wilayah baru baginya. Selama tujuh belas tahun hidupnya, jok belakang motor itu hanya pernah diduduki oleh ayahnya, ibunya, atau Bagas yang bobotnya membuat ban motor sering kempes. Membonceng seorang gadis adalah sesuatu yang belum pernah ada dalam hidupnya. "Kalau kamu mau... aku bisa antar kamu sampai rumah. Biar kamu aman, apalagi setelah gangguan bayangan tadi siang."

Vema sempat ragu. Ia menatap Rendra dengan mata bulatnya yang jernih. Ada keraguan, tapi juga ada rasa lelah yang amat sangat di wajahnya. "Apa nggak merepotkan, Dra? Rumahku lumayan masuk ke dalam gang."

"Nggak sama sekali. Ayo," ajak Rendra dengan nada yang diusahakan setenang mungkin, meski telapak tangannya mulai berkeringat.

Mereka sampai di parkiran. Rendra mengeluarkan motor bebeknya, memanaskan mesin sejenak. Saat Vema naik ke boncengan, Rendra bisa merasakan motornya sedikit bergoyang. Hawa dingin yang biasanya mengikuti Vema kini terasa lebih lembut, berganti dengan aroma samar bunga melati dan kain baru dari seragam Vema. Rendra duduk sangat tegak, memaksakan punggungnya yang biasanya bungkuk agar tidak bersentuhan dengan tas hitam yang didekap Vema.

"Sudah siap, Vem?"

"Sudah, Dra. Jalan saja."

Perjalanan menyusuri jalanan Surabaya sore itu terasa sangat panjang bagi Rendra. Ia berkendara dengan kecepatan rendah, sangat berhati-hati menghindari setiap lubang di jalan. Di balik helmnya, Rendra tersenyum kecil. Ia merasa seperti sedang membawa sesuatu yang sangat rapuh dan berharga. Angin malam mulai menusuk seragam putih mereka, dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di aspal.

"Belok kiri di depan, Dra. Masuk ke gang yang ada pohon beringinnya," arah Vema pelan di dekat telinga Rendra.

Motor Rendra memasuki sebuah gang sempit yang penerangannya cukup minim. Semakin masuk ke dalam, suasana terasa semakin sunyi dan lembap.

Rumah-rumah di sini tipikal bangunan tua dengan atap tinggi. Akhirnya, Vema memberi isyarat untuk berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang berwarna hitam, namun halamannya dipenuhi dengan berbagai tanaman hias yang rimbun.

Sana, di bawah cahaya lampu teras yang berwarna kuning temaram, seorang wanita paruh baya sedang berdiri menyiram tanaman. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya teduh namun menyimpan guratan misterius yang dalam. Itulah Ibu Vema.

Rendra mematikan mesin motornya. Suasana mendadak menjadi sangat canggung.

"Sudah sampai, Dra" ucap Vema pelan sambil turun dari motor.

Wanita itu meletakkan selang airnya, lalu menatap Rendra dengan saksama. Tatapannya seolah-olah bisa menembus kulit dan melihat apa yang ada di dalam pikiran Rendra. Rendra segera turun dari motor, melepas helmnya, dan membungkuk sopan. Ia berusaha menjaga napasnya agar tetap tenang, meski ia bisa merasakan aura dingin yang sama seperti di lab, terpancar dari rumah ini.

"Selamat malam, Tante. Saya Sarendra, teman sekolah Vema," ucap Rendra dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap sopan.

Ibu Vema berjalan mendekat ke pagar. Senyumnya tipis, hampir tidak terlihat. "Sarendra? Nama yang bagus. Kamu anak Akuntansi yang diceritakan Vema kemarin?"

Rendra sedikit terkejut. Ternyata Vema pernah menceritakan dirinya. "Iya, Tante. Kebetulan hari ini saya bisa bawa motor, jadi saya tawarkan antar Vema agar tidak kemalaman."

"Kamu anak yang sopan, Sarendra," ucap Ibu Vema sambil melipat tangannya di dada. "Punggungmu bungkuk, tapi matamu jujur. Jarang ada anak muda sekarang yang mau mengantar temannya sampai ke depan rumah di gang sempit seperti ini tanpa pamrih. Apa pekerjaan orangtuamu dan kenapa kok hari ini aja kamu bawa motor?"

"Ayah saya hanya pekerja serabutan, Tante. Sedang libur hari ini," jawab Rendra jujur.

Ibu Vema mengangguk-angguk pelan. Pertanyaan demi pertanyaannya terasa seperti sebuah interogasi halus, namun Rendra berusaha menjawab dengan setenang mungkin. Ia menceritakan bagaimana ia menyukai akuntansi karena keteraturannya, sebuah jawaban yang membuat Ibu Vema terdiam sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tiba-tiba, suara sayup-sayup adzan Isya berkumandang dari masjid di ujung gang. Suara itu seolah memecah ketegangan yang ada di antara mereka.

"Wah, sudah Isya, Tante. Sepertinya obrolan kita sudah cukup lama," ucap Rendra sambil sedikit membungkuk. "Saya pamit pulang dulu, takut orang tua saya mencari."

Rendra kemudian menoleh ke arah Vema. Gadis itu berdiri di samping ibunya, wajahnya tampak lebih tenang sekarang. "Vem, aku pulang duluan ya. Sampai ketemu besok di sekolah. Jangan lupa... jam tujuh."

Vema mengangguk. "Hati-hati di jalan, Dra. Terima kasih banyak sudah mengantar."

"Sama-sama. Mari, Tante," Rendra menyalakan motornya, lalu perlahan meninggalkan gang tersebut. Ia tidak membahas lagi soal kejadian gaib di perpustakaan atau soal bayangan tembus pandang tadi siang di depan Ibu Vema. Ia tahu, ada rahasia yang tidak boleh disentuh di depan wanita itu.

Setelah suara motor Supra tua milik Rendra menghilang di kejauhan, suasana kembali sunyi. Ibu Vema kembali mengambil selang airnya, namun ia tidak menyiram tanaman. Ia menatap ke arah ujung gang tempat Rendra baru saja menghilang.

"Anak itu... dia anak yang baik, kan Bu?" tanya Vema pelan, memecah kesunyian.

Ibu Vema menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan kain sutra tua. "Iya, Vema. Dia anak yang jujur. Ibunya pasti mendidiknya dengan doa yang kuat. Ibu bisa merasakan perlindungan yang melingkupinya."

Vema sedikit tersenyum mendengar pengakuan ibunya. Namun, senyum itu segera sirna saat ibunya berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang sangat serius.

"Tapi Vema, dengarkan Ibu baik-baik," suara Ibu Vema menjadi dingin dan berwibawa. "Sarendra adalah orang luar. Dia tidak boleh tahu lebih dalam tentang apa yang kita kerjakan di dalam rumah ini. Dia tidak boleh tahu tentang benang merah, tentang janji-janji yang kita jahit ke dalam tas itu."

"Tapi Bu, dia sudah banyak membantu—"

"Membantu atau tidak, dia tetaplah orang luar, Vema!" potong ibunya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Makin dekat dia denganmu, makin besar risiko dia terseret ke dalam beban yang kita pikul. Kamu tahu sendiri apa yang terjadi pada mereka yang terlalu banyak tahu. Ibu tidak ingin anak sebaik Sarendra berakhir seperti Riko atau pelanggan-pelanggan kita yang lain. Jauhkan dia, Vema. Teman sekolah ya cukup sebatas teman sekolah."

Vema terdiam. Ia menatap tas hitam yang masih ia dekap. Di dalam rumah, ia bisa mendengar suara mesin jahit ibunya yang seolah berbisik, memanggilnya untuk kembali bekerja. Ia merasa sedih, tapi di sisi lain, ia tahu ibunya mencoba melindunginya—dan melindungi Rendra—dengan cara yang menyakitkan.

"Iya, Bu. Aku mengerti," bisik Vema lirih.

Malam itu, di bawah cahaya rembulan Surabaya yang redup, Vema masuk ke dalam rumahnya yang gelap, sementara Sarendra berkendara pulang dengan perasaan hangat yang baru saja ia rasakan, tanpa menyadari bahwa sebuah peringatan besar baru saja dijatuhkan padanya dari balik gerbang rahasia keluarga Vema.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!