Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise!
"Beresin baju kamu, kita akan siap siap ke bandara sebentar lagi."Ujar Damian kepada Bintang saat keduanya baru sampai di rumah.
"Tapi tuan, saya tidak punya baju."Jawab Bintang, bahkan saat pergi kemarin dia hanya mengenakkan pakaian dalamnya yang basah tanpa memiliki ganti karna Damian hanya memberikan gaun saja.
Damian memicingkan matanya, benar mereka belum mengambil baju di rumah keluarga Bramono dan belum belanja, jadi Bintang pasti tidak punya baju sama sekali.
"Sebentar."Ujar Damian, dia kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil baju baju yang sudah dia siapkan untuk Lidya beberapa saat yang lalu.
"Ini baju mahal yang ku beli untuk Lidya, jika ada satu pun yang tergores atau rusak awas saja kamu."Ujar Damian memperingatkan.
"Iya tuan."Balas Bintang pelan, dia mengambil baju yang di berikan oleh Damian dengan hati hati berharap sentuhan dari tangan kasarnya tidak akan merusak baju baju itu.
"Eum.. anu tuan!"Ujar Bintang ragu ragu, dia menghentikan Damian saat pria itu hendak meninggalkannya di sana.
"Apa lagi?"Tanya, pria itu memutar bola matanya jengah karna dia benar benar engah jika harus berlama lama berbicara dengan Bintang.
"Eum... nggak ada dalamnnya, saya butuh dalamannya."Ujar Bintang malu malu, wajahnya putih memerah membentuk semburat merah yang nampak sangat menggelikan di mata Damian.
"Ribet banget! Tunggu sebentar."Ujar Damian dengan nada yang kesal, dia kemudian segera masuk kembali ke kamarnya dan mengambil pakaian dalam yang juga sudah dia persiapkan untuk Lidya karna dia tidak tahu berapa ukuran gadis itu jadi dia pun membeli bra dan celana dalam dengan ukuran yang berbeda beda.
"Ini! Ambil semuanya dan bawa ke kamar kamu."Ujar Damian, setelah mengatakan itu dia pun langsung meninggalkan Bintang yang nampak kesusahan mebawa baju yang di berikan oleh Damian.
Sesampainya di kamar Bintang pun langsung mengemasi beberapa baju yang akan dia bawa pergi, untungnya ada sebuah koper yang tersedia di kamar ini dan memasukkan baju baju itu kesana.
"Rata rata bajunya berukuran besar dan pake rok, aku nggak biasa pakek rok."Ujar Bintang, dia mengamati rok itu dan terlihat sedikit merinding karna benda benda itu memiliki potongan yang lumayan pendek. Dahulu jika Lidya memberikannya baju bekas Bintang hanya akan mengambil yang celana saja dan tidak memakai rok, baginya rok sangat aneh apalagi rok rok adik angkatnya itu bisa di bilang sangat pendek dan kurang bahan.
"Gimana makenya?"Gumam Bintang bingung, baju baju ini jelas bukan ukurannya.
"Entahlah, lagi pula ini kan bukan honeymoon sungguhan."Ujar Bintang, dia mengedikkan bahunya acuh. Setelah merasa cukup dengan barang barang itu, dia pun langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sudah agak sedikit lebih baik dari pada kemarin.
Tepat jam empat sore Bintang dan Damian pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke bandara. Dalam pikiran pria itu, dia akan ikut penerbangan ke China kemudian setelah itu dia akan pergi meninggalkan Bintang untuk mencari Lidya.
"Lama banget kamu!"Tegur Damian kepada Bintang yang terlihat baru saja keluar dari kamarnya, gadis itu mengenakkan rok hitam yang hanya setengah paha dengan kaos putih kebesaran yang anehnya sangat cocok dengannya. Rambutnya yang curly alami terlihat sangat indah ketika di ikat ekor kuda, membuat Damian diam diam mengagumi visualnya yang nampak sedikit imut.
"Maaf tuan, saya agak kesulitan karna semua bajunya berukuran besar."Bintang mencoba untuk membela diri.
"Jelas lah, Lidya memiliki tubuh yang proposional sedangkan kamu sangat mini bahkan aku yakin bra yang ku berikan juga memiliki banyak ruang di sana."Ujar Damian sembari menunjuk dada Bintang yang nampak sedikit lebih besar daripada ukuran yang sebelumnya.
Mendengar itu, Bintang hanya bisa tersipu malu karna yang di katakan oleh Damian memang benar bra yang di berikan Damian memang sedikit besar dari ukurannya.
"Nanti kita beli yang baru, kalo nggak nanti aku yang akan di marahin papa."Ujar Damian dengan nada kesalnya. Kemudian dia pun langsung menyeret kopernya tanpa memperdulikan Bintang yang nampak sangat canggung di belakangnya.
"Surprise!"Ujar Wicaksono dan Raisa tepat saat Damian baru saja membuka pintu rumahnya, pria itu mengerutkan alisnya bingung merasa heran dengan keberadaan sepasang suami berbeda usia ini.
Baik Damian maupun Bintang tentunya sangat terkejut saat melihat keberadaan Wicaksono yang tiba tiba, dengan kesadaran penuh Damian pun langsungu merangkul pinggang Bintang berpura pura mesra di hadapan orang tuanya itu.
Merasakan ada sesuatu yang hangat tiba tiba melingkar di pinggangnya membuat Bintang terkejut tapi gadis itu hanya diam dan menerima karna dia tahu jika Damian melakukan ini hanya untuk akting semata.
"Papa ngapain di sini?"Tanya Damian dengan ramah, bersikap senatural mungkin agar terlihat benar benar mesra di hadapan kedua orang tuanya itu.
"Papa sama mama mau ikut kalian honeymoon!"Ujar Wicaksono, dia terlihat mengedipkan matanya ke arah anak pertamanya itu.
"Bulan madu kedua xixi."Imbuh Raisa dengan malu malu.
"HAH?!"Keduanya nampak terkejut dan bingung tapi tatapannya jatuh pada dua koper besar yang di bawa oleh kedua orang itu.
"Papa kan pengen dapat cucu dan mau ngawasin kalian sekalian mau bikin adek juga buat Damian."Ujar Wicaksono dengan nada pelan, dia menatap kedua anak dan menantunya itu dengan tatapan menggoda.
Damian tentu saja sangat tidak setuju dengan ide ini, karna bagaimana pun dia ingin mencari Lidya yang kabur dan ingin membawa gadis itu kembali. Jika Wicaksono dan Raisa ikut maka jelas saja rencananya tidak akan berhasil dan dia benar benar akan menghabiskan honeymoon dengan Bintang.
Sungguh hal yang sangat tidak dia inginkan!
"Yang bener aja pa, masak papa ganggu honeymoon aku sama Bintang si, iya kan sayang?"Damian berpura pura merajuk.
"Iya pa, nanti kita nggak leluasa."Imbuh Bintang.
"Ya nggak apa apa dong, malah asik tahu dan asal kamu tahu Damian itu sangat membosankan jadi kalo mama sama papa ikut, kamu nggak akan bosan."Ucap Wicaksono, rupanya kata kata honeymoon kedua itu benar benar bukan bualan semata dan keduanya memang benar benar berniat untuk pergi berbulan madu dengan mereka.
Damian menghembuskan nafasnya pasrah, dia tahu jika Wicaksono sudah mengatakan seperti ini jelas dia memang tidak main main dan yang jelas pria itu tidak akan berhenti mengganggu pernikahannya dan juga Bintang, lalu mengacaukan rencananya mencari Lidya.
Hanya ada satu cara untuk menghentikan kegilaan Wicaksono dan juga Raisa, yakni memberikan mereka cucu sesegera mungkin.
Dalam ketidak puasan itu, dia menatap ke arah Bintang yang hanya bisa pasrah itu,'Sepertinya hubungan kita akan menjadi sedikit menarik dan sedikit kompleks.' Gumam Damian di dalam hatinya.
Baik Damian dan juga Bintang hanya bisa pasrah dan membiarkan kedua orang itu ikut dan mengacaukan seluruh rencana yang sudah ada di benak mereka masing masing,