NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 **Bully???**

​"Lo ngapain angkat tangan juga?!" tanya Clarissa heran, urung melayangkan tamparannya karena bingung dengan tingkah aneh korbannya.

Ila menatap tangan mungilnya sendiri yang terangkat ke udara, lalu beralih menatap tangan Bianka yang masih menggantung kaku.

​"Kakak mau bermain, kan? Jadi Ila ikuti pergerakan Kakak," sahut Ila dengan nada polos yang sangat murni, seolah tindakan mengangkat tangan itu adalah bagian dari koreografi permainan yang menyenangkan.

​Bianka seketika memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan letupan amarah yang hampir membuat kepalanya pecah. 'Walaupun polos, ternyata anak ini nggak mudah ditindas,' batin Bianka kesal. Kepolosan Ila justru menjadi benteng yang paling sulit ditembus oleh intimidasi apa pun.

​"Kakak... Kakak capek pengin tidur? Jangan di sini Kak, nanti badannya kotor. Kita ke UKS aja yuk, sekalian main dokter-dokteran. Ila jadi dokternya, Kakak jadi pasiennya," ajak Ila dengan tulus saat melihat Bianka yang masih memejamkan mata.

​Seketika Bianka membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap gadis kecil di hadapannya ini dengan api kemarahan yang berkobar. Alih-alih merasa kasihan, Bianka justru merasa terhina dengan tawaran "main dokter-dokteran" tersebut. Dengan gerakan cepat, Bianka meraih dagu Ila secara kasar dan mencengkeramnya kuat-kuat.

​Set!

​Ila yang merasa sakit karena perlakuan kasar itu tidak tinggal diam. Secara refleks, tangan mungilnya mencubit kulit tangan Bianka dengan sekuat tenaga.

​"Arrghh!" Bianka memekik kesakitan. Ia segera melepaskan cengkeramannya karena cubitan Ila ternyata sangat perih dan tepat mengenai sasaran.

​"Lo beraninya cubit gue, anjing!" marahnya sembari mengusap tangannya yang memerah.

​"Kakak itu pegang dagu Ila kekencangan, sakit tahu! Jadi Ila cubit," sahut Ila dengan ekspresi yang dibuat-buat garang. Namun, bukannya terlihat menakutkan, wajah Ila yang sedang marah justru terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan.

​"Lo terlalu polos dan nggak ada takut-takutnya sama gue! Liat aja kalau antek-antek gue sudah kembali sekolah, maka lo nggak akan selamat dari gue!" ancam Bianka dengan nada rendah yang penuh kebencian. Setelah melontarkan ancaman tersebut, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Ila yang masih terpaku di tempatnya.

​"Gak jadi main, Kak?" tanya Ila setengah berteriak karena langkah Bianka belum terlalu jauh.

​"Gak!" sahut Bianka ketus tanpa menoleh sedikit pun.

​Ila mengangguk-angguk paham, seolah memaklumi perubahan suasana hati teman bermain barunya itu. "Yaudah... papayyy Kak Biankaaa!" Dengan polosnya, Ila melambaikan tangan dengan riang ke arah punggung Bianka yang semakin menjauh.

​Bianka hanya bisa berdecak kesal di sepanjang jalan. Ia merutuki nasibnya hari ini. Jika saja antek-anteknya masuk sekolah, ia pasti sudah berhasil mem-bully Ila habis-habisan tanpa perlu terkena cubitan maut dari bocah itu.

​Ila mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor. Ternyata, banyak siswa-siswi yang sedari tadi menonton kejadian itu. Mereka semua menatap Ila dengan senyuman hangat, dan Ila pun membalas senyuman mereka dengan sangat manis.

​"Senyumnya manis kali..." bisik seorang siswa.

​"Pipi itu ahh... tembem banget, pengin karungin!"

​"Gila, jadi orang polos enak juga ya. Dia nggak tahu mana lawan dan mana kawan, semua dianggapnya kawan, hahah!"

​"Kalau Si kembar tahu kejadian ini, bisa habis itu si ratu bully."

​"Mantap, Dek! Gue suka gaya kepolosan lo!"

​Begitulah pekikan orang-orang yang menyaksikan interaksi antara Bianka dan Ila tadi. Mereka semua takjub melihat bagaimana kepolosan Ila mampu membuat si ratu bully mati kutu. Baginya, ancaman dan makian tadi hanyalah bagian dari skenario permainan yang unik.

"Bully?" gumam Ila pelan.

Langkah kakinya terhenti sejenak, ia memiringkan kepalanya mencoba mencerna kosakata baru yang baru saja ditangkap oleh indranya. Ia baru pertama kali mendengar kata itu di sekolah DHS ini. Ah, sudahlah, pikirnya. Nanti saja ia tanyakan pada abang-abangnya atau pada Lanka tentang apa itu bully. Ila kembali berjalan memasuki kelasnya dengan wajah yang berseri-seri dan langkah yang ringan, seakan kejadian tidak menyenangkan dengan Bianka tadi sama sekali tidak memberikan pengaruh negatif pada suasana hatinya.

"Lo lama banget di ruangan kepala sekolah, Cil," ucap Luna sesaat setelah Ila mendaratkan bokongnya di kursi samping sahabatnya itu.

Ila menoleh, senyum lebarnya masih terpatri jelas. "Ila udah lama kok keluarnya, tapi tadi ada yang ajak Ila bermain dulu di jalan," sahutnya dengan nada suara yang sangat polos tanpa beban.

Alis Luna seketika terangkat tinggi, wajahnya menunjukkan ekspresi bingung sekaligus curiga. "Bermain?" tanya Luna memastikan, yang langsung dijawab dengan anggukan mantap dari Ila. "Bermain apa memangnya?" tanya Luna lagi, merasa ada yang janggal karena tidak biasanya ada orang yang tiba-tiba mengajak Ila bermain di jam sekolah.

"Nggak tahu, tapi Ila dengar tadi ada yang menyebutkan kata bully," sahut Ila, masih dengan kepolosan yang sama.

Mata Luna seketika terbelalak sempurna, nyaris keluar dari kelopaknya mendengar penuturan Ila. Jantungnya berdegup kencang karena ia tahu persis apa arti kata tersebut di lingkungan sekolah seperti ini.

"Lo nggak apa-apa kan, Cil? Siapa yang bully lo?!" tanya Luna dengan nada suara yang naik satu oktaf. Ia langsung panik dan mulai memeriksa setiap inci tubuh Ila, mulai dari tangan, wajah, hingga memutar-mutar bahu sahabatnya itu untuk mencari luka atau memar.

"Hufff... nggak ada yang lecet. Syukurlah..." Luna mengembuskan napas lega yang sangat panjang setelah memastikan tidak ada tanda-tanda kemerahan atau bekas kekerasan di tubuh mungil Ila.

Ila justru merasa bingung melihat tingkah Luna yang tiba-tiba menjadi sangat protektif dan sibuk memeriksa badannya. "Why periksa badan Ila?" tanya Ila dengan kening berkerut.

"Nggak apa-apa, Cil," ucap Luna singkat.

Sebenarnya, Luna ingin sekali mencecar Ila dengan berbagai pertanyaan tentang siapa orang yang sudah berani mengganggunya. Namun, ia segera mengurungkan niat itu. Ia tahu betul kalau ia bertanya lebih lanjut, justru Ila-lah yang akan balik memberondongnya dengan ribuan pertanyaan tentang apa itu bully, kenapa orang melakukan itu, dan pertanyaan-pertanyaan ajaib lainnya.

Luna membuang napas kasar sembari mengusap dadanya. Lebih baik ia diam untuk saat ini agar kewarasannya tetap terjaga dari serangan kepolosan Ila yang seringkali tak masuk akal.

...****************...

Di sisi lain, tepatnya di dalam ruang kelas XII IPA 1 yang berhawa dingin, suasana mendadak berubah mencekam. Lanka baru saja menerima sebuah notifikasi pesan video dari salah satu anak buah yang ditugaskannya untuk mengawasi Ila secara sembunyi-sembunyi.

​Saat video itu diputar, rahang Lanka seketika mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol, dan suara gigi yang bergemelatuk terdengar jelas dari balik mulutnya—sebuah pertanda absolut bahwa singa ini sedang dalam puncak amarah. Tanpa membuang waktu, Lanka langsung menghubungi anak buahnya. Begitu panggilan terhubung, ia hanya mengucapkan satu kalimat perintah yang terdengar seperti vonis mati.

​"Bawa wanita gila itu ke markas," ucap Lanka dingin, lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.

​Alzian, Elzion, Dian, Liam, dan Juna menatap bingung ke arah Lanka. Mereka jarang melihat Lanka semarah ini sampai harus membawa-bawa nama markas di tengah jam pelajaran.

​"Ada apa?" tanya Elzion dengan kening berkerut, menatap Lanka dengan selidik.

​Tanpa banyak bicara, Lanka menyodorkan ponselnya yang masih menampilkan cuplikan video tersebut ke arah Elzion. Sontak, teman-teman yang lain langsung merapat, ikut mengintip layar ponsel untuk melihat apa yang membuat Lanka mendidih.

​BRAKKKK!

​"Brengsekkk!" geram Alzian dengan suara menggelegar. Ia menggebrak meja dengan sangat kuat hingga benda di atasnya bergetar hebat.

​Seluruh penghuni kelas XII IPA 1 tersentak kaget. Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi sunyi senyap karena ketakutan. Mereka ingin bertanya ada apa, namun melihat wajah Alzian yang memerah padam dan tatapan Lanka yang sedingin es, mereka mengurungkan niat karena tidak mau terkena imbas kemarahan para most wanted DHS tersebut.

​"Kita temui wanita gila ini sekarang!" desis Elzion dengan mata yang berkilat tajam.

​"Tidak perlu, biar wanita gila itu jadi urusan gue," sahut Lanka dengan nada datar namun mengandung ancaman yang mengerikan.

​"Sudah, sudah... tenang kalian. Biar itu jadi urusan Lanka," ucap Juna mencoba menengahi. Ia berusaha menenangkan Alzian dan Elzion setelah ikut menyaksikan video Ila yang diseret dengan kasar oleh Bianka, si ratu bully.

​Ya, video yang mereka lihat adalah rekaman lengkap dari saat Ila jatuh tersungkur karena ditubruk secara sengaja, hingga momen saat Bianka pergi meninggalkan Ila dengan wajah kesal. Mengapa anak buah Lanka tidak menolong? Ternyata sang intelijen melihat wajah polos Ila yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada Bianka. Saat Bianka hendak melayangkan tamparan, anak buah Lanka sebenarnya sudah hampir melompat keluar dari persembunyiannya untuk menghajar perempuan itu, namun gerakannya urung saat melihat Ila justru ikut mengangkat tangan dengan polos. Ia memutuskan untuk terus merekam hingga tuntas untuk memberikan bukti nyata pada tuannya.

​Kini, nasib Bianka benar-benar berada di ujung tanduk.

"Tapi gue salut sih sama Ila. Dia itu polosnya kayak anak-anak umur lima atau enam tahun. Anak seusia itu biasanya nggak kenal takut, bahkan cenderung meniru apa pun yang dilakukan orang di depannya, termasuk lawannya sendiri," jelas Liam dengan nada bicara yang sedikit lebih serius dari biasanya. Dian dan Juna pun mengangguk setuju, mengakui bahwa kepolosan Ila adalah perisai paling tak terduga yang pernah mereka lihat.

​Di sisi lain, Alzian dan Elzion hanya terdiam seribu bahasa. Pikiran mereka berkecamuk hebat. Mereka benar-benar merasakan perubahan yang sangat signifikan pada adiknya. Awalnya, mereka mencoba memaklumi sifat Ila yang menjadi sangat kekanak-kanakan dan manja, menganggap itu sebagai bentuk trauma atau sekadar mencari perhatian. Namun sekarang, mereka mulai menyadari bahwa perubahan ini terasa asing.

​Dulu, adik mereka memang dikenal polos dan pendiam, itulah sebabnya setiap kali di-bully, dia hanya bisa menunduk diam dan menangis tersedu-sedu. Tapi sekarang? Ila seolah menjelma menjadi sosok yang baru saja mengenal dunia luar; tidak ada rasa takut, tidak ada trauma, bahkan tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.

Author perjelas dengan sifat Ila yahh, karena takutnya pada aneh dan ga suka dengan sifat Ila yang terlalu polos dan lugu untuk ukuran anak SMA.

Ingat sosok yang kini berada di dalam tubuh Aqila adalah Shabila. Meskipun keduanya sama-sama memiliki sisi polos, Shabila dan Aqila adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Shabila tidak pernah mengenal dunia luar sejauh yang pernah dialami oleh Aqila. Selama hidupnya, Shabila hanya menghabiskan waktu di dalam rumah. Jika pun Galenio mengajaknya keluar, mereka hanya berputar-putar di sekitar area rumah dan tidak pernah pergi jauh.

Shabila tidak pernah mengecap pendidikan di sekolah umum, meskipun Daddynya sendiri merupakan pemilik sekolah. Itulah sebabnya sangat wajar jika Shabila tidak mengetahui betapa kejamnya dunia luar. Sifat childish dan manjanya merupakan hasil dari keadaan psikis yang sedikit terganggu akibat sering menerima bentakan dan amarah dari sang Daddy, meskipun ia tidak pernah dipukul secara fisik.

Kenapa saat dibentak sang Daddy ia hanya diam saja, namun saat Bianka berteriak padanya, ia berani membalas dengan teriakan juga? Jawabannya karena Galenio selalu mengajarkan Shabila bahwa ia tidak boleh berteriak di depan orang tua sebagai bentuk hormat. Itulah sebabnya ia hanya bisa terpaku diam saat menghadapi amarah Daddynya. Namun, di depan Bianka yang merupakan orang asing, Shabila merasa bebas untuk meniru apa yang dilihatnya. Jika orang lain berteriak, maka ia pun ikut berteriak karena ia menganggap itu adalah cara berkomunikasi dalam "permainan" tersebut.

Berbeda halnya dengan sosok Aqila yang asli. Ia dulu bersekolah di sekolah umum dan tumbuh menjadi gadis yang tidak manja maupun childish, karena ia sangat sadar bahwa sifat kekanak-kanakan tidaklah pantas untuk remaja seusianya.

......................

1
Yuni Anto
next 🥰🥰 Thor lanjut lagi 😍😍💪💪🤔
Yuni Anto
/Sob/baru bad awal dah/Sob/bikin nyesek/Sob//Whimper//Whimper//Whimper/
Nazia wafa abqura
kak ap udah gk up lgi ya
Nazia wafa abqura
kak kok gk up2 lho
Nazia wafa abqura
kak kpn up ny
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
Ida Kurniasari: liat aja cerita aslinya judulnya transmigrasi Ara kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
sampai sini ceritanya sama Persis kayak cerita transmigrasi Ara cuma beda nama tokoh aja,mohon maaf thorr🙏
Ida Kurniasari
mohon maaf thor kok ceritanya sama kayak cerita transmigrasi Ara ya?🙏
Ida Kurniasari
mohon maaf nih thor kok ceritanya mirip banget sama cerita transmigrasi Ara ya??🙏
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak mn up ny
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up selanjutnya..
Nazia wafa abqura
kak mn up ny. tak tunggu lho
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny.. 😍
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up selanjutny
aria
lanjut
Mima D. S
lucu dan menarik
Mima D. S
thor buat cerita tentang anak sekolahan lagi dongg tp karakter wanita nya seperti yg ada di cerita ini, yg memiliki sifat manja dan poloss trus dia anak perempuan satu-satunya juga. Karena cerita yg ini lucu aku suka🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!