Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir malah kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad, Elle bersumpah akan melawan kejahatan dan zombie.
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya, sebab Elle tidak sendirian. Disamping orang kepercayaannya, ia bertemu seseorang yang membuat hatinya berdebar. Tapi fakta yang disembunyikan oleh laki-laki ini, mampu membuat Elle kehilangan kendali atas dirinya. Sebab dialah yang bertanggungjawab atas situasi dan kondisi di dunia tersebut.
Bagaimana Elle mengatasi tantangan atas rasa sakit, dan perjuangan secara bersamaan? Mampukah ia pada akhirnya sampai ke garis akhir atas perjuangannya, atau justru mati digerus kejinya akhir dunia?
Yuk ikuti terus ceritanya ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakting
**
"Hahaha! Rasakan itu!" Teriak Elle seraya tertawa mengejek, menatap anjing kecil warna hitam kecoklatan didepannya yang terguling, terjerembab dibawah jerami basah.
Anjing kecil itu barusaja mendapatkan tembakan dari anak panah yang Elle tembakkan menggunakan panah otomatis dari sib-ruangnya. Ia menghindar beberapa kali, tapi Elle menghujaninya dengan banyak anak panah, jadi pada akhirnya meski anjing kecil ini berhasil menghindar, ia tetap terjerembab karena terdesak.
GRRRRR GRRRRRRR
Anjing kecil yang berhasil berdiri kembali dengan tegak langsung menyalak dan menggeram marah pada Elle. Membuat Elle kembali tertawa, melihat wajah kesal dan marahnya.
Dengan hujan anak panah, sebagian besar belahan diri anjing kecil juga berkurang. Khususnya yang berada didekat Elle dan berada didekat tubuh asli anjing kecil tersebut. Menyisakan beberapa puluh lagi, yang membuat Elle sedikit lega. Ratusan ekor anjing kecil galak tadi sangat merepotkan.
Ia harus menghindar dan terus berlari kesana kesini agar tidak terkena serangan mereka. Elle bahkan sempat masuk ke dalam sub ruangnya sebelum akhirnya keluar dan mulai menggunakan panah otomatis di masing-masing tangannya. Yang tersisa hanya tangannya, sulur-sulurnya sibuk menerangi tempat. Sedangkan sisa sulur yang ketujuh sudah tidak bisa ia keluarkan karena energinya sedikit terkuras.
Sulur yang ia keluarkan terbatas pada angka 7 dengan waktu yang terbatas juga. Jadi, saat ini ia tidak ingin bermain-main lagi. Elle mulai serius, menatap sekeliling masih dipenuhi belahan diri anjing kecil itu, ia pun mengurangi jumlah 2 sulur yang menerangi ruangan, membuat cahaya ruangan berubah remang.
Dsri ruang, ia mengambil peledak yang ia buat dengan mesiu di dunia kuno, melempar satu ke kiri dan kanan dengan santai, kemudian memasuki sub ruang untuk menghindari ledakan.
Anjing kecil yang merasa aneh, apalagi metika lagi-lagi melihat lawannya menghilang, telat menyadari akan ledakan yang datang.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
DAARRRR!
Suara keras menggema, peternakan berubah hancur, asap putih mengepul didalam peternakan yang sudah hancur. Elle kemudian keluar dengan perlengkapan perlindungan diri. Dan dengan cepat membuat sulur-sulur miliknya menerjang anjing kecil yang masih terkejut. Ketika akhirnya sulur Elle berhasil mengikat anjing tersebut, sudah telat baginya melarikan diri.
Elle lantas membawanya ke dalam ruang, membuat anjing kecil itu meraung marah, tapi tak lama ia menatap sekeliling, tertegun bingung dan merasa aneh.
"Ini tempatku, kau kalah! Ikutlah denganku, maka perutmu akan terus kenyang." Ucap Elle seraya tersenyum, tapi terlihat menyeramkan bagi anjing kecil yang saat ini terikat. Seolah melihat orang gila pintar, seperti seorang ilmuwan yang akan membedah sesuatu untuk kesenangannya.
Aung! Aung! Aung!
Anjing mutan kecil protes, dengan suara gonggongan kecil yang ia miliki sebelum ia mutasi. Dalam ikatan sulir, anjing ini sedikit menyusut karena takut. Dan inilah yang ditunggu Elle. Ia tidak diam, pertama-tama mengambil air pohon dengan pikirannya untuk diberikan pada anjing kecil.
"Minumlah." Titah Elle penuh penekanan, dengan tangan memegang belati. Membuat anjing tersebut minum air dibalik tekanan batin.
Elle tersenyum manis. Apalagi ketika anjing tersebut mulai minum dengan lahap. Setelah menghabiskannya, ia bahkan menatap Elle dengan wajah lucu khas anjing yang sedang merayu tuannya.
"Kau mau lagi?" Tanya Elle, dan ketika anjing tersebut menjawab dengan gonggongan kecil, Elle mengambilkan air lagi untuknya. Tapi kemudian, Elle merasakan seseorang mendekat, akhirnya ia keluar dari ruangan dengan cepat.
**
"Cepat selesaikan penyerapannya." Ucap Luca, yang tiba-tiba merasa khawatir. Jantungnya berdegup kencang, membuatnya tidak bisa menunggu lagi ia langsung berlari menuju peternakan.
BOOM! BOOM! BOOM! BOOM!
"TIDAK! ELLE!" Teriak Luca yang masih 1 meter jauhnya dari peternakan. Tangannya terulur, membuatnya seketika terhalang oleh dinding hitam.
"KAKAK!" Teriak Darrion, ketakutan menyergap dengan jantung berdegup kencang.
Shirley dengan cepat menahan Darrion yang hendak menerobos ledakan penuh asap dan pecahan kayu dari peternakan. Sedangkan orang-orang dibelakang, seketika menoleh dengan terkejut menatap ke arah ledakan.
"Tidak, tidak, apa yang aku lakukan, aku seharusnya mengikutinya masuk." Gumam Luca frustasi. Ia tidak peduli dengan dinding hitam didepannya, lanjut berlari memasuki peternakan yang masih dipenuhi asap.
Shirley dan Darrion lantas mengikuti, bahkan Sam dan Avin juga berlari dari jauh meninggalkan sapi mutan putih dan 3 orang lain di hummer.
Dengan tangan gemetar, Luca masuk perlahan. Ia hanya menutup hidung dengan baju, berjalan dengan hati-hati seraya beberapa kali berteriak. "Elle!" Teriak Luca menatap kiri kanan yang dipenuhi asap, menghalangi pandangannya.
Disisi lain, Elle mendengar teriakannya dan tahu ada seseorang. Jadi ia keluar, sekalian menarik anjing kecil yang sedang asyik minum. Membuatnya protes kecil, tapi kemudian diam ketika ditatap tajam olehnya.
Elle lantas membuat dirinya berantakan dan kotor, sebelum akhirnya berjalan mendekat ke sisi Luca yang sudah ia lihat dengan jelas siluetnya. Melihat Luca membelakanginya, Elle tersenyum kecil kemudian berbaring ditumpukan pecahan kayu dan membiarkan beberapa puing kayu diatas tubuhnya. Ia bahkan menarik anjing kecil itu ke pelukanya, dan menyuruhnya ikut berakting lemah.
Setelahnya, Elle membuat suara untuk menarik perhatian Luca. "Disini.." Ucap Elle dibuat lemah.
Luca berbalik, jantungnya masih berdegup tapi ia juga merasa lega. Elle masih hidup. Radarnya tidak menemukan dimana Elle sebelumnya tapi kini ia terlihat lagi. Tapi kekhawatiran Luca mengalahkan kecerdasannya, jadi ketika ia berada disisi Elle, Luca menggendongnya dan dengan cepat keluar dari tempat tersebut.
Anjing kecil itu masih ada dipelukan Elle. Tertidur dengan nyaman.
"Kakak!" Ucap Darrion yang berpapasan dengan keduanya. Tapi Luca tidak berhenti, ia berlari ke arah hummer dengan cepat, mencari Sasa agar ia menyembuhkan Elle yang terlihat lemah.
Dipelukan Luca, Elle mulai merasakan jantungnya berdebar. Raut khawatir dan suara kencang dari dada Luca terdengar jelas ditelinganya. Ia bahkan mengabaikan darah di sudut bibirnya, dan malah mendahulukan keselamatannya.
'Dia khawatir? Sungguh? Aku tidak dapat mempercayainya.' Ucapnya dalam hati. Menatap lekat wajahnya. Fitur wajah tampannya terlihat lebih jelas dari dekat. Hidung mancung, alis tebal, dan bulu mata panjang benar-benar fitur wajah yang baik. Meski kulitnya tidak putih, ia benar-benar tampan dan terlihat sangat maskulin.
Apalagi dadanya, 'Astaga, lumayan!' Pikirnya genit, tangannya tidak sengaja meraba dada Luca, mencuri kesempatan disaat Luca tidak memperhatikan. Elle tersenyum genit sebelum akhirnya sadar dan mulai terbatuk dengan lemah.
"Tahan.. Sebentar lagi sampai." Bisik Luca menenangkan, mengira Elle batuk karena rasa sakitnya. Padahal Elle batuk karena ia malu dengan pikiran dan tingkah lakunya.
"Sasa, Sasa, bantu aku memeriksa Elle. Bantu sembuhkan dia, oke?" Ucap Luca seraya mendudukkan Elle bersandar padanya disamping hummer. "Paman ambilkan inti kristal dan air." Lanjutnya beralih pada paman Jergh yang baru keluar dari hummer bersama Sasa.
**