Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bioskop
“Essa, kau akan pergi sekarang?” tanya Alex menghentikan Essa yang melangkah ke arah pintu. Sementara Alex, pria itu duduk menunggu sambil menikmati kopi dan menonton televisi .
Tidak biasanya, Alex menyalakan benda datar sebesar 50 inch itu. Tapi sekarang pria itu seolah menikmati pertunjukkan disetiap Chanel.
“Kenapa Om, apa kau akan melarangku lagi?”
Alex, mematikan TV lalu menyimpan remot di atas meja. Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku, Alex berjalan pelan ke arah Essa yang berdiri di depan pintu.
“Kau mau pergi dengan pakaian seperti itu?”
“Memang kenapa? Apa yang aku pakai ini salah?” tanya Essa, dengan emosi.
Alex, menatap tubuh Essa dari atas kepala hingga leher itu tidak masalah, justru Alex sangat menyukai gadis imut itu. Essa terlihat manis dengan rambut yang diikat di belakang, leher jenjangnya pun tertutup karena kerah jaket jeansnya. Hanya saja, kaos dibalik jaket itu yang terlalu ketat dan sexy.
Alex, mendesah pelan saat kulit putih di atas pusar itu terlihat, ditambah rok mini yang dipakai Essa, berhasil membelalakkan matanya.
“Ganti daleman jaketmu dan bawahanmu.”
“No!” Tegas Essa, memuat Alex melotot. “Jangan ngatur-ngatur pakaianku.”
“Essa!”
“Apa? Pokoknya aku tidak mau ganti. Aku harus pergi sekarang juga.”
Essa, mendelik tajam sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan apartemen.
Rasanya bagaimana Alex, ketika perintahmu ditolak. Padahal, sebelumnya Alex tidak pernah melarang Heyra, memakai pakaian terbuka. Tapi pada Essa, rasanya sangat cemas dan khawatir.
“Hai Essa!”
“Hai!”
Essa, melambaikan tangan ketika bertemu Eva di lobby bioskop. Ia berlari ke arah sahabatnya yang sudah menunggunya sejak tadi.
“Hai, Eva di mana Micha?”
“Mungkin sebentar lagi.”
“Tumben, pakaianmu tertutup Eva, tidak biasanya.” Essa, menelisik tubuh sahabatnya itu, memakai celana jeans panjang, dan t-shirt panjang. Wajah Eva pun terlihat berbeda, agak pucat dan … “Eva bibirmu.”
“Itu dia Micha sudah datang,” seru Eva, membuat pandangan Essa teralihkan ke arah Micha. Keningnya mengerut menatap Micha yang mengenakan syal. Padahal cuaca tidak dingin.
“Micha kenapa dengan lehermu?” tanya Essa, Micha langsung berbisik “Terlalu banyak tanda yang ditinggalkan Om ku.”
Sontak mata Essa terbelalak, sambil menggeleng ia berkata. “Kalian sungguh sangat kacau sekali.”
“Nanti juga kau merasakannya,” ejek keduanya menertawai Essa.
“Ayo kita masuk, o iya kita belum beli popcorn.”
“Biar aku saja, kalian tunggulah di sini,” seru Micha berlari mengantri popcorn dan pepsi.
Essa, terus melirik Eva yang duduk di sampingnya. Dia sangat ingin bertanya tentang luka di bibir sahabatnya itu, apa itu luka pukulan? Jika ia siapa yang melakukannya. Apa sugar daddynya.
“Eva,” panggil Essa memberanikan diri. “Eva aku ….”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan sekarang Essa, aku akan mengatakan pada kalian nanti. Untuk hari ini aku mohon … kita happy.” Mohon Eva, seolah tahu apa yang akan Essa tanyakan.
Tatapan sayunya seakan memohon membuat Essa hanya bisa mengangguk. Eva, pun tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu.
“Terima kasih Essa.”
“Kamu harus janji Eva, kamu akan jaga diri. Jika terjadi hal buruk ceritalah dan beritahu aku dan Micha.”
“Hmm, hanya kalian sahabat yang aku punya. Tentu saja aku akan cerita.” Mata Eva mulai berkaca, tapi sekuat mungkin ia tahan agar tidak terjatuh. Sementara Essa mengusap lembut punggung sahabatnya itu.
Micha datang membawa dua popcorn jumbo dan tiga pepsi. “Hei kalian bantulah aku!”
Essa, dan Eva segera melepas pelukannya beranjak dari duduknya berlari ke arah Micha. Essa mengambil dua Pepsi dan Eva mengambil satu popcorn. Mereka pun masuk ke dalam studio karena film yang akan mereka tonton sudah dimulai.
***
Alex, terus melihat arah jarum jam yang bergerak sangat lambat. Ia pun terus mengecek ponselnya tapi belum ada panggilan dari Essa, membuatnya semakin gelisah.
Sementara Essa, gadis itu kini masih asyik menonton. Tubuhnya hanya terpaku ketika adegan romantis di tampilkan, matanya tidak berkedip kala kedua tokoh di depan layar saling menautkan bibir tanpa sadar bibirnya ikut bergerak, mengecap seperti sedang lapar ingin memakan sesuatu.
Ditambah lagi ketika tokoh pria melepas pagutan yang lembut itu, mengangkat dagu si wanita dan menatapnya lembut. Sedetik mata Essa kembali membulat, kali ini adegan di depan layar begitu panas.
Sesuatu tertekan di dalam tenggorokan nya, dan sesuatu berdenyut di bawah sana. Sungguh sangat konyol, siapa yang memilih film itu jika bukan Micha dan Eva. Namun, kedua temannya hanya terkekeh.
“Micha kau yang memilih film ini?”
“Eva yang sarankan,” balas Micha sambil mengunyah popcorn.
“Kalian tidak bilang jika adegannya begitu v*lgar. Aku tidak ingin menontonnya lagi.”
“Hei, Essa kenapa kau marah. Ini, kan hanya film.”
“Justru itu karena film membuatku tersesat. Kau tahu, aku baru saja melakukan hal yang sama yang diajarkan dalam film kemarin.”
“O ya? Apa?”
Micha dan Eva begitu antusias. Mereka ingin mendengarkan lebih lanjut cerita Essa, apakah Essa berciuman, berpelukan atau berguling di atas kasur yang empuk. Sungguh kacau sekali otak mereka berdua, padahal Essa hanya memejamkan mata yang berharap akan dicium oleh Alex.
“Essa, ayo cerita.”
“Tidak ada!”
“Ck, kau ini,” umpat Micha. Lalu kembali menatap layar, sungguh terbelalak matanya senyumnya mengembang kala melihat adegan yang diinginkan.
Micha buru-buru menyuruh Eva dan Essa untuk menatap ke layar dengan paksaan Eva, wajah Essa akhirnya menghadap ke arah depan. Pemandangan yang sungguh tidak menguntungkan, kenapa Essa harus melihat adegan yang sama persis dengannya.
“Essa, kau harus belajar jika nanti kau melakukannya. Jika lelaki itu menciummu maka kau sesap bibirnya sampai tidak bernafas,” ucap Micha tanpa mengalihkan pandangannya pada layar.
“Dan jika dia memelukmu, maka kau dekap dengan erat jangan sampai terlepas.” Eva menyahuti.
“Dan jika hal itu terjadi maka kau akan merasakan seperti apa indahnya cinta,” ujar keduanya ketika kedua tokoh di dalam layar melakukan adegan mesra di atas ranjang.
Essa, sampai membayangkan jika di dalam sana adalah dirinya dan Alex, pikiran Essa mulai melayang bagaimana jika nanti malam Alex melakukannya, lelaki itu tidak ada alasan untuk tidak melakukannya, ditambah kamar mereka dalam satu ruangan.
Essa, langsung menggeleng. Ia beranjak dari kursinya lalu pergi keluar studio. Eva dan Micha yang melihatnya merasa aneh. Film belum usai Essa sudah pergi duluan.
“Essa, hey tunggu!”
Essa, terus berlari ke arah toilet. Duduk di atas closet sambil memejamkan mata. Nafasnya terengah-engah membayangkan adegan yang tadi, tanpa sadar bagian di bawah sana terasa basah.
Essa, mencari benda yang mungkin bisa mengeringkan cairan basahnya. Essa menemukan pembalut karena ia selalu membawanya kemanapun, Essa pun menggunakannya detik itu juga.
“Itu dia Essa.”
Micha dan Eva berdiri ketika Essa sudah keluar dari toilet.
“Essa, kau tidak apa-apa?” tanya Micha Essa hanya menggeleng.
“Ini semua karena mu Eva. Kau membawa bocah untuk nonton begituan jadinya seperti ini, kan,” ejek Micha.
“Kau menyalahkan ku?” Eva mendelik pada Micha. “Teman kita saja yang masih polos. Ya, sudah aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan mengajakmu menonton itu lagi.” Sesal Eva.
“Aku tidak apa-apa kok, lebih baik kita pulang saja.”
“Kau dijemput? Jika tidak aku yang akan mengantarmu,” ujar Micha tapi Essa menolak.
“Tidak perlu, aku dijemput kok.”
“Sama kakak iparmu? Baik sekali,” keluh Micha dengan manja.
“Aku duluan, ya.” Essa melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan bioskop. Di lobby Essa terus menghubungi Alex, bahkan mengirim pesan pada lelaki itu tetapi respon yang sama, Alex tidak menjawabnya.
Essa lagi-lagi marah dan kesal, satu jam sudah berlalu, Alex masih belum menghubunginya. Pria itu bilang khawatir tapi kemana saat ini, dia sama sekali tidak menjawab teleponnya.
“Sudah aku duga, dia bohong. Apa dia lupa atau bersama wanita. Seharusnya dia tidak usah berjanji.”
Essa menggerutu kesal, lalu pergi menghentikan taksi. Untung saja uang pemberian Alex, masih ada sisa sehingga Essa bisa membayar taksi.
Tiga puluh menit sudah jalanan dilewati, Essa sudah tiba di depan apartemen. Ia, mendongak ke atas melihat lampu apartemen masih menyala yang artinya Alex belum tidur tapi kemana pria itu sampai lupa menjemputnya.
Essa, memasuki area lobby lantas menaiki lift. Setibanya di depan pintu Essa ingin sekali bertemu dan memarahi Alex. Dia akan bertanya kenapa Alex, tidak menjemputnya. Bila perlu menghajar laki-laki itu.
Langkah Essa, sudah dekat. Tangannya mengepal menahan amarah lalu pintu terbuka.
“Om, kau ….”
Brukk
Mata Essa membulat seketika, tas digenggamnya langsung jatuh ketika melihat kedua orang dewasa yang saling bertukar saliva di depannya. Anehnya, hatinya merasa sakit, sakit tak berdarah saat ciuman itu Alex berikan untuk Heyra.
“Essa ….” Sedetik Alex dan Heyra menoleh.
...----------------...
double up nih, mana dong dukungannya 😙
Jangan lupa tinggalkan komentar setelah membaca, like, vote dan hadiahnya buat othor luv u all ❤️
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.