Bukan salah Mika hadir dalam rumah tangga Naya sebagai orang ketiga. Karena hadirnya juga atas permintaan Naya yang tidak ingin punya anak gara-gara obsesinya sebagai model. Mika melawan hati dengan rela menerima tawaran Naya juga punya alasan. Sang mama yang sedang sakit keras menghrauskan dirinya untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Sedangkan Naya sendiri, karena rasa bersalah pada suaminya, dia rela mencarikan istri untuk si suami.
Bukan salah orang ketiga. Ini murni kisah untuk Mika, Naya, dan Paris. Tidak sedikitpun aku terlintas di hati untuk membela orang ketiga. Harap memakluminya. Ini hanya karya, aku hanya berusaha menciptakan sebuah karya dengan judul yang berbeda untuk kalian nikmati. Mohon pengertiannya. Selamat membaca. Temukan suasana yang berbeda di sini. Dan, ambil pelajarannya dari kisah mereka. Bisakah cinta segitiga berjalan dengan bahagia? Atau malah sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*2
Naya terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sementara Paris kini sudah pun tiba di tempat parkir. Paris masuk ke dalam mobil dengan cepat. Air matanya yang berlinangan, kembali tumpah.
Kesal, sedih, marah, sakit hati. Semua teraduk jadi satu dalam hati Paris. Pria itu benar-benar jatuh sekarang. Paris menangis. Berulang kali dia pukul stir mobil sebagai pelampiasan rasa sakit yang sedang dia rasakan.
"Agh!"
"Hu hu hu." Sungguh, Paris benar-benar tergugu saat ini.
Beberapa saat kemudian, tanpa pikir panjang lagi, Paris langsung menyalakan mesin mobil. Menjalankan mobil itu untuk meninggalkan restoran tersebut. Tidak lagi dia pikirkan keadaan istrinya. Pulang sama siapa, apa yang akan terjadi dengan sang istri jika ia tinggalkan. Semua itu tidak lagi Paris pikirkan. Karena dalam benak si pria saat ini hanya ada kesedihan, rasa kecewa, juga putus asa dengan apa yang sudah istrinya perbuat.
Berulang kali terisak. Berulang kali pula dia seka air mata yang jatuh. Karena tidak fokus pada jalan, Paris tidak melihat di depannya sedang berhadapan dengan tikungan. Saat sadar, stir mobil langsung dia putar arah. Sayang, tetap saja dirinya harus terbentur dengan pembatas jalan.
Tapi untungnya, pria itu tidak mengalami benturan keras. Hanya kepalanya yang sedikit terbentur stir mobil. Walau begitu, tetap saja Paris merasa sangat pusing karena pukulan yang dia terima pada kepalanya barusan.
"Ah! Ssssttt." Paris memegang kepalanya dengan satu tangan.
Butuh waktu untuk Paris meredakan rasa sakit yang dia derita. Karena selain terbentur, mata yang sebelumnya terlalu banyak mengeluarkan air mata juga membuat kepalanya itu semakin terasa pusing. Paris terdiam di dalam mobilnya sekarang.
Saat itu, lewat seorang gadis yang sedang berjalan kaki. Gadis itu menyaksikan kecelakaan yang sedang Paris alami. Meskipun itu hanya kecelakaan kecil. Rasa simpati yang si gadis miliki tetap saja tidak bisa di bendung. Gegas gadis itu berjalan dengan langkah besar menghampiri mobil Paris.
"Halo."
"Pak. Mas. Ibu. Ah, apa saja. Apa anda baik-baik saja di dalam sana. Tolong buka pintu mobilnya." Mikaila berucap sambil mengetuk jendela kaca mobil tersebut.
Mendengar ucapan Mika, Paris langsung membuka pintu mobil miliknya. "Aku cukup baik," ucapnya sambil memegang kepala karena masih terasa pusing.
"Ya Tuhan. Tunggu sebentar, aku panggilkan ambulan." Mika berucap sambil merogoh tas punggung kecil miliknya.
Namun, gerakan Mika tertahan saat tangan Paris langsung mencengkram lengan Mika.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu memanggilkan ambulan untukku. Aku gak papa."
Mika tertegun sejenak dengan tatapan lekat tertuju ke wajah Paris. Beberapa detik hening. Detik berikutnya, Mika langsung melontarkan pertanyaan lagi pada pria asing yang baru saja dia temui.
"Anda yakin, Pak? Anda baik-baik saja?"
Paris sontak langsung menatap tajam wajah Mika. "Kan aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja barusan. Haruskah kamu pertanyakan kembali keadaan ku?"
Wajah kesal Mika sontak terlihat. "Hah? Heh ... aku hanya bertanya, Pak. Tidak perlu nge-gas gitu juga kali."
"Hah. Ya sudah kalo gitu. Jika anda memang bener baik-baik saja, saya akan pergi sekarang," ucap Mika lagi.
Baru juga Mika selesai berucap, rasa pusing yang Paris derita malah semakin kuat. Tubuh Paris hampir saja tumbang karena kehilangan keseimbangan akibat rasa pusing yang mendadak meninggi.
"Aduh!" Keluh Paris tiba-tiba sambil memegang kepala dengan satu tangan.
"Pak."
"Tolong saya. Tolong hubungi asisten saya sekarang juga."
"Hah! Ba-- bagaimana caranya?"
"Ambil ponsel saya di dalam ... mobil."
Mika gugup dan bingung. Tapi tetap saja dia melakukan apa yang Paris katakan. Sempat terbesit dalam pikiran kalau itu adalah modus penipuan. Tapi hati kecilnya malah sangat ingin mempercayai apa yang saat ini sedang dia alami. Hati itu yakin kalau pria yang saat ini ada di hadapannya adalah orang baik. Bukan sebaliknya.
"Ini ponselnya, Pak." Mika menyerahkan benda pipih yang baru saja berhasil dia keluarkan dari mobil milik si pria.
"Kepalaku pusing. Aku tidak bisa melihat dengan baik. Tolong kamu panggilkan kontak yang bernama Ramano untukku."
"Apa? Tapi, bagaimana cara membuka ponsel milikmu ini? Ponselnya terkunci, Pak."
"Astaga. Kodenya-- " Paris langsung menyebutkan beberapa buah angka yang tak beraturan. Itu adalah kombinasi tanggal bulan dan tahun. Mungkin, itu adalah tanggal penting untuk Paris.
Ponsel itu berhasil Mika buka. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mika langsung menghubungi nomor kontak yang Paris katakan. Berhasil tersambung. Seorang pria langsung memperdengarkan suaranya.
"Halo. Iya, pak Paris."
"Ha-- halo. Ini .... " Mika yang gugup malah mengantungkan kalimatnya. Hal tersebut membuat Paris kesal sampai merebut ponsel dari Mika.
"Rama. Jemput aku di persimpangan. Aku sedang mengalami kecelakaan kecil."
Terdengar suara panik di ujung sana. Setelahnya, panggilan itupun langsung berakhir. Paris yang sekarang duduk di mobil malah kembali menyerahkan ponselnya pada Mika.
"Anu, pak. Itu milik bapak, bukan milik saya." Mika berucap pelan.
"Ah. Hm."
"Pak. Kenapa tidak memanggil ambulan saja jika bapak beneran tidak baik-baik saja? Kenapa harus-- "
"Aku benci rumah sakit. Aku tidak suka suasananya. Jadi, aku tidak ingin ke sana."