NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi di Hutan Bambu

Sinar matahari pagi belum sepenuhnya menembus lebatnya Hutan Bambu Ungu di bagian belakang gunung Sekte Awan Hijau. Hutan ini adalah area terlarang bagi Murid Pelayan biasa karena dihuni oleh Hewan Roh tingkat rendah, namun bagi Murid Luar, ini adalah tempat latihan favorit untuk mengasah keberanian.

Bambu-bambu di sini unik. Batangnya berwarna ungu gelap dan sekeras besi. Saat angin bertiup, gesekan daun-daunnya menciptakan suara mendesing yang tajam, mirip suara pedang yang ditarik dari sarungnya.

Bagi kebanyakan orang, suara bising hutan ini mengganggu konsentrasi. Tapi bagi Ren Zhaofeng, ini adalah panggung orkestra terbaik.

Zhaofeng berdiri diam di tengah kerimbunan. Kain putih penutup matanya berkibar pelan. Di tangannya, Pedang Besi Karat terasa lebih ringan dari kemarin—efek dari otot lengan kanannya yang telah ditempa ulang oleh energi logam semalam.

"Penempaan Tubuh Tahap 2..." gumam Zhaofeng, mengepalkan tangan kirinya. "Tenagaku setara dengan dua ekor banteng. Tapi itu saja tidak cukup."

Di Sekte Awan Hijau, kebanyakan peserta ujian Murid Luar berada di Tahap 3 atau 4. Li Dong bahkan sudah di puncak Tahap 4. Mengandalkan tenaga kasar saja, Zhaofeng pasti kalah.

Dia harus mengandalkan kelebihannya: Presisi.

Zhaofeng mengangkat pedangnya. Dia tidak bergerak. Dia mendengarkan.

Swoosh... Keresek...

Suara hutan masuk ke telinganya. Dia memisahkan lapisan-lapisan suara itu. Suara bambu yang beradu. Suara embun yang menetes. Suara serangga tanah.

Dan... suara napas yang berat.

Sekitar lima puluh langkah di arah jam tiga.

Zhaofeng tersenyum tipis. "Akhirnya datang juga."

Seekor Serigala Angin. Hewan Roh Tingkat 1. Ukurannya sebesar anak sapi, dengan bulu abu-abu kaku dan taring yang bisa merobek baju zirah kulit. Serigala ini dikenal karena kecepatannya.

Serigala itu sedang mengendap-endap. Langkah kakinya diredam oleh bantalan kakinya yang tebal. Bagi kultivator biasa, serigala ini hampir tidak terdengar. Tapi bagi Zhaofeng, detak jantung hewan itu terdengar sejelas genderang perang.

Dug-dug... Dug-dug...

Zhaofeng sengaja membiarkan celah di pertahanannya. Dia berdiri santai, seolah-olah sedang melamun.

Serigala itu melihat peluang.

GRAAA!

Dengan ledakan kecepatan, serigala itu melompat dari semak-semak. Cakar depannya terarah ke leher Zhaofeng, mulutnya terbuka lebar siap menggigit.

Di mata orang biasa, serangan itu hanyalah bayangan abu-abu.

Tapi di telinga Zhaofeng, waktu seolah melambat.

Dia mendengar kontraksi otot paha belakang serigala itu sesaat sebelum melompat. Dia mendengar gesekan udara yang terbelah oleh cakar tajamnya.

"Terlalu bising," bisik Zhaofeng.

Dia tidak mundur. Dia melangkah maju satu langkah, masuk ke dalam jangkauan serangan lawan—sebuah langkah berisiko tinggi yang disebut Memasuki Gua Harimau.

Tubuhnya berputar, menghindari cakar serigala dengan jarak sehelai rambut.

Bersamaan dengan itu, pedang karat di tangan kanannya bergerak. Bukan tebasan liar, melainkan tusukan pendek yang efisien ke arah titik suara detak jantung terkeras.

JLEB!

Suara daging yang ditembus logam tumpul terdengar meredam.

Zhaofeng telah menusukkan ujung pedangnya tepat ke bawah ketiak kaki depan serigala itu, langsung menuju jantung.

Serigala Angin itu mengejang di udara, momentum lompatannya terhenti seketika.

Zhaofeng menarik pedangnya dan melompat mundur.

Bruk.

Bangkai serigala itu jatuh ke tanah. Darah segar mengalir, membasahi tanah yang tertutup daun bambu kering.

"Satu serangan," Zhaofeng mengangguk puas. "Tidak ada tenaga yang terbuang."

Pedang karat di tangannya bergetar pelan, seolah senang telah mencicipi darah Hewan Roh. Meskipun darah ini tidak sekuat esensi logam dari bijih meteorit kemarin, pedang itu tetap menyerap sedikit energi darah yang menempel di bilahnya, membuatnya semakin "hidup".

Zhaofeng berjongkok di samping bangkai itu. Dengan terampil, dia membedah dada serigala itu dan mengambil sebuah kristal kecil seukuran kelereng yang berwarna hijau pudar.

Inti Monster Tingkat 1.

"Harganya mungkin dua atau tiga Batu Roh di sekte," hitung Zhaofeng. "Cukup untuk membeli beras spiritual selama seminggu."

Namun, saat dia hendak menyimpan inti monster itu, telinganya menangkap suara lain.

Bukan suara hewan. Suara langkah kaki manusia. Lebih dari satu.

Langkahnya ringan, cepat, dan teratur. Kultivator.

"Siapa di sana?!" seru suara perempuan yang jernih namun angkuh.

Zhaofeng berdiri, menyembunyikan inti monster itu ke balik lengan bajunya. Dia menoleh ke arah sumber suara, wajahnya tetap datar di balik kain penutup mata.

Tiga orang muncul dari balik pepohonan bambu.

Dua laki-laki berpakaian Murid Luar, dan seorang perempuan cantik di tengah yang mengenakan jubah sutra ungu mewah.

Zhaofeng mengenali "suara" perempuan ini. Atau lebih tepatnya, aroma parfum bunga plum mahal yang dipakainya.

Dia adalah Liu Mei, putri dari seorang Tetua Sekte Luar. Terkenal manja, sombong, dan berbakat lumayan. Kultivasinya sudah di Penempaan Tubuh Tahap 3 Puncak.

"Oh? Ternyata si Penyapu Buta," kata Liu Mei, nada suaranya berubah dari waspada menjadi meremehkan. Dia melirik bangkai serigala di kaki Zhaofeng dengan tatapan kaget, lalu berubah menjadi serakah.

"Kau membunuh Serigala Angin ini?" tanya salah satu pengawal laki-lakinya, tidak percaya.

"Keberuntungan," jawab Zhaofeng singkat, membungkuk sedikit. "Hewan ini sudah terluka saat saya menemukannya. Saya hanya menyelesaikan sisanya."

Zhaofeng berbohong. Dia tidak ingin menonjolkan diri sebelum ujian. Menjadi terlalu mencolok saat masih lemah hanya akan mengundang masalah.

Liu Mei mendengus. "Tentu saja cuma keberuntungan. Mana mungkin orang buta Tahap 1 bisa membunuh Serigala Angin."

Mata Liu Mei kemudian tertuju pada tangan Zhaofeng yang mengepal.

"Hei, Buta. Serahkan Inti Monster-nya," perintah Liu Mei sambil mengulurkan tangan lentiknya. "Kami sudah melacak serigala ini sejak tadi pagi. Itu buruan kami yang lari."

Zhaofeng mengerutkan kening di balik kainnya. Bohong.

Detak jantung Liu Mei stabil, tidak ada tanda-tanda kelelahan akibat pengejaran. Napas mereka juga teratur. Mereka baru saja tiba di sini dan ingin merampok hasil buruannya.

"Maaf, Kakak Senior Liu," kata Zhaofeng tenang. "Serigala ini tidak memiliki luka lama. Saya membunuhnya sendirian. Menurut aturan sekte, hasil buruan di hutan bebas adalah milik siapa yang membunuh."

Wajah cantik Liu Mei berubah masam. Jarang ada Murid Pelayan yang berani membantahnya.

"Kau berani bicara aturan denganku?" Liu Mei maju selangkah, menekan Zhaofeng dengan aura Tahap 3-nya. "Ayahku adalah Tetua Disiplin Sekte Luar. Aturanku lebih tinggi dari aturanmu."

Dua pengawal laki-lakinya tertawa mengejek, tangan mereka mulai meraba gagang pedang. "Sudahlah, serahkan saja. Daripada kami ambil paksa dan kau patah tulang sebelum ujian bulan depan."

Zhaofeng menghela napas panjang.

Dunia ini memang tidak pernah berubah. Di pasar, di hutan, di istana... yang kuat selalu mencoba memakan yang lemah.

Dia menggenggam erat gagang pedang karatnya. Dia tidak ingin bertarung melawan tiga orang sekaligus, terutama karena Liu Mei punya latar belakang merepotkan. Tapi dia juga tidak akan menyerahkan hasil kerja kerasnya begitu saja.

"Kakak Senior," kata Zhaofeng, suaranya merendah. "Inti Monster ini hanya bernilai 3 Batu Roh. Apakah layak bagi reputasi Kakak Senior Liu untuk meributkan recehan dengan seorang pelayan buta?"

Liu Mei terdiam sejenak. Kata-kata Zhaofeng menyerang egonya. Jika tersebar kabar dia menindas orang buta demi 3 batu roh, reputasinya sebagai "Dewi Sekte Luar" akan tercoreng.

"Cih, lidahmu tajam juga," Liu Mei menarik tangannya kembali dengan kesal. "Kau benar. Aku tidak butuh sampah semurah itu."

Dia menatap Zhaofeng dengan tatapan tajam. "Tapi ingat ini, Buta. Jangan kira karena kau beruntung hari ini, kau bisa sombong. Di Ujian Murid Luar nanti, tidak ada tempat untuk keberuntungan."

"Ayo pergi!" Liu Mei berbalik dan melangkah pergi dengan hentakan kaki kasar.

Dua pengawalnya meludah ke tanah sebelum mengikuti majikan mereka. "Awas kau nanti."

Zhaofeng mendengarkan langkah mereka menjauh sampai benar-benar hilang. Baru kemudian dia mengendurkan cengkeramannya pada pedang.

Punggungnya basah oleh keringat dingin.

Bukan karena takut, tapi karena menahan diri. Tadi, saat Liu Mei menekannya, pedang karat di tangan Zhaofeng berdengung pelan, meminta darah. Hati Pedang-nya hampir bereaksi secara instan untuk menebas leher Liu Mei.

"Belum waktunya," bisik Zhaofeng menenangkan pedangnya. "Kita butuh panggung yang lebih besar untuk menunjukkan taring."

Dia memungut bangkai serigala itu—kulit dan dagingnya juga bisa dijual—lalu berjalan kembali ke gubuknya.

Satu Inti Monster sudah didapat. Tapi untuk mencapai Tahap 3, dia butuh lebih banyak. Dan yang lebih penting... dia butuh teknik pedang yang sesungguhnya.

"Besok," batinnya. "Aku akan ke Perpustakaan Sekte. Dengan uang hasil jual serigala ini, aku bisa menyewa satu jam di lantai dasar."

Zhaofeng tidak bisa melihat tulisan di buku. Tapi dia punya cara lain untuk "membaca".

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!