Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjengkelkan
Anya memutar bola mata, merasa muak dengan drama yang sedang terjadi di hadapannya. "Seharusnya tahu diri," celetuk Anya dengan nada sinis yang menusuk.
Awalnya, ia memang berniat untuk tidak ikut campur, tetapi melihat tingkah kedua orang itu, rasa jengkelnya semakin memuncak. Bukannya ia membela Arga, hanya saja ia tidak suka melihat Arga diintimidasi oleh mereka. Karena yang berhak menindas Arga hanyalah dirinya seorang.
Pramudya menghela napas panjang, merasa lelah melihat ketegangan di antara mereka. "Sudahlah, jangan bersedih, Rini, Galen. Tidak masalah jika Galen ingin memanggil saya 'Ayah'. Dan Arga, Ayah akan selalu menjadi ayahmu, tidak ada yang bisa merebut Ayah darimu," ucap Pramudya, berusaha menengahi.
Senyum kemenangan tersungging di bibir Galen, sementara Rini, ibunya, yang sedari tadi memasang tampang sedih palsu, kini tersenyum lebar, seolah mengejek Anya secara terang-terangan.
"Karena semuanya sudah berkumpul, bagaimana kalau kita makan bersama saja?" ajak Pramudya, berusaha mencairkan suasana yang semakin tidak nyaman.
Anya tersenyum tipis, namun matanya menatap tajam Rini dan Galen. "Terima kasih atas tawarannya, Ayah, tapi sepertinya saya dan Arga sudah ada janji lain. Mungkin lain waktu saja," ucap Anya, menggandeng tangan Arga erat.
Senyum Rini semakin melebar, seolah mengabaikan penolakan Anya. "Ah, jangan begitu, Anya. Kita kan baru bertemu. Tidak sopan menolak ajakan orang yang lebih tua. Ayolah, anggap saja ini sebagai perayaan pernikahanmu dengan Arga," ucap Rini dengan nada manis yang dipaksakan, sulit untuk ditolak.
Anya benar-benar tidak ingin makan bersama mereka. Kehadiran Rini dan Galen membuatnya sangat jengkel dan ingin segera pergi dari sana.
"Baiklah, kalau begitu," jawab Anya dengan nada terpaksa. Ia menoleh ke arah Arga, meminta persetujuan. "Arga, bagaimana denganmu?"
"Arga tidak mau, Anya. Arga hanya mau makan sama Ayah dan Anya saja. Arga tidak mau makan sama mereka," ucap Arga dengan kepala tertunduk, suaranya lirih namun tegas.
Pramudya tampak bingung dengan sikap putranya yang tiba-tiba berubah. "Nak, tidak boleh bicara seperti itu. Tidak baik," tegur Pramudya dengan lembut.
Dalam hati, Anya tersenyum puas. Ternyata Arga juga merasakan hal yang sama, tidak menyukai kehadiran kedua orang itu.
"Arga, kalau memang kehadiran kami membuatmu tidak nyaman, sebaiknya kami pergi saja," celetuk Galen dengan nada dibuat-buat sedih.
Galen dan ibunya berpura-pura hendak pergi, namun suara Pramudya menghentikan langkah mereka. "Rini, Galen, jangan seperti ini. Mungkin suasana hati Arga sedang tidak baik," ucap Pramudya dengan nada membujuk.
"Tapi, Ayah, Ayah sudah mendengar sendiri, kan? Arga tidak mau makan bersama aku dan Ibu," sahut Galen dengan raut wajah sedih yang berlebihan.
Anya menyilangkan kedua tangan di dada, menatap tajam kedua orang di hadapannya dengan ekspresi datar.
Pramudya menggenggam tangan Galen, mencoba mencairkan suasana. "Jangan berkata seperti itu, kita ini keluarga. Alangkah baiknya jika kita bisa makan bersama dengan rukun," bujuk Pramudya dengan nada penuh harap, matanya bergantian menatap Anya dan Arga.
Kemudian, Pramudya mengalihkan tatapannya pada Arga, kali ini dengan ekspresi lebih serius. "Arga, Ayah hanya meminta satu hal. Makan bersama, Ayah harap kamu bisa mengabulkannya," ucap Pramudya dengan nada yang tak terbantahkan, namun tersirat permohonan di dalamnya.
Arga tetap menunduk dalam diam, enggan menanggapi. Anya mendecih pelan, merasa muak dengan drama yang terjadi di depannya.
"Arga mengangkat wajahnya, matanya memerah dan berkaca-kaca. "Baiklah, Arga mau," ucapnya lirih, namun jelas terdengar bahwa ia sangat terpaksa. Anya merasakan ketegangan yang luar biasa pada tubuh Arga, dan ia tahu ini adalah keputusan yang salah.
Rini dan Galen saling bertukar pandang, kemudian tersenyum licik. "Nah, begitu lebih baik. Kita ini keluarga, harus saling menyayangi dan menghormati," ucap Rini dengan nada manis, membuat Anya merinding jijik.
Pramudya merangkul bahu Galen dan Arga, membawa mereka berjalan berdampingan. Mereka bertiga berjalan di depan, sementara Anya dan Rini mengikuti dari belakang.
"Menjijikkan," gumam Anya sangat pelan, namun Rini yang berjalan di sampingnya masih bisa mendengar.
Rini membalas gumaman Anya dengan senyum sinis. "Lihat, betapa sayangnya Pramudya pada anakku," sindir Rini dengan nada penuh kemenangan.
Anya hanya bisa mengepalkan tangannya, berusaha meredam emosi yang bergejolak dalam dirinya. Ia tahu betul arti senyum kemenangan Rini.
"Jangan terpancing," bisik Anya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan diri.
Suasana di ruang makan terasa menyesakkan. Pramudya duduk di ujung meja, diapit oleh Galen dan Arga.
Anya dan Rini duduk berhadapan di sisi yang berlawanan, saling melempar pandang dengan tatapan penuh kekesalan.
Pramudya berdeham, berusaha memecah keheningan yang terasa mencekik. "Ayo, silakan dinikmati," ucap Pramudya, mencoba tersenyum ramah.
Semua orang mulai mengambil makanan, kecuali Arga. Ia hanya menunduk dalam diam, memutar-mutar garpu di atas piringnya tanpa menyentuh sedikit pun makanannya.
Suasana hening menyelimuti ruang makan, hanya suara dentingan peralatan makan yang sesekali memecah kesunyian.
Pramudya menatap Arga dengan khawatir. "Arga, kenapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak suka makanannya?" tanya Pramudya dengan nada lembut.
Arga tetap membisu, hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Rini tersenyum tipis, menikmati drama yang tersaji di depannya. "Mungkin Arga sedang tidak enak badan, Mas,"
"Arga tidak mau," ucap Arga dengan suara lirih yang hampir tak terdengar.
"Ayolah, Arga. Makanlah. Apa kamu mau disuapi oleh istrimu tercinta?" tanya Rini dengan nada menggoda.
Anya, yang sedari tadi diam tak bersuara, tiba-tiba berhenti mengunyah makanannya saat mendengar namanya disebut oleh wanita menjengkelkan itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Rini dengan tatapan setajam belati.
"Anya, kenapa kamu tidak membujuk suamimu? Sebagai istri yang baik, seharusnya kamu membujuknya untuk makan," ucap Rini lagi, sengaja memancing emosi Anya.
"Arga, apa kamu tidak malu bersikap seperti anak kecil di depan istrimu?" tanya Galen dengan nada datar namun tersirat ejekan.
Rini tersenyum sinis lalu menyahut ucapan anaknya. "Galen, tidak baik berbicara seperti itu. Anya pasti sudah tahu kalau Arga memang memiliki sikap kekanakan,"
Anya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan amarahnya yang semakin membara. "Saya sudah tahu, dan saya sangat paham tentang Arga, Tante. Walaupun pernikahan kami baru berjalan beberapa hari," ucap Anya dengan penekanan di setiap kata.
"Wah, sepertinya Arga memang beruntung mendapatkan istri yang pengertian," timpal Rini dengan nada meremehkan."
"Baiklah, kalau Arga memang tidak mau makan, nanti biar Ayah buatkan susu saja," ucap Pramudya dengan nada lembut.
Galen menyeringai sinis. "Ayah, jangan berbicara seperti itu. Pasti Anya merasa tidak nyaman,"
Pramudya menoleh ke arah Anya dengan ekspresi bersalah. "Maafkan Ayah, Anya, atas kebiasaan Arga yang masih suka minum susu,"
Anya memaksakan senyum. "Ayah, sepertinya Ayah lupa. Beberapa hari lalu, Arga memang sempat bertanya tentang susu pada Ayah, kan? Itu karena aku yang menyuruhnya menanyakan bagaimana cara membuatnya dan apa nama susunya. Jadi, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya," ucap Anya, berusaha meyakinkan Pramudya sekaligus memberikan peringatan terselubung pada Rini dan Galen bahwa dirinya tidak mudah diremehkan.