Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Mulai Bangkit
.
Setelah mendengar cerita putranya yang begitu menyesakkan, dan setelah mereka berdua sama sama merasa tenang, Bu Maryam menggandeng Riko menuju dapur. Aroma masakan yang menggugah selera langsung menyerbu indra penciuman Riko, membuatnya merasa kelaparan setelah seharian dilanda emosi yang menguras tenaga.
"Duduklah di sini, Nak," ucap Ibu Maryam lembut, menunjuk sebuah kursi kayu di dekat meja makan. "Biar Ibu siapkan makan buat kamu."
Riko duduk dengan lesu, memperhatikan ibunya yang sibuk menyiapkan makanan. Ia merasa bersalah karena telah membuat ibunya khawatir dan bersedih.
"Jangan melamun terus, Nak," tegur Ibu Maryam lembut. "Makanlah dulu. Kamu pasti lapar."
Riko mengangguk. Ia memang lapar. Sepulang kerja, di rumah Laras belum sempat bertemu makanan malah mendapati istrinya berselingkuh. Riko mulai menyantap makanan yang telah disiapkan ibunya. Makanan sederhana, namun terasa begitu nikmat. Sentuhan kasih sayang ibunya seolah menyembuhkan luka di hatinya.
Setelah selesai makan, Ibu Maryam duduk di hadapan Riko dan menatapnya dengan tatapan yang penuh perhatian dan kasih sayang. "Sudahlah, Nak," ucap Ibu Maryam lembut, mengusap tangan Riko. "Jangan bersedih lagi. Semua akan baik-baik saja."
Riko menatap ibunya dengan tatapan yang penuh keraguan. "Baik-baik saja bagaimana, Ibu?" tanya Riko dengan suara yang lirih. "Aku telah kehilangan segalanya. Aku telah dipermainkan dan dikhianati. Bukan harta, tapi aku telah kehilangan harga diriku."
Ibu Maryam menggenggam tangan Riko dengan erat. "Ibu tahu, Nak," ucap Ibu Maryam dengan lembut. "Tapi, kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus bangkit dan membuktikan diri. Jangan biarkan mereka melihatmu terpuruk."
"Bagaimana caranya, Ibu?" tanya Riko dengan nada yang putus asa. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku benar-benar sudah hancur."
Ibu Maryam tersenyum lembut. "Mulai dari dirimu sendiri, Nak," ucap Ibu Maryam dengan bijak. "Lupakan masa lalu yang menyakitkan. Fokuslah pada masa depan. Kamu anak ibu yang hebat. Kamu pasti bisa meraih apapun yang kamu inginkan."
Kata-kata ibunya menyentuh hati Riko. Benar. Bukankah sejak awal dia mengatakan pada Laras bahwa ia akan membuat wanita itu menyesal? Kenapa sekarang menjadi lemah?
Tidak! Tidak boleh seperti ini! Ia harus bangkit dan membuktikan diri. Ia harus menunjukkan kepada Laras dan keluarganya bahwa lepas dari mereka, ia justru bisa sukses.
Riko menatap ibunya dengan tatapan yang penuh tekad. "Ibu benar," ucap Riko dengan suara yang lebih mantap. "Aku pasti bisa! Aku akan membalas semuanya!”
Ibu Maryam menggelengkan kepala. "Kamu ingin membalas dendam?" tanya Ibu Maryam dengan nada yang sedikit khawatir.
"Bukan dengan kekerasan, Ibu," sela Riko cepat. "Tapi dengan kesuksesan. Aku ingin membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa meraih apa yang mereka miliki, bahkan lebih."
Ibu Maryam menghela napas lega. "Itu baru anak Ibu," ucap Ibu Maryam dengan bangga. "Ibu akan selalu mendukungmu."
Riko tersenyum dan memeluk ibunya erat. "Terima kasih, Ibu," ucap Riko dengan tulus. "Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu."
*
*
*
Keesokan harinya, Riko kembali bekerja sebagai penjaga keamanan di Jaya Elektronik. Mungkin, pekerjaan itu tidak akan membuatnya kaya raya, tapi setidaknya, ia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu ibunya. Untuk bisa membalas dendam pada Laras dan keluarganya, ia harus sukses dulu, dan untuk sukses, ia butuh uang. Dan uang hanya bisa didapatkan jika dia bekerja. Ia akan mengumpulkan uang untuk sedikit demi sedikit.
Riko telah mengenakan seragam satpamnya dan berangkat kerja. Ia menyapa teman-temannya dan menjalankan tugasnya dengan penuh semangat.
Selama bekerja, Riko terus memutar otak, mencari cara untuk meningkatkan penghasilannya. Dikala senggang ia membuka ponselnya dan membaca banyak artikel tentang bisnis dan investasi. Ia mengikuti seminar-seminar online tentang kewirausahaan, membaca berita dari para mentor tentang cara meraih kesuksesan.
Untuk sukses, ia tidak hanya butuh uang, tapi juga pengetahuan, keterampilan, dan jaringan. Ia harus terus belajar dan berkembang agar bisa bersaing di dunia yang semakin kompetitif.
*
Suatu hari, saat sedang bertugas di depan toko, Riko melihat seorang pria yang tampak kebingungan mencari sesuatu. Riko melihat ke dalam toko, dan temannya yang bertugas melayani pembeli tidak terlihat barangkali mereka sedang makan siang. Ia pun menghampiri pria itu dan menawarkan bantuan.
"Maaf, Pak," ucap Riko dengan sopan. "Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu menoleh dan tersenyum. "Oh, iya, Mas," ucap pria itu. "Saya sedang mencari laptop yang cocok untuk bisnis online. Tapi, saya tidak tahu mana yang bagus."
Riko tersenyum. "Kebetulan, saya cukup tahu tentang laptop, Pak," ucap Riko. "Saya bisa bantu Bapak memilihkan laptop yang sesuai dengan kebutuhan Bapak."
Pria itu tampak senang. "Wah, kebetulan sekali," ucap pria itu.
Riko kemudian menunjukkan berbagai macam laptop yang tersedia dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ia memberikan rekomendasi yang jujur dan objektif, tanpa berusaha mempromosikan produk tertentu.
Pria itu terkesan dengan pengetahuan dan keramahan Riko. Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli sebuah laptop yang direkomendasikan oleh Riko.
"Terima kasih banyak, Mas," ucap pria itu sambil menjabat tangan Riko. "Anda sangat membantu. Kalau tidak ada Anda, saya pasti bingung mau pilih yang mana."
Riko tersenyum. "Sama-sama, Pak," ucap Riko. "Semoga laptopnya bermanfaat."
Baru saja Riko selesai melayani pria paruh baya itu kebetulan Pak Jaya datang saat pria tua paruh baya itu akan melakukan pembayaran. Ternyata, sejak awal Pak Jaya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Riko. Caranya melayani, caranya mempromosikan produk, Riko benar-benar pintar.
Setelah pria itu pergi, Pak Jaya memanggil Riko. "Riko, kamu hebat," ucap manajer toko. "Kamu berhasil meyakinkan pelanggan untuk membeli laptop yang mahal. Kamu memang satpam yang luar biasa."
Riko tersenyum. "Terima kasih, Pak," ucap Riko. "Saya hanya melakukan apa yang saya bisa.”
Pak Jaya menepuk pundak Riko. "Kamu pantas mendapatkan penghargaan," ucap manajer toko. "Mulai besok, kamu akan dipindahkan ke bagian penjualan. Kamu akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dan komisi dari setiap penjualan yang kamu lakukan."
"Apa, Pak? Bapak serius?” Riko terkejut dan senang mendengar kabar itu. Ia tidak menyangka, pengetahuannya akan membawanya menuju kesempatan yang lebih baik.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Riko dengan tulus. "Saya tidak akan mengecewakan Bapak."
Manajer toko tersenyum. "Saya percaya padamu, Riko," ucap manajer toko. "Kamu punya potensi yang besar. Manfaatkanlah kesempatan ini sebaik mungkin."
Mulai hari itu, Riko resmi menjadi bagian dari tim penjualan Jaya Elektronik. Ia selalu berusaha. memberikan pelayanan yang terbaik kepada setiap pelanggan, mendengarkan keluhan mereka, dan memberikan solusi yang tepat. Ia tidak hanya berusaha untuk menjual produk, tapi juga membangun hubungan yang baik dengan pelanggan.
Berkat kerja keras dan dedikasinya, dalam satu bulan saja Riko berhasil meraih target penjualan yang tinggi. Ia menjadi salah satu penjual terbaik di Jaya Elektronik. Ia mendapatkan gaji yang besar dan komisi yang menggiurkan.
Ia menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk memenuhi kebutuhan ibunya dan menabung untuk masa depan.
*
Hari terus berganti dan hidup Riko mulai berubah. Ia telah membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa sukses setelah dikhianati.
Namun, kesuksesan Riko tidak membuatnya sombong dan lupa diri. Ia tetap rendah hati di hadapan teman-temannya. Karena itulah teman-temannya menyukainya. Tak satupun diantara mereka yang menyimpan rasa iri dengki. Membuat Riko pun nyaman dalam bekerja.
Riko kenapa bodoh sekali ya 🤦