Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya roh pedang
Malam semakin larut di Desa Harapan. Suara serangga malam bersahutan dengan deru rendah air terjun yang jatuh menghantam bebatuan di ujung lembah. Di saat warga lain telah terlelap dalam mimpi indah pertama mereka setelah sekian lama, Zhou Yu masih terduduk di atas sebuah batu datar tepat di depan aliran air yang menderu.
Di pangkuannya, sebuah pedang tua yang ia temukan saat pelarian dari tambang tampak berpendar redup. Bilahnya yang berwarna hitam,sesekali memancarkan cahaya abu abu pekat, seirama dengan detak jantung Zhou Yu.
Tiba-tiba, sebuah getaran hebat merambat dari gagang pedang ke telapak tangan Zhou Yu. Kepalanya terasa pening, dan pandangannya mengabur. Dalam sekejap, kesadarannya seolah ditarik paksa ke dalam sebuah ruang hampa yang dingin.
"Anak muda... sampai kapan kau hanya akan memandangi air itu seperti orang bodoh?"
Sebuah suara berat dan berwibawa menggema di dalam benak Zhou Yu. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia biasa ada aura kuno yang bergetar di dalamnya, namun terselip sedikit nada ketidaksabaran yang tajam.
Zhou Yu tersentak. "Siapa itu? Tunjukkan dirimu!"
Cahaya biru di pedang itu melesat keluar, membentuk bayangan transparan seorang pria paruh baya namun gagah berambut putih panjang yang mengenakan jubah perak megah. Sosok itu berdiri di atas permukaan air terjun, menatap Zhou Yu dengan mata yang tajam seperti ujung belati.
"Aku adalah Han Shui, roh pedang yang bersemayam dalam besi ini," ucap sosok itu. Ia mendengus kesal saat melihat ekspresi bingung Zhou Yu. "Cepatlah! Aku tidak punya waktu lama untuk menunggumu menutup mulutmu yang menganga itu. kita di pertemukan oleh takdir, tapi melihat tubuhmu yang lemah ini... sungguh menyedihkan!"
Zhou Yu tersinggung, namun ia bisa merasakan kewibawaan yang luar biasa dari roh tersebut. "Aku baru saja memimpin orang-orangku menuju kebebasan. Aku tidak punya waktu untuk belajar ilmu sihir atau apapun ini!"
"Bodoh!" Han Shui membentak, membuat air terjun di belakangnya sempat terhenti sesaat karena tekanan energinya. "Kebebasan tanpa kekuatan hanyalah pinjaman dari maut. kau baru saja membuat masalah besar, kemungkinan musuh menyerang sangat besar, dan saat itu terjadi, kau hanya akan melihat orang-orangmu dibantai kembali jika kau tetap selemah ini!. Sekarang, masuklah ke bawah air terjun itu!"
Pada awal nya Zhou Yu sedikit ragu namun setelah memikirkan nya dengan lebih matang tanpa membantah lagi, didorong oleh rasa tanggung jawab dan ketakutan akan masa depan, Zhou Yu melangkah masuk ke dalam kolam air yang dinginnya menusuk sumsum. Ia berjalan hingga tepat di bawah jatuhnya air terjun. Hantaman air itu terasa seperti ribuan palu yang memukul pundaknya sekaligus.
"Duduk!" perintah Han Shui, yang kini melayang tepat di depan wajah Zhou Yu. "Tutup matamu. Rasakan aliran air itu, jangan melawannya. Kau adalah bagian dari air, dan air adalah bagian dari alam."
Zhou Yu mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Rasa dingin mulai membuat tubuhnya membiru. "Ini... terlalu berat... aku tidak bisa bernapas..."
"Tahan!" bentak Han Shui lagi, meski kali ini suaranya sedikit lebih lembut, menunjukkan sisi bijaksananya. "Dengarkan aku, bocah. Kultivasi bukan tentang menumpuk kekuatan, tapi tentang menyelaraskan jiwamu dengan energi alam semesta atau Qi. Air terjun ini adalah guru terbaikmu. Ia jatuh dengan keras, namun ia tidak pernah patah. Ia mengikuti wadahnya, namun ia bisa menghancurkan batu yang paling keras sekalipun."
Zhou Yu mencoba meresapi kata-kata itu. Ia berhenti melawan hantaman air dan mulai membiarkan tubuhnya menjadi rileks. Ia membayangkan dirinya adalah air yang mengalir. Perlahan, rasa sakit itu mulai memudar, digantikan oleh sensasi hangat yang muncul dari pusarnya ,titik Dantian.
"Bagus," gumam Han Shui. "Sekarang, tarik napasmu sedalam mungkin. Rasakan energi dingin dari air terjun ini masuk melalui pori-porimu, lalu ubahlah menjadi panas di dalam dadamu. Salurkan energi itu ke pedang."
Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang dramatis. Cahaya kelabu dari pedang Zhou Yu mulai menyatu dengan cahaya keemasan tipis yang keluar dari tubuhnya. Di tengah kegelapan malam, pemuda itu tampak seperti sebuah lentera di tengah amukan air.
Namun, meditasi itu tidak berjalan mulus. Bayangan-bayangan kelam dari masa lalu di tambang mulai muncul kembali dalam benak Zhou Yu. Suara cambuk, rintihan penduduk yang tewas, dan wajah kejam para penjaga kekaisaran menghantuinya.
Energi di sekitar Zhou Yu menjadi tidak stabil. Air di sekelilingnya mulai bergolak hebat.
"Jangan biarkan amarahmu menguasaimu!" teriak Han Shui. "Jika kau membiarkan emosimu meledak sekarang, jiwamu akan hancur!"
"Aku tidak bisa melupakannya!" teriak Zhou Yu di tengah deru air terjun. Air mata mulai mengalir di pipinya, menyatu dengan air sungai. "Mereka mati karena aku tidak cukup kuat! Aku memikul nyawa mereka!"
Han Shui terdiam sejenak. Ia melihat penderitaan yang begitu dalam di mata pemuda itu. Sang roh pedang melayang mendekat, meletakkan jari di dahi Zhou Yu.
"Kesedihan adalah air yang tenang, namun amarah adalah banjir yang merusak," ucap Han Shui dengan nada yang sangat bijak. "Gunakan kesedihanmu sebagai dasar untuk melindunginya, bukan sebagai api untuk membakar dirimu sendiri. Ingatlah alasanmu ingin menjadi kuat. Ingatlah gadis yang menunggumu di desa itu."
Nama Ling'er terlintas di pikiran Zhou Yu. Seketika, badai energi di dalam tubuhnya mereda. Panas di dadanya menjadi lebih stabil dan terkendali. Ia merasakan aliran Qi yang murni mengalir lancar di sepanjang meridian tubuhnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar hidup.
Setelah berjam-jam, Zhou Yu akhirnya keluar dari bawah air terjun. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Sebaliknya, ia merasa ringan dan penuh tenaga. Han Shui menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan setengah bangga, setengah tetap terlihat galak.
"Kau baru saja melewati tahap awal Pembersihan Sumsum," kata Han Shui sambil menghilang kembali ke dalam pedang. "Jangan besar kepala. Ini hanyalah langkah pertama dari seribu mil. Tidurlah, bocah... Esok, latihanmu akan sepuluh kali lebih berat."
Zhou Yu menyarungkan pedangnya dengan hormat. Saat ia berbalik untuk kembali ke desa, ia terkejut melihat sesosok bayangan berdiri di pinggir hutan, memegang sebuah jubah kering dan semangkuk sup hangat.
Itu Ling'er. Dia rupanya telah memperhatikan Zhou Yu dari kejauhan sejak tadi.
"Kau melakukan hal yang berbahaya, Kak Yu," ucap Ling'er pelan saat Zhou Yu mendekat. Ia segera menyelimuti bahu Zhou Yu yang basah dengan jubah kering tersebut.
Zhou Yu tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang bukan berasal dari kultivasi, melainkan dari perhatian tulus. "Aku harus melakukannya, Ling'er. Untuk memastikan tempat ini tetap menjadi surga bagi kita."
Ling'er tidak bertanya tentang sosok apa itu atau cahaya biru yang ia lihat tadi. Ia hanya memegang tangan Zhou Yu, menuntunnya berjalan kembali ke gubuk mereka. "Aku tidak mengerti apa yang kau pelajari dengan pedang itu, tapi berjanjilah padaku... jangan biarkan kekuatan itu mengubah siapa dirimu. Jangan biarkan hatimu menjadi sekeras besi pedang itu."
Zhou Yu berhenti melangkah, menatap mata Ling'er yang dipenuhi kekhawatiran dan cinta. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat. "Pedang ini mungkin terbuat dari besi dingin, Ling'er. Tapi tujuannya adalah untuk menjaga kehangatan yang kita miliki di sini. Aku berjanji."
Malam itu, di bawah kesaksian bintang-bintang dan gemuruh air terjun yang sakral, seorang pemimpin baru telah lahir. Bukan lagi sekadar pemimpin buruh tambang yang nekat, melainkan seorang kultivator yang membawa harapan sebuah bangsa di ujung pedangnya. Dan di sampingnya, seorang gadis dengan hati seluas samudera siap untuk menjadi jangkar bagi jiwanya yang kini mulai terbang tinggi.
...Bersambung.......