NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Alvian diizinkan pulang. Namun dengan beberapa syarat dari dokter harus istirahat penuh selama seminggu, menjaga jadwal tidur, serta memperhatikan pola makan.

Selama seminggu penuh itu, Aru sama sekali tidak masuk kerja. Ia memilih fokus mengurus Alvian yang kondisinya masih lemah. Baru hari ini Aru kembali menginjakkan kaki di kantor seperti biasa.

Siang hari, Aru dan Zidan duduk berdampingan di kantin perusahaan. Bagi Aru, kantin Wijaya Company selalu menjadi tempat favoritnya. Ia hampir tak pernah makan siang di luar kantor kecuali jika ada rapat yang mengharuskannya.

Begitu Aru melangkah masuk, suara riuh langsung menyambut.

“Mbak Aru udah masuk?”

“Udah sehat, Mbak?”

“Makan di sini, Mbak?”

Aru tersenyum kecil.

“Iya. Di sini.”

Jojo berdeham pelan.

“Biasanya kalau Mbak Aru jawab gitu…”

Aru menghentikan langkahnya.

Ia menoleh, menatap seluruh kantin. “Hari ini saya traktir.”

Sorakan langsung memenuhi kantin. Beberapa karyawan bahkan sampai berdiri sambil bertepuk tangan. Momen inilah yang sejak tadi mereka tunggu.

“WOOOOO!”

“Hidup Mbak Aru!”

“Terima kasih, MbakMba

Zidan hanya bisa menggeleng sambil tertawa kecil.

“Fix, Mbak Aru baru masuk langsung bikin kantin chaos.”

Di Wijaya Company, Aru memang dikenal sebagai sosok yang ramah, sopan, dan royal. Setiap proyek besar yang berhasil, ia tak pernah lupa mengajak karyawan makan bersama. Karena itu pula, keberadaannya sangat dihargai dan disayangi.

Kini Aru dan Zidan duduk di salah satu meja, menikmati bakso dan es teh yang baru saja datang.

“Gimana keadaan Kak Vian, Mbak?” tanya Zidan sambil meniup baksonya. “Gue belum sempat jenguk, keburu lo suruh ke sana-sini.”

“Udah jauh lebih baik, Zid,” jawab Aru. “Cuma masih harus banyak istirahat.”

Zidan mengangguk pelan, lalu bertanya lagi,

“Terus… kontrak kerja lo sama Pak Bara jadi diselesain?”

“Iya,” jawab Aru mantap. “Mbak mau istirahat dulu dari dunia bisnis.”

Sendok Jojo berhenti di udara. Ia menatap Aru dengan wajah serius.

“Terus proyek kita sama perusahaan Baskara Grup gimana, Mbak?”

Aru tersenyum. Zidan yang menyadari senyuman itu langsung menggeleng cepat. “Jangan bilang lo nyuruh gue lanjutin proyek itu?”tebaknya.

Nada Zidan jelas panik. Bayangan wajah Kenan yang dingin dan datar langsung terlintas di kepalanya—tatapan tajam yang pernah ia terima di lobi kantor saat menjemput Kenan dan Joe dulu masih terasa sampai sekarang.

Aru mengangkat alis. “Kenapa?”

Zidan merinding. “Lo tau sendiri, Mbak. Pak Kenan itu… dingin, datar, tatapannya horor. Waktu lo nyuruh gue jemput dia sama Joe di lobi aja gue hampir mati gaya. Sejak itu gue trauma.”

Aru tertawa kecil. “Drama banget.”

“Serius!” Zidan bersikeras. “Tatapannya kayak mau nge-scan dosa hidup gue.”

Aru terkekeh kecil. “Tenang aja. Proyek itu tetap tanggung jawab Mbak.” ucap Aru. “Walaupun Mbak nggak setiap hari ke kantor ini.”

Zidan langsung menghela napas panjang sambil mengelus dadanya.

“Syukur banget… gue bisa jantungan kalau harus ngadepin Pak Kenan.”ucapanya.

Aru melirik heran.

“Kami kenapa sih Zid? Kayak ketakutan gitu.”

“Gue nggak apa-apa Mbak,” sahut Zidan cepat.

“Cuma… gue nggak mau aja berurusan sama manusia sedingin es batu kayak Pak Kenan.”

Mendengar nama itu, Aru justru tersenyum kecil tanpa sadar. Ingatannya melayang ke kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu.

“Lo kenapa senyum-senyum sendiri, Mbak?”ucap Zidan“Kesambet lo?”

“Gila kamu,” umpat Aru sambil menyenggol lengan Zidan.

Ia kembali fokus pada makanannya.

Tak lama kemudian, mereka selesai makan.

“Udah lo bayar semua, Zid?” tanya Aru sambil berdiri.

“Udah, Mbak.”

“Ya udah, Mbak mau ke ruangan Pak Bara dulu.”

Di sepanjang jalan keluar kantin, para karyawan serempak bersuara.

“Terima kasih, Mbak Aru!”

“Iya, lanjutkan makan kalian. Saya ke atas dulu.”

Di sampingnya, Zidan ikut berjalan.

“Ngapain ke ruangan Pak Bara, Mbak?”tanya Zidan, padahal baru tadi mereka membahas soal itu.

“Ngurus surat kontrak kerja. "

Zidan menyeringai. “Kalau lo udah nggak kerja di sini, jangan lupa sering-sering traktir gue, Mbak.”

Aru pura-pura tak mendengar. Ia mempercepat langkah menuju lift.

“Mbaaaak!”

“Iya, iya,” sahut Aru tanpa menoleh.

“Kayak orang miskin aja, minta traktir terus.”ujar Aru menggeleng.

Zidan hanya cengengesan. Bagi nya selagi bisa morotin Aru kenapa harus keluar uang sendiri.

...****************...

Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan urusan kantor hari itu, Aru akhirnya bisa pulang. Begitu sampai di rumah, ia langsung menuju kamarnya. Sepatu dilepas asal, tas kerja diletakkan di kursi, lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sejujurnya, sejak beberapa hari terakhir—terutama saat ia harus mondar-mandir rumah sakit untuk merawat Alvian—waktu istirahat Aru benar-benar berantakan. Tidurnya tidak pernah nyenyak, tubuhnya sering terasa pegal dan cepat lelah. Bahkan hari ini pun, ada rasa linu yang menjalar di pundaknya.

Aru berniat beristirahat sejenak sambil menunggu waktu magrib. Ia merebahkan tubuh di atas kasur, menghela napas panjang, berharap tubuhnya bisa sedikit rileks.

Namun niat itu buyar.

Ponselnya sempat bergetar—pesan dari orang kepercayaannya yang mengurus tempat Kebugaran miliknya. Sebuah laporan keuangan dikirim dan meminta dicek secepatnya.

“Sebentar aja,” gumam Aru pada dirinya sendiri.

Ia mengambil laptop, duduk bersandar di kepala ranjang, lalu mulai membaca laporan itu dengan serius. Alisnya sedikit berkerut, jarinya sesekali mencatat angka-angka penting.

Di tengah fokusnya, terdengar suara ketukan dari luar kamar.

Tok… tok… tok…

Aru mendongak.

“Masuk…?”

Ia menutup laptop sementara, lalu berjalan menuju pintu kamar.

Ceklek.

Begitu pintu terbuka, Aru langsung tersenyum kecil.

“Kak Vian.”

Alvian berdiri di depan pintu dengan senyum tipis. Ia mengenakan kaus sederhana dan celana pendek. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tapi matanya lebih hidup dibanding beberapa hari lalu.

Tanpa banyak bicara, Alvian melangkah masuk ke kamar Aru—tanpa permisi, seperti kebiasaannya sejak dulu.

“Lagi sibuk, Dek?” tanya Alvian sambil melirik laptop yang masih menyala di atas kasur.

“Nggak, Kak,” jawab Aru sambil mengikuti langkah kakaknya.

“Cuma lagi ngecek laporan keuangan tempat Gym.”

Ia menatap Alvian dengan raut khawatir.

“Kok Kakak ke sini? Harusnya Kakak istirahat di kamar. Kondisi kakak belum pulih sepenuhnya.”

Alvian tersenyum kecil.

“Kakak udah nggak apa-apa, kok. Cuma pengen ngobrol bentar sama kamu.”

Nada suaranya terdengar serius. Ia langsung duduk di tepi kasur Aru. Melihat itu, Aru pun ikut duduk di sampingnya.

“Mau ngomong apa, Kak?” tanya Aru lembut.

Alvian menatap lurus ke depan. Tatapannya sulit diartikan—ada kekhawatiran, ada ketakutan, dan ada rasa sayang yang terlalu dalam untuk diucapkan dengan mudah. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian.

“Dek,” ucapnya pelan, “kalau suatu hari nanti kamu ketemu sama laki-laki yang kamu mau… terus menikah sama dia… apa kamu bakal ninggalin Kakak?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja—langsung, tanpa basa-basi.

Aru terdiam sejenak. Bukan karena bingung, tapi karena terkejut dengan kegelisahan yang begitu jelas di mata Alvian.

“Kakak ngomong apa sih,” jawab Aru sambil menggeleng kecil.

“Harusnya aku yang nanya kayak gitu.”

Ia menoleh, menatap Alvian. “Kalau suatu hari nanti Kakak ketemu perempuan yang bisa melengkapi hidup kakak, apa kakak masih mau jadi kakak aku?”

Alvian langsung menoleh dengan ekspresi tak terima.

“Kamu ngomong apa, Dek?”

“Kamu itu adik kakak. Selamanya.”

“Nggak ada siapa pun yang bisa misahin kita sebagai kakak dan adik.”

Aru tersenyum haru. Ia menggenggam tangan Alvian. Mereka saling menatap—dekat, hangat, dan penuh rasa saling memiliki.

“Begitu juga dengan aku, kak,” ucap Aru pelan tapi tegas. “Sampai kapan pun, kakak akan tetap jadi kakakku.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Walaupun nanti kita punya kehidupan masing-masing, punya pasangan sendiri… kita tetap keluarga.”

“Aku, Phi Bisma,Bang Varo dan kakak,” lanjutnya, “kita akan selalu jadi saudara yang saling nyayangi dan saling lindungi.”

Aru tersenyum lembut.

“Jadi Kakak nggak usah khawatir. Aku akan tetap jadi adik yang kakak kenal.”

Alvian merasakan dadanya sedikit lebih ringan. Meski masih ada rasa takut kehilangan, ucapan Aru memberi ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan dari siapa pun.

“Makasih, Dek,” ucap Alvian lirih. “Apapun keputusan kamu soal lamaran dari Om Bas… Kakak akan dukung.”

“Makasih juga, kak,” jawab Aru. “Tapi kakak juga jangan sakit lagi, ya.”

Ia menatap tubuh Alvian dari atas ke bawah.

“Kalau kakak punya masalah, diselesaikan baik-baik. Jangan dipendem. Jangan ngurung diri, jangan mogok makan.”

“Liat tuh,” katanya sambil mencubit pelan lengan Alvian. “Badan kekar kakak jadi kurus. Kakak harus sering latihan lagi di tempat Gym. "

Alvian tertawa kecil.

“Iya, Dek. Kakak minta maaf."

Aru mengangguk, lalu tiba-tiba matanya berkaca-kaca. “Iya,” ucapnya pelan, “Aku juga minta maaf… aku suka ngatur kakak.”

“Hiks… hiks…”

Alvian langsung panik. “Lho, Dek? Kok nangis?”

Aru menggeleng, air matanya jatuh begitu saja.

“Nggak tau… keluar sendiri.”Ia terisak kecil. “Kalau inget kakak terbaring lemah di rumah sakit… aku takut.”

Alvian terkekeh pelan—campuran antara gemas dan haru. Ia langsung menarik Aru ke dalam pelukannya.

“Ututututu…Adik kakak.”

Aru memeluk Alvian erat, menangis di dadanya. Alvian mengusap rambut Aru dengan lembut, membiarkannya tenang perlahan.

Bagi mereka, pelukan keluarga selalu menjadi tempat paling aman—tempat untuk pulih dari rasa takut, lelah, dan kehilangan.

Bersambung...............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!