update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan Dua Tahun Lalu
Lin Yinjia tidak pernah benar-benar memahami bagaimana perjodohan itu dimulai. Ia hanya tahu satu hal: dua tahun lalu hidup keluarganya hampir runtuh.
Saat itu ia masih mahasiswa baru. Hidupnya sederhana—kuliah, pulang, membantu ibunya memasak, lalu mengobrol dengan adiknya sampai larut malam. Segalanya terasa stabil.
Sampai suatu malam ayahnya pulang lebih lambat dari biasanya. Pintu rumah terbuka perlahan, dan Lin Wei masuk dengan langkah berat. Yinjia yang sedang belajar di meja makan langsung mengangkat kepala.
“Ayah?”
Biasanya ayahnya selalu menyapa lebih dulu. Tapi malam itu ia hanya berdiri di dekat pintu beberapa detik sebelum melepas sepatunya. Ibunya keluar dari dapur.
“Kamu makan dulu? Aku—”
“Tokonya hampir bangkrut.” Kalimat itu keluar begitu saja. Mei Lan langsung berhenti bergerak. Yinjia juga terdiam.
Lin Wei berjalan menuju kursi lalu duduk perlahan. Bahunya terlihat jatuh, seolah beban besar menekan punggungnya. “Ada distributor baru di daerah ini,” katanya pelan. “Mereka menjual barang lebih murah dari kita.”
Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan. “Banyak pelanggan pindah.”
Yinjia tidak tahu harus mengatakan apa. Toko kecil ayahnya adalah sumber penghasilan utama keluarga mereka. Jika toko itu benar-benar bangkrut, ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Mei Lan duduk di kursi sebelahnya. “Kita masih punya tabungan,” katanya mencoba tenang.
“Tiga bulan.” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Lin Wei.
Tiga bulan. Setelah itu mereka tidak punya apa-apa. Ruangan menjadi sangat sunyi.
Yinjia menatap buku catatannya tapi tidak lagi melihat huruf-huruf di atas kertas. Saat itulah ia pertama kali benar-benar menyadari bahwa hidup bisa berubah sangat cepat.
Hari-hari berikutnya dipenuhi ketegangan. Ayahnya pulang semakin larut. Ibunya mulai menghitung pengeluaran rumah tangga dengan lebih ketat.
Yinjia diam-diam mencari pekerjaan paruh waktu. Ia bahkan sempat berpikir untuk berhenti kuliah. Tapi ia tidak pernah sempat mengatakannya.
Karena suatu sore seseorang datang ke toko ayahnya. Seorang pria dengan mobil hitam mahal yang tidak cocok dengan lingkungan sederhana di sekitar sana.
Namanya Gu Mingze. Ayah dari Gu Zhenrui.
Yinjia tidak hadir saat pertemuan pertama itu terjadi. Ia hanya tahu ceritanya dari ayahnya malam itu. “Keluarga Gu ingin membantu toko kita.”
Mereka sedang makan malam ketika ayahnya mengatakan itu. Yinjia menatapnya dengan bingung. “Membantu bagaimana?”
“Mereka menawarkan kerja sama distribusi.”
Yinjia tahu nama keluarga Gu. Hampir semua orang di Shanghai tahu. Perusahaan mereka memiliki jaringan bisnis besar—terutama di bidang ekspor impor.
“Kenapa mereka mau membantu kita?” tanya Yichen polos.
Ayah mereka tidak langsung menjawab. Ia menatap piringnya beberapa detik. Lalu berkata pelan. “Mereka punya satu syarat.”
Perut Yinjia tiba-tiba terasa tidak nyaman. “Syarat apa?”
Lin Wei mengangkat kepala dan menatapnya. “Perjodohan.” Kata itu jatuh di meja makan seperti benda berat. “Antara kamu dan anak mereka.”
Yinjia menatap ayahnya seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar “Aku?”
“Iya.”
Mei Lan terlihat sama terkejutnya. “Apa maksud mereka?”
Lin Wei menghela napas panjang. “Anak mereka, Gu Zhenrui… seumuran dengan Yinjia. Mereka berpikir jika dua keluarga memiliki hubungan keluarga, kerja sama bisnis akan lebih kuat.”
Yichen langsung berseru. “Ini seperti drama!”
Tidak ada yang tertawa. Yinjia hanya duduk diam. Ia tidak mengenal Gu Zhenrui. Bahkan belum pernah melihat wajahnya. “Ini hanya pertunangan sementara,” kata Lin Wei cepat. “Kalian bisa menikah nanti setelah lulus kuliah.”
“Tapi… kenapa aku?” bisik Yinjia.
Ayahnya menatapnya dengan mata lelah. “Karena mereka memilihmu.”
Kalimat itu terdengar aneh. Seolah hidupnya baru saja dipilih orang lain. Beberapa hari kemudian keluarga Gu mengundang mereka makan malam. Restoran yang mereka pilih berada di pusat kota.
Begitu masuk, Yinjia langsung merasa tidak nyaman. Lampu gantung kristal. Meja marmer. Pelayan berpakaian rapi yang berbicara sangat sopan. Ia bahkan merasa pakaiannya terlalu sederhana untuk tempat itu. Ayahnya terlihat sama gugupnya.
Ketika pintu ruang VIP terbuka, Yinjia melihat mereka untuk pertama kali. Gu Mingze duduk di kepala meja. Pria paruh baya dengan wajah tegas dan pakaian mahal. Di sebelahnya duduk seorang wanita elegan—istrinya.
Dan di kursi dekat jendela duduk seorang pria muda yang sedang memainkan ponselnya. Gu Zhenrui. Itu pertama kalinya Yinjia melihat calon tunangannya.
Pria itu tampan. Tinggi. Wajahnya tajam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tapi ada sesuatu dalam cara ia duduk yang membuat Yinjia merasa tidak nyaman.
Ia terlihat… bosan. Seolah berada di sana hanyalah kewajiban. Ketika mereka masuk, Gu Mingze berdiri menyambut. “Tuan Lin.”
Mereka berjabat tangan. Perkenalan berlangsung formal. Saat akhirnya giliran Yinjia, Zhenrui baru mengangkat kepala dari ponselnya. Matanya menatap Yinjia sebentar.
Lalu kembali ke layar. “Halo,” katanya singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada ketertarikan. Hanya formalitas.
Selama makan malam, sebagian besar percakapan terjadi antara orang tua mereka. Tentang bisnis. Tentang masa depan. Tentang kerja sama.
Yinjia hampir tidak berbicara. Beberapa kali ia merasa Zhenrui menatapnya. Bukan dengan rasa ingin tahu. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai barang.
Setelah makan selesai, Gu Mingze berkata dengan tenang. “Anak-anak sebaiknya berbicara sebentar.” Yinjia dan Zhenrui keluar ke balkon restoran.
Malam di Shanghai penuh lampu kota. Tapi suasananya terasa canggung. Zhenrui menyandarkan punggungnya di pagar balkon. “Jadi,” katanya.
“Kamu yang akan jadi tunanganku.” Cara bicaranya terdengar santai. Terlalu santai untuk topik seperti itu.
Yinjia menggenggam tangannya sendiri. “Aku juga baru tahu.”
Zhenrui tertawa kecil. “Tenang saja.”
Ia memasukkan tangan ke saku celananya. “Aku juga tidak terlalu peduli.” Kalimat itu membuat Yinjia menatapnya. “Kalau begitu kenapa kamu setuju?”
“Karena ini menguntungkan keluarga.” Ia mengangkat bahu. “Dan ayahku tidak suka ditolak.” Jawaban yang sangat jujur. Dan sangat dingin.
Zhenrui menatapnya lagi. “Kamu terlihat gugup.”
“Aku memang gugup.”
Ia mengangguk pelan. “Biasakan saja.”
Angin malam berhembus pelan. Lampu kota Shanghai menyala di kejauhan. Saat itu Yinjia tidak tahu bahwa keputusan yang diambil malam itu akan mempengaruhi hidupnya selama bertahun-tahun. Ia hanya tahu satu hal.
Mulai hari itu, ia memiliki seorang tunangan yang hampir tidak ia kenal. Dan perasaan tidak nyaman di perutnya tidak pernah benar-benar hilang.