NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Suasana di dalam ruang kuliah yang biasanya gaduh oleh bisik-bisik mahasiswa, mendadak berubah menjadi hening total.

Keheningan itu bukan karena rasa takut, melainkan karena daya tarik magnetis dari sosok yang kini berdiri di depan whiteboard.

Pria itu meletakkan tas kulitnya dengan gerakan elegan, lalu menuliskan sebuah nama dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas: Mikail Osborn.

"Selamat pagi semuanya. Saya Mikail Osborn, yang akan menggantikan Ibu Pingkan untuk beberapa waktu ke depan," ucapnya dengan suara bariton yang berat namun sangat tenang.

Hampir seluruh mahasiswi di ruangan itu seolah terhipnotis. Mikail bukan sekadar dosen pengganti yang memiliki wajah tampan, tapi juga memiliki karisma yang sangat kuat, tipe pria yang tampak cerdas sekaligus penuh rahasia.

Cara ia menerangkan materi sangat lugas, membuat teori-teori yang biasanya membosankan menjadi jauh lebih mudah dicerna oleh para mahasiswa.

Valerie mencoba untuk tetap profesional. Ia menundukkan kepala, jemarinya bergerak cepat mencatat setiap poin penting di buku catatannya.

Ia berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria di depan sana hanyalah seorang dosen, bukan pria misterius yang memberinya firasat buruk di koridor tadi.

Namun, fokus Valerie terusik. Meski ia berusaha menghindar, sesekali tatapannya tak sengaja bertemu dengan pandangan Mikail. Pria itu sering kali melirik ke arah sudut tempat Valerie duduk sambil terus menjelaskan materi.

Tatapan Mikail tidak terlihat mengancam, namun ada kedalaman yang membuat Valerie merasa sangat canggung, seolah pria itu sedang membacanya seperti sebuah buku terbuka.

Setiap kali mata mereka bersinggungan, Valerie segera membuang muka dan kembali berpura-pura sibuk dengan catatannya.

Jantungnya berdegup tidak menentu; ada aura dari Mikail yang entah kenapa mengingatkannya pada tipe dominasi yang mirip dengan Damian, namun dalam kemasan yang lebih tenang dan halus.

Sintia yang duduk di sebelah Valerie menyenggol lengannya sambil berbisik gemas, "Val, lihat! Dia sering sekali melihat ke arah kita. Apa aku tidak salah lihat? Sepertinya dia tertarik pada salah satu dari kita!"

Valerie hanya terdiam, ia tidak berani menyahut. Ia merasa lirikan Mikail Osborn bukanlah lirikan kekaguman biasa, melainkan lirikan seseorang yang telah menemukan target yang sudah lama ia cari.

Setelah dua jam yang terasa sangat panjang, kelas akhirnya berakhir. Suasana riuh kembali memenuhi ruangan saat para mahasiswa mulai membereskan barang-barang mereka.

Sintia menyenggol lengan Valerie sambil berbisik kagum sekali lagi sebelum berpamitan untuk pulang duluan.

Valerie menarik napas lega, jemarinya sibuk menata buku-buku tebal ke dalam tasnya. Namun, gerakannya mendadak terhenti. Matanya tertuju pada sebuah tangan pria yang mengetuk meja kayunya dengan irama yang pelan namun pasti.

Valerie mengangkat wajahnya dan mendapati Mikail Osborn sudah berdiri tepat di depannya. Pria itu masih mengenakan kacamata tipisnya, menatap Valerie dengan binar mata yang sulit dibaca.

"Ada apa, Pak Mikail?" tanya Valerie, berusaha menyembunyikan rasa penasaran sekaligus kecanggungannya.

Mikail mengulas senyum tipis yang tampak sangat formal namun sarat akan maksud tertentu.

"Saya butuh bantuanmu, Valerie. Bisa tolong bantu saya membawakan tumpukan buku referensi itu ke ruang dosen?"

Valerie melirik ke arah meja dosen di depan kelas. Memang ada cukup banyak buku yang menumpuk di sana, namun sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya: dari sekian banyak mahasiswa yang tadi berebut mencari perhatian sang dosen baru, kenapa harus dia yang diminta?

"Apakah... buku-buku itu memang harus dipindahkan sekarang, Pak?" tanya Valerie ragu.

"Tentu saja. Saya harus segera mendatanya sebelum jam kantor berakhir," jawab Mikail tenang.

Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap Valerie lekat-lekat. "Kecuali jika kau merasa keberatan?"

Valerie terdiam sesaat.

Cara bicara Mikail yang lembut namun mengandung nada intimidasi yang halus ini terasa sangat familiar di telinganya.

Polanya hampir sama persis dengan dominasi yang sering ditunjukkan oleh Damian—tenang tapi tidak menerima penolakan.

Merasa tidak enak jika menolak permintaan dosen di hari pertamanya, Valerie akhirnya memaksakan sebuah senyum sopan. "Baik, Pak. Saya tidak keberatan. Saya akan bantu membawakannya."

Valerie berjalan mengekor di belakang Mikail menyusuri koridor gedung fakultas yang mulai sepi. Tangannya sibuk menyeimbangkan tumpukan buku referensi yang cukup berat di dadanya.

Sepanjang jalan, tidak ada percakapan di antara mereka, hanya suara langkah kaki yang bergema pelan di lantai marmer.

Hingga akhirnya mereka sampai di ruang dosen. Mikail membuka pintu dengan kunci senyap, dan Valerie melangkah masuk.

Ruangan luas yang penuh dengan kubikel itu nampak sunyi, sebagian besar dosen sepertinya sudah pulang atau sedang tidak ada di tempat.

Valerie berjalan menuju meja kerja Mikail yang berada di sudut dan meletakkan tumpukan buku itu dengan hati-hati di atas permukaannya.

"Sudah selesai, Pak. Saya permisi dulu," ucap Valerie, berbalik dan berniat segera meninggalkan ruangan yang entah kenapa terasa menyesakkan itu.

Namun, baru saja Valerie melangkah satu kali, sebuah gerakan cepat menahannya. Mikail menarik lengan Valerie dengan sentakan yang tidak kasar namun sangat tegas.

Sebelum Valerie bisa bereaksi, Mikail sudah memutar tubuhnya hingga punggung gadis itu membentur pinggiran meja kerjanya. Pria itu menumpukan kedua lengannya di meja, mengurung Valerie sepenuhnya di antara tubuhnya dan meja.

Posisi Mikail saat ini begitu dekat, bahkan Valerie bisa merasakan deru napas hangat pria itu di wajahnya dan mencium aroma parfum maskulin yang bercampur sedikit bau tembakau mahal—aroma yang sangat berbeda dari parfum Damian namun sama-sama mengintimidasi.

Valerie tersentak kaget, jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang. Ia menatap mata Mikail yang bersembunyi di balik lensa kacamata tipisnya.

"Apa... apa yang sedang Bapak lakukan? Tolong lepaskan saya," desis Valerie dengan suara tertahan.

Mikail tidak melepaskannya. Ia justru menatap Valerie dengan tatapan tajam yang seolah-olah ingin menembus masuk ke dalam ingatan gadis itu. Sebuah senyum misterius terukir di bibirnya.

"Tidakkah kau mengingatku, Valerie?" tanya Mikail dengan nada suara yang rendah namun sarat akan makna. "Padahal, aku sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencari jejakmu di seluruh penjuru dunia."

Valerie mematung. Kata-kata pria itu mengirimkan gelombang kejutan di benaknya. Ia mencoba mengingat-ingat setiap wajah yang pernah ia temui selama satu dekade masa persembunyiannya, namun nihil. Ia benar-benar tidak mengenali pria di hadapannya ini.

"Maaf... tapi saya sungguh tidak mengenali siapa Anda, Pak Mikail. Anda pasti salah orang," jawab Valerie jujur, suaranya sedikit bergetar.

Mikail tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar dingin di ruangan yang sepi itu.

"Kau sungguh mematahkan hatiku, Valerie. Bisa-bisanya kau melupakanku setelah apa yang kita lalui dulu."

Valerie menggelengkan kepala, mencoba menyangkal dugaan pria itu. "Saya tidak mengerti maksud Anda. Mungkin Anda salah mengenali saya dengan mahasiswi lain."

Namun, alih-alih melepaskannya, tangan Mikail terangkat. Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh ujung rambut Valerie yang terurai. Ia mengangkat sedikit helai rambut itu ke dekat hidungnya, memejamkan mata sejenak, dan menghirup aroma rambut Valerie dengan perlahan.

"Aroma ini... aroma melati yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu," bisik Mikail, membuka matanya dan kembali menatap Valerie dengan intensitas yang mengerikan. "Aku tidak mungkin salah orang, Valerie Blackwood."

Seketika, seluruh tubuh Valerie meremang. Rahasia terbesarnya baru saja terbongkar di ruang dosen yang sunyi ini oleh seorang pria misterius yang mengaku telah mencarinya selama sepuluh tahun.

Valerie membeku di tempatnya, seluruh ototnya seolah terkunci. Suara Mikail yang menyebutkan nama belakang aslinya—Blackwood—terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang ia bangun selama sepuluh tahun ini.

Siapa sebenarnya pria ini? Bagaimana bisa seorang dosen baru di Arthemis mengetahui identitas yang bahkan Aiden pun tidak tahu?

Baru saja Valerie membuka mulut untuk menuntut penjelasan, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat ke arah ruangan dosen.

Mikail bereaksi dengan cepat. Dalam sekejap, ia melepaskan kuncian lengannya, berdiri tegak, lalu melangkah santai mengitari meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu, Valerie masih berdiri mematung di sisi meja, napasnya tidak beraturan dan jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.

Pintu terbuka, dan sosok Aiden muncul dari balik daun pintu. Matanya langsung menyapu ruangan, mendapati Valerie yang berdiri kaku dengan butiran keringat dingin di pelipisnya.

"Valerie? Sedang apa kau di ruangan ini?" tanya Aiden, suaranya mengandung nada selidik.

Tatapannya kemudian beralih tajam pada Mikail yang sedang merapikan beberapa dokumen.

Mikail hanya menyunggingkan senyum formal yang sangat meyakinkan. "Mahasiswi ini sangat baik, dia membantuku membawakan beberapa buku referensi yang cukup berat ke sini. Iya kan, Valerie?" Mikail melirik ke arah Valerie, matanya berkilat penuh ancaman terselubung.

Valerie tersentak, seolah baru saja ditarik paksa dari lamunan buruknya. "Ah -iya... tadi aku hanya membantu Pak Mikail," sahutnya terbata, berusaha menutupi kegugupannya.

Aiden tidak langsung menjawab. Ia menatap Mikail dengan pandangan datar dan dingin. Entah kenapa, ia merasakan aura yang sangat tidak menyenangkan dari pria berkacamata ini.

Ia tidak suka melihat Mikail berada di dekat Valerie, apalagi dalam ruangan sepi seperti ini.

Tanpa berkata banyak, Aiden melangkah mendekat dan merangkul pundak Valerie secara posesif, menariknya merapat ke tubuhnya. "Ayo pergi, Val. Aku akan mengantarmu pulang ," ajak Aiden tegas.

Valerie hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti langkah Aiden keluar dari ruangan itu. Namun, gemuruh di dadanya belum juga hilang; rasa takut dan bingung bercampur menjadi satu.

Sementara itu, di belakang mereka, Mikail Osborn menyandarkan punggungnya di kursi, menatap punggung keduanya dengan tatapan misterius yang sulit diartikan—tatapan seorang pemburu yang baru saja menandai mangsanya.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!