NovelToon NovelToon
Fake Boyfriend Real Husband

Fake Boyfriend Real Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Septiayani

bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi

itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia

ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mantan?

Pagi itu terasa berbeda.

Udara masih segar ketika mobil Yoga melaju menuju rumah keluarga besarnya. Di sampingnya, Bella duduk diam sambil sesekali melihat ke luar jendela. Ada rasa gugup yang sulit ia sembunyikan—sudah cukup lama ia tidak bertemu keluarga Yoga, apalagi hari ini Kania juga baru pulang dari Belanda.

Yoga melirik sekilas.

“Kenapa diam?”

Bella menghela napas pelan.

“Deg-degan.”

Yoga tersenyum tipis.

“Ngapain deg-degan? Mereka udah suka sama kamu.”

Bella menoleh.

“Itu yang bikin aku makin deg-degan.”

Yoga hanya menggeleng kecil, lalu fokus kembali ke jalan.

 

Tak lama, mobil berhenti di halaman rumah besar keluarga Dinata.

Bella tertegun sejenak—meskipun sudah pernah datang, tetap saja rumah itu terasa… terlalu megah untuknya.

Lamunannya buyar saat pintu depan terbuka.

“KAK BELLA!!!”

Suara ceria itu langsung menyambut.

Kania berlari keluar, tanpa ragu langsung memeluk Bella erat.

“Aku kangen banget!”

Bella sedikit kaget, tapi langsung membalas pelukan itu sambil tertawa kecil.

“Aku juga kangen…”

Di belakang mereka, ibu Yoga berjalan mendekat dengan senyum hangat.

“Bella…” ucapnya lembut.

Bella langsung melepas pelukan Kania dan menyalami dengan sopan.

“Bu…”

Namun, bukannya sekadar disalami, Bella malah ditarik ke dalam pelukan.

“Ibu kangen sekali sama kamu.”

Bella sedikit terkejut, tapi hatinya terasa hangat.

 

Yoga berdiri di belakang, memperhatikan pemandangan itu dengan ekspresi datar… yang perlahan berubah jadi cemberut.

Ia melangkah mendekat.

“Ibu…”

Ibu Yoga menoleh.

“Iya?”

Yoga melipat tangan di dada.

“Ini anak ibu tuh aku… atau Bella sih?”

Hening sepersekian detik.

Kania langsung menahan tawa.

Bella kaget, langsung menoleh ke Yoga.

“Kok gitu sih…”

Ibu Yoga malah terlihat berpikir sejenak, lalu tersenyum santai.

“Hmm…”

Yoga menunggu jawaban.

Dengan wajah polos, ibunya berkata—

“Sebenarnya ibu ingin Bella…”

Bella langsung membeku.

Yoga: “…”

Kania: “HAHAHAHA!”

Lalu ibu Yoga melanjutkan dengan santai,

“...tapi kamu yang keluar dari rahim ibu.”

BOOM.

Kania langsung tertawa lepas.

Bella menutup mulutnya, menahan tawa.

Yoga menatap ibunya tidak percaya.

“Ibu serius?”

Ibu Yoga mengangkat bahu.

“Bella lebih manis.”

Yoga langsung menghela napas panjang.

“Yaudah, aku pulang lagi aja.”

Bella langsung menarik lengan Yoga.

“Eh jangan dong…”

Kania masih tertawa.

“Kak, kamu kalah sama calon istri sendiri.”

“Belum jadi,” jawab Yoga cepat.

Bella langsung menyikutnya pelan.

“Apaan sih…”

 

Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.

Suasana hangat langsung terasa.

Ibu Yoga tidak berhenti menanyakan kabar Bella—

pekerjaannya, kesehatannya, bahkan hal-hal kecil seperti makan teratur atau tidak.

Bella menjawab satu per satu dengan sopan.

Sesekali tersenyum.

Sesekali merasa… diperhatikan dengan tulus.

Yoga yang duduk di samping hanya bisa menghela napas.

“Ibu…”

“Iya?”

“Dari tadi nanyanya ke Bella terus.”

Ibu Yoga menoleh santai.

“Kamu kan sehat-sehat aja.”

Yoga: “…”

Kania lagi-lagi tertawa.

Bella menunduk, menahan senyum.

 

Di tengah obrolan itu, Yoga akhirnya bersandar di sofa, sedikit menggerutu.

“Fix… aku bukan anak kesayangan lagi.”

Bella langsung berbisik pelan,

“Aku jadi nggak enak…”

Yoga menoleh, mendekat sedikit.

“Udah, nikmatin aja.”

Bella: “…”

Pipinya sedikit memerah.

yoga memilih membuka email pekerjaan yang baru saja di kirim Andre

Yoga juga bingung ia memberi libur dua asistennya itu tapi Andre menolak dan ingin tetap bekerja

ya sudahlah yoga tidak masalah

hari ini rumah yoga penuh dengan canda tawa 3 perempuan itu siapa lagi Kania,buratna dan Arabella

Ayah yoga ada tapi sama dengan yoga sedang bekerja tapi ayah yoga bekerja di ruangan nya.

"ayah mana Bu?"tanya yoga

"biasa di ruang kerja nya "

"sedang apa"

"olahraga kak"ucap Kania kesal

"masa di ruang kerja"

"ya pikir aja di ruang kerja,ya pasti lagi kerja lah,punya kakak kadang kadang lemot"

"yaudah aku susul ayah dulu ya" yoga menatap Bella dengan minta ijin dan Bella memberi ijin dengan mengangguk

Yoga pun beranjak dari sofa sebelah Bella ke arah tangga tujuannya tempat kerja sang ayah.

...****************...

Pagi itu suasana ruang keluarga masih hangat oleh tawa.

Bella duduk di samping Kania, sesekali tersenyum saat ibu Ratna terus menanyakan kabarnya—seolah tidak ingin berhenti setelah hampir sebulan tidak bertemu.

“Bella sekarang makannya teratur, kan?”

“Iya, Bu,” jawab Bella lembut.

“Kesehatannya gimana?”

“Alhamdulillah baik…”

Kania menyenggol pelan lengan Bella.

“Ibu udah kayak interview kerja ya.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

...****************...

Rumah terasa tenang… sampai—

PINTU DEPAN TERBUKA.

Langkah kaki terdengar masuk dengan santai.

“Permisi…” suara Rafi terdengar.

Kania langsung menoleh.

“Eh, Rafi?”

Namun bukan hanya Rafi yang datang.

Di belakangnya…

seorang perempuan berdiri.

Tampilannya rapi, stylish, dengan senyum tipis yang terlihat… terlalu percaya diri.

Ibu Ratna langsung mengernyit.

“Kamu…?”

Kania juga ikut terkejut.

“Loh… itu…”

Bella yang duduk di sana ikut menoleh.

Tatapannya berhenti pada perempuan itu.

Ia tidak mengenalinya.

Tapi entah kenapa… ada rasa tidak nyaman yang langsung muncul.

 

Perempuan itu melangkah masuk tanpa ragu.

Senyumnya melebar saat melihat ibu Ratna.

“Ma, aku kangen banget…”

Dan tanpa izin—

ia langsung meraih tangan ibu Ratna, bahkan memeluknya sedikit manja.

Bella langsung kaku.

Kania membelalakkan mata.

Rafi di belakang hanya bisa menggaruk kepala, jelas tidak nyaman.

 

Ibu Ratna tidak langsung membalas pelukan itu.

Wajahnya terlihat kaget… dan sedikit tidak suka.

“Kamu datang ke sini tanpa kabar?” suaranya datar.

Perempuan itu tertawa kecil, centil.

“Ah, masa harus pakai kabar dulu sih, Ma? Aku kan udah kayak keluarga sendiri…”

Kania langsung berbisik pelan,

“Berani banget…”

Bella hanya diam.

Tatapannya masih tertuju pada perempuan itu.

 

Perempuan itu akhirnya melepas pelukan, lalu duduk begitu saja di sofa—seolah rumah itu miliknya.

“Rumah ini masih sama ya, nggak berubah…” katanya santai.

Bella makin bingung.

Ia menoleh pelan ke Kania.

“Kan…” bisiknya,

“itu siapa?”

Kania menatap Bella, ragu sejenak.

Belum sempat menjawab—

Rafi akhirnya angkat suara,

“Kenalin… ini Aline.”

Nama itu menggantung di udara.

Bella mengulang dalam hati,

Aline…?

 

Aline menoleh ke arah Bella untuk pertama kalinya.

Matanya meneliti dari atas ke bawah.

Senyumnya tipis… tapi terasa tidak ramah.

“Oh… ini yang sekarang?” ucapnya santai.

Hening.

Bella langsung tidak nyaman.

“Apa maksudnya?” tanya Kania cepat, nadanya mulai tidak suka.

Aline hanya tertawa kecil.

“Nggak apa-apa, cuma nanya aja…”

 

Bella menunduk sedikit, berusaha tetap tenang.

Tapi di dalam hatinya…

ada perasaan aneh.

Tidak suka.

Tidak nyaman.

Dan sedikit… terancam.

 

Ibu Ratna akhirnya duduk kembali, wajahnya lebih serius.

“Aline, kamu ke sini ada perlu apa?”

Aline bersandar santai.

“Ya cuma kangen aja…”

Matanya melirik sekilas ke arah lantai atas—arah ruang kerja Yoga.

“Sama… mau ketemu Yoga.”

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah.

Kania langsung menegakkan badan.

Bella membeku.

Rafi menutup mata sebentar, seolah sudah tahu ini akan jadi masalah.

 

Bella menggenggam tangannya pelan.

Dadanya terasa sedikit sesak.

Ia tidak tahu siapa Aline sebenarnya…

tapi satu hal yang jelas—

perempuan itu bukan orang biasa di rumah ini.

Dan cara dia bersikap…

membuat Bella merasa seperti orang asing di tempat yang tadi terasa hangat.

 

Suasana yang sebelumnya penuh tawa…

perlahan berubah menjadi tegang.

Dan tanpa Bella sadari—

kehadiran Aline hari itu…

akan membawa masalah yang jauh lebih besar.

...****************...

Suasana ruang keluarga masih terasa tegang setelah kedatangan Aline.

Bella duduk diam, mencoba mengendalikan perasaannya. Sementara Kania dan Ibu Ratna saling bertukar pandang, jelas tidak menyukai situasi ini.

Namun Aline… justru terlihat santai. Terlalu santai.

Ia berdiri tanpa permisi.

“Yaudah, aku langsung ke atas aja ya. Pasti Yoga di ruang kerja, kan?” ucapnya seolah sudah hafal seluruh rumah itu.

“ALINE—” suara Ibu Ratna mencoba menghentikan.

Tapi Aline sudah lebih dulu melangkah menuju tangga.

Kania langsung berdiri.

“Ini orang… keterlaluan banget.”

Rafi menghela napas.

“Gue bilang juga apa…”

Bella ikut berdiri, meski ragu.

Tanpa banyak kata, mereka berempat menyusul Aline ke lantai atas.

 

Langkah kaki terdengar cepat di lorong.

Pintu ruang kerja sedikit terbuka.

Dari dalam terdengar suara Yoga dan ayahnya yang sedang berbicara serius.

Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi—

Aline langsung membuka pintu itu lebih lebar dan masuk begitu saja.

 

“Yoga…”

Suara itu membuat Yoga langsung menoleh.

Wajahnya berubah.

Kaget.

“Aline?”

Belum sempat Yoga berdiri dengan benar—

Aline sudah berlari kecil dan langsung memeluknya erat.

“AKU KANGEN BANGET…”

 

Yoga langsung kaku.

Tangannya refleks menahan bahu Aline, mencoba melepaskan.

“Lepas, Aline.”

Nada suaranya tegas.

Ia berusaha mendorong pelan, jelas tidak nyaman.

 

TAPI—

di saat itu juga…

Bella, Ibu Ratna, Kania, dan Rafi sampai di depan pintu.

Dan yang pertama kali dilihat Bella adalah—

Aline memeluk Yoga dengan sangat erat.

 

Dunia Bella seperti berhenti.

Matanya terpaku.

Tangannya perlahan mengepal.

Yang ia lihat hanya satu—

Yoga… dalam pelukan perempuan lain.

 

Padahal di dalam—

Yoga sedang berusaha melepaskan diri.

Tapi dari sudut pandang Bella…

semuanya terlihat berbeda.

Seolah… Yoga tidak menolak.

Seolah… Yoga menikmati.

 

“Bella—”

Suara Yoga terdengar begitu melihatnya.

Ia langsung mendorong Aline menjauh dengan tegas.

“Cukup!”

Aline sedikit terhuyung, tapi tetap tersenyum tipis.

 

Yoga langsung berjalan cepat ke arah Bella.

“Dengar—ini nggak seperti yang kamu lihat.”

Bella diam.

Tidak menjawab.

Tatapannya kosong… tapi jelas menyimpan emosi.

 

“Dia tiba-tiba masuk. Aku nggak—”

Bella tetap diam.

Hanya menatap Yoga tanpa ekspresi.

Itu justru lebih menakutkan daripada marah.

 

Aline berdiri di belakang, menyilangkan tangan.

Senyumnya tipis.

Seolah menikmati situasi itu.

“Oh, jadi ini pacar barumu?” ucapnya santai.

Kania langsung menatap tajam.

“Jaga mulut lo.”

 

Ibu Ratna maju selangkah, suaranya dingin.

“Aline, ini sudah keterlaluan.”

Namun Aline tidak peduli.

Matanya masih tertuju ke Bella.

 

Sementara itu—

Yoga mulai panik.

“Bella, lihat aku.”

Pelan… Bella mengangkat pandangannya.

Ada luka di sana.

Ada marah.

Tapi juga… kecewa.

 

“Aku nggak ngapa-ngapain,” lanjut Yoga.

“Aku bahkan nolak dia.”

Bella tetap diam.

Beberapa detik terasa sangat lama.

 

Akhirnya… Bella berbicara.

Pelan.

“Tapi aku lihat…”

Suaranya bergetar.

“…kamu dipeluk dia.”

Yoga langsung menggeleng cepat.

“Aku nggak mau itu terjadi.”

 

Bella menarik napas panjang.

Menahan sesuatu di dadanya.

Ia tidak berteriak.

Tidak menangis.

Justru itu yang membuat suasana makin berat.

 

“Aku… butuh waktu.”

Kalimat itu keluar pelan.

Namun cukup untuk membuat Yoga terdiam.

 

Bella berbalik.

Langkahnya pelan, tapi pasti.

Meninggalkan ruangan itu.

 

“Bella!”

Yoga hendak mengejar—

tapi langkahnya terhenti sejenak.

Rasa bersalah menahan.

Rasa takut kehilangan… lebih besar.

 

Di belakangnya, Aline tersenyum tipis.

Sementara Kania menatapnya dengan kesal.

“Kalau ada apa-apa sama hubungan mereka… lo yang tanggung.”

 

Suasana ruang kerja yang tadi tenang…

sekarang berubah menjadi penuh ketegangan.

Dan di antara semua itu—

Yoga hanya bisa menatap ke arah pintu yang sudah ditinggalkan Bella…

dengan satu pikiran di kepalanya:

ia harus menjelaskan semuanya, sebelum semuanya terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!