NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapkan

Suasana pagi di Mansion Keluarga Malik selalu memiliki ritme yang tenang, namun penuh dengan aura otoritas. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela besar di ruang kerja Papa Frank, menyinari debu-debu halus yang menari di atas meja kayu jati yang kokoh.

​Papa Frank menyesap kopi hitamnya tanpa gula, matanya menatap tajam ke arah Zayn yang sedang sibuk memeriksa laporan di tabletnya.

​"Zayn," panggil Papa Frank. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat Zayn mengalihkan perhatian sepenuhnya.

​"Ya, Pa? Ada yang kurang dari laporan auditnya?"

​Papa Frank menggeleng, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. "Bukan soal bisnis. Ini soal masa depanmu. Dan Laila."

​Zayn meletakkan tabletnya, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Papa mau bahas soal pernikahan?"

​"Tepat. Papa rasa, tidak perlu menunggu terlalu lama. Semakin cepat Laila sah menjadi bagian dari keluarga Malik secara hukum, semakin kuat posisi kita untuk melindunginya secara total," ujar Papa Frank. "Lagipula, Papa lihat kamu sudah seperti orang kehilangan arah kalau Laila tidak ada di jangkauan pandanganmu."

​Zayn terkekeh, ia menyugar rambutnya ke belakang. "Papa bisa saja. Tapi Papa benar, aku nggak mau kasih celah sedikit pun buat Gion atau siapapun untuk mendekat lagi. Aku ingin Laila punya marga Malik di belakang namanya secepat mungkin."

​"Bagus. Persiapkan semuanya. Jangan pelit soal biaya, Papa mau pesta yang bisa membuat orang-orang itu sadar bahwa Laila sekarang berada di tempat yang tak tersentuh oleh mereka. Bagaimana menurutmu kalau bulan depan?"

​"Bulan depan?" Zayn mengangkat alis, sedikit terkejut namun matanya berbinar setuju. "Cukup singkat untuk persiapan, tapi tim kita bisa mengaturnya. Aku akan bicarakan ini dengan Laila siang nanti. Dia pasti kaget, tapi aku tahu dia merasa aman di sini."

​Zayn melangkah keluar dari ruang kerja papanya dengan perasaan ringan. Ia membayangkan wajah Laila saat ia melamar secara resmi—kali ini tanpa bayang-bayang kesedihan. Ia melewati lorong menuju taman belakang, tempat Laila biasanya duduk menghirup udara pagi.

​Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok pria tegap dengan setelan hitam berlari kecil ke arahnya dari arah pintu samping. Itu adalah Dimas, kepala keamanan sekaligus orang kepercayaan Zayn.

​"Tuan Zayn, maaf mengganggu," bisik Dimas dengan napas sedikit memburu. Wajahnya terlihat tegang.

​Zayn menghentikan langkahnya, firasatnya langsung memburuk. "Ada apa, Dimas? Kamu terlihat seperti baru melihat hantu."

​"Ada masalah di gudang distribusi sektor Utara, Tuan. Seseorang berhasil masuk semalam."

​Zayn mengerutkan kening. Keamanan gudang itu berlapis-lapis. "Masuk? Apa ada barang yang hilang? Narkoba titipan atau dokumen rahasia?"

​"Justru itu anehnya, Tuan. Tidak ada barang yang hilang satu pun. Brankas tidak disentuh, stok barang aman. Tapi..." Dimas ragu sejenak. "Mereka meretas server lokal yang menyimpan data logistik pribadi Anda. Sepertinya mereka tidak mencari uang, Tuan. Mereka mencari titik buta jadwal Anda dan mencari tahu siapa saja orang-orang di ring satu Anda."

​Rahang Zayn mengeras. "Penyusup itu tertangkap?"

​"Belum, Tuan. Dia sangat profesional. Dia tahu persis di mana letak kamera CCTV yang sedang dalam pemeliharaan. Tapi dari pola gerakannya, tim IT kami menemukan jejak digital yang mengarah pada... pihak luar yang disewa secara anonim."

​Zayn mengepalkan tangannya. "Gion?"

​"Kami belum bisa memastikan, tapi targetnya sangat spesifik: kelemahan Anda. Dan kita semua tahu siapa kelemahan terbesar Anda saat ini."

​Zayn terdiam. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena amarah yang dingin. Matanya melirik ke arah taman, di mana ia bisa melihat ujung gaun Laila dari kejauhan.

​"Perketat penjagaan di sekitar Laila. Jangan biarkan dia tahu soal ini dulu, aku tidak mau dia cemas saat baru saja mulai tersenyum," perintah Zayn dengan nada rendah yang berbahaya. "Dan Dimas, cari tahu siapa 'tikus' itu. Kalau dia mencari kelemahanku, katakan padanya dia baru saja membangunkan naga yang salah."

​Zayn berusaha mengatur ekspresi wajahnya sebelum melangkah mendekati Laila. Ia menarik napas dalam, membuang sisa-sisa amarah dari suaranya, dan menggantinya dengan kelembutan yang hanya ia miliki untuk wanita itu.

​Laila sedang duduk di bangku taman, sebuah buku terbuka di pangkuannya, namun matanya menatap kosong ke arah kolam ikan.

​"Hei, melamunkan apa?" tanya Zayn lembut sambil duduk di sampingnya.

​Laila tersentak sedikit, lalu tersenyum manis. "Eh, Zayn. Enggak, cuma lagi mikir... semuanya terasa seperti mimpi. Kemarin aku di rumah sakit, merasa sendirian, sekarang aku di sini."

​Zayn meraih tangan Laila, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Ini bukan mimpi, Sayang. Dan kamu nggak akan pernah sendirian lagi. Oh ya, tadi Papa tanya sesuatu yang penting."

​"Soal apa?"

​"Dia tanya... kapan kita bisa kirim undangan?" Zayn menatap mata Laila dalam-dalam. "Papa ingin kita menikah bulan depan. Aku juga ingin. Aku ingin memastikan kamu benar-benar milikku, lahir dan batin, di bawah hukum dan di depan semua orang."

​Laila terdiam sebentar, matanya bergetar. "Bulan depan? Apa tidak terlalu cepat, Zayn? Luka-lukaku... maksudku secara mental, mungkin belum sepenuhnya kering."

​"Aku tahu, Laila. Tapi menikah denganku bukan berarti kamu harus berhenti sembuh. Kita akan sembuh bareng-bareng. Dengan kamu jadi istriku, aku punya hak penuh untuk menjagamu dari bajingan-bajingan itu. Aku ingin mereka tahu bahwa menyentuhmu berarti berurusan dengan seluruh kekuatan keluarga Malik."

​Laila menunduk, merasakan ketulusan Zayn yang begitu besar. "Zayn, aku... aku mau. Tapi apa kamu nggak malu punya istri yang punya masa lalu berantakan sepertiku?"

​Zayn mengangkat dagu Laila agar menatapnya. "Dengar ya, Laila. Masa lalumu itu bukan aib. Itu adalah bukti seberapa kuatnya kamu bertahan. Dan bagiku, nggak ada hal yang lebih membanggakan selain punya istri sehebat kamu."

​Di tengah momen manis itu, ponsel di saku Zayn bergetar hebat. Pesan singkat dari Dimas masuk: 'Tuan, penyusup itu meninggalkan pesan di server. Dia menyebut nama Laila.'

​Zayn merasakan darahnya mendidih, namun ia tetap tersenyum di depan Laila. Ia mengecup kening Laila lama, seolah sedang menjanjikan perlindungan yang tak akan pernah goyah.

​"Aku ada urusan sebentar ke kantor, ya? Kamu di rumah saja dengan Mommy Rosa. Jangan keluar gerbang tanpa Dimas, oke?"

​"Iya, Zayn. Kamu hati-hati ya," jawab Laila tanpa curiga.

​Saat Zayn berbalik dan berjalan menjauh, senyumnya menghilang seketika. Wajahnya berubah menjadi sedingin es. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, Zayn tidak akan membiarkan ada satu pun helai rambut Laila yang jatuh karena ulah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!