"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bus yang membawaku ke Bandung terasa begitu lambat. Pikiranku tertinggal jauh di belakang, di aspal yang menuju Jogja. Suasana di dalam bus riuh oleh candaan teman-teman ekskul, tapi aku hanya bisa menatap layar ponsel yang masih gelap.
Tanganku gemetar saat mengetik pesan untuk Kaila. Aku butuh tahu... aku butuh kepastian bahwa dia baik-baik saja di sana.
Afisa: "Kai, udah sampai Jogja? Gimana di sana?"
Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.
Kaila: "Belum, Fis. Masih di jalan nih, busnya agak telat karena hujan. Ini aja baru mau masuk area Prambanan."
Aku menghela napas lega. Setidaknya mereka aman. Tapi rasa penasaran itu tetap saja menyiksa.
Afisa: "Kak Guntur ikut bus kalian juga?"
Kaila: "Nggak, Fis. Guntur sama beberapa temen Alif lainnya naik motor. Katanya lebih asyik kalau naik motor biar bisa nyantai. Dia di depan tadi, udah jauh kayaknya."
Membayangkan Guntur membelah jalanan menuju Jogja dengan motornya, tanpa aku di boncengannya, membuat dadaku sesak. Biasanya, dialah yang akan bercerita panjang lebar di chat tentang persiapannya. Tapi hari ini, hening. Tidak ada satu pun pesan darinya sejak dia tahu aku memilih pergi ke Bandung.
"Kamu beneran marah ya, Kak?" bisikku lirih, nyaris tak terdengar di antara deru mesin bus.
Aku mencoba mengiriminya pesan. Hanya sebuah kalimat sederhana: "Hati-hati ya di jalan, jangan ngebut. Nanti kabari kalau sudah sampai."
Centang dua abu-abu.
Satu jam berlalu. Dua jam. Hingga busku tiba di Bandung dan aku mulai disibukkan dengan agenda studi banding, status pesan itu tidak berubah menjadi biru. Guntur benar-benar menghilang.
Kaila sempat mengirimiku foto suasana di lokasi konser Slank. Di sana sangat ramai, lampu-lampu panggung mulai menyala terang. Di salah satu sudut foto yang agak buram, aku bisa melihat sosoknya. Guntur berdiri membelakangi kamera, mengenakan jaket hitam kesukaannya, tampak begitu asyik mengobrol dengan Alif.
Dia terlihat... baik-baik saja tanpaku.
Seharusnya aku senang melihatnya bahagia. Tapi melihat bagaimana dia mengabaikan setiap pesanku, sementara dia bisa tertawa lepas di sana, membuatku sadar satu hal: Kehadiranku mungkin memang tidak seberarti itu baginya.
Aku tidak pernah tahu bahwa di malam Jogja yang penuh lagu-lagu Slank itu, Guntur sedang belajar satu hal—belajar untuk terbiasa tanpa aku. Dan saat aku pulang nanti, bukan lagi Guntur yang "hangat di layar" yang akan menemuiku, melainkan sosok asing yang jauh lebih dingin dari kutub mana pun.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadaku yang terasa hampa. Aku memasukkan ponsel ke dalam saku jaket, memutuskan untuk tidak mengeceknya lagi. Cukup. Jika satu-satunya cara dia menghukumku adalah dengan keheningan, maka aku akan memberinya ruang yang dia inginkan.
"Fis, ayo! Bus sudah sampai di penginapan. Setelah taruh barang, kita langsung ke lokasi pertama!" teriak salah satu teman ekskulku dari barisan depan.
Aku memaksakan senyum, mencoba mengubur bayangan konser Slank dan Guntur yang sedang tertawa di Jogja. Aku harus profesional. Bandung bukan tempat untuk meratap.
Kegiatan studi banding ini ternyata jauh lebih padat dari yang kukira. Dari satu kunjungan ke kunjungan lain, aku dipaksa untuk fokus, mencatat, dan berdiskusi. Aku membiarkan ponselku tetap di dalam tas, membiarkan layarnya gelap tanpa daya. Sesekali tanganku meraba tas itu, ada keinginan kuat untuk sekadar melihat apakah ada satu titik hijau notifikasi di sana. Namun, logika menahanku. Aku tidak ingin hancur di depan teman-temanku hanya karena satu centang abu-abu yang tak kunjung berubah.
Malam itu, di kamar penginapan yang dingin, aku baru memberanikan diri menyalakan ponsel. Hanya ada pesan dari Ibuku dan beberapa obrolan di grup kelas. Dari Guntur? Nihil.
Bahkan pesan "Hati-hati" yang kukirim tadi siang pun masih tetap sama: centang dua abu-abu. Dia membacanya, atau mungkin sengaja mengabaikannya lewat baris notifikasi tanpa membukanya.
Aku menatap langit-langit kamar. Di Jogja, mungkin konser sedang berada di puncaknya. Mungkin lagu "Kuterlalu Manis" sedang dimainkan, lagu yang pernah dia kirimkan link-nya padaku suatu malam.
"Harusnya aku di sana," bisikku pada kegelapan.
Aku menutup mata rapat-rapat, membiarkan satu tetes air mata jatuh di bantal. Aku belajar satu hal pahit hari ini: Ternyata, menjaga hati yang kaku itu jauh lebih melelahkan daripada perjalanan Bandung-Jogja sekalipun. Aku membiarkan diriku tertidur dalam kelelahan, berharap besok pagi, saat aku bangun, rasa sesak ini sudah menguap bersama embun Bandung.
Namun aku salah. Keheningan Guntur di Bandung hanyalah gerimis, karena badai yang sesungguhnya baru akan menerjang saat aku menginjakkan kaki kembali di sekolah nanti.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2