Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Guru itu kembali menulis soal yang berbeda di papan tulis, sedangkan Shela hanya diam memperhatikan gurunya yang sedang menulis soal itu.
"Silahkan kamu kerjakan lagi," ujar guru matematikanya sambil menunjuk ke papan tulis dengan wajah meremehkan.
Shela menatap gurunya yang masih terbilang muda itu, guru sombong yang tak pernah Shela suka sejak bersekolah di sana.
"Baik akan saya kerjakan, kalau kali ini saya bisa mengerjakan semua soal itu, apa yang akan ibu lakukan?" tantang Shela.
Wanita itu tersenyum." Saya akan mengundurkan diri dari sekolah ini, tapi kalau kamu tidak bisa mengerjakan soal yang saya berikan, saya minta kamu ke ruang BK dan meminta hukuman, karena sudah banyak pelanggaran yang kamu lakukan selama ini."
Shela mengangguk menyetujui." Baik kalau begitu, saya akan langsung mengerjakan soal yang ibu berikan."
Shela mengambil spidol dari gurunya itu, sebelum mengerjakan dia menatap soal-soal itu terlebih dahulu, mengingat-ingat rumus yang harus ia masukan untuk menyelesaikan soal itu.
Guru licik, ini kan materi yang berbeda dari sebelumnya.
Meski soal yang diberikan adalah materi yang berbeda dari seharusnya, tapi Shela tetap tenang karena soal yang di berikan guru itu masih bisa Shela kerjakan.
Ketika mengerjakan soal di depan, semua teman-teman dibelakangnya seketika menatap ke arahnya. Ada yang menatap takjub, tak percaya, juga banyak dari mereka yang menatap remeh ke arahnya.
Karena ini materi yang cukup sulit jadi Shela menyelesaikan soal itu lebih lambat dari soal sebelumnya. Namun tetap dia puas dengan hasil pekerjaannya.
"Sudah selesai, silahkan ibu periksa sendiri jawaban saya."
Lagi Shela berhasil menjawab soal itu dengan benar, bahkan disertai dengan penyelesaiannya.
Semua orang melongo melihat bagaimana dengan mudahnya Shela menjawab semua soal itu, bahkan soalnya yang meterinya saja belum di jelaskan. Bahkan orang-orang yang tadi mencibir dan menatapnya remeh kini diam tak berkutik.
Tak berbeda jauh dengan teman-temannya gurunya pun sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Bahkan soal yang dia berikan materinya belum pernah dia jelaskan,tapi kenapa Shela bisa menjawab soal-soal itu?
Jangankan untuk soal ini, soal sebelumnya pun anak-anak di kelas ini belum tentu ada yang bisa mengerjakan, bahkan untuk murid terpintar sekalipun karena memang materinya belum sepenuhnya dijelaskan dan juga proses menyelesaikannya yang cukup rumit.
Shela tersenyum pada gurunya, senyum ramah namun terkesan meremehkan. " Bagaimana Bu? Sesuai kesepakatan kalau saya bisa menjawab semua pertanyaan ibu, ibu bersedia mengundurkan diri," ujar Shela.
" Bu, saya memang nakal dan banyak membuat masalah,tapi bukan berarti masa depan saya akan suram seperti yang ibu katakan. Semua manusia bisa berubah pada waktunya termasuk dengan saya. Jangan pikir karena selama ini nilai saja jelek, saya tidak pernah berusaha untuk belajar," Shela maju selangkah lebih mendekat ke arah gurunya.
"Saya gak bermaksud kurang ajar, tapi selama saya diajar oleh ibu, saya sama sekali tidak bisa menangkap apa yang ibu terangkan. Ibu seolah mengajar pada mereka yang pintar sedangkan saya dan teman-teman saya yang kesulitan dalam memahami hanya di biarkan saja dan terkadang ibu mengolok-olok kami dengan alasan malas, padahal nyatanya kami hanya butuh penjelasan lebih," Shela menghela napasnya sebentar.
" Tidak ada guru yang merendahkan muridnya, kalaupun ada muridnya yang kurang pandai harusnya dia bisa membimbing dan menyemangatinya agar bisa mengikuti teman-temannya yang lain. Bukannya malah membiarkan dan meremehkan, hal itu justru akan menjatuhkan mental si murid. Sekolah yang harusnya menjadi tempat ternyaman mereka untuk belajar, malah menjadi penjara bagi mereka yang kurang dalam pemahaman. Harusnya sebelum ibu menjadi guru, ibu harus paham bagaimana menghadapi kami para murid,"ujar Shela datar dan dingin sehingga membuat semua orang diam membisu.
Shela menghela napas, akhirnya dia bisa mengeluarkan semua keluh kesahnya pada guru menyebalkan ini. Dia sudah lama ingin berbicara hal ini pada guru muda itu, cara mengajarnya buruk menurutnya. Gurunya itu seolah hanya memihak pada mereka yang pintar, sedangkan yang bodoh dipaksa untuk mengikuti tanpa dibimbing dengan benar.
Shela muak dengan metode mengajar seperti ini, makanya dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan guru yang menurutnya tidak kompeten.
" Jadi silahkan ibu mengundurkan diri sesuai kesepakatan kita atau saya akan mengeluarkan ibu secara paksa," ujar Shela dengan nada sopan.
"Kamu mengancam saya?" Ujar guru itu merasa tidak terima dengan ucapan Shela.
"Saya tidak mengancam, saya hanya meminta ibu menepati kesepakatan kita sebelumnya. jadi ibu tidak mau menepati kesepakatan kita?"
"Iya saya tidak mau, bagaimana mungkin saya mengundurkan diri hanya karena hal sepele seperti ini, saya sudah bertahun-tahun mengajar di sini!"
Shela mengangguk-anggukan kepalanya, tangannya kemudian mengeluarkan benda pipih dari saku hoodie-nya.
"Ibu lihat ini kan? Saya tau ini akan terjadi,jadi saya sudah melakukan antisipasi terlebih dahulu. Jika kurang saya masih punya banyak saksi," ujar Shela sambil menatap teman-temannya.
"Jadi sekarang pilihan ada di tangan ibu, mau keluar dengan cara terhormat atau dipermalukan."
Guru itu mengepalkan tangannya, selama bertahun-tahun berkarir sebagai guru tidak ada yang pernah mempermalukannya seperti ini. Guru itu keluar dengan wajah yang terlihat kesal, meninggalkan anak muridnya yang masih menganga tak percaya dengan keberanian Shela.
Setelah guru itu keluar, Shela menatap teman-temannya." Panggil guru lain, lo semua gak mau bego cuma gara-gara guru itu keluar kan?"
Salah satu diantara mereka berdiri,yang tak lain adalah ketua kelasnya. Ia menatap ragu Shela lalu berkata," kenapa gak lo aja yang ngajarin kita materi gadis?" saran laki-laki itu.
" Gue bukan guru," ujar Shela.
"Tapi gak ada salahnya kan ngajarin kita,cuma untuk hari ini," bujuk ketua kelasnya,masih dengan pendiriannya ingin Shela yang mengajari mereka materi tadi.
Shela menatap seluruh teman kelasnya, sebagain besar masih menatapnya tak percaya, namun sebagian lagi ada yang menatap tak suka ke arahnya.
" Lo panggil aja guru, ada yang gak suka kalau gue ngajarin kalian."
Setelah mengatakan itu mereka saling menatap satu sama lain, beberapa orang yang tadinya menatapnya tak suka tiba-tiba merubah rautnya.
" Shela, udah lo aja yang jelasin materi tadi. Bisa aja kalau lo yang jelasin kita gampang buat mengerti," ujar satu temannya yang lain.
Shela menghela napasnya." Oke, tapi cuma buat hari ini."
Shela mulai menjelaskan materi yang tadi sempat terhenti, dengan penjelasan yang sederhana dan bahasa non formal, membuat penjelasnya mudah di terima oleh teman-temannya.
"Gimana ,udah pada ngerti belum?" tanya Shela setelah menjelaskan materi.
Hampir semua temannya mengangguk, lalu beberapa orang yang mengangkat tangannya, mereka adalah orang-orang yang menurut Shela agak lambat dalam memahami pembelajaran.
"Oke, buat yang masih belum paham, sini maju kedepan buat gue jelasin langsung ke kalian. Buat yang udah ngerti, terserah kalian mau ngapain."
Ada sekitar lima orang yang masih belum memahami materi tadi, mereka semua menghampiri Shela dan bertanya mengenai hal yang belum mereka pahami dari penjelasnya tadi. Dengan sabar Shela menjelaskan ulang materi tadi sampai mereka benar-benar paham.
"Akhirnya gue bisa paham juga, rasanya pengen nangis aja. Makasih ya Shela, berkat ko gue bisa ngerjain soal ini."
Shela mengangguk, empat teman lainnya juga berterima kasih padanya. Lalu mereka kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Masih ada waktu setengah jam menuju jam pelajaran selanjutnya. Teman-temannya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Karena bosan, Shela memilih keluar kelas untuk bersantai di rooftop.
Shela berjalan di koridor menuju ke arah rooftop, belum menuju ke sana ia harus melewati loker khusus siswa dan juga gudang penyimpanan alat kebersihan di lantai tiga. Di dekat tempat itu ternyata ada Marvin dan teman-temannya, mereka terlihat sedang duduk-duduk sambil berbincang-bincang.
Mereka semua mengalihkan perhatiannya ke arah Shela, dengan percaya diri ia terus berjalan tanpa menghiraukan tatapan para laki-laki itu.
Mereka mengira Shela akan datang untuk menemui Marvin dan bergelayut manja di lengan laki-laki itu seperti yang selalu Shela lakukan dulu. Nyatanya ketika Shela melewati Marvin, gadis itu hanya melewati laki-laki itu begitu saja, bahkan Shela tidak menoleh sedikitpun. Semua orang di sana masih terkejut dengan perubahan Shela.
Hingga Shela melewati satu orang dari geng mereka yang tidak ia kenali. Dilihat dari gerak-geriknya sepertinya laki-laki itu ingin mempermalukan dirinya dengan cara menjegalnya. Shela yang menyadari hal itu hanya berjalan santai, setelah melewati laki-laki itu, bukannya terjatuh Shela malah menendang kaki laki-laki itu sampai yang empunya meringis ke sakitan.
Shela berbalik lalu menghampiri laki-laki itu, ia memasukkan kedua tangannya di saku hoodie-nya.
"Sakit?"
Laki-laki itu tidak menjawab, dia hanya menatap Shela dengan raut wajah kesal. " Kalau sekiranya Lo gak butuh kaki lo, bilang aja, biar gue bisa langsung patahin," ujarnya kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Marvin dan teman-temannya, hingga tatapannya berhenti di Marvin.
" Tolong dong didik anggota lo yang bener, kalau gak bisa gak usah sok-sokan jadi ketua geng," ucapnya membuat orang-orang di sana terlihat syok.
Shela kembali menatap nyalang orang yang ia tendang tadi." Gaya-gayaan jadi anggota geng, skill rendah otak gak ada, dasar cupu!" Setelah mengatakan itu Shela pergi melanjutkan niatnya untuk pergi ke rooftop. Meski sudah berubah, jangan lupakan kalau dia dulu adalah seorang pembully dan dia mahir bela diri. Jadi mulut pedasnya itu masih sangat berguna untuk menyerang lawan yang ingin menjatuhkannya.
Semua orang ternganga dengan ucapan Shela yang benar-benar pedas. Sedangkan laki-laki tadi sudah sangat malu, niatnya ingin mempermalukan malah dia yang malu. Laki-laki itu memilih pergi dengan kaki yang sudah pincang karena tendangan Shela yang tidak main-main.