NovelToon NovelToon
Qalbu Yang Terlupa

Qalbu Yang Terlupa

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Pengakuan di Kegelapan

#

Cahaya hitam yang keluar dari tubuh Arman membuat seluruh ruangan terasa dingin seperti dalam kulkas raksasa. Napas Mahira mengembun di udara. Tangannya gemetar menggenggam tasbih yang kini terasa membakar kulitnya.

Ustadz Hariz langsung melangkah maju, menghalangi Mahira dari Arman. Suaranya keras dan tegas membaca ayat Kursi, setiap kata diucapkan dengan penuh keyakinan.

"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum, laa ta'khuzuhuu sinatuw walaa naum..."

Cahaya hitam itu bergetar. Arman merintih, tubuhnya mundur beberapa langkah.

"Ustadz tua sialan," desisnya dengan suara yang bukan lagi suara manusia. Ada lapisan lain di sana, seperti banyak suara bergabung jadi satu. "Kamu pikir bacaan kecilmu bisa menghalangi rencana yang sudah aku susun tiga ratus tahun?"

"Bukan bacaan kecil." Ustadz Hariz tetap tenang, matanya menatap tajam pada Arman. "Ini kalam Allah. Dan tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang lebih kuat dari kalam-Nya. Kamu tahu itu, Khalil. Makanya kamu takut."

Arman tertawa, tapi tawanya terdengar dipaksakan. Penuh kepalsuan.

"Aku tidak takut pada apapun. Aku sudah mati berkali-kali. Sudah bereinkarnasi dalam tubuh yang berbeda, zaman yang berbeda. Apa lagi yang bisa membuatku takut?"

"Pertanggungjawaban." Ustadz Hariz melangkah maju. "Kamu takut pada hari saat kamu harus berdiri di hadapan Allah dan menjelaskan semua dosa yang kamu lakukan. Semua jiwa yang kamu hancurkan. Semua cinta yang kamu nodai dengan obsesimu."

Wajah Arman berubah. Kemarahannya mulai terlihat retak, digantikan sesuatu yang lebih rapuh.

Ketakutan.

"Diam," bisiknya. "Kamu tidak tahu apa-apa tentangku."

"Aku tahu lebih dari yang kamu kira." Ustadz Hariz menatapnya dengan tatapan yang anehnya penuh kasih sayang, seperti seorang ayah menatap anak yang tersesat. "Aku tahu kamu dulunya anak baik. Putra dari keluarga yang taat. Kamu hafal Al-Quran sejak kecil. Kamu rajin sholat. Kamu bermimpi jadi panglima yang adil."

Arman mundur lagi. Tangannya menutup telinga.

"Diam. Diam. Jangan bicara tentang itu."

"Tapi cinta mengubahmu." Ustadz Hariz tidak berhenti. Suaranya lembut tapi menusuk seperti pisau yang tajam. "Cinta yang tidak dibalas membuat hatimu sakit. Dan kamu biarkan rasa sakit itu berubah jadi kebencian. Kamu biarkan setan membisikkan hal-hal jahat di telingamu. Dan kamu dengarkan. Kamu ikuti."

"KARENA AKU TIDAK PUNYA PILIHAN!" Arman berteriak. Seluruh tubuhnya gemetar. "Aisyara adalah segalanya bagiku! Tanpa dia, hidupku tidak ada artinya! Aku rela melakukan apapun, bahkan menjual jiwaku, demi bisa memilikinya!"

"Tapi dia bukan milikmu untuk dimiliki," kata Mahira pelan. Suaranya stabil meskipun seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. "Dia manusia, Khalil. Bukan harta. Bukan properti. Dia punya hati, punya perasaan, punya hak untuk memilih siapa yang dia cintai."

Arman menoleh padanya. Mata hitamnya menatap dengan intensitas yang membuat Mahira ingin mundur. Tapi dia tahan. Dia tidak akan lari.

"Kamu tidak mengerti," katanya dengan suara yang tiba-tiba terdengar seperti tangisan. "Kamu tidak pernah merasakan cinta yang begitu kuat sampai rasanya seperti terbakar hidup-hidup. Cinta yang membuatmu rela mati, rela bunuh, rela apapun demi sedetik perhatian dari orang yang kamu cintai."

"Itu bukan cinta," Mahira menggeleng. "Itu obsesi. Itu penyakit. Dan kamu butuh penyembuhan, bukan pembenaran."

Khaerul yang berdiri di ambang pintu mencoba melangkah masuk, tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia merosot, hampir jatuh kalau tidak sempat berpegangan pada kusen pintu.

"Mahira," panggilnya dengan suara serak. "Jangan dengarkan dia. Dia pembohong. Dia..."

"Diam, Azka." Arman menoleh padanya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih kompleks. Ada penyesalan di sana. "Kamu tidak seharusnya mati. Kamu anak baik. Kamu hanya mencoba melindungi kakakmu. Tapi kamu menghalangi jalanku. Dan aku... aku tidak bisa berhenti. Pisau sudah di tanganku. Darah Dzarwan sudah membasahi lantai. Dan kamu datang dengan mata yang penuh ketakutan tapi tetap berani melawanku."

Suaranya bergetar. Air mata mulai keluar dari mata hitamnya yang mengerikan.

"Maafkan aku, Azka. Dari semua orang yang aku bunuh malam itu, kematianmu yang paling aku sesali. Karena kamu tidak ada hubungannya dengan cinta atau kebencian atau apapun. Kamu hanya anak lima belas tahun yang mencintai kakakmu."

Khaerul menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ingatannya sebagai Azka mulai terang. Ingatan pisau menusuk perutnya berkali-kali. Ingatan melihat Dzarwan terluka parah di lantai. Ingatan mencoba merangkak mendekati kakaknya tapi tubuhnya tidak kuat.

"Kamu membunuhku," bisiknya. "Kamu membunuhku dan membiarkanku mati sendirian dalam kegelapan sambil mendengar tangisan Aisyara di kejauhan."

"Aku tahu." Arman jatuh berlutut lagi. Kali ini tidak ada kepura-puraan. Hanya penyesalan yang murni dan menghancurkan. "Dan aku sudah membawa rasa bersalah itu selama tiga ratus tahun. Setiap kali aku bereinkarnasi, aku ingat wajahmu. Aku ingat teriakan terakhirmu yang memanggil kakakmu. Dan itu..." suaranya tercekat, "itu membakarku dari dalam."

Ustadz Hariz menatap Mahira. Memberinya isyarat. Ini waktunya.

Mahira menarik napas panjang. Melangkah maju dengan kaki yang gemetar. Berdiri di depan Arman yang masih berlutut.

"Khalil," panggilnya dengan suara lembut.

Arman mendongak. Wajahnya basah karena air mata. Untuk pertama kalinya, Mahira melihat dia bukan sebagai monster. Tapi sebagai manusia yang patah. Manusia yang cintanya berubah jadi kutukan karena dia tidak tahu cara melepaskan.

"Aku mau tanya satu hal," kata Mahira pelan. "Dengan jujur. Tidak ada kebohongan."

"Apa?"

"Dalam tiga ratus tahun bereinkarnasi ini, apa kamu pernah mencoba mencintai orang lain? Pernah membuka hatimu untuk kemungkinan bahwa mungkin ada wanita lain di luar sana yang bisa membuatmu bahagia?"

Arman terdiam lama. Matanya menatap kosong ke lantai.

"Aku pernah," jawabnya akhirnya dengan suara sangat pelan. "Di kehidupan ketujuhku, aku bertemu seorang wanita. Namanya Siti. Dia guru mengaji. Cantik, baik hati, sabar. Dia mencintaiku meskipun aku hanya tukang becak miskin. Kami menikah. Punya tiga anak."

Mahira terkejut mendengar itu. Dia tidak menyangka Khalil pernah mencoba hidup normal.

"Lalu kenapa kamu tidak bahagia dengannya?"

"Karena aku bodoh." Arman tertawa pahit. "Karena meskipun aku punya istri yang mencintaiku, anak-anak yang lucu, hidup yang sederhana tapi damai, aku masih terus bermimpi tentangmu. Masih terus mencari wajahmu di setiap wanita yang lewat. Dan Siti tahu. Dia tahu aku tidak pernah sepenuhnya jadi miliknya. Jadi saat dia mati melahirkan anak keempat kami, kata terakhirnya adalah: semoga kamu menemukan apa yang kamu cari, Mas. Semoga kamu akhirnya bisa bahagia."

Air matanya jatuh semakin deras.

"Tapi aku tidak pernah bahagia. Karena yang aku cari tidak pernah bisa kumiliki. Dan sekarang aku sadar betapa sia-sianya semua ini. Betapa bodohnya aku mengorbankan kehidupan demi kehidupan untuk cinta yang tidak pernah ada."

Mahira merasakan dadanya sesak. Sebagian dari dirinya merasakan simpati yang mendalam untuk pria yang terjebak dalam obsesinya sendiri.

"Kamu bisa memilih untuk berhenti," katanya lembut. "Sekarang. Di sini. Kamu bisa memilih untuk menerima pengampunan, melepaskan obsesimu, dan akhirnya istirahat dengan damai."

Arman menatapnya dengan mata yang penuh kerinduan.

"Apa kamu akan mengampuniku? Setelah semua yang aku lakukan?"

"Aku akan mencoba." Mahira mengulurkan tangannya. "Bukan karena kamu pantas. Tapi karena aku tidak mau terikat kebencian lagi. Aku mau bebas. Dan kamu juga berhak bebas dari penderitaanmu sendiri."

Arman menatap tangan itu. Perlahan, sangat perlahan, dia mengulurkan tangannya.

Jari-jari mereka nyaris menyentuh.

Tapi tiba-tiba Arman menarik tangannya kembali.

Ekspresinya berubah. Dari penyesalan jadi sesuatu yang lebih gelap.

"Tidak," katanya dengan suara dingin. "Aku tidak bisa."

Mahira mundur. Tasbihnya tiba-tiba panas lagi.

"Kenapa?"

Arman berdiri. Cahaya hitam di sekitarnya menguat.

"Karena jika aku terima pengampunanmu, jika aku lepaskan obsesiku, lalu apa yang tersisa dariku?" suaranya bergetar dengan emosi yang kompleks. "Tiga ratus tahun aku hidup dengan cinta ini. Cinta yang menyakitkan, yang menghancurkan, tapi tetap satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup. Tanpa cinta ini, tanpa obsesi ini, aku hanya... kosong."

"Maka isilah dengan hal lain," kata Ustadz Hariz. "Isi dengan iman. Dengan kebaikan. Dengan cinta pada Allah yang tidak akan pernah mengecewakanmu seperti cinta pada makhluk."

"Terlambat." Arman menggeleng. "Aku sudah terlalu jauh tersesat. Terlalu banyak dosa. Allah tidak akan mau menerima hamba seperti aku."

"Allah Maha Pengampun." Ustadz Hariz melangkah maju, tangannya terulur dalam gesture damai. "Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama hamba itu benar-benar bertaubat. Khalil, kamu masih punya kesempatan. Selama nyawamu belum berakhir di kehidupan ini, pintu taubat masih terbuka."

Arman menatapnya lama. Konflik jelas terlihat di wajahnya.

"Aku ingin percaya itu," bisiknya. "Tapi aku tidak tahu caranya. Aku sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya cahaya."

"Maka biarkan kami tunjukkan." Mahira mengulurkan tangannya lagi. "Biarkan kami bantu kamu menemukan jalan keluar dari kegelapan. Kamu tidak harus sendirian lagi."

Arman menatap tangannya. Kali ini lebih lama. Dengan kerinduan yang menyayat hati.

Tapi kemudian dia mundur.

Melangkah ke bayangan di sudut ruangan.

"Aku tidak bisa," katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Belum. Aku masih punya satu hal yang harus aku lakukan."

"Apa?" tanya Mahira.

Arman tersenyum. Senyum sedih yang membuat hati Mahira remuk.

"Aku harus pastikan ritual tetap berjalan. Karena ritual itu bukan hanya tentang memutuskan kutukan. Tapi juga tentang memberi aku kesempatan terakhir untuk memilih. Untuk akhirnya memilih jalan yang benar, atau tenggelam sepenuhnya dalam kegelapan."

"Khalil, jangan..." Mahira mencoba mendekat tapi tubuh Arman sudah mulai memudar, melebur dengan bayangan.

"Tanggal tujuh belas Februari," katanya. Suaranya bergema dari segala arah. "Ritual tidak akan pernah selesai tanpa persetujuanku. Tanpa kehadiranku. Jadi aku akan datang. Aku akan datang dan memberikan jawaban terakhirku. Apakah aku akan terima pengampunan dan akhirnya istirahat, atau..."

Dia tidak melanjutkan. Tapi mereka semua tahu kelanjutannya.

Atau dia akan menghancurkan semuanya.

Tubuh Arman menghilang sepenuhnya. Yang tersisa hanya keheningan dan udara dingin yang mencekam.

Mahira merosot. Kakinya tidak kuat lagi menahan. Ustadz Hariz menangkapnya, membantu dia duduk di lantai.

"Dia masih di sini," bisik Mahira. "Aku bisa merasakannya. Dia tidak benar-benar pergi."

"Dia tidak akan pergi," kata Ustadz Hariz sambil membantu Mahira duduk. "Tidak sampai semuanya selesai. Khalil terikat dalam kutukan yang dia sendiri tidak sepenuhnya paham. Dan hanya dengan ritual yang tepat, dengan pengampunan yang tulus, dia bisa dibebaskan."

Khaerul akhirnya berhasil masuk, merangkak dengan susah payah ke arah Mahira. Wajahnya pucat tapi matanya penuh determinasi.

"Kita harus siapkan ritual dengan benar," katanya dengan napas tersengal. "Kita tidak punya banyak waktu. Dua hari lagi."

Mahira menatapnya. Lalu menatap Ustadz Hariz.

"Apa kita akan berhasil?"

Ustadz Hariz terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis.

"Insya Allah, nak. Insya Allah. Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Dan Allah sudah membawa kalian sejauh ini. Percayalah pada rencana-Nya."

Mahira mengangguk pelan. Meskipun ketakutan masih mencengkeram dadanya, ada secercah harapan yang mulai tumbuh.

Harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka bisa mengakhiri semua ini dengan cara yang benar.

Dan membebaskan semua jiwa yang terikat, termasuk jiwa Khalil yang tersesat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!