NovelToon NovelToon
Rhaella : Kuat Dalam Sakit

Rhaella : Kuat Dalam Sakit

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.

Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.

Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Dia sendiri sebelumnya berada di tempat arisan bersama dengan ibu ibu sosialita lainnya dan Handphonenya sendiri sudah habis baterai, kemungkinan suami dan anaknya menghubunginya saat handphonenya sudah mati total.

Alane bahkan sudah memaki maki Rhaella, dia memang merasa bahwa Rhaella itu tidak pernah merasa takut sama sekali padanya apalagi pada Daena, satu satunya orang yang bisa membuat elsa diam adalah Leif ayah kandungnya sendiri.

DEG

Rhaella yang mendengar itu entah kenapa dia tersentak kaget dan matanya tiba-tiba saja sudah berkaca-kaca. Semua aktivitas dan gerutuan dari mulut Alane tadi tidak lepas dari pantauan mata Rhaella, Rhaella sendiri merasa dadanya sesak mendengar apa yang Alane ucapkan.

"Gue ngga salah denger kan tadi, Iyah gue nggak salah" meyakinkan dirinya "anak sialan yang dia maksud itu pasti gue, dan. dia bilang tadi... kenapa dia ngga bunuh gue seperti dia bunuh nyokap gue" ucapnya kembali mengingat ucapan Alane.

air mata yang tidak pernah keluar entah sejak kapan sudah mengalir membasahi pipinya dengan rahang yang mengeras serta mata yang sudah memerah akibat menahan amarah serta dada terasa begitu tercekik.

"Sampai gue tahu kalau ternyata bener Lo yang udah bunuh bunda gue dan bikin hidup gue serasa di neraka, gue nggak bakal lepasin Lo Alane, Lo bahkan akan merasakan sakit yang sesungguhnya bahkan lebih dari penyiksaan yang gue dapat selama hidup gue dan yang lo lakuin ke bunda gue. Gue bakal buat Lo sendiri yang meminta akan kematian itu" ucapnya dengan tangan yang sudah mengepal kuat menatap semua pergerakan Alane di depan layar laptopnya.

Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi, dia tidak mau mengambil keputusan disaat keadaan otak serta hatinya di penuhi oleh amarah, dia memutuskan untuk mendinginkan otaknya agar bisa menyusun rencana untuk kedepannya. Dia benar-benar tidak akan mengampuni dan akan membunuh siapa saja yang ada sangkut pautnya dengan kematian sang bunda.

Saat ini Gabriel baru sampai di mansionnya, saat berjalan masuk dia melihat di ruang tengah ada ayah dan bunda serta kedua saudaranya sedang duduk bercengkrama. Gabriel pun menghampiri keluarganya dan duduk di samping sang ayah

"Kamu dari markas mu sayang?" Ucap sang bunda yang melihat anaknya baru pulang.

"Iyah"

"Dari markas atau dari tempat lain son?" tanya sang ayah pada anak keduanya, Gabriel sendiri hanya mendengus Gabriel tahu pasti ayahnya tadi melihat dia sedang memboceng Rhaella saat di lampu merah. Yah Gabriel sendiri pun sebenarnya menyadari saat di lampu merah mobil ayahnya berada tepat di belakang motornya karna dia memang sengaja melewatinya.

"Tadi kamu bonceng siapa pacar kamu?" Tanya kembali Warren sang ayah. Mereka yang mendengar ucapan sang kepala rumah tangga itu seketika menoleh ke arah Gabriel, sedangkan yang di tanya hanya diam dengan wajah datarnya.

Yah tadi saat ingin bertemu dengan kliennya di salah satu hotel, supir pribadinya memberitahu bahwa dia melihat Gabriel anaknya sedang membonceng seorang perempuan yang kebetulan memang tepat berada di depan mobil mereka yang tengah berada di lampu merah. Warren tadi memang ingin mengikuti kemana anaknya pergi tapi mengingat klien yang sudah menunggunya jadi dia urungkan niat itu.

"Lo beneran udah punya cewe dek kenapa ngga Lo kenalin bawa ke rumah gitu?" Tanya Godric sedikit syok, pasalnya dia tidak bisa percaya begitu saja jika adiknya memiliki kekasih di lihat dari sifatnya yang datar kaku serta dingin seperti itu wanita mana yang akan betah, yah meskipun wajah adiknya terbilang sangat tampan tapi kalau dia kaku dan dingin seperti itu wanita juga akan takut berdekatan dengan adiknya ini.

"Iya siapa cewe yang tidak beruntung itu bang?" Celetuk Griffin tiba-tiba sambil memakan kripik bawang favoritnya buatan dari bundanya. Gabriel yang mendengar kalimat dari adiknya menatap tajam adiknya, Sedangkan Godric malah menertawakan, Shaera dan Warren hanya geleng-geleng kepala sesekali akan ikut terkekeh melihat kelakuan anak-anaknya.

"Dek ngga boleh gitu. Kamu itu yah kalau ngomong suka bener" ucap bundanya tertawa dan di sambung tawa heboh oleh Godric dan Aska sedangkan Warren hanya terkekeh. Gabriel sendiri hanya mendengus kesal.

"Tadi itu temen El" jawabnya datar.

"Oh cuma temen, ayah kira otw jadi pacar"

"Terus gimana kamu udah anter dia ke rumahnya nak" Tanya bundanya karna merasa tidak puas dengan jawaban anaknya.

"El anter ke bengkel" jawab Gabriel kepada bundanya yang hanya di angguki oleh bundanya.

"Ck Lo kalo ngomong nggak bisa di panjangin dikit apa kalimatnya, suka banget bikin orang banyak nanya" kesal Godric mendelik pada adiknya.

"Yang nyuruh lo banyak nanya siapa emang?" jawab Gabriel yang membuat Godric semakin kesal, adiknya ini memang sering sekali membuatnya darah tinggi.

"Lo sekalinya ngomong emang suka bikin naik darah yah" ucapnya kesal melihat tampang menjengkelkan adiknya

"Kita itu nanya yah karna penasaran" sambungnya kembali

"Yang nyuruh lo penasaran siapa?" Jawab Gabriel sedikit kesal melihat tampang abangnya. Oke sepertinya Godric sudah benar benar darah tinggi.

Mendengar itu benar-benar membuat Godric emosi dia merasa jengkel jika harus berbicara dengan adiknya yang satu ini. Jika dia yang selalu mengerjai adik bungsunya, sepertinya dia mendapatkan karma lewat adik keduanya.

"Eh sekate-kate ya Lo kalo ngomong emang Lo bisa ngelarang orang buat ngga penasaran gitu kesel banget gue ngomong sama nih anak. Lo sehari aja nggak bikin kesel nggak bisa?" Ucap Godric yang sudah duduk tegak lalu berkacak pinggang.

"Ngga bisa" ucap Gabriel sedikit kesal juga. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa melihat wajah kesal kakaknya, kakaknya ini memang paling gampang keluar taring hanya karena masalah sepele.

"Kalian berdua mau coba kripik?" Celetuk Griffin tiba-tiba di tengah perdebatan abang-abangnya.

"Diem Lo" ucap Godric dan Gabriel bersamaan kepada Griffin.

Griffin yang mendengar itu pun tersentak kaget Untung saja tidak sampai tersedak keripik.

Sedangkan orang tua mereka hanya geleng-geleng kepala ikut terkekeh juga melihat kelakuan para putranya.

Beginilah mereka jika sudah berkumpul meskipun Gabriel dingin datar dan kaku tapi jika sudah di tengah keluarganya dia bisa sedikit mengekspresikan wajahnya. Sebenarnya ayahnya sendiri bingung dari mana dia mendapatkan watak seperti itu padahal dia dan istrinya tidak ada yang seperti itu.

"Udaah kok malah ribut ribut sih" ucap Warren melerai anak-anaknya "mending sana kalian pergi ke kamar nanti bunda panggilin kalian buat makan malam" lanjutnya kemudian bangun dari duduknya.

"Ayah mau ke kamar dulu sama bunda, ayo sayang kita bikin Adek mereka" ajak Warren pada istrinya dengan memeluk mesra pinggang istrinya.

"Ayaaaaah" ucap ketiga anaknya bersamaan sehingga membuat kedua orang tuanya tersentak kaget.

"Godric udah cukup yah 2 yang ngeselin ayah ngga mau nambah lagi" ucap Godric

"El nggak mau punya beban cukup 2 aja sekarang " ucap pedas Gabriel.

"Griffin juga ngga mau, Griffin nggak mau jadi Abang titik nggak pake koma" ucap Griffin paling kencang suaranya, Membuat yang lain menutup telinganya.

"Iyah Iyah astagaa ayah tadi cuma bercanda ko, tapi kalau jadi yah mau gimana" ucap ayahnya tak habis pikir kepada anak-anaknya bahkan Gabriel pun sekarang ikut-ikutan, Shaera sendiri hanya tertawa kecil melihat itu semua.

...

Gabriel tengah memakai kaosnya, dia baru saja selesai membersihkan diri terdengar suara notifikasi dari handphonenya ternyata notifikasi dari grup ini Desmond.

THE DMD

Rufus

El?

Rufus

El?

Rufus

El woi

Rufus

Elll Ell Ell Woi woi

Hans

Berisik banget anjing

Rufus

@Hans gue panggil El kenapa Lo yang muncul?

Hans

@Anjir Lo kalau nggak mau gue muncul ya jangan spam di grup begooo PC aja

Calix

@Rufus PC aja si babiii

Rufus

@Calix Lo yang babiii ngepet

Rufus

@Hans perasaan tadi gue PC

tapi kenapa malah masuk grup sih?

Hans

@Rufus Gini nih contoh orang yang tololnya mengalir sampe jauh.

Calix

@Rufus gini nih contoh sedot

WC kalau di kasih nyawa

Rufus

@Hans Hans anjing diem lo, Lo

nggak di ajak

Merrit

BERISIK

Anda

@Rufus Apa?

Rufus

Akhirnya nongol juga lo paketu

Rufus

Gue udah coba cari tahu tentang Rhaella tapi gue ngga bisa dia ngekunci untuk biodatanya, susah banget gue tembus tapi gue coba lagi nanti, Ntar gue kabarin

Anda

Oke nggak papa lo bisa coba lagi

Calix

@Rufus udah gitu doang?

Rufus

@Calix iyalah, emang kenapa?

Hans

@Rufus Lo bisa langsung kasih tahu di PC Lo ntar juga dia baca sendiri.

Rufus

@Hans Lupa

Hans

@Rufus Brengsek

...

Malam ini di dalam kamar apartemennya Rhaella sedang berkutat serius dengan laptopnya dia sedang fokus meretas keamanan indentitas pribadi serta masa lalu dari ibu tirinya Alane. Rhaella menduga sepertinya ibu tirinya itu membayar ahli IT untuk mengunci semua informasi tentang masa lalunya. Setelah beberapa menit fokus dengan laptopnya akhirnya dia sudah berhasil meretas informasi yang ingin dia tahu.

"Cih jadi dia dulu pernah dua kali jadi simpanan om-om, pernah masuk penjara juga karna ketahuan mengkonsumsi barang haram" ucapnya membaca informasi yang dia dapat setelah berhasil meretas identitas Alane.

"Benar-benar jalang" ucapnya.

Rhaella merasa jijik sendiri melihat begitu banyak foto-foto tak senonoh Alane bersama dengan banyak laki-laki yang berbeda-beda pula, bukan hanya foto tapi video juga ada, tapi Rhaella tidak berniat untuk melihat lebih lanjut. Seperti ini saja sudah berhasil membuatnya mual.

Merasa sudah cukup dia pun ingin bangun tapi rasa sakit di punggungnya membuat Rhaella membuka bajunya dan melihat luka di punggungnya ternyata memang cukup parah.

"Ck, punggung gue sakit banget" dia merasa punggungnya terasa begitu panas dan perih apalagi terkena gesekan dari pakaian, pukulan dari ayahnya tadi memang cukup banyak hingga mengeluarkan darah di punggungnya.

"Muka gue juga banyak banget lagi memarnya" gumamnya melihat banyak memar pada wajahnya di cermin.

"besok gue bangun lebih pagi buat ke salon" ucapnya berjalan sedikit pincang sambil memegang perutnya. Yah perut dan kaki juga tak lepas dari tendangan Leif.

Pagi pun tiba Rhaella kini sudah berpakaian rapi dengan seragamnya, seperti yang di katakannya tadi malam dia akan pergi ke salon terlebih dahulu, bukan untuk berdandan tapi untuk make over wajahnya yang babak belur itu agar tidak kelihatan. Rhaella kemudian memakai maskernya lalu turun untuk memesan saja taxi, dia tidak pergi menggunakan motornya karna karena badannya masih terasa sakit.

Setelah mendapatkan taxi dia kemudian pergi menuju salon terdekat dengan apartemennya, setelah beberapa menit dia pun telah sampai di sebuah salon yang cukup terkenal.

Tiiing

Bunyi lonceng pada pintu saat Rhaella masuk dan kemudian di hampiri oleh seorang pegawai salon tersebut.

"Selamat pagi kak ada yang bisa saya bantu" ucap ramah pegawai tersebut.

"Saya mau di make over" ucap datar Rhaella pada pegawai tersebut.

"Baik, mari silahkan masuk kak" ucap kembali pegawai tersebut mempersilahkan Rhaella masuk.

"Kakak ingin di make over seperti apa?" Lanjut kembali pegawai itu.

Rhaella pun duduk di kursi yang telah di sediakan, kemudian membuka maskernya tampak lah banyak luka lebam di wajah cantik Rhaella "saya mau tutupi semua luka yang ada di wajah saya" ucapnya dingin Rhaella kepada pegawai itu.

"Tapi kak saya lihat lukanya parah dan masih cukup baru apa tidak sebaiknya di obati dulu saya takut tambah parah jika terkena make up" ucap pegawai tersebut memberi saran kepada Rhaella, pegawai itu merasa kasihan karena melihat banyak luka lebam di wajah gadis yang terlihat sangat cantik itu meskipun di penuhi banyak lebam.

"Saya sudah obati, saya hanya tidak ingin ke sekolah dengan keadaan wajah seperti ini" ucap datar Rhaella sedikit berbohong padahal dia tidak pernah mengobati lukanya, semoga saja tidak sampai terjadi infeksi.

"Anda ingin make over saya atau tidak saya akan pergi cari salon lain" tanya Rhaella yang sudah mulai tidak sabar, pasalnya jam masuk sekolahnya akan tiba.

"Eh iya kak baik kami akan menutup luka di wajah kakak" putus wanita lain yang memang berada di sana juga, kemudian memerintahkan pengawalnya untuk segera memakaikan make up pada wajah Rhaella.

Selama Kurang lebih 15 menit berlalu kini wajah Rhaella sudah di tutupi oleh make up dan sudah lebih baik. Setelah melihat wajahnya sudah tidak terlihat lagi lebam Rhaella pun membayar dan kemudian keluar dan pergi menuju sekolahnya yang sebentar lagi masuk.

...

Rhaella kini sudah sampai di sekolahnya untung saja dia dapat cepat taxi saat dari salon jadi sampai tepat waktu ke sekolah, kemudian berjalan seperti biasa tapi sedikit pincang, para murid-murid yang banyak yang berbisik-bisik karena melihat Rhaella berjalan pincang, tapi kembali lagi ini adalah Rhaella dia tidak menghiraukan itu, saat sudah sampai di kelasnya dia menuju kursinya, dia belum melihat para inti Desmond masuk ke dalam kelas. Beberapa saat dia duduk, guru pun masuk yang di ikuti oleh inti Desmond di belakang.

"Hari ini ibu ada kuis soalnya ada 30 nomor jadi sekarang kalian siapkan alat tulis hanya pena tipe-x selebihnya kalian simpan di depan tas kalian semua" ucap tiba-tiba guru tersebut guru yang terkenal killer. Sontak saja ucapan guru itu membuat murid-muridnya kaget dan sekaligus panik seketika pasalnya mereka tidak ada yang belajar lalu dikejutkan dengan kuis tiba-tiba di mata pelajaran guru killer, bagaimana mereka tidak panik.

"Aris dan agas tolong kumpulkan tas teman-teman kalian dan simpan di depan, Pastikan hanya ada pena dan tipe-x di atas meja" ucap sang guru kepada kedua siswanya.

" Baik Bu "

Namun lain halnya dengan para tembok siapa lagi kalau bukan Gabriel, Merrit dan Rhaella. Mereka bersikap biasa saja dengan muka datar andalan mereka masing-masing tidak heboh seperti yang lainnya, namun berbeda dengan tiga inti Desmond sekarang.

"Anjir gue lupa mata pelajarannya ibu Jessi mana ini kimia lagi" ucap Rufus yang panik juga pasalnya dia bodoh dalam mata pelajaran satu ini.

"Ck lo giliran baca kode-kode IT gampang banget giliran ini aja ngga bisa, aneh" ucap Hans menoleh ke belakang meja Rufus dan Calix.

"Iya itu kan emang keahlian gue, emang Lo sendiri bisa? Gaya-gayaan ngatain gue, nilai kimia lo di bawah gue by the way" ucap Rufus dengan wajah sedikit songong.

"Elleeeh cuma beda 1 angka doang bangga banget lo, gue ada dewa penyelamat gue sekarang" ucapnya tersenyum pada Merrit.

"Iya nggak beb" lanjut Hans menaik turunkan alisnya pada Merrit. Merrit sendiri tetap menampilkan wajah datarnya tidak terpengaruh dengan celotehan Hans.

"Najis banget anjing" umpat

Calix dan Rufus bersamaan melihat wajah tengil Hans.

"Lo berdua yang anjing" sentaknya pada Calix dan Rufus.

"Sama dia aja" ucap Merrit datar menunjuk ke arah Gabriel dengan dagunya. Hans pun menoleh ke arah Gabriel yang juga menatapnya balik karna merasa di tatap dia pun mengangkat sebelah alisnya, Hans hanya menggelengkan kepalanya cengengesan.

"Kapok gue minta sama El " ucap merenggut. Sudahlah, lupakan saja Hans kapok jika menyontek pada Gabriel tak hanya dia tapi yang lain juga kecuali Merrit. Bukan karna Gabriel tidak akan memberikan mereka jawaban, akan tetapi setelah acara contek menyontek selesai, malam harinya Gabriel akan mengirimkan banyak materi pada mereka tak lupa beserta dengan soal-soal yang sangat rumit.

"Ntar gue traktir mie ayam kesukaan elo di depan sekolah Bima Bakti gimana?" Ujar Hans menyogok Merrit.

"Hm" hanya berdehem pasalnya memang mie ayam di sana adalah favoritnya Merrit dan menjadi salah satu tempat makan favorit mereka.

"Yesss!"

"Gue juga yah Rit?" Nimbrung Rufus di belakang mereka

"Apaan sih lo, Lo ngga di ajak" sentak Hans.

"Diem" satu kata Merrit pada mereka membuat Rufus dan Hans mingkem tidak berani lanjut, Calix hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya. Tidak mungkin juga Merrit hanya memberikan Hans saja sedangkan Rufus tidak, kalau Calix sendiri Merrit tidak khawatir, Calix juga salah satu siswa pintar dengan urutan ke 5 jadi dia pasti bisa mengerjakan soal-soal kuis itu.

Kuis pun dimulai dan sudah lima belas menit berlalu, Mereka mengerjakan soal-soal kuis dengan beraneka ragam jawaban. Ada yang mengisi jawaban dengan menulis kata tidak tahu di setiap soal, ada yang asal asalan mengisi saja yang penting tidak kosong melempeng kertas soal mereka dan ada juga yang memang mengosongkan kertasnya tanpa menjawab apapun pasrah begitu saja karena menyerah dengan soal yang menurut mereka sulit.

Ggrrttt

Bunyi kursi mengalihkan perhatian mereka. Termasuk Gabriel.

1
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Lnjtkn, De, dtunggu Up Slnjtx ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Siap, De, Dtunggu 🙏👍🥳
Varia Irene Patola: ditunggu yah Up nya
total 2 replies
Nda_Zlnt
luar biasa
Nda_Zlnt
lanjut thor
Varia Irene Patola: Siap dehhhh aku lanjut yah ini...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!