NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

yun Qi baru menyadari ada yang berubah ketika orang-orang mulai berhenti berbicara saat ia lewat.

Awalnya hanya satu dua tatapan yang terasa lebih lama dari biasanya. Lalu bisikan yang terputus di tengah kalimat. Kemudian senyap yang aneh—bukan sunyi yang damai, melainkan sunyi yang penuh penilaian.

Ia berdiri di depan papan pengumuman fakultas, pura-pura membaca jadwal seminar yang sebenarnya sudah ia catat kemarin. Tangannya menggenggam ponsel, jemarinya dingin. Dari sudut matanya, ia bisa melihat dua mahasiswi di bangku dekat tangga. Mereka saling berbisik, lalu tertawa kecil.

“Yang itu, kan?”

“Iya. Katanya sering dijemput mobil hitam.”

“Bukan mobil pacarnya. Katanya lebih tua.”

Yun Qi menelan ludah.

Ia memaksa dirinya berjalan pergi, langkahnya dijaga tetap normal. Punggungnya terasa panas, seolah semua mata menempel di sana. Di koridor, ia bertemu salah satu teman sekelasnya yang biasanya ramah.

“Oh, Qi,” sapa gadis itu, senyumnya canggung. “Kamu… hari ini ikut diskusi kelompok, kan?”

“Iya,” jawab Yun Qi pelan.

“Bagus.” Gadis itu mengangguk cepat, lalu berlalu tanpa menunggu jawaban lanjutan.

Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, dan Yun Qi tidak tahu kapan tepatnya ia melangkah melewati garis itu.

Di kelas, kursi di sebelahnya kosong lebih lama dari biasanya. Ketika dosen mulai mengajar, seorang mahasiswa laki-laki akhirnya duduk, tapi menjaga jarak—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Aman.

Ponsel Yun Qi bergetar. Pesan dari Chen Rui.

Chen Rui:

Qi, kamu dengar gosip di kampus?

Yun Qi menatap layar cukup lama sebelum membalas.

Yun Qi:

Gosip apa?

Tiga titik muncul, menghilang, muncul lagi.

Chen Rui:

Ada yang bilang kamu punya sugar daddy.

Dunia Yun Qi seolah berhenti sebentar.

Yun Qi:

Apa?

Balasan Chen Rui datang cepat.

Chen Rui:

Maaf. Aku juga baru dengar. Tapi… banyak yang ngomong.

Yun Qi meletakkan ponselnya di meja, jantungnya berdetak keras. Suara dosen terdengar seperti dengungan jauh. Kata-kata “sugar daddy” berputar-putar di kepalanya, menusuk dengan cara yang kejam dan memalukan.

Ia menunduk, berusaha bernapas pelan.

Selesai kelas, Yun Qi langsung menuju perpustakaan. Tempat itu biasanya aman—sunyi, netral. Tapi hari ini, bahkan di sana, ia merasa terasing. Beberapa kepala terangkat saat ia masuk. Seorang pustakawan menatapnya lebih lama dari perlu.

Ia duduk di sudut, membuka buku tanpa benar-benar membaca. Tangannya gemetar ketika membalik halaman. Pikirannya melayang ke restoran hotel kemarin. Ke cara Hao Yu berdiri. Ke mobil hitam yang menjemputnya. Ke apartemen mewah.

Semua potongan itu, jika dirangkai oleh orang yang tidak mengenalnya, memang bisa menjadi cerita kotor.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari grup asrama. Sebuah tangkapan layar dikirim.

Akun anonim kampus:

“Cewek beasiswa tapi hidup mewah. Tiap malam dijemput om-om. Katanya kakak, tapi siapa yang percaya?”

Darah Yun Qi terasa turun ke kaki. Wajahnya memanas. Matanya perih, tapi ia menahan air mata. Ia tidak ingin menangis di tempat umum.

Ia berdiri, memasukkan buku ke tas dengan gerakan tergesa, lalu keluar.

Di luar, angin bertiup dingin. Yun Qi berjalan tanpa tujuan, langkahnya semakin cepat. Nafasnya pendek. Ia merasa seperti semua orang tahu, semua orang menilai, dan tidak ada satu pun yang peduli pada kebenaran.

Di sebuah bangku taman kampus, ia akhirnya duduk dan menutup wajah dengan kedua tangan.

“Kenapa jadi begini…?” bisiknya.

Ponselnya bergetar lagi. Nama Hao Yu muncul di layar.

Ia ragu menjawab. Jarinya melayang di atas layar, lalu ia menggeser untuk menerima.

“Qi,” suara Hao Yu terdengar tenang seperti biasa. Terlalu tenang.

“Kamu di mana?”

Yun Qi menarik napas. “Kampus.”

“Spesifik.”

Ia menyebutkan lokasi. Ada jeda singkat.

“Aku ke sana,” kata Hao Yu.

“Ge, nggak perlu—”

“Selesai,” potongnya pelan.

Telepon terputus.

Yun Qi menatap layar kosong. Ada bagian dari dirinya yang lega. Ada juga yang takut.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, mobil hitam itu muncul di tepi jalan kampus. Beberapa mahasiswa menoleh. Yun Qi berdiri, ragu sesaat, lalu berjalan mendekat.

Pintu terbuka. Hao Yu turun.

Hari itu ia mengenakan kemeja abu-abu gelap, tanpa dasi. Lengan bajunya digulung rapi. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras—tanda yang hanya Yun Qi kenali.

“Kamu kenapa?” tanyanya, berdiri tepat di hadapannya.

Yun Qi membuka mulut, tapi kata-kata tersangkut. Matanya berkaca-kaca. Hao Yu tidak menyentuhnya, hanya menunggu.

“Ada… gosip,” akhirnya Yun Qi berkata pelan.

“Aku tahu,” jawab Hao Yu.

Jawaban itu membuat Yun Qi terkejut. “Kamu… tahu?”

“Aku diberi laporan,” katanya singkat. “Naik.”

Ia membuka pintu mobil. Yun Qi masuk tanpa protes.

Di dalam mobil, keheningan terasa berat. Yun Qi memandang keluar jendela, melihat kampus menjauh. Tangannya dipangku, saling menggenggam.

“Maaf,” katanya tiba-tiba.

Hao Yu menoleh. “Untuk apa?”

“Kalau… aku nggak tinggal sama kamu, mungkin—”

“Berhenti,” kata Hao Yu, nadanya rendah tapi tegas. “Ini bukan salahmu.”

“Tapi aku—”

“Kamu tidak melakukan apa pun yang salah,” ulangnya. “Mereka yang terlalu cepat menghakimi.”

Nada suaranya tenang, tapi ada kemarahan yang tertahan di baliknya.

Mereka sampai di apartemen. Begitu pintu tertutup, Yun Qi akhirnya menjatuhkan tasnya dan duduk di sofa. Bahunya turun, seolah beban yang ia tahan seharian akhirnya menekan.

“Aku nggak kuat,” katanya lirih. “Mereka lihat aku kayak… barang.”

Hao Yu berdiri di depannya, lalu duduk di kursi seberang, menjaga jarak. “Kamu mau aku urus?”

Yun Qi mengangkat kepala. “Urus gimana?”

“Bersihkan sumber gosip. Tutup akun itu. Peringatkan orang-orangnya,” jawab Hao Yu datar, seolah itu hal sederhana.

Yun Qi terdiam. Ada ketakutan yang merayap. “Jangan… jangan terlalu jauh.”

Hao Yu menatapnya lama. “Kamu lebih takut padaku, atau pada mereka?”

Pertanyaan itu membuat Yun Qi terdiam. Ia tidak tahu jawabannya.

“Aku cuma… pengen hidup normal,” katanya akhirnya.

Hao Yu menghela napas pelan. “Normal itu relatif.”

Ia berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali membawa segelas air. Ia meletakkannya di meja di depan Yun Qi.

“Minum.”

Yun Qi menuruti. Air dingin membantu sedikit.

“Mulai sekarang,” kata Hao Yu, “kamu tidak perlu naik kendaraan umum.”

Yun Qi mengerutkan kening. “Itu malah—”

“Aku akan atur rutenya. Tidak mencolok.”

Nada Hao Yu tidak memberi ruang bantahan. Yun Qi tahu, ini bukan sekadar saran.

“Aku juga akan bicara dengan pihak kampus,” lanjutnya.

“Ge,” Yun Qi berdiri. “Itu terlalu berlebihan.”

Hao Yu mendekat satu langkah. Tidak menyentuh. “Mereka sudah melewati batas.”

Tatapan mereka bertemu. Yun Qi melihat kemarahan yang dingin, terkontrol. Ia juga melihat sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat dadanya bergetar.

“Kamu marah karena gosip,” katanya pelan, “atau karena… aku?”

Hao Yu terdiam cukup lama.

“Karena mereka berani menyentuhmu,” jawabnya akhirnya. “Dengan kata-kata.”

Jawaban itu membuat Yun Qi menggigit bibir. Ada rasa hangat yang berbahaya menjalar.

Di kamar, malam itu, Yun Qi membuka ponsel. Gosip masih beredar. Komentar bertambah. Ia mematikan layar, memeluk lutut.

Di ruang kerja, Hao Yu menatap layar laptopnya. Nama-nama muncul. Akun anonim. Data. Jejak digital.

Tangannya berhenti di keyboard.

“Jangan berlebihan,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Tapi rahangnya mengeras.

Di kampus, nama Yun Qi sudah berubah menjadi cerita.

Dan bagi Hao Yu, cerita itu tidak akan dibiarkan berjalan tanpa kendali.

1
cah gantenggg
semoga ceritanya bagus ,baru mampir author,sepertinya masih butuh up ,jangan panjang episodenya Thor ,biar gak bosan yg baca .
semoga novelnya seruuu
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
cah gantenggg: ceritanya terlalu kaku dan membosankan .maaf aku hapus dari daftar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!