SINOPSIS
Nara dan Ingfah bukan sekadar putri pewaris takhta Cankimha Corp, salah satu konglomerat terbesar di Asia. Di balik kehidupan mewah dan rutinitas korporasi mereka yang sempurna, tersimpan masa lalu berdarah yang dimulai di puncak Gunung Meru.
Tujuh belas tahun lalu, mereka adalah balita yang melarikan diri dari pembantaian seorang gubernur haus kuasa, Luang Wicint. Dengan perlindungan alam dan kekuatan mustika kuno keluarga Khon Khaw, mereka bertahan hidup di hutan belantara hingga diadopsi oleh Arun Cankimha, sang raja bisnis yang memiliki rahasianya sendiri.
Kini, Nara telah tumbuh menjadi wanita tangguh dengan wibawa mematikan. Di siang hari, ia adalah eksekutif jenius yang membungkam dewan direksi korup dengan kecerdasannya. Di malam hari, ia adalah ksatria tak terkalahkan yang bersenjatakan Busur Sakti Prema-Vana dan teknologi gravitasi mutakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendaftaran Resmi: Keluarga Cankimha
Mobil perak itu berhenti tepat di depan lobi utama gedung sekolah yang megah. Arsitektur bangunan yang bergaya Eropa klasik dengan pilar-pilar besar membuat Nara dan Ingfah merasa seperti sedang memasuki istana, bukan tempat belajar.
Di Ruang Kepala Sekolah
Arun memimpin jalan dengan langkah penuh wibawa, diikuti oleh Nara yang waspada dan Ingfah yang terkagum-kagum melihat trofi-trofi emas di sepanjang koridor. Mereka menuju ruang paling ujung di lantai dua yang bertuliskan Principal's Office.
Di dalam, seorang pria paruh baya berpakaian jas rapi berdiri menyambut mereka dengan senyum lebar. Dia adalah Andrew, sahabat lama Arun sekaligus kepala sekolah di yayasan milik Arun sendiri.
"Arun! Akhirnya kau membawa kedua putrimu ke sini," ujar Andrew sambil menjabat erat tangan Arun.
"Andrew, perkenalkan, ini Nara dan Ingfah," kata Arun. "Aku menitipkan mereka padamu. Pastikan mereka mendapatkan pendidikan terbaik, dan yang terpenting, pastikan privasi mereka terjaga."
Andrew membuka dua map dokumen di atas mejanya. Ia menandatangani berkas pendaftaran resmi atas nama Nara Cankimha dan Ingfah Cankimha.
"Jangan khawatir, Arun. Di sekolah ini, mereka aman. Aku sendiri yang akan memantau perkembangan mereka," Andrew menoleh ke arah kedua gadis itu.
"Selamat datang di sekolah, kalian berdua. Nara, aku dengar kamu akan satu tingkat dengan Ingfah untuk menjaganya?"
Nara mengangguk tegas. "Benar, Pak Kepala Sekolah. Saya akan memastikan Ingfah selalu dalam jangkauan saya."
Andrew terkekeh. "Panggil saja 'Uncle Andrew' jika kita sedang berdua. Tapi di luar sana, panggil aku Mr. Andrew."
Setelah urusan administrasi selesai, Arun berlutut sebentar di depan Ingfah untuk merapikan dasinya, lalu menepuk bahu Nara.
"Daddy harus pergi ke kantor sekarang. Andrew akan meminta wali kelas kalian menjemput ke sini," bisik Arun.
"Ingat pesan Daddy: jangan mencolok, tapi jangan biarkan siapa pun merendahkan kalian. Nara, pegang ponselmu, hubungi Daddy jika ada keadaan darurat."
Saat Arun keluar dari ruangan, suasana berubah menjadi sunyi. Nara merasakan beban tanggung jawab yang besar. Ia menoleh ke arah Ingfah yang tampak gugup namun mencoba berani.
Pertemuan Pertama dengan Dunia Luar
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Seorang guru wanita muda masuk untuk mengantar mereka ke kelas. Saat mereka berjalan keluar dari ruang kepala sekolah dan melewati koridor saat jam istirahat baru saja dimulai, ratusan mata mulai tertuju pada mereka.
"Siapa mereka? Anak baru?"
"Lihat gadis yang rambutnya pirang itu, matanya biru! Apakah dia model luar negeri?"
"Gadis di sebelahnya terlihat sangat dingin... tapi cantik sekali."
Bisik-bisik itu mulai terdengar. Nara menggandeng tangan Ingfah lebih erat. Ini bukan lagi hutan Chiang Mai yang sunyi; ini adalah "hutan beton" di mana mata dan kata-kata bisa lebih tajam dari anak panah.
Langkah kaki Nara dan Ingfah bergema di koridor menuju kelas 10-A. Begitu mereka melangkah masuk bersama wali kelas, suasana yang tadinya bising mendadak hening. Semua mata tertuju pada Ingfah yang tampak seperti boneka porselen dan Nara yang memiliki aura misterius.
Geng "The Roses": Cantik Tapi Kosong
Di barisan tengah, duduklah sebuah geng yang dipimpin oleh Cindy, seorang gadis yang merasa dirinya adalah ratu sekolah karena ayahnya adalah donatur besar. Di sampingnya ada dua pengikut setianya, Miki dan Bella. Mereka saling berbisik sambil menatap tajam dari ujung kaki hingga ujung kepala si kembar Cankimha.
"Oke semuanya, kita kedatangan murid baru. Silakan perkenalkan diri kalian," ujar sang guru.
"Nara Cankimha," ucap Nara singkat dan padat.
"Ingfah Cankimha. Salam kenal," tambah Ingfah dengan senyum ramah yang tulus.
Saat jam pelajaran dimulai, Andrew sengaja menempatkan Nara di kursi tepat di belakang Ingfah. Cindy mulai melancarkan aksinya. Ia melemparkan gumpalan kertas ke arah kepala Ingfah.
"Heh, Farang! Rambut kamu itu asli atau hasil salon murahan?" bisik Cindy dengan nada mengejek yang cukup keras hingga terdengar satu kelas.
Ingfah hanya terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya seperti saat ia bermeditasi di Kuil Emas. Sabar, Ingfah. Ingat kata Kakek Biksu, hatimu harus setenang telaga, batinnya.
Melihat Ingfah tidak merespon, Cindy semakin melonjak. Ia menyenggol kursi Ingfah dengan kakinya.
"Ditanya itu jawab! Kamu bisu ya? Atau kamu cuma modal tampang bule tapi otaknya kosong?"
Nara, yang duduk di belakang, merasakan darahnya mulai mendidih. Jemarinya yang biasanya memegang busur kini meremas pulpen hingga terdengar suara retakan kecil. Ia menatap punggung Cindy dengan tatapan yang bisa membuat harimau hutan gemetar.
"Nong, jangan dengarkan," bisik Nara sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Miki, anggota geng Cindy yang lain, ikut menimpali. "Lihat deh kakaknya, gayanya sok jagoan banget. Pakai jaket denim, rambut diiket tinggi gitu, mau sekolah atau mau jadi satpam?"
Cindy tertawa kecil. "Mungkin mereka anak pungut yang beruntung bisa masuk sini karena beasiswa kasihan."
Guru sejarah kemudian memanggil Cindy ke depan untuk menjawab soal di papan tulis tentang sejarah kuno Asia. Cindy berdiri dengan angkuh, tapi ia hanya berdiri mematung di depan papan tulis. Ia tidak tahu apa-apa selain urusan kosmetik dan gosip.
"Cindy, kamu tidak bisa jawab?" tanya guru kecewa.
Guru itu kemudian menoleh pada Nara.
"Nara, kamu bisa bantu?"
Nara berdiri dengan tenang. Ia berjalan melewati meja Cindy dengan aura yang sangat dominan. Tanpa ragu, ia menuliskan jawaban panjang lebar dalam bahasa yang sangat rapi, menjelaskan teori sejarah yang bahkan sang guru pun terkesan.
Pengetahuannya selama bertahun-tahun membaca kitab kuno di kuil membuatnya jauh lebih pintar dari anak-anak kota ini.
"Luar biasa, Nara. Jawaban yang sangat cerdas," puji sang guru.
Nara kembali ke tempat duduknya. Saat melewati meja Cindy, ia berhenti sejenak dan menatap mata gadis itu dalam-dalam.
"Otak yang kosong memang biasanya menghasilkan suara yang paling berisik," ucap Nara dingin tanpa ekspresi.
Satu kelas langsung menahan napas. Cindy wajahnya memerah karena malu sekaligus marah.
***
Suasana kantin sekolah internasional yang modern dan riuh seketika berubah mencekam bagi Nara dan Ingfah. Mengikuti instruksi wali kelas, mereka hanya berniat membeli roti dan minuman botol untuk kemudian belajar dengan tenang di perpustakaan.
Saat Nara sedang membayar dua botol air mineral dan roti, Cindy dan gengnya sengaja datang menghadang jalan mereka. Cindy dengan sengaja menyenggol bahu Ingfah hingga roti yang dipegang gadis itu jatuh ke lantai yang kotor.
"Ups, sengaja," ejek Cindy sambil tertawa kecil, diikuti tawa Miki dan Bella.
"Duh, kasihan banget anak baru ini. Kayaknya roti jatuh pun masih berharga ya buat kalian?"
Ingfah menunduk, mencoba memungut rotinya dengan tangan gemetar. Ia tidak ingin membuat keributan di hari pertama, tapi air matanya mulai menggenang karena dipermalukan di depan banyak orang.
Melihat adiknya diperlakukan seperti itu, sesuatu dalam diri Nara meledak. Ia tidak bisa menggunakan busur cahayanya di sini, tapi kekuatan fisik yang ia latih selama bertahun-tahun di hutan dan kuil tidak bisa disembunyikan.
Nara melangkah maju, berdiri tepat di depan Cindy. Ia menggenggam satu botol air mineral plastik yang baru saja ia beli. Matanya menatap Cindy dengan kilatan yang sangat mengerikan—tatapan seorang pemburu yang siap menerkam.
"Minta maaf pada adikku," ucap Nara, suaranya rendah dan dalam, membawa aura dingin yang membuat murid-murid di sekitar mereka terdiam seketika.
Cindy justru tertawa sinis. "Minta maaf? Sama anak pungut kayak dia? Kamu pikir kamu si—"
Sebelum Cindy menyelesaikan kalimatnya, Nara memperkuat cengkeraman tangannya pada botol air mineral tersebut. Tanpa menggunakan sihir, hanya dengan kekuatan otot murni dan tekanan yang luar biasa, botol plastik tebal itu mulai berderit hebat.
KRAKK!
Dalam hitungan detik, botol itu hancur dalam kepalan tangan Nara. Karena tekanan yang terlalu tinggi, tutup botolnya terpental dan botol itu meledak di tangan Nara. Air putih di dalamnya menyembur keluar dengan sangat keras, membasahi wajah dan seragam mahal Cindy hingga basah kuyup.
Suara ledakan botol itu terdengar seperti letusan kecil yang menggema di kantin. Cindy terpekik kaget, melompat mundur dengan wajah pucat pasi. Ia gemetar, bukan hanya karena basah, tapi karena melihat tangan Nara yang masih menggenggam sisa botol yang remuk total.
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali," kata Nara sambil membuang sisa plastik botol itu ke lantai. "Jauhi adikku, atau yang hancur berikutnya bukan cuma botol air."
Keheningan yang Mencekam
Seluruh kantin mendadak sunyi senyap. Murid-murid lain menatap Nara dengan rasa ngeri sekaligus kagum. Mereka baru menyadari bahwa gadis pendiam ini memiliki kekuatan fisik yang tidak masuk akal.
Ingfah menarik ujung jaket Nara. "Pi, sudah... ayo kita pergi," bisiknya ketakutan melihat amarah kakaknya.
Nara mengatur napasnya, menenangkan gejolak energinya. Ia mengambil roti Ingfah yang kotor, membuangnya ke tempat sampah, lalu menggandeng tangan adiknya meninggalkan kantin tanpa menoleh lagi.
Cindy hanya bisa berdiri mematung, dikelilingi teman-temannya yang ketakutan. Untuk pertama kalinya, sang "ratu sekolah" merasakan ketakutan yang nyata terhadap seseorang.