Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Perempuan Yang Sejak Dulu Dekat
"Tapi, sebelumnya kamu jangan marah apapun yang mau kakak katakan." Davis memberikan syarat yang langsung diangguki Silva.
"Kalau seumpamanya kamu memang bukan anak kandung mama dan papa, lalu kakak mencintai kamu, apakah kamu akan menerima dengan ikhlas?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Davis dengan tatap mata lekat ke arah Silva.
"Kakak, apa yang mau Kakak katakan, kenapa bengong?" sentak Silva berdiri lalu meraih wadah es krim yang sudah kosong melompong, kemudian ia buang ke tong sampah.
Davis tersentak, ungkapannya tadi rupanya hanya dalam hatinya saja. Dia pun bingung harus memulainya dari mana untuk mengungkapkan kalau sebenarnya Silva adalah hanya adik angkat.
"Kamu nggak akan marah kalau kakak ngomongin hal ini sama kamu?" tanyanya menatap kembali wajah Silva lekat.
"Marah atau nggaknya, lihat dulu seperti apa pertanyaannya. Terus Kakak ini jadi nggak nanyanya?" jawab Silva membuat Davis semakin bingung.
"Ya sudah, kakak nggak jadi bertanya. Nanti saja di rumah. Kita pulang saja," ajaknya terlihat murung.
Silva heran, kenapa sang kakak justru terlihat seperti orang bingung. Tapi ia tidak protes, Silva mengikuti Davis menuju motornya.
"Pegangan ke pinggang, jangan ke besi belakang," peringatnya.
"Iya." Terpaksa Silva patuh, walau ia berpegangan di pinggang Davis, tetap saja tubuhnya menjauh.
Motor Davis melaju perlahan. Sepanjang jalan Davis berpikir bagaimana caranya dia mengungkapkan perasaannya terhadap Silva.
"Ya, ampun. Kenapa sih, susah banget mencintai? Padahal di luaran sana banyak teman kantor yang menyukaiku. Tapi giliran aku mencintai, susahnya minta ampun. Dan kendalanya sepertinya sulit aku tembus," batin Davis sedih.
Motor Davis sudah tiba di depan rumah kedua orang tuanya. Setelah menuruni motor, Davis heran, karena di depan halaman rumah sudah ada mobil sang kakak, Danis.
Danis pun sama seorang anggota tentara. Dia sudah berpangkat Serma saat ini, usianya dengan Davis hanya beda dua tahun. Danis sudah menikah tapi istrinya belum melahirkan.
"Bang Danis, kapan dia datang?" gumam Davis seraya memasuki rumah sembari menuntun lengan Silva.
"Wah, ada Kak Danis?" Silva ikut bergumam. Sudah kurang lebih sebulan mereka tidak bertemu Danis sang kakak.
"Bang Danis, kapan datang, Bang. Mana Mbak Tia, kok sepi?" Davis langsung menghambur ke arah Danis yang kini sedang santai di ruang tengah ditemani secangkir kopi.
"Aku sendiri, Tia sudah aku antar pulang kampung tadi. Karena dia ingin melahirkan di sana di rumah ibu dan bapaknya. Kebetulan Tia sudah ambil cuti tiga bulan mendatang," terang Danis sembari menerima uluran tangan Silva yang menghampirinya lalu duduk di samping Danis.
"Lalu, Mbak Tia nggak Kak Danis temani nanti kalau lahiran?" Silva ikut nimbrung.
"Ditemani dong, nanti kalau Tia sudah kerasa mau melahirkan, kakak nanti dihubungi. Kakak langsung cabut ke sana," terang Danis lagi.
"Ya sudah, aku ke atas dulu, ya, Kak. Aku gerah aku mau mandi dan ganti baju." Silva langsung bergegas meninggalkan kedua kakaknya di ruang tengah.
"Ok." Danis membalas.
"Dav, kamu habis dari mana sama Silva? Pasti kamu baru bolos apel siang, ya?" tuding Danis.
"Aku habis jemput Silva dari kampus UDL. Hari ini dia kan daftar di kampus itu lewat jalur beasiswa. Aku sudah ijin sama atasan, jadi tidak ada istilah bolos apel siang," tutur Davis sembari menyalakan rokok yang tadi baru ia beli di swalayan.
"Mama dan papa, belum pulang, biasanya jam berapa mereka pulang dari butik?" Danis mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
"Mama dan papa biasanya pulang jam empat atau jam lima," jawab Davis seraya mempermainkan asap rokok yang dikeluarkan mulutnya.
"Kapan kamu nikah, orang lain sudah hampir semua pengajuan nikah. Kamu mau tetap bujangan sampai usia kepala tiga?" tanya Danis menatap sang adik.
"Nikah, aku belum ada yang srek. Saat ini aku sedang mendekati seseorang. Tapi resikonya besar," jawab Davis.
"Resikonya besar, siapa? Anak Komandan, atau Kowad pangkat diatas mu atau apa?" Danis sangat penasaran dengan perempuan yang dikatakan Davis.
Davis menggeleng, sepertinya ia belum saatnya mengungkap siapa perempuan yang saat ini sedang didekatinya.
"Jangan ambil yang beresiko. Carilah yang rendah resiko. Teman sekantor kamu pun aku rasa banyak yang naksir kamu," ujar Danis.
"Aku tidak sedang mencari jodoh teman sekantor. Aku sedang mendekati orang yang sudah dekat dari dulu dengan kita," ungkap Davis masih teka-teki.
"Siapa, kau ini? Tadi bilang beresiko, sekarang beda cerita. Orang terdekat dari dulu dengan kita siapa? Katakanlah, jangan banyak teka-teki," desak Danis penasaran.
"Nanti, Abang juga akan tahu. Aku bingung ceritanya harus dari mana dulu."
"Ah, dasar kau ini. Tidak punya nyali untuk mengungkapkan cinta. Harusnya kamu berani ungkapkan jangan dipendam. Salah-salah kau malah jadi bujangan lapuk, sayang sekali," ejek Danis membuat Davis tengsin.
"Mana ada setampan aku jadi bujang lapuk? Lihat saja nanti dalam waktu dekat kalian akan terkejut melihat perempuan mana yang selama ini aku cintai." Davis berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.
"Katakanlah, siapa perempuan itu? Siapa perempuan yang sudah dekat dengan kita dari sejak dulu itu? Apakah dia tetangga kita?" teriak Danis dilanda penasaran.
"Bahkan lebih dekat dari tetangga," balas Davis berteriak sembari menaiki tangga.
"Ishhh, sialan si Davis. Main rahasia-rahasiaan," rutuk Danis sembari kembali fokus dengan Hp di tangannya.
Di tempat berbeda, kini Silva sudah mandi dan segar, serta menggunakan pakaian. Silva keluar dari kamarnya, saat baru keluar ia melihat Davis menaiki tangga.
"Dek, sini, masuk kamar kakak sebentar. Kakak mau minta tolong," panggil Davis. Silva menoleh heran ada apa dengan sang kakak.
"Aku mau ke bawah dulu, mau minta oleh-oleh sama Kak Danis," tolaknya.
"Nanti dulu, tolong kakak sebentar," paksanya. Terpaksa Silva mengikuti ajakan Davis. Dia berjalan mengikuti Davis menuju kamarnya.
"Tolong apa sih Kak?" Silva memasang wajah malas.
"Sebentar saja. Tolong pasangkan alat pembersih komedo ini di hidung kakak, kakak tidak pernah pas kalau pasang," ujarnya memberi alasan.
"Kenapa tidak Kakak pasang sambil ngaca, dasar manja," ejeknya, alih-alih menolak akhirnya Silva patuh dan mengikuti perintah Davis.
Davis berdiri dengan tegak, sementara Silva berdiri di depannya sembari memasangkan masker khusus untuk menarik komedo di sekitar hidung.
Perlahan tangan Davis berpegangan di pinggang Silva kiri kanan, sementara Silva tidak menyadarinya, ia fokus memasang masker di hidung Davis.
"Cincinnya kamu pakai?" tanya Silva.
"Ini, aku pakai. Kakak nggak lihat?" Silva mengacungkan jari manisnya di depan Silva.
Situasi ini terlihat jelas dari samping tembok kamar Davis. Danis yang tadi ke atas, dengan maksud menuju kamarnya yang biasa ia tempati, merasa penasaran dengan suara dari kamar Davis.
Tadinya Danis mau langsung masuk, karena memang terbiasa melihat kedekatan Davis dan Silva. Namun kali ini Danis mengamatinya dengan hati bertanya-tanya.
Sikap dan gestur tubuh Davis saat menatap dan menaruh tangannya di pinggang Silva sungguh berbeda.
"Jangan-jangan perempuan yang dimaksud Davis adalah Silva? Beresiko katanya? Tapi belum tentu Silva. Tapi Davis bilang perempuan itu sudah dekat dengan kita sejak dulu." Danis berpikir keras dan mulai curiga bahwa perempuan yang dimaksud Davis adalah Silva.
gak suka banget aku liatnya...
klo menurut ku ini gak cinta sih,nafsu namanya...agak lain gaya pacaran nya...klo cinta itu pasti dijaga,orang pacaran sehat aja gak mau tiap sebentar cap cip cup...
Bika Ambon dan lapis legit 👍👍👍👍
kk adek kandung mana ada begituan klo udah besar...aku aja dilarang masuk kamar Abg ku 😅😅😅