~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 - Ketika Petir dan Api Beradu, Takdir Dunia Ditentukan
Ilustrasi figur Dai Hideo.
...----------------...
Langit kelam, tertutup awan tebal yang berputar seperti pusaran kehancuran. Di bawahnya, pertempuran antara Kisaki Gin dan Obura mencapai titik akhir.
Obura, yang tubuhnya penuh luka dan darah, berlutut dengan napas tersengal. Tanah di sekelilingnya retak dan hangus akibat pertarungan sengit. Aura merah keemasan yang menyelimutinya kini tampak redup, seperti api yang hampir padam.
Di hadapannya, Kisaki Gin berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin yang terbentuk dari energi bertabrakan. Pedangnya masih menyala dengan cahaya biru keunguan yang dingin, sementara mata tajamnya menatap Obura tanpa belas kasihan.
"Tak lebih dari bayangan kejayaan masa lalu," suara Kisaki Gin begitu datar, seolah-olah pertarungan ini tak lebih dari tugas sepele baginya.
Obura menggertakkan giginya. Ia ingin bergerak, ingin menyerang, tetapi tubuhnya menolak. Terlalu banyak luka, terlalu banyak tenaga yang telah ia curahkan.
"Kau…" suara Obura hampir tak terdengar.
Namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh—
BOOM!
Tiba-tiba, gelombang energi meledak di antara mereka. Tanah terbelah, api menyembur dari dalam retakan, dan udara dipenuhi percikan listrik yang menari liar.
Dari balik kabut kehancuran itu, sosok tinggi dan kokoh melangkah maju. Setiap langkahnya mengguncang tanah, seolah bumi sendiri menghormati kehadirannya.
Dai Hideo, pemimpin Klan Strein, telah tiba.
Tubuhnya dilapisi armor berat berwarna merah tua dengan jubah merah menyala berkibar. Di kedua tangannya, sarung tangan besi raksasa berlapis rune kuno berpendar dengan aura api yang meliuk-liuk ganas. Sementara pedangnya, masih tersimpan di punggung dengan begitu indah.
Matanya tajam, penuh determinasi.
"Cukup sudah," suara Hideo dalam, bergemuruh seperti badai. "Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan Klan Strein lebih jauh."
Kisaki Gin tetap diam. Namun, ada sedikit perubahan dalam ekspresinya—seperti seseorang yang akhirnya melihat lawan yang layak.
"Satu lagi yang bersedia jatuh dalam keputusasaan." Balasnya.
Hideo tidak menanggapi ejekan itu. Sebaliknya, ia menancapkan senjatanya ke tanah, merendahkan tubuhnya, dan kedua tangannya mengepal. Aura api di sekelilingnya membesar dalam sekejap, menciptakan pusaran panas yang cukup untuk melelehkan batu.
"Berdirilah, Obura."
Obura tersentak, lalu dengan sisa tenaganya ia berdiri. Seketika, aura merah keemasannya kembali menyala, seakan api yang hampir padam itu telah disiram bensin baru.
Kini, mereka berdua berdiri di hadapan Kisaki Gin.
Namun, Kisaki Gin hanya menghela napas pelan. Pedangnya terangkat sedikit, dan pada saat itu juga—
ZRAAAK!
Guntur menggelegar.
Petir biru keunguan mengalir dari tubuhnya, menciptakan gelombang listrik yang menyambar tanah di sekitarnya. Udara menjadi lebih berat, penuh dengan muatan listrik yang membuat setiap hela napas terasa menyesakkan.
"Maka mari kita akhiri sandiwara ini."
—LEDAAK!
Dalam sekejap, ketiganya meledak ke depan.
Serangan pertama!
Hideo menerjang lebih dulu, tinjunya menghantam dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan gunung. Api berkobar dari kepalan besinya, berubah menjadi naga raksasa yang meraung liar.
"IRON FIST: RAGING INFERNO!"
Kisaki Gin melompat ke belakang, namun Obura telah menunggunya dari sisi lain, melepaskan pukulan telak yang diselimuti aura merah keemasan.
"TIGER FANG STRIKE!"
DUAGGG!
Tendangan Obura menghantam udara kosong—tidak, bukan kosong! Kisaki Gin telah memblokirnya dengan pedangnya. Namun, pada detik yang sama, Hideo sudah tiba di sisi lain, kepalan besinya meluncur bagai meteor ke arah dada Kisaki Gin.
"DIE!"
BOOOM!
Untuk pertama kalinya, Kisaki Gin terdorong ke belakang.
Obura dan Hideo tidak memberikan waktu untuknya bernapas.
Serangan mereka datang bertubi-tubi, kombinasi dari kekuatan brutal dan teknik bertarung yang sempurna. Obura dengan tebasan cepatnya, Hideo dengan serangan api yang mampu melelehkan baja.
Namun, Kisaki Gin tidak gentar.
Dengan satu gerakan ringan, ia mengayunkan pedangnya ke tanah.
"STORM BREAKER."
ZRRRAAAKKKKK!
Dari bilah pedangnya, petir menyambar ke segala arah. Ledakan listrik membelah tanah, menyelimuti medan perang dengan cahaya biru keunguan yang menyilaukan.
Obura terhempas ke udara, tubuhnya terbakar oleh listrik yang menyengat. Hideo masih bertahan, tetapi api di tubuhnya mulai terkoyak oleh kekuatan petir dari Kisaki Gin.
"Tak cukup."
Kisaki Gin melesat ke depan, kecepatannya melebihi batas manusia. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Hideo.
"Kau bisa membakar seluruh dunia, tetapi petir tetap lebih cepat."
Hideo tak sempat bereaksi.
DUAGG!
Kisaki Gin menghantamnya dengan serangan listrik dari telapak tangannya, meledakkan tubuhnya ke belakang sejauh puluhan meter.
Obura mencoba menyerang dari belakang, tetapi tanpa melihat, Kisaki Gin mengayunkan pedangnya ke belakang—
ZRRRAAAAK!
Petir menyambar, menghantam Obura tepat di dada.
Keduanya terkapar.
Kisaki Gin menatap mereka dengan tatapan kosong, pedangnya masih berpendar dengan cahaya biru yang mencekam.
Di kejauhan, pasukan Klan Strein menyaksikan dengan ngeri.
Dua pejuang terkuat mereka… tak mampu menandingi Kisaki Gin. Bahkan terlalu cepat untuk bisa dinyatakan kalah—kekuatan Kisaki Gin diluar pemahaman manusia.
Sang legenda menghela napas pelan, lalu berbicara dengan suara yang nyaris berbisik.
"Pertunjukan yang bagus. Namun, kehancuran kalian tetap tak terelakkan."
Hening.
Hingga kemudian, siluet agung dengan jubah hitam yang berkibar di bawah langit kelam muncul.
Anzai telah tiba.
Perlahan, siluet agung itu mulai menampakan sosoknya, Obura seketika menyipitkan mata—berdecit penuh kekhawatiran. "Orang itu... Yoru Anzai?!"
...----------------...
...----------------...
Ilustrasi Figur Yoru Anzai
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/