Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Semangat para penonton melambung tinggi dan mereka sibuk mengeluarkan ponsel mereka. Aku merasa ia sudah menjadi penggemar fanatik karena ia juga sedang memegang ponselnya penuh harap seperti Young-Mi.
“Sudah siap? Kita mulai ya?” seru Choi Daehyun yang disambut jeritan para penggemar.
Ia memasukkan tangannya ke kotak besar itu dan mengaduk-aduk, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil. Para penggemar masih terus menjerit-jerit.
Lalu Choi Daehyun mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka flap-nya. Jeritan ribuan penggemarnya semakin menjadi-jadi. Pembawa acara pun harus menenangkan para penonton dengan berkata mereka tidak mungkin bisa mendengar dering telepon kalau semua orang terus menjerit sepenuh hati seperti itu. Akhirnya suasana kembali hening, kini hanya terdengar bisikan lirih di sana-sini.
Choi Daehyun menekan-nekan tombol ponsel sambil melihat kertas kecil di tangannya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. Kertas kecil tadi dimasukkan kembali ke kotak.
Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa begitu lama. Semua orang di sana menatap ponsel mereka penuh harap. Tiba-tiba terdengar nada panggil.
“Astaga!” Aku berteriak kaget ketika ponsel yang digenggamnya berbunyi nyaring.
“Hae-jin, ponselmu!” Minjie menjerit sambil tertawa histeris.
Para penonton mulai bersuara dan pembawa acara menyuruhku berdiri dan menjawab ponselnya.
“Nona yang memakai baju biru, coba dijawab dulu. Apakah benar yang menelepon Choi Daehyun?”
Aku sebenarnya tidak perlu menjawab karena di layar ponselnya muncul tulisan “CD”, nama yang ku simpan untuk nomor ponsel Choi Daehyun. Memang benar Choi Daehyun yang meneleponku, tapi aku tetap membuka flap ponsel dan menempelkannya ke telinga.
Walaupun suasana saat itu riuh sekali karena orang-orang bersorak dan bertepuk tangan, ia masih bisa mendengar suara Choi Daehyun di telepon yang berkata, “Hei, majulah ke depan.”
Na Minjie mencengkeram lenganku dan mengguncang-guncang keras tubuhnya. Aku heran dari mana asal tenaga temanku itu. Akhirnya aku berhasil membebaskan diri dari temanku dan maju dengan dikawal dua penjaga.
Jantungku berdebar keras karena ini kali pertama baginya berdiri di depan orang banyak yang terus bersorak dan menjerit. Ia bolak-balik membungkukkan badan ke arah para penggemar juga kepada pembaca acara di panggung.
Ketika aku berdiri di depan Choi Daehyun, aku menyadari baik Choi Daehyun ataupun pembawa acara tidak memegang topi. Aku melihat si pembawa acara memberi isyarat kepada salah seorang staf yang berdiri di pojok, tapi anggota staf itu menggeleng.
Ada apa ini? Tidak ada topi? Aku yakin mereka sudah membeli sepuluh buah dan aku tadi menghitung ada sembilan topi yang sudah dihadiahkan. Pasti masih tersisa satu topi. Jangan-jangan Choi Daehyun mau mempermainkanku.
Si pembawa acara terlihat bingung tapi mencoba bersikap tenang. Namun Choi Daehyun tiba-tiba berkata, “Wah, sepertinya topi yang terakhir hilang. Saya benar-benar minta maaf. Bagaimana ya?”
Para penonton terdiam dan aku menatap Choi Daehyun dengan mata disipitkan. Pandangan curiga. Kalau Choi Daehyun memang sedang mempermainkannku, ini benar-benar tidak lucu. aku udah gugup sekali berdiri di bawah sinar lampu seperti ini dan sekarang ia harus menerima permainan Choi Daehyun?
Si pembawa acara ikut menimpali, “Ya, maaf sekali. Sepertinya memang topi yang terakhir hilang. Kami sedang mencarinya sekarang.”
Aku merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam di depan semua orang. Aku memutuskan sebaiknya ia kembali ke tempat duduknya. Ketika ia membalikkan tubuh, Choi Daehyun menahannya.
“Tunggu dulu,” katanya sambil tersenyum meminta maaf.
“Karena sudah tidak ada topi, bagaimana kalau kuberikan ini saja?”
Choi Daehyun melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leherku. Para penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Aku memandang syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang sekarang melilit leherku.
Aku menyentuh syal itu dan mendongak menatap Choi Daehyun dengan tercengang. Laki-laki itu sedang tertawa dan tawa di wajah itu membuatku akhirnya ikut tersenyum.
“Waah... kau beruntung sekali, Hae-jin! Kau memang tidak mendapat topi, tapi kau mendapat syal yang dipakainya. Aduh, aduh, jantungku... Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak akan bisa tidur malam ini,” kata Na Minjie antusias dalam perjalanan pulang dari acara tadi. Kami berdua duduk di barisan belakang bus yang tidak terlalu ramai.
“Ya, aku beruntung sekali,” kataku menyetujui sambil tersenyum. Aku terus memandangi syal yang melilit leherku. Tadi aku sempat mengira Choi Daehyun sedang mempermainkanku, tapi ternyata tidak begitu.
Tadinya, kalau dugaan jelekku terbukti benar, aku berniat meninju Choi Daehyun saat itu juga. Tiba-tiba Na Minjie menegakkan punggung dan mencengkeram lenganku.
“Tunggu dulu, Hae-jin. Kau punya nomor telepon Choi Daehyun!”
Itu bukan pertanyaan dan aku hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung. Minjie menepuk lenganku dan berseru, “Tadi dia kan menghubungi ponselmu dengan ponselnya, jadi artinya di ponselmu sekarang pasti masih ada nomor ponselnya, kan?”
“Tidak!” bantahku cepat-cepat. Apa yang harus aku katakan?
“Tadi... tadi sewaktu aku kembali ke tempat duduk setelah menerima hadiah, Choi Daehyun sendiri yang bilang ponsel itu milik salah satu anggota stafnya. Lagi pula, coba pikir, mana mungkin Choi Daehyun bisa sembarangan membiarkan nomor ponselnya diketahui orang tak dikenal?”
Na Minjie mengangguk-angguk. “Masuk akal juga.”
Aku mengembuskan napas lega dan menggerutu dalam hati. Sepanjang kesepakatan ini, Choi Daehyun sudah banyak membuat masalah sendiri, tapi justru aku yang harus memperbaikinya. Mungkin laki-laki itu perlu ditinju.
“Hei, coba kulihat CD-mu yang ditandatangani tadi,” pinta Na Minjie sambil mengeluarkan CD miliknya sendiri.
Sandy mengeluarkan CD-nya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada temannya itu.
“Lihat, dia menulis, 'Untuk Na Minjie... dari Choi Daehyun',” kata Minjie sambil menunjukkannya kepadaku. Ia memekik senang dan mengelus-elus kotak CD-nya. Aku hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan temannya.
Kemudian Minjie beralih membaca tulisan di sampul depan CD milikku. “Untuk Sheryn... dari Choi Daehyun.” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sheryn?”
Aku langsung menoleh. “Kenapa?”
“Memangnya tadi kau memberitahunya nama Indonesia-mu, ya?” tanya Minjie.
“Oh, itu...” aku agak gelagapan. “Ya, sepertinya begitu.”
Young-Mi mengerutkan dahi dan menggeleng. “Tidak, tidak. Sepertinya kau bahkan tidak menyebutkan namamu.”
“Masa sih?” ujarku kaget. Aku mulai panik dan cepat-cepat memutar otak, berusaha keras mengingat acara tanda tangan tadi.
Young-Mi meneruskan, “Aku berdiri tepat di belakangmu waktu itu. Kau hanya bilang kau suka lagunya.”
Aku ingat, tapi aku berusaha membantah, “Ah, tidak. Aku bilang, 'Apa kabar? Namaku Sheryn. Daehyun Oppa, aku suka lagumu' Aku yakin kok. Kalau tidak, dari mana dia tahu namaku?”