Naya, hidup dalam bayang-bayang luka. Pernikahan pertamanya kandas, meninggalkannya dengan seorang anak di usia muda dan segudang cibiran. Ketika berusaha bangkit, nasib mempermainkannya lagi. Malam kelam bersama Brian, dokter militer bedah trauma, memaksanya menikah demi menjaga kehormatan keluarga pria itu.
Pernikahan mereka dingin. Brian memandang Naya rendah, menganggapya tak pantas. Di atas kertas, hidup Naya tampak sempurna, mahasiswi berprestasi, supervisor muda, istri pria mapan. Namun di baliknya, ia mati-matian membuktikan diri kepada Brian, keluarganya, dan dunia yang meremehkannya.
Tak ada yang tahu badai dalam dirinya. Mereka anggap keluh dan lemah tidak cocok menjadi identitasnya. Sampai Naya lelah memenuhi ekspektasi semua.
Brian perlahan melihat Naya berbeda, seorang pejuang tangguh yang meski terluka. Kini pertanyaannya, apakah Naya akan melanjutkan perannya sebagai wanita sempurna di atas kertas, atau merobek naskah itu dan mencari kehidupan dan jati diri baru ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Ibu Kota
Waktu untuk berangkat menuju ibu kota pun tiba, perwakilan dari kampus Naya hanya Naya seorang meningat biaya transport dan akomodasi disana cukup tinggi sedangkan kampusnya merupakan kampus yang tidak terlalu besar sehingga hanya bisa memberangkatkan satu orang. Yang penting sudah ada perwakilan dan juga yang mewakili ini adalah Presiden Mahasiswa langsung, tidak perlu lagi dikhawatirkan dan dapat dipercaya kredibilitasnya.
Naya hanya membawa satu tas besar dan satu tas kecil, Naya tipe orang yang simple tidak seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Naya benar benar memfilter barang apa yang akan dibutuhkan dan digunakan sehingga tidak memakan banyak ruang, berat juga pikirnya.
Naya menuju Ibu Kota dengan menggunakan kereta api. Saat itu Alvin yang mengantarnya.
" Aku titip Sean ya ? Aku pasti bakal sering ngabarin, maaf kalau nanti bikin kamu risih. " Ucap NAya pada Alvin ketika dirinya masih di ruang tunggu.
" Gak masalah justru aku suka kalau kamu bisa sering hubungin Aku. "
" Jangan gitu, aku gak akan bisa balas perasaan apapun lagi ke kamu. "
" Aku juga gak peduli, yang penting perasaan aku ke kamu gak pernah berubah Nay. "
" Tapi perasaan aku ke kamu yang udah sangat berubah, "
" Aku terima itu, asalkan kita bisa baik baik kaya gini aja aku udah seneng Nay. Aku cuman pengen lihat kamu sebahagia dan seceria dulu. Apapun yang bikin kamu happy aku pasti usahakan. "
" Jangan lupa kita udah pisah hampir setahun. "
" Tapi bukan berarti gak bisa kembali kan Nay ? " Tanya Alvin dengan mata yang berbinar.
" Untuk saat ini gak bisa. "Jawab Naya tak ingin memberi harapan apapun.
" Saat ini .. " Alvin mengulangi perkataan Naya.
" Tapi kita gak tau apa yang akan terjadi kedepannya, kalau kamu ditakdirkan buat aku sekalipun kita kepisah pasti bakal balik lagi. " Lanjut Alvin.
" Hmm, kereta aku udah dateng. Aku pergi dulu. Terimakasih " Naya menutup percakapan yang sudah melebar jauh itu karena memnag sudah diumumkan bahwa kereta nya telah tiba.
" Ok, takecare Naya. Aku bakal jaga Sean baik-baik. "
Naya hanya mengangguk untuk merespon ucapan Alvin, Naya pun berlalu pergi yang tersisa hanya punggung dan rambutnya yang panjang terurai. Sungguh Alvin sangat mengagumi penampilan Naya, meskipun sekarang lebih kurus tapi masih terawat. Kecantikannya dibalut keanggunan yang terlihat sangat menawan. Belum lagi secara fisik tidak banyak yang berubah dari Naya meski setelah melahirkan. Mungkin karena Naya masih muda.
Naya menaiki kereta lalu duduk di nomor kursi yang telah ditentukan, perjalanan ini cukup panjang belum lagi karena berangkat malam dan besoknya akan langsung berkegiatan pasti ini akan terasa sangat melelahkan. Maka Naya lebih memilih untuk menggunakan headphone lalu menutup matanya beristirahat agar waktu terasa singkat.
Sesaat lagi Naya akan tiba ditempat yang asing, penuh hirukpikuk dan mobilitas masyarakkatnya yang tinggi. Berbeda dengan kota nya, pikiran itu cukup membuat Naya gelisah dan khawatir. Ya jangankan dengan lingkungan baru, saat harus mengisi sambutan atau materi di kampusnya saja Naya bisa merasa gugup dan gelisah berlebihan karena banyak mata yang tak dikenalnya akan terpusat melihat dirinya.
Untungnya Lisa sudah mengabari bahwa dirinya akan menjemput Naya. Saat kegelisahan itu tiba, Naya segera menghubungi Lisa mengabarkan bahwa dirinya sesaat lagi sampai dan meminta Lisa untuk langsung menunggunya. Lisa mengerti kekhawatiran Naya sehingga dirinya pun langsung berangkat tanpa menunggu Naya sampai lebih dulu. Lisa lebih rela dirinya yang harus terdampar di stasiun.
" Mau kemana jam segini ? " Suara bariton yang dalam itu cukup mengagetkan Lisa. Lisa lupa bahwa kakaknya malam ini menginap dirumah.
" Kak Brian bikin kaget aja. "
" Kamu mau kemana ? Ini jam 3 malam Lisa. "
" Jemput temen ke stasiun. Nanti pagi kan ada seminar, dia dari kampus luar kota kasihan kalau dibiarin sendiri ditambah ini juga pertama kalinya dia kesini. " Jelas Lisa.
" Aku antar ! " Jawab Brian tegas.
" Gak usah Kak, Naya itu orangnya gampang gugupan kalau ketemu orang baru. "
" Yang bener aja ca. Temen kamu itu perwakilan kampus, masa gugup kalena ketemu orang baru. Kalau kaya gitu gak usah ikut sekalian. "
" Please deh Kak, gak semua orang friendly kaya kamu. Jangan dulu judge sebelum kenal orangnya. "
" Aku menilai dari apa yang kamu sampaikan. "
" Kebiasaan militer mu itu jangan dibawa kerumah Kak. Aku gak suka sikap kaku, keras, disiplin. Udah ah aku pergi dulu Kak. "
Jujur Brian adalah tipe orang yang tidak ingin dibantah dan memang tak ada yang bisa membantahnya dirumah ini. Namun ini kali pertama adiknya membantah perintahnya karena seseorang yang asing menurut Brian. Belum pun bertemu, Brian sudah menilai bahwa teman adiknya ini akan memberikan pengaruh buruk. brian sudah mewarning keberadaan Naya.
Mengkhawatirkan keadaan Lisa, Brian yang belum sempat tidur pasca kepulangannya dari rumah sakit pun tetap memaksakan diri untuk terjaga. Brian ingin memastikan adiknya pulang dengan selamat dan ingin melihat orang siapa yang sudah berhasil membuat adiknya membantah perintahnya.
Ya Brian selain seorang perwira militer berpangkat letnan satu yang tergabung dalam satuan khusus, juga merupakan dokter spesialis bedah trauma yang kini ditugaskan di rumah sakit pusat militer. Harinya sebenarnya sudah sangat sibuk untuk sekedar mengawasi adik kecilnya, tapi apa daya Brian harus memastikan seluruh anggota keluarganya ada dalam perlindungan dan kendalinya.
Naya sampai di stasiun kota tujuan, wajah yang tak asing telah menunggunya dari kejauhan. Perasaan lega pun terasa seketika. Andai kata LIsa tak segera datang, mungkin Naya akan gelisah setengah mati.
" Naya .. " Panggil Lisa melambaikan tangannya.
" Ca .. " Naya berlari menghampiri lalu memeluk sahabatnya.
" Maaf ya gue ngerepotin jam segini. " Seal Naya.
" Gak kok Nay, kan janji gue asal Lo kesini nanti gue temenin dari datang sampe pulang pokonya. "
" Tapi ini gue gak papa ikut nginep dirumah Lo ? " Tanya Lisa khawatir.
" Gak papa, cuman hari ini Kakak gue ada dirumah tapi gak tiap hari kok. Lo baik baik ya sama dia, dia orangnya batu banget. " Jelas Lisa mengenai Brian.
" Gue harus gimana dong ? " Naya mulai kelabakan.
" Sapa aja kaya orang asing pada umumnya, kalau dia ceramah karena gue out dirumah jam segini, jangan dilawan. Dengerin aja dan minta maaf karena dia type orang yang gak suka dibantah. Oke ? "
" Oke ca, gue paham. " Naya menarik nafas menganggukkan kepala.
It's okay Naya, ini sama seperti hal lainnya. Akan berlalu.
geuleuh...laki kurang peka udah di kasih enak berulang kali, masih aja mempertanyakan perasaan.
Gas keun ka Author jgn kasih kendor
harus'y si pria entu duluan 😁
V takapalah heheee
Lanjut ka Author ttp semangat 💪
Lanjut ka...