Bastian, siswa pindahan yang mengundang sorotan publik karena ketampanannya. Ia juga lihai dalam bermain sepak bola
yang menambah nilai plus dari setiap mata yang menyaksikannya. Ia dipertemukan dengan Aleksa sang ketua OSIS yang tidak menyukai pemain bola. Namun mereka ditakdirkan untuk menjalani hari-hari bersama.
Seperti apakah kelanjutannya?
Mari, temukan dalam cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabar
Malam ini langit begitu cerah. Bahkan tidak ada lagi tanda-tanda hujan akan turun kembali. Bastian segera meluncur ke rumah Aleksa untuk jemput Reyfan adiknya. Aleksa yang duduk di teras begitu kaget melihat kedatangan Bastian. Ia merasa tidak percaya diri karena hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek dengan rambut dicepol ala kadarnya. Ia panik setengah mati.
“Bas, kamu ngapai ke sini?’’tanya Aleksa terbata-bata.
“Lah emang enggak boleh?’’Bastian membuka helmnya dan merapikan rambutnya. “Ia langsung duduk di teras, dekat Aleksa. Sedikitpun ia tidak berkomentar dengan penampilan Aleksa.
“Iya, tapi kan.’’
Bastian tersenyum. “Reyfan mana?’’
“Kamu ngapai cari Reyfan?’’
“Emang enggak boleh?’’tanya Bastian lagi.
“Iya, tapi kan.’’
“Tapikan-tapikan mulu.’’hardik Bastian. Ia sambil memaju-majukan bibirnya meledek Aleksa.
“Apaan sih Bas.’’
“Bang yok.’’ajak Reyfan langsung ketika ia menunjukkan wajahnya. Reyfan sudah menggunakan pakaian rapi.
“Eh, kalian mau ke mana?’’tanya Aleksa kaget. Ia menatap adiknya tak berkedip.
“Kami mau keluar. Enggak kakak lihat?’’Reyfan sedikit menyolot. Bastian tertawa.
“Ke mana Bas?’’Aleksa mengalihkan pandangannya ke arah Bastian.
“ K-e-l-u-a-r’’eja Bastian. Ia setengah mengejek. “Enggak kamu lihat kami udah keren kayak gini?’’ujar Bastian sambil mengibaskan rambutnya, ia sengaja memancing emosi Aleksa.
“Ih, enggak bisa!’’larang Aleksa. Ia mengisyratkan Reyfan untuk masuk ke rumahnya. Aleksa mendorong-dorong tubuh Reyfan untuk masuk.
“Bisa Leksa. ‘’jawab Bastian tenang. Ia sedikit tertawa melihat tingkah Aleksa. “Yuk Rey.’’ajaknya.
“Ih, Bas! Aku ikut.’’Aleksa menyodorkan diri.
“Dih, kita mau main Kak. Ngapai ikut. Jangan jadi beban!’’hardik Reyfan sambil berlari menghindari Aleksa. Bastian tertawa, ia pun berdiri dari duduknya.
“Tunggu! Aku ikut!’’ucapnya sambil masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.
“Bang, ayok cepat geraknya.’’ajak Reyfan yang sudah berada di dekat motor Bastian.
“Iya-iya.’’Bastian masih tertawa. Ia menyerahkan kunci motornya kepada Reyfan untuk membawa motornya. “Ehm tunggu Rey. ‘’Bastian mengambil bungkusan yang ada di motornya kemudian meletakkan di atas meja Aleksa.
“Yuk gas.’’ajak Bastian. Ia langsung duduk di belakang Reyfan.
“Bang, tapi aku belum terbiasa bawa motor sport kayak gini.’’terang Reyfan ragu.
“Udah, tes aja. Belajar itu hanya butuh kebiasaan.’’ujarnya.
Reyfanpun memberanikan diri untuk membawa motornya. Seperti halnya dikatakan Reyfan, ia memang masih belum terbiasa membawa motor itu. Masih terasa tersendat-sendat saat melajukannya.
“Bang, udahlah bawa.’’ucap Reyfan tak enak hati.
“Namanya belajar Rey. Enggak ada yang langsung bisa. Udah tenang aja.’’Bastian menenangkan. Ia menepuk pundak Reyfan memberikan semangat.
“Dih, kamu emang enggak kayak kakakku Bang!’’celutuknya tanpa sadar.
Bastian kembali tertawa. “Ya jelaslah, aku laki-laki Rey. Kakakmu perempuan.’’
“Lah bukan gitu Bang. Kak Aleksa itu, kalau aku salah, muncungnya langsung panjang sampai ke ibu kota sana.’’hardiknya dengan menggebu-gebu.
Bastian hanya tertawa mendengar celotehan Reyfan. Reyfan terus blak-blakan kalau membicarakan kakak semata wayangnya itu. Ia tahu kalau Reyfan terlalu dikekang, sehingga hanya kepadanyalah ia melampiaskan kekesalan itu.
Mereka pun sampai. Bastian diturunkannya langsung di depan kafe, sementara Reyfan memarkirkan motornya di tempat yang telah disediakan. Bastian langsung masuk mencari tempat untuk mereka. Tak lama segerombolan motor datang dengan anarkisnya menuju parkiran.
“Eh, minggir!’’celutuk salah satu dari mereka yang bertubuh besar. Dengan seketika nyali Reyfan menciut. Ia terasa tak karuan. “Kamu dengar enggak!’’
“Maaf Bang, aku bukan kang parkir’’tolaknya sambil bergegas meninggalkan mereka. Melihat tingkah Reyfan yang kikuk, salah satu teman mereka menghalang-halangi Reyfan dengan motornya.
“Turuti perintahnya!’’
Reyfan mematung. Ia tak bisa bergerak. Sekujur tubuhnya dingin karena ketakutan.
“Cepat kataku.’’sentaknya lagi.
“Rey’’teriak Bastian mendekati. “Kok lama banget markirin itu aja?’’tanya Bastian yang setengah berlari ke arahnya.
“Bang tolongin aku!’’ucap Reyfan dengan nada bergetar. Ia langsung menarik baju Bastian.
“Bang Tian?’’Mereka terkejut ketika melihat sosok Bastian. Lelaki yang bertubuh kekar yang menghalangi Reyfan tadi langsung memundurkan langkahnya.
“Kalian apain adikku sampai dia ketakutan kayak gini?’’tanya Reyfan dengan nada meninggi. Bastian setengah memeluk Reyfan untuk memberikan rasa aman. Seketika geng Omorfos langsung mengerumuni mereka.
“Maaf Bang, kami enggak tahu kalau dia adikmu Bang!’’cetus Elvis yang kali ini dia yang ketakutan.
“Kalian terus buat keonaran!’’sentaknya kesal. Matanya menatap tajam ke arah lima orang tersebut.
“Maafin kami Bang!’’ucap Elvis lagi. Ia menyalami tangan Bastian.
“Kalian minta maaf sama Reyfan.’’perintahnya. Mereka menurut, kelima orang itu langsung meminta maaf kepada Reyfan.
“Kalian kenali wajah adikku ini ya. Awas kalau kalian sentuh lagi!’’ucap Bastian sambil menarik Reyfan langsung ke kafe.
Bastian sudah memesan beberapa menu makanan, dan minuman Reyfan. Ia tahu bahwa Reyfan masih trauma dengan kejadian yang baru ia alami.
“Rey, udah minum! Enggak usah dipikirin!’’Bastian menenangkan. Ia mengacungkan minuman Reyfan kepadanya. Reyfan menyeruputnya.
“Bang, kok mereka melihat abang jadi berubah drastis kayak gitu?’’tanya Reyfan heran ketika ia sudah bisa menengkan diri.
Bastian tertawa. “Mereka baru belajar nakal.’’ucapnya menahan senyum.
Reyfan terdiam. Tak lama kelima laki-laki itu menghampiri mereka. Elvis merangkul Reyfan.
“Bro, aku beneran minta maaf ya. Aku enggak tahu kalau Bang Tian punya adik.’’ucapnya sambil menggoyang-goyang badan Reyfan.
“Eng, iya. Tadikan aku udah maafin.’’jawab Refan terbata-bata.
Bastian tersenyum. Bastian pernah menolong Elvis, ketua geng Omorfos pada saat mereka tawuran di persimpangan jalan. Bastian melarikannya ke rumah sakit, dan pada saat itu Elvis kekurangan darah. Tanpa pikir panjang Bastian langsung mendonorkan darahnya. Sejak saat itu Elvi berjanji untuk menghormati Bastian dan tidak melukai orang-orang di sekitar Bastian.
“Kami boleh temenan sama kamu?’’tanya Elvis ramah. Wajahnya tak menunjukkan ketegangan lagi.
“Boleh.’’jawab Reyfan singkat.
“Bang, kenapa kamu enggak bilang kalau punya adik?’’tanya Elvis ingin tahu.
“Skip. Enggak usah banyak tanya. Kalian enggak ada kapoknya buat onar.’’
“Ehm, iya, aku diakuin adiknya, makanya aku aman. Kalau aku mah, memang pengen punya abang kayak dia. Selain keren dia juga perhatian banget orangnya. Enggak kayak Aleksa.’’sanjung Reyfan dalam hati.
“Hm. Kalian mau mabar Bang? Kami ikut ya?’’Elvis menawarkan diri.
“Tanya sama Reyfan.’’titahnya.
“Fan?’’Elvis meliriknya.
“Ya udah ayok, makin banyak orang makin bagus.’’ujarnya senang, karena mendapatkan teman baru.
Sementara itu Aleksa yang keluar dengan pakaian rapi terpelongo ditinggal begitu saja dengan kedua laki-laki yang dikenalnya. Aleksa kesal tak terkira.
“Gila kalian ya. Main ninggalin orang aja’’celutuk Aleksa kesal. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali menunjukkan kecewaaan. “Tuh anak! Malah jemput Reyfan bukannya aku. Mau dia apa sih? Enggak tahu apa aku udah salting kali dari tadi. Ih Bastian! Kamu benar buat aku gila.’’pekiknya. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi yang ia duduki tadi saat Bastian datang ke rumahnya.
“Al, kamu kenapa jerit-jerit?’’tanya Mamanya yang merasa tidak nyaman mendengar putrinya teriak-teriak sendiri.
“Bastian sama Reyfan ninggalin aku Ma.’’adu Aleksa.
Wanita paruh baya itu tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar cerita singkat dari anaknya.
“Ya udah, biarin aja Reyfan keluar, lagian dia itukan enggak pernah keluar. Biar banyak pergaulannya. Lagian mau sampai kapan kamu ngekang adik kamu seperti itu terus?’’tanyanya dengan nada datar.
“Tapi Ma. Bastian itu teman Leksa, masa iya dia perginya bareng Reyfan. Bukan Leksa.’’
“Sudahlah Leksa. Mungkin ada yang mereka kerjakan. Lagian perginya bareng Bastian, enggak usah khawatir berlebihan.’’
“Lah, mama kenapa belain Reyfan sih.’’
“Udah, gih sana masuk!’’titah mamanya. Mata wanita itu tertuju ke plastik warna hitam yang terletak di meja bundar terasnya. “Ini apaan?’’Wanita itu membukanya. Ia membaca secari kertas.
Ibu Ketua, ini bolen pesanan kamu. Sesuai aplikasi ya. Utang aku udah lunas. Dihabisin.
Mama Aleksa membacakannya kuat, sehingga Aleksa malu tak terkira. Ia langsung menarik kertas itu. Ia heran sejak kapan bungkusan itu terletak di sana.
“Tuh, dibawain makanan kesukaan kamu. Ehm’’ledek mamanya.
“Ih Mama, apaan sih.’’ucapnya malu.
”Ya udah, ayuk masuk. Mama juga pengen makan bolen yang sesuai aplikasi itu.’’ledek Mamanya sambil menggandeng tangan Aleksa masuk ke dalam.
“Bang, uda malam kita pulang?’’tanya Reyfan ketika ia menyadari bahwa sudah pukul 21.15 WIB.
Bastian mengangguk meyetujui. Begitu juga dengan geng Omorfos.
“Kami iringi kalian ya Bang?’’Elvis menyodorkan diri.
“Enggak usah. Kita enggak mau konvoi.’’tolak Bastian sambil menahan senyum. Ia hanya ingin menjaga orang tua Reyfan. Ia takut orang tua Reyfan salah mengartikan. Bastian tidak mau disangka membawa pengaruh buruk kepada Reyfan.
“Kami juga pengen tahu rumah bang Tian dengan Reyfan.’’
“Lain kali aja ya. Udah malam.’’tolak Bastian lagi. “Kalau gitu. Kami duluan.’’
“Oke bang hati-hati.’’
Sebelum mereka melaju, Reyfan sempat memberikan pesan kepada kakaknya untuk membuka pintu karena mereka sedan di jalan pulang. Reyfan mulai bisa mengendalikan motor Bastian dengan cukup baik. Ia begitu senang malam ini, karena bersama Bastian ia mendapat pengalaman baru. Ia juga merasa aman ketika bersama Bastian, merasa dilindungi. Dari dulu Reyfan memang ingin punya abang yang bisa diajakin main seperti ini. Mereka sampai. Aleksa sudah berdiri di depan pintu dengan tangan menyilang di depan dadanya.
“Gawat kita Bang.’’bisik Reyfan sambil mengajak Bastian untuk turun mengiringi jalannya ke teras.
Bastian tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah Aleksa dengan Reyfan seperti itu.
“Bang, tunggu aku masuk dulu. Baru kamu pulang ya.’’bisiknya lagi sambil berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam rumah. Bahu Reyfan semat bersentuhan dengan Aleksa. Aleksa hampir terjatuh.
“Awww… Reyfan awas kamu ya.’’pekiknya kesal.
Bastian tertawa. Ia melambaikan tangannya. “ Aku pulang’’ucapnya permisi.
“Tunggu Bas. Sini dulu.’’Aleksa menepuk kursi terasnya. Mengisyaratkan duduk di sampingnya. Aleksa menaikkan alisnya setengah mengancam.
“Engg. Udah malam.’’Bastian perlahan mundur. Namun dengan cepat Aleksa menghampirinya. Ia langsung menyuruh Bastian duduk. “Hm, bagus ya.’’
Bastian tersenyum. Ia menahan tawanya. Melihat Aleksa bertingkah seperti orang tua yang mendapati anaknya keluar malam.
“Bas!’’panggil Aleksa lagi.“Kalian tega banget ya. Kerja sama ninggalin aku.’’omelnya sambil menatap tajam Bastian.
“Hehe. Kan janjiannya sama Reyfan bukan sama kamu.’’ucap Bastian jujur.
“Kalian ke mana? Ngapain aja?’’
“Dih, kamu udah kayak intel aja interogasi aku kayak gitu.’’ucapnya sambil membuka jaketnya.
“Aku enggak mau Reyfan kenapa-napa Bas. Dia masih terlalu polos Bas, belum bisa milih mana yang benar dan yang salah.’’tuturnya, nadanya melemah. Terbesit kekhawatiran yang mendalam kepada adiknya.
“Iya tau. Tapi kalau kamu enggak memberikan pengalaman. Gimana dia bisa memilih mana yang benar dan yang salah?’’Bastian menasihati. Ia terlihat tenang.
Aleksa terdiam. Ia membenarkan perkataan Bastian, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia takut adiknya terpengaruh ke arah yang negatif.
“Dia laki-laki Leksa. Pikirannya harus luas. Kelak dia yang akan lindungi kamu. ‘’ucap Bastian lagi. Kali ini ia serius. “Biarkan dia menemukan pengalamannya sendiri Leks.’’
Aleksa tertegun mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bastian. Ia menyetujui bahwa suatu saat Reyfanlah yang melindunginya. Tentunya mental Reyfan harus lebih kuat darinya.
“Ehm, sebelum Reyfan jadi pelindungku. Kenapa enggak kamu aja yang dulu lindungi aku?’’cetus Aleksa memberanikan diri. Pipinya memerah.
“Kamu bisa melindungi diri kamu Leks.’’jawabnya santai.
“Memang enggak peka.’’cetus Aleksa dalam hati.
“Udah malam. Aku balik. ‘’Bastian pamit.
“Ehm iya hati-hati.’’ucapnya sambil mengunci gerbangnya. “Bas, makasih bolennya.’’tuturnya sambil tersenyum.
“Eh, iya. Hehe. Gih sana masuk.’’titahnya sambil menunggu Aleksa mengunci pintu rumahnya.
Pastinya aku seneng banget akhirnya mereka jadian
Mawar buat thorthor lah
5 cukup kali buat semangat 🤗
Congrats 🤗🤗🤗
Selamat kamu keren
Akhirnya ada juga yang ngomong
Kamu mesti liat kepingan hati Alexsa