Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Abang
"Leon! Menyingkirlah!" Elyra mulai berteriak, Leon enggan menggubris dan makin memperdalam pelukannya. Elyra makin kegerahan dan kehabisan napas, dia mendorong tubuh Leon yang memang lebih besar dari tubuhnya, namun hasilnya nihil. Pria itu tak bergerak sejengkal pun dari posisinya.
"Aku akan beranjak, asal kamu harus janji satu hal." Bisik Leon, Elyra mengangkat wajahnya. Seketika mereka kini saling bersitatap, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
"Apa?" Tanya Elyra kesal, dia sudah terlambat dan kini harus berhadapan dengan manusia keras kepala juga.
"Di atas meja ada kunci rumahku, aku akan pulang lusa. Elyra, bisakah kamu jadi bagian dalam hidupku? Jadi separuh nafasku dan tinggallah di sisiku." Lirih Leon, hening tercipta di ruangan itu seketika.
"Kamu bercanda bro?" Elyra kembali memberontak, ucapan Leon sangat di luar nalar manusia seperti dirinya yang belum mengenal cinta.
"Aku bersungguh-sungguh, 6 bulan mendatang aku akan pulang ke sini dan tinggal di sini selamanya." Bisik Leon, Elyra terperanjat. Apa katanya? Selamanya? Apa dia tahu apa arti kata selamanya itu sepanjang apa?
"Jadi, malam ini bisakah jangan pergi ke mana pun dan temani aku saja." Bisik Leon lagi, Elyra melemaskan tubuhnya, dia menghela napas kasar dan mengangguk.
"Baik, tapi aku juga harus melakukan banyak hal Leon. Menyingkirlah dulu, badanmu itu emang bayi ya? Badan kamu gede gini, berat tau!" Elyra mendorong lagi tubuh Leon, namun kini Leon memilih mengalah.
Leon membiarkan Elyra bangkit dari tidurnya, Elyra menatap wajahnya. Keningnya menempel sebuah benda pereda demam, matanya masih merah namun Elyra memilih masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.
"Kamu mandi?" Leon mengetuk pintu kamar mandi yang terbuat dari plastik itu.
"Kenapa?" Tanya Elyra lagi berusaha lebih sabar, Leon mengetuk pintu kamar mandi itu berulang-ulang.
"Cepat," Lirih Leon, Elyra kesal sekali dia mempercepat mandinya dan membuka pintu kamar mandi itu. Aroma sabun menyeruak dari tubuh Elyra, rambut panjangnya tampak basah dan bajunya juga sedikit basah karena Elyra tergesa-gesa mengeringkan badannya.
"Kebelet banget ya?" Kesal Elyra melangkah melewati Leon, Leon tersenyum dan memeluk Elyra dari belakang.
"Iya," Bisik Leon di ujung telinga Elyra. Bukan pilihan yang bagus bagi Elyra berbuat kasar pada Leon, dengan berbagai pertimbangan Elyra memilih melunak pada pria itu.
Alasannya jelas, Leon tampaknya adalah teman dekat David dan Tamam. Dua orang itu meski nampak polos namun kenyataannya tak seperti yang terlihat. Ditambah lagi Leon yang pernah terluka di pinggir jalan akibat bacokan. Jelas menandakan bila Leon juga bukan pria yang baik-baik.
Jadi kesimpulannya, berbuat kasar pada Leon adalah opsi yang tidak ada dalam kepala Elyra saat ini. Elyra sangat yakin bila pria itu hanya main-main terhadapnya, setelah bosan dia juga akan pergi dengan sendirinya.
"Bisa lepaskan dulu," Elyra berusaha melepaskan pelukan Leon, namun pria itu tetap menempel padanya. Sudahlah, Elyra percuma keras kepala pada orang yang tidak punya telinga seperti Leon. Elyra dengan kondisi itu merapikan rambutnya dan memoleskan beberapa krim ke wajahnya.
"Aku ke warnet dulu," Elyra mengenakan jaket dan bersiap pergi.
"Ikut," ekor Leon dari belakang tubuh Elyra. Elyra menghela napas kasar.
"Bisa bawa motor?" Tanya Elyra, Leon mengangkat bahunya. Motor? Itu hal yang mudah bagi Leon.
"Kamu masih sakit, di mobil saja." Elyra mengunci pintu kosannya setelah memasukkan sepeda motornya ke dalam kosan.
"Pacarnya ganteng neng Lyra." Ucap salah satu tetangga kos Elyra. Elyra menatap Leon sengit, apa terjadi sesuatu saat dia tidur tadi?
"Iya, demi proyek memperbaiki keturunan Bu." Jawab Elyra asal, sontak jawaban tersebut membuat Leon menatap Elyra terkejut.
"Semoga lancar proyeknya Neng, jangan lupa kirim adrahi bukan cuma undangan." Ucap tetangga Elyra itu menimpalinya lagi dengan candaan.
"Aman lah, nanti kita borong minimarket Bu." Elyra tertawa dan masuk ke dalam mobil Leon, sedangkan Leon hanya menatap Elyra penuh kagum.
"Kamu sangat suka buat orang lain berharap ya?" Elyra menatap tajam ke arah Leon.
"Apa yang kamu katakan pada mereka?" Leon berdehem dan memilih menatap lurus ke arah jalan.
"Kembali tuli," Kesal Elyra dengan wajah super kesalnya, Leon mencubit pipi Elyra yang mengembang itu saking gemasnya.
"Di mana warnetnya?" Tanya Leon, Elyra menunjukkan jalan dengan sisa-sisa kekesalannya.
"Inikan rumah?" Tanya Leon lagi.
"Ck, jadi mau biarin aku kerja atau suruh temani kamu sih?" Leon angkat tangan melihat kekesalan meluap dari bibir Elyra.
"Opsi kedua." Leon kembali angkat tangan, Elyra turun dari mobil itu dan nampak menemui seorang temannya. Di sana dia nampak berbincang sejenak sebelum menyerahkan sebuah kunci dan kembali ke arah mobil di mana Leon menunggu Elyra di sana.
"Jadi, rencanamu apa dengan opsi kedua?" Elyra memakai sabuk pengaman dan duduk dengan tenang.
"Sudah terima ya aku sebagai pacarmu?" Leon mendekatkan wajahnya, bahkan hembusan napasnya kini terasa menerpa wajah Elyra.
"Aku masih kecil, kamu lebih cocok jadi pamanku daripada pasanganku." Elyra mendelik, Leon menghela napas kasar dan kembali duduk dan menatap ke depan.
"Keras kepala sekali," Gumam Leon sebelum akhirnya menyalakan mobilnya, Leon membawa Elyra ke sebuah bioskop.
"Mau nonton apa?" Tanya Leon, Elyra menatap film yang akan ditayangkan malam itu.
"Wow pertarungan para dewa, ini aku udah lihat trailernya kemarin. Kayanya seru, aku traktir tiketnya." Elyra langsung berlari menuju loket, sedangkan Leon hanya terkekeh di belakang gadis itu.
Elyra nampak bersemangat, bahkan saat sampai di dalam ruangan layar lebar. Elyra menunggu dengan patuh, dia memesan dua boks popcorn dan dua minuman. Leon memperhatikan dengan seksama bagaimana gadis itu mengunyah, luar biasa bibir Elyra sungguh manis membuat Leon tak tahan ingin sekali melahapnya.
Di belakang mereka juga ada pasangan yang akan menonton, suara decakan bibir terdengar dari belakang tubuh mereka. Elyra sudah biasa dengan hal semacam itu di bioskop. Dia akan tutup telinga dan fokus pada apa yang dia tonton saja.
"Elyra, kamu perempuan bukan?" Tanya Leon, Elyra mengangkat alisnya bingung.
"Entahlah, fokus nonton." Elyra mendorong tubuh Leon agar kembali duduk di tempatnya dengan patuh.
"Ayo jadi pacarku." Ajak lagi Leon, Elyra mendelik dengan sudut matanya.
"Kita baru kenal, usiaku masih minim dan kamu baiknya jadi abangku saja. Oke?" Elyra sungguh terusik dengan sikap Leon yang selalu melakukan hal di luar jangkauan otaknya, ditambah wajah Leon yang memang tampan, terkadang membuat Elyra kehilangan fokus sekejap.
"Baby, terima kasih." Leon memang tak mengharapkan lebih untuk sementara waktu, dia menggenggam tangan Elyra dan menempelkan tangan itu di pipinya.
"Kotor, jangan aneh-aneh." Elyra menarik tangannya, Leon tersenyum dia menjilat ujung jari telunjuk Elyra. Seketika itu juga Elyra bangkit dari duduknya dan menatap tajam pada Leon.
"Ini bioskop, duduk baby." Leon menarik Elyra untuk kembali duduk, Elyra mengepalkan tangannya dan berdecak amat kesal.
"Ini pel*ecehan!" Gertak Elyra, Leon mengangkat bahunya tak peduli dan menggenggam kembali tangan Elyra.
🤣